Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 5: Tak Mau Makan Semeja

BAB 5: Tak Mau Makan Semeja

BAB 3 dan 4

Makan malam sudah siap di meja makan. Tiga pasangan suami istri selalu makan bersama. Pak Haji dan Buk Haji merasa bahagia bisa berkumpul dengan anak dan menantunya. Hamdi ambil nasi sepiring, lalu ambil mangkok, ibunya memandanginya, tak paham kenapa dia ambil mangkok lagi. Hamdi mengambil sayur dan diletakkan di mangkok yang baru saja ia ambil. Dia masih berdiri, belum duduk. Sofi jadi bingung. “Makan di kamar saja,” katanya pada Sofi.

Fikri menunduk saja. Pak Haji dan Buk Haji merasa terpukul dengan sikap anak sulungnya itu. Ima memandang Sofi sambil mengunyah makanan. Sofi pun pamit pada mertuanya ikut suaminya ke kamar. Fikri jadi semakin merasa bersalah. Hamdi memang sedikit keras kepala.

Esok harinya, sehabis sarapan, Ima berkunjung ke rumah Bu De-nya. Rumahnya berada tak jauh, sekitar 150 meter ke utara dari rumahnya, cuma masih masuk gang. Dilihatnya beliau sedang duduk di tempat duduk berbentuk persegi empat berukuran 2 x 3 meter di depan rumah dengan setumpuk sayuran.

“Hey, lama tidak main ke sini?” kata Bu De-nya, tampak senang. Sejak nikah nemenin suami terus. Sebenarnya bukan lama tidak main, jarang aja.

“Lagi ngapain, Bu De?”

“Ini, habis cari sayuran di sawah. Itu kalau mau sarapan, aku masak nasi goreng tadi.”

Ima duduk di sampingnya, “Baru saja selesai sarapan, Bu De.”

Ima masuk ke dalam, melihat-lihat kondisi rumah Bu De-nya. Rumah itu terbuat dari triplek, ada dua kamar, lantainya plester biasa, bukan keramik. Sejak Pak De-nya meninggal 20 tahun lalu, beliau memang tidak menikah lagi. Anaknya ikut istrinya di Surabaya. Jadi beliau tinggal sendiri.

Ima keluar lagi duduk di samping Bu De-nya.

“Mbak iparmu belum hamil?” tanya Bu De-nya, tanya kabar istri Hamdi.

“Belum Bu De.”

“Tidak coba usaha ramuan-ramuan gitu?”

“Tidak tahu. Jarang ngobrol, Bu De.”

“Loh, satu rumah kok jarang ngobrol…?”

“Mas Hamdi tu sering marah-marah.” Ima sudah tidak tahan memendam masalah di rumahnya. Ia ingin curhat, tapi kalau sama orang tua sendiri, rasanya tidak pas. Kebetulan Bu De-nya selalu siap mendengar keluh kesahnya.

“Kenapa?!” Bu De-nya kaget. Seharusnya senang tinggal serumah banyak teman, banyak yang bisa diajak ngobrol, tidak kesepian. Tetapi, kok malah bikin masalah. Tidak ia duga kalau si Hamdi akan bersikap begitu. Setahu beliau, dia anak baik. Makanya dia kaget ketika Ima bilang sering marah-marah.

“Ada aja. Sekarang malah cemburu sama mas Fikri.”

“Loh…?!” Beliau jadi tambah kaget. Menurut beliau ini sudah jadi musibah.

“Begitulah Bu De.”

“Kamu tidak ikut suamimu aja?” Beliau mencoba memberi solusi.

“Mas Fikri takut aku tidak betah.”.

“Atau tinggal di sini aja, biar Bu De ada temannya?” Beliau tidak tahu itu solusi yang tepat atau bukan, tapi beliau ingin ponakannya itu senang dan bahagia. Meskipun rumahnya hanya rumah triplek.

Boleh juga sih, pikir Ima. Dia senang. Dulu sebelum nikah juga kadang tidur di situ. Beliau baik sekali. Ima senang bersamanya.

“Ajak aja suamimu tinggal di sini.”

Sebenarnya Bu De-nya merasa kesepian sejak anaknya menikah dan ikut istrinya. Begitulah nasib kalau hanya punya anak satu. Dia dulu memilih untuk tidak menikah lagi karena fokus membesarkan anak. Ia berharap sekali anaknya bisa berkumpul bersamanya, tapi itu sulit, anaknya lebih bahagia di kota orang. Di sana ia punya pekerjaan yang cukup lumayan bayarannya. Kalau di desa, paling cuma jadi kuli.

Kalau dipikir-pikir, ada baiknya juga Ima tinggal di situ bersama suaminya, daripada konflik berkelanjutan dengan saudara sendiri. Kedua orang tuanya pun pasti mendukung karena mereka sudah tahu kalau masnya tidak suka sama suaminya. Ide bagus sih. Dia yakin Bu De-nya senang jika dia mau tinggal bersamanya.

BAB 6: Pindah Rumah

Sore ini Ima membawa beberapa pakaiannya ke rumah Bu De-nya dibungkus kresek. Tidak ada yang tahu kalau itu pakaiannya. Sofi pun tidak terpikir itu apa. Dia hanya melihat sekilas saja. Bu De-nya sempat nanya apa yang dibawa Ima. “Tak bawa dikit-dikit Bu De baju saya.” Beliau senang mendengarnya. Berarti akan ada temannya. Memang menurut beliau beresiko kalau anak sudah pada menikah masih serumah. Sedikit-sedikit Ima bawa pakaiannya. Tak ada yang curiga.

Fikri kaget melihat pakaian di lemarinya tambah sedikit. “Kok tinggal dikit bajunya?” tanyanya pada Ima.

Ima yang lagi duduk di ranjang turun dan berdiri di samping Fikri, lalu merangkulnya. “Pindah ke rumah Bu De aja,” katanya. Wajahnya dekat sekali.

Fikri menciumnya. Dia merasa tidak enak, khawatir mertuanya keberatan. “Kamu yakin?” tanyanya dengan nada khawatir.

Ima menciumnya. “Tenang. Saya yang atur semuanya,” katanya meyakinkan suaminya.

Fikri orang baru di keluarga ini, tentu istrinya lebih paham kondisinya. Ia khawatir mertuanya tidak senang jika pindah ke rumah Bu De-nya. Tetapi, ia pasrahkan saja sudah pada Ima daripada jadi beban mas iparnya. “Terus, kapan pindahnya?” tanyanya.

“Besok pagi tak bawa lagi bajunya, terus pamit pindah.”

Fikri tetap merasa tidak tenang. Rasanya, ia akan berhadapan dengan sesuatu yang menegangkan. Dia sendiri tidak berani seperti itu pada orang tuanya, harus minta izin dulu. Ia membayangkan bagaimana besok tanggapan mertuanya. Malam ini pikirannya tegang, detak jantungnya tak teratur. Tetapi, Ima selalu tahu caranya bagaimana membahagiakan suaminya.

***

Pagi-pagi sekali Ima memasukan pakaian ke dalam kresek. Fikri melihatnya dengan rasa khawatir. Dia masih belum yakin. Ima memandangnya, dia tersenyum, sepertinya dia paham kalau suaminya khawatir sekali. Tetapi, menurutnya itu biasa karena Fikri orang baru di keluarganya. “Mas tidak usah khawatir,” katanya. Nafas Fikri terdengar berat, tanda dia sedang tidak tenang pikirannya. Ima duduk di samping Fikri. “Perlu ditenangkan lagi tah?” ia menggodanya sambil meletakkan dagunya di bahu Fikri. Dipegangnya pipi kiri Fikri, ia tarik dan diciumnya. Sepertinya Fikri memang butuh ditenangkan. Segera ia berdiri dan mengunci pintu kamar.

Sofi melihat pintu kamar Ima tertutup. Dia lagi berjalan dari dapur habis mencuci. Sofi geleng-geleng kepala, padahal tadi pagi sudah terlihat keramas. Dia jadi penasaran, apakah adik iparnya itu akan keramas lagi. Sedang suaminya sudah ke sawah, katanya ada tanda-tanda penyakit di tanamannya. Ia ingin memastikan. Sofi duduk di ruang tamu. Di teras, Pak Haji dan Bu Haji duduk berdua, tampak mesra sekali mereka. Kepala ibu mertuanya ditutupi handuk, habis keramas, biar cepat kering ditutup handuk. Sofi ke kamar, rasanya tidak tahan ia di luar kamar.

Sofi mendengar suara Ima dan suaminya di kamarnya. Lama mereka berada di dalam kamar. Tak lama kemudian keduanya membuka pintu. Sofi yakin pasti Ima akan keramas lagi. Sofi diam saja di kamar. Tak lama kemudian Ia mencoba ke belakang, pura-pura cuci tangan. Benar, dilihatnya Ima lagi mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah.

Pak Haji berangkat ke sawah. Buk Haji main ke rumah tetangga. Suami Ima berangkat kerja. Ima membawa pakaiannya dibungkus kresek. Sofi melihatnya jelas itu pakaian yang dibawa Ima. Kemarin-kemarin dia tidak memperhatikan secara detail. Dia jadi bertanya-tanya mau dibawa kemana. Sekitar jam 9 suaminya pulang. Sofi berharap dicium, dipeluk oleh suaminya, tapi rupanya mustahil. Ia coba bicara pada Hamdi, “Ima bawa pakaiannya dibungkus kresek, Mas,” curhatnya.

“Bukan urusan kita,” jawabnya, tampak tidak tertarik untuk membahasnya.

Usai sholat dzuhur suami Ima datang untuk istirahat sejenak. Seperti biasa, selalu disambut ciuman oleh Ima, lengket sekali mereka. Sehabis makan siang, Ima langsung bilang pada abah dan umminya kalau mau tinggal sama Bu De-nya saja, “Biar Bu De ada temannya,” katanya. Pak Haji dan Bu Haji paham, itu karena sikap Hamdi. Mereka pun mengizinkannya.

Malam ini Fikri dan Ima akan tidur di rumah Bu De-nya. Kamarnya berdampingan dengan kamar Bu De-nya, hanya dipisah oleh triplek, tidak penuh sampai atap sekatnya. Tetangga Bu De-nya senang Ima di situ, “Tidak sendiri lagi Bu De-nya,” katanya. Sebagian tetangga bertanya-tanya, kenapa pindah. Anak orang kaya kok malah tinggal di rumah triplek, pikir mereka. “Dari pada tumpuk-tumpuk di sana, Hamdi juga di sana,” kata tetangga yang lainnya.

Menurut Fikri, ini lebih aman. Memang beresiko kumpul sama ipar.


Belum ada Komentar untuk "BAB 5: Tak Mau Makan Semeja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel