Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 13: Firasat

BAB 13: Firasat

“Insya Allah akan segera saya mulai memelihara ikan di tanaman padi saya,” kata Hamdi pada Pak Tomo. Sawah beliau dekat sawahnya Hamdi. Beliau yang menyarankan Hamdi memelihara ikan di tanaman padinya. Kata beliau, paling tidak, hasil penjualan ikannya bisa menutupi biaya produksi padinya. Syukur jika lebih dari itu. Semakin terbuka wasan Hamdi tentang bisnis. Dia tidak lagi cemburu pada adik iparnya, sepertinya sudah lupa karena sibuk.

Hadi kapan hari juga bilang kalau bisnis tanaman hias juga cukup menjanjikan, tapi Hamdi masih mikir-mikir, tanaman hias biasanya musiman. Kadang mendadak mahal, tiba-tiba anjlok turun harganya. Sepertinya, lebih baik dia fokus dulu aja pada pertaniannya, toko pertanian dan yang terbaru ikan yang akan ia pelihara di lahan pertaniannya.

“Mungkin nanti kita akan meniru salah satu kelompok tani di Jawa Tengah,” kata Pak Tomo. “Mereka mendirikan toko pertanian besar, sahamnya dari anggota.”

Ide yang menarik. Hamdi senang. Jika semua anggota saling mendukung, maka peluang untuk sukses bersama sangat besar.

“Dulu pernah ada tawaran dari restoran di Bali. Tapi, karena waktu itu masih sangat sedikit, jadi belum bisa. Kita harus mensuplai sekian ton per minggu. Kurang anggota, jadi tidak bisa.”

***

Hanif menemui Sofi di tokonya. Dia tidak mau beli sesuatu, hanya ingin ngobrol aja. Sudah merasa seperti suami istri saja, padahal hubungannya masih haram. Sofi senang ada Hanif. Mertuanya sempat melihat mereka sejenak, tapi tidak curiga Hanif agak lama di situ karena Sofi memang jualan. Hanif juga tetangga dan masih muda. Menurut beliau, tidak mungkin mereka ada hubungan spesial.

Fikri datang, seperti biasa, istirahat sejenak. Sofi berbisik pada Hanif, “Mau tidur itu,” katanya.

“Kamu ingin juga?” tanya Hanif.

“Sss… Nanti malam aja,” bisiknya.

“Di belakang itu ada ruangan. Ibu tidak akan tahu kalau kita di situ,” kata Hanif. Ibunya memang minta bantuannya kalau mau keluar kamar, karena kakinya sakit. Jadi, apapun yang dilakukan Hanif di rumah itu, beliau tidak akan tahu.

Sofi ingin sebenarnya, tapi takut. Siang-siang begini terlalu beresiko.

“Ayo dah, sebentar aja,” bujuk Hanif. “Mumpung lagi sepi.”

Sofi ke dalam. Hanif segera pulang. Rupanya Pak Haji dan Buk Haji lagi tidur. Fikri dan istrinya pasti lagi asyik di kamar. Sepertinya waktu yang tepat, Sofi ke belakang. Nekad. Hanif menunggunya di pintu belakang rumahnya. Sofi tolah toleh, tak ada orang, segera ia ke sana. Hanif langsung membawanya ke ruangan di belakang. Bukan kamar sebenarnya, seperti gudang. Hanif ambil kasur dan dibawa ke ruangan tersebut.

Siang ini Sofi tak lagi hanya jadi penonton. Dia juga bisa menikmatinya, walau dari cinta yang lain. Hanif merasa sangat beruntung. “Sebentar aja ya,” pinta Sofi. Ia takut ketahuan karena siang-siang. Tetapi, Hanif keasikan, ia maksa untuk terus lanjut, tapi Sofi khawatir. Ia mendorong tubuh Hanif agar berhenti. “Nanti malam lagi,” katanya dan segera berbusana rapi lagi. Dia mendekat ke pintu dan mengintip apakah ada orang di luar, rupanya aman. Segera ia keluar dan membuka pintu belakang rumahnya. Pas sekali Fikri hendak mau buka pintu. Sejenak keduanya adu pandang. Fikri segera memalingkan pandangannya.

***

Hamdi tertidur di gubuk di sawahnya, sejuk sekali udaranya. Ia bermimpi sedang berjalan bersama istrinya di suatu tempat. Dirinya melihat taman indah dan mengajak istrinya ke sana. Keduanya pun berjalan beriringan menuju taman indah. Tetapi, di jalan istrinya tak mau ikut dirinya. Ia berbelok, katanya ada taman lebih indah di sana. Hamdi menariknya, tapi ia tak mampu.

Ada kelapa jatuh di dekat gubuk. Hamdi terbangun. Kaget, ia duduk dan keluar dari gubuk. Dilihatnya ada kelapa jatuh. Dilihatnya kelapa di atas pohon kelapa yang tinggi. Sepertinya sudah waktunya dipanen.

Ada Karman lewat, mungkin dia dari sawahnya. “Panen kelapa?” tanyanya, melihat Hamdi megang kelapa.

“Jatuh tadi. Gimana cabenya? Bagus?”

Karman sedang bertani cabe sekarang. “Lumayan. Ini habis tak racun, kayak ada hama di daunnya,” katanya. “Tadi tak kira apa,” katanya kemudian, alih topik. “Di atas sungai itu,” menunjuk sungai yang berjarak sekitar 100 meter dari mereka berada. Hamdi menunggu kelanjutannya. “Ternyata Pak Bunari sama Buk Subia,” katanya sambil tertawa. Hamdi kaget mendengarnya. “Dari dulu mereka itu, sudah sering ketahuan, tapi tetap saja.”

Semak belukar di persawahan memang sering dijadikan tempat selingkuh petani. Kadang tanaman jagung dan tebu juga. “Punya suami kan Bu Subia,” kata Hamdi.

“Iya, tapi suaminya loyo gitu. Ya, cari lain. Kebutuhan,” kata Karman. “Kurang jamu suaminya.”

Hamdi menanggapi dengan senyum saja.

BAB 14: Tragedi Berdarah

Sehabis mandi, saat memasang baju, Hamdi melihat ada pesan masuk di HP istrinya, “Nanti malam lagi ya, sayang,” begitu pesannya. Hamdi kaget. Dia tidak bisa baca karena dikunci, tapi pesan WA-nya saat baru masuk kebaca. Hamdi hanya menatapnya. Muncul pesan lagi, “Tadi aku masih kurang.” Hamdi curiga.

Sofi keluar dari kamar mandi dan ke kamar. Ia langsung mengambil HP-nya dan membawanya ke ruang tamu. Karena penasaran Hamdi mencoba ke ruang tamu juga. Didapatinya istrinya tampak sedang membalas pesan sambil senyum-senyum. Hamdi kaget. Sepertinya kecurigaannya benar. Pasti istrinya selingkuh. Hamdi pura-pura bersikap biasa walau hatinya sangat marah. Sebagai suami, ia merasa harga dirinya diinjak-injak.

Malam semakin larut, Hamdi pura-pura tertidur. Terasa ranjang bergerak-gerak, istrinya turun dari ranjang. Lalu suara pintu terbuka, kemudian suara pintu tertutup. Hamdi turun dari ranjang, membuka pintu sedikit, mengintip istrinya. Ia mendengar suara pintu belakang terbuka. Lalu tertutup. Hamdi segera mendekati pintu belakang, membukanya sedikit dan mengintipnya. Tampak jelas istrinya masuk ke rumah Hanif lewat pintu belakang. Hamdi masih bertanya-tanya, masak ia selingkuh sama Hanif? Hanif masih muda? Tetapi, keluarganya sudah hancur. Sudah musnah. Kenyataan pahit yang harus ia terima. Tidak ia duga saat dirinya sedang berjuang demi masa depan keluarga, istrinya malah selingkuh.

Hamdi menunggunya, tetapi lama sekali. Satu jam lebih dia menunggu, istrinya belum juga keluar dari rumah itu. Hamdi tetap menunggu, ia harus memastikan siapa yang sudah merusak rumah tangganya dan akan balas dendam. Tak lama kemudian pintu rumah Hanif terbuka. Dilihatnya Sofi bersama Hanif, bahkan Hanif masih sempat menciumnya. Pikiran Hamdi gelap.

Hamdi lari menghampiri mereka. Sofi dan Hanif kaget. Mereka ketakutan dan shock. Hamdi menutup pintu. Mata Hamdi melotot menatap mereka. Jiwanya dikuasai amarah dan dendam. Rasanya menghajar mereka berdua pun masih kurang kejam. Hamdi melihat tambang tergantung di dinding. Dengan cepat ia cekik Hanif, ia dorong ke dinding. Hanif kesulitan bernafas, ia berusaha melepas tangan Hamdi, tapi tidak bisa. Dengan keras ia benturkan kepala Hanif ke dinding. Sofi bengong, tak tahu harus berbuat apa. Hamdi mengambil tambang dan mengikat Hanif. Ia potong-potong tambangnya menjadi beberapa bagian dengan pisau. Mulut Hanif disumbat dan diikat dengan tambang. Dalam kesakitan, Hanif masih sadar melihat Hamdi mengikat Sofi dan menyumbat mulutnya.

Sofi ketakutan. Tidak ia sangka suaminya tega juga menyakiti dirinya. Hamdi melihat ke kamar, dilihatnya ibu Hanif, Bu Lani, sedang tidur. Dengan geram, Hamdi mengikatnya juga. Bu Lani terbangun kaget, tapi tak bisa berteriak. Hamdi keluar dan menyeret Hanif ke kamar ibunya. Hamdi menelanjangi Bu Lani. Hanif berusaha melepaskan diri hendak menolong ibunya, tapi tidak bisa. Bu Lani menjerit sekuatnya, tapi tak keluar suara karena mulutnya tersumbat. Di depan mata Hanif, Hamdi memperkosa Bu Lani.

Hanif tampak menangis. Bu Lani menangis. Hamdi tidak peduli. Ia terus melakukan aksinya. Rupanya Hamdi belum puas. Ia ke belakang ambil pisau. Lalu kembali ke kamar Hanif. Hanif dan Bu Lani ketakutan dan berusaha melepaskan diri. Hamdi menelanjangi Hanif. Ia iris pakaian Hanif. Dengan kejam, ia potong kemaluan Hanif. Ia perkosa lagi Bu Lani. Hanif menangis, Bu Lani menangis. Tetapi, itu tak membuat Hamdi merasa iba. Setelah puas memperkosa Bu Lani, Hamdi membunuhnya dengan pisau. Lalu dia kabur.

***

Jam 3 pagi Ima dan fikri kaget melihat pintu belakang terbuka. Ima segera cek seluruh isi rumah. Pintu kamar Hamdi terbuka dan tidak ada orang. di ruang depan juga tidak ada. Dilihatnya HP Hamdi ada di kasur. “Abah… Abah…!” Ima membangunkan abahnya.

Pak Haji dan Buk Haji kaget dan segera bangun membuka pintu kamar.

“Pintu belakang terbuka, Bah…!!” kata Ima tampak cemas. “Mas Hamdi tidak ada…!!” Fikri mengamati keadaan di belakang rumah, tapi tak ada tanda-tanda apa-pun.

“Kemana Hamdi?!” tanya Pak Haji mulai tampak cemas.

Tidak ada yang bisa menjawab. Mereka ke belakang semua. Bu Haji melihat pintu belakang Hanif terbuka. Beliau cek ke sana. Dilihatnya menantunya terikat di sana. “Sofi…!!” teriaknya. Pak Haji langsung lari dan masuk ke dalam. Fikri masih mengamati keadaan sekitar, ia khawatir ada orang jahat. Pak Haji membuka ikatan Sofi.

“Mas Hamdi, Bah…!!” kata Sofi. Dia menangis. “Mas Hamdi…!!”

Bu Haji, Ima, Fikri terpaku menyaksikannya. “Kemana Hamdi?” tanya Bu Haji.

Ima coba cek kamar. “AAaaaaaa……!!!” Ima berteriak histeris.

Fikri menghampirinya. Dilihatnya, Hanif dan ibunya bersimba darah di dalam kamar. Fikri merangkul Ima. Ima terisak.

Beberapa tetangga berdatangan. Ramailah rumah Hanif. Pak RT juga datang dan memanggil Pak lurah. Tak lama kemudian polisi datang.

BAB 15: Sang Buronan Terjebak Cinta


Belum ada Komentar untuk "BAB 13: Firasat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel