Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 5: Dialog Cinta

BAB 5: Dialog Cinta

Bab 3 dan 4

Malam ini Andi pulang lebih larut. Tadi masih ada pelanggan yang agak lama minum esnya, sambil ngobrol. Ia agak tergesa-gesa karena sepertinya akan turun hujan. Tiba di rumah bos, ia segera meletakkan grobak. Tetapi, hujan mendadak turun dengan deras. “Di sini aja dulu, Mas,” kata Bosnya. “Tunggu agak reda.” Andi dan bosnya pun duduk di teras. “Sudah punya pacar, Mas?” tanya beliau.

Andi tersenyum, “Belum, Mbak.”

“Cakep-cakep kok tidak punya pacar?”

Wah, kok malah berlanjut nih. “Masih nyari.”

“Tidak ada rencana kuliah, Mas?”

Nah. Ngobrolin soal kuliah lebih baik, atau tentang bisnis. “Biayanya, Mbak.”

“Tidak cari beasiswa?”

“Sulit juga untuk lolos seleksinya.”

Andi menunggu akan ditanya apa lagi, tapi rupanya bosnya diam. Jadi kayak patung. Tidak enak duduk berdua diem-dieman, dah malam juga. “Mbaknya tinggal sendiri?” tanyanya.

Bosnya tersenyum. “Iya, Mas. Suami nikah lagi,” katanya. “Ya sudah, saya minta cerai.”

Wah, kok malah jadi bahas topik cinta lagi. Tapi daripada diam, mending ngobrol sih. “Tidak ingin nikah lagi, Mbak?”

Bosnya tersenyum lagi. “Yaaa… Ingin sih, tapi mungkin karena saya mandul, jadi banyak yang mundur saat saya bilang saya mandul.”

Waduh. Prihatin juga. Andi jadi bingung harus menanggapi bagaimana. “Yang sabar, Mbak.” Jadi terasa sok dewasa, ngasih nasehat bosnya.

“Mohon doanya, Mas.”

Hujan semakin deras. “Tambah deras, Mas,” kata beliau. “Nginap sini aja tah?”

Waduh…!! Bahaya. Walaupun jauh lebih tua, kalau cantik begini, Andi juga tidak kuat nahan. “Pulang aja, Mbak.”

“Tunggu agak reda aja.”

Andi pun menunggu. Elin, nama bos Andi tersebut, merasa senang ada yang menemaninya malam-malam begini. Kaya harta tidak bahagia jika hidup sendiri. Ia jadi teringat suaminya dulu. Hidup bersama, tidak kesepian seperti sekarang. Jam 9 lewat hujan baru agak mereda. Elin sudah tampak ngantuk. Andi pun segera pamit. Terasa sepi lagi.

***

Paginya saat Andi ambil gerobak, Elin mendekatinya. “Mas Andi kost ya?”

“Iya, Mbak.”

“Kalau mau, tinggal di sini aja, tidak usah bayar.”

Wah. Boleh juga. Jadi banyak kan uangnya. “Terima kasih, Mbak,” jawab Andi dan segera berangkat.

Saat jualan, Andi jadi mikir-mikir. Tawaran bosnya itu menarik juga. Gajinya jadi utuh, cuma buat makan aja. Tapi, bosnya janda. Itu yang bikin tidak enak. Masak serumah sama janda. Kecuali seperti Bu Rahma, beliau memang punya usaha tempat kost. Tetapi, ini kesempatan untuk ngumpulin uang. Siapa tahu bisa buat modal usaha sendiri.

Andi putuskan untuk tinggal bersama bosnya. Ia kirim WA. “Saya mau tinggal di situ, Mbak,” begitu pesannya.

“Ow, baik, Mas,” jawab bosnya. “Saya siapkan kamarnya. Nanti malam sudah di sini?”

Wah, kok kayak ngebet banget bosnya nih. Andi belum pamit sama Bu Rahma juga. Tidak apa-apa, ia jawab aja, “Iya, Mbak.”

***

Sehabis meletakkan gerobak, Andi diajak masuk oleh bosnya dan ditunjukkan kamarnya. Rumahnya memang berbentuk huruf L sih, kamar Andi berada di samping, sudah ada kasur dan selimutnya. Tapi, kamar mandinya satu. Ada pintu tembus ke ruang belakang rumah tersebut, kamar mandinya di pojok. “Mau mandi dulu, Mas?” tanya bosnya. Jadi kayak suami aja. “Ayo, di sana kamar mandinya.”

“Saya tidak bawa sabun, Mbak.” Lupa juga dia. Seharusnya ambil peralatan mandi dan baju ganti dulu.

“Pake aja yang ada di sana.”

Andi pun mandi. Sehabis mandi, Andi dipanggil ke ruang tengah. “Saya buatkan teh, Mas.”

Hmm… Andi jadi curiga. Masak bos bisa sebaik ini. Seharusnya kan dirinya yang membuatkan untuk bos. Tetapi, bosnya tampak bahagia sekali. Ia turuti saja. Rupanya banyak harta tak menjamin bahagia juga, pikir Andi. Sepertinya, kehadiran Andi jadi istimewa bagi bosnya.

BAB 6: Sarapan Masakan Bos

Andi bangun sebelum adzan subuh. Ia coba buka pintu yang ke ruang tengah. Rupanya tidak dikunci. Pikirnya, bosnya menguncinya. Rupanya beliau tidak takut Andi berbuat jahat. Ia pun segera ke kamar mandi. Ternyata pintu ke ruang tengah pun tidak ditutup. Jangan-jangan pintu kamar bos juga tidak ditutup? Tapi Andi tidak mau melihatnya. Ia ke kamar mandi, wudhu untuk sholat malam.

Rupanya bosnya bangun, mungkin mendengar suara air mancur. Saat Andi keluar dari kamar mandi, beliau sudah di pintu. “Sudah bangun, Mas?” tanyanya. Wah, pakaiannya itu yang bisa bikin tidak khusuk sholat.

“Iya, Mbak,” jawab Andi dan segera ke kamarnya untuk sholat.

Rupanya beliau mengikutinya. Saat Andi hendak menutup pintu kamar, bosnya ada di depannya. “Sholat subuhnya berjamaah ya, Mas?” pintanya.

Hmm… Kok jadi dekat begini. “Iya, Mbak,” jawab Andi.

Andi jadi tidak khusuk sholat malam. Kalau seperti ini, hubungannya dengan bosnya bukan lagi bos dan anak buah. Entah beliau menganggap dirinya sebagai adik atau apa? Dirinya tidak paham. Tapi, tidak enak kalau terlalu dekat begini.

Adzan subuh berkumandang. Bosnya ke kamar Andi. Wah, cantiknya. Selesai adzan “Sholat sunnah dulu, Mbak,” kata Andi. Keduanya pun melaksanakan sholat sunnah. Lalu dilanjutkan sholat subuh berjamaah. Sepertinya Andi sangat istimewa bagi bosnya. Andi tidak segera beranjak, masih membaca dzikir. Rupanya bosnya diam juga. Tak lama kemudian bosnya meninggalkan Andi.

Andi tiduran di kasur sambil membaca berita di hapenya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi. Bosnya yang buka pintu. Hmm… Dengan pakaian begini, manisnya. “Tak buatkan sarapan ya, Mas,” katanya. Hmm… Ini sebagai mbak pada adik atau …? Andi mencoba menebak-nebak. Tak lama kemudian tercium aroma masakan enak. Andi nurut saja.

Tak lama kemudian bosnya ke kamarnya lagi, “Ayo sarapan,” ajaknya. Rupanya bosnya ingin makan berdua. Andi nurut saja ke ruang makan di ruang tengah. Ia duduk menghadap ke utara. Bosnya duduk menghadap ke selatan. Entah sengaja atau tidak untuk berhadap-hadapan. “Aku suka masak, Mas,” katanya. “Enak kan masakanku?”

Andi tersenyum saja.

“Aku dulu diajarin ibu masak, waktu kecil.” Perempuan pasti senang kalau ada yang mau mendengarkan ceritanya. Andi sudah paham itu. “Aku mau aja asal dikasih makan yang enak-enak. Hahaha… Makanya aku agak gemuk.” Andi hanya menanggapi dengan senyum saja. “Sampai sekarang pun masih hobi masak, tapi mau masak banyak, buat siapa?” Hmm… Andi jadi prihatin.

Habis makan. “Mana piringnya,” pinta bosnya. “Biar saya yang nyuci.”

Andi kasih saja. Lalu ia ke kamarnya. Ia lanjut membaca berita di hapenya. Tiba-tiba bosnya masuk ke kamarnya dan menyapu lantai. Hmm… Ini aneh. Seharusnya Andi bantu beliau urus rumah. Rasanya, ingin dia nikahin saja biar resmi sekalian. Lagian dia cantik. Tapi, jangan-jangan dia hanya menganggapnya adik?

***

Agak siangan mobil buah datang. Andi bantu nurunin. Sebenarnya sudah ada petugasnya sih, tapi dia bantu aja. Ia kerjanya jam 10, kalau pagi begini nganggur. “Kalau mau nonton TV di sini, Mas,” kata bosnya saat habis menata buah di teras depan.

Andi pamit untuk ambil pakaiannya di tempat kost sebelumnya. Ia langsung ke kamar Rian dan cerita semua yang ia alami di rumah bosnya. Rian tertawa. “Jelas ingin dinikahin itu,” kata Rian. “Gas sudah. Apalagi cantik.”

“Takutnya hanya nganggap aku adik.”

“Coba aja, tembak aja.”

Andi tertawa. “Kamu ya...”

“Eh, kesempatan. Dia butuh kasih sayang, kamu butuh uang buat kuliah kan?”

“Hahahahaa… Tidak lah, harga diri,” kata Andi. “Masak mau pake uang perempuan.”

“Tidak apa-apa. Kalau udah sukses nanti kan bisa ganti.”

Benar juga ya. “Nggak tahu lah. Kamu sendiri? Mau nikahin ibu kost?”

“Eh…!! Ngawur…!!” Rian kaget Andi bilang begitu. “Beliau orang baik, tidak mungkin begitu.”

Memang sih. Rasanya mustahil Bu Rahma mikir minta dinikahin brondong. Terlalu berwibawa.

BAB 7

Belum ada Komentar untuk "BAB 5: Dialog Cinta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel