Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 17: Pesantren Tahfidz Istri Keempat

 BAB 17: Pesantren Tahfidz Istri Keempat


BAB 16

Hamdi hidup bersama 3 istri di satu rumah mewahnya. Bisnisnya berkembang walau dirinya bermain di balik layar. Yuli, istri termudanya, yang masih keponakan istri tuanya, Mak Da, rupanya mirip mantan istri pertamanya, Sofi. Ia jadi terkenang masa lalunya. Sofi yang ia nikahi dengan pernikahan normal, bukan nikah sembunyi-sembunyi. Sayangnya, saat itu ia terlalu fokus pada urusan ekonomi, sering tak berselera untuk memberi nafkah batin.

Ia jadi rindu rumah, tapi tidak mungkin pulang. Polisi pasti masih mengintainya, keluarga Hanif pasti masih dendam pada dirinya. Hamdi merasa berdosa sudah memperkosa ibunya Hanif dan membunuh mereka. Padahal beliau tidak bersalah. Hanya karena dendam dan sakit hati ia melakukannya. Padahal, waktu ia kecil dulu, ibunya Hanif sering menggendongnya. Hamdi juga kangen orang tua, adiknya, dan saudara-saudaranya.

Ia ajak musyawarah ketiga istrinya: Mak Da, Mak Lastri dan Yuli. “Aku ingin menyedekahkan 50% penghasilan bulan ini,” kata Hamdi.

Mak Da dan Mak Lastri setuju saja. Itu terserah Hamdi sebagai suami. “Kenapa tidak 5% saja,” kata Yuli. 50% memang banyak sekali.

“Untuk menebus dosa-dosaku,” jawab Hamdi.

Yuli merasa tak berhak juga sih melarangnya, yang penting jatah untuk dirinya tidak berkurang.

Hamdi merasa sangat berdosa, rasanya dirinya penuh dosa. Mengingat masa kecilnya, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjadi seorang pembunuh dan pemerkosa. Seharusnya dirinya tidak melakukan itu. Sakit hati telah membuat dirinya buta waktu itu. Saat dirinya sedang berjuang demi keluarga, istrinya malah tidur sama tetangga. Sakit hatinya mengingatnya.

Semua sudah menjadi masa lalu. Kini Hamdi sudah dikaruniai nikmat yang lebih baik. Usahanya sukses, punya 3 istri yang akur dan sayang pada dirinya. Hanya saja dirinya tidak bebas karena berstatus buronan.

***

Suatu hari ada salah satu pelanggannya menyodorkan brosur peluang untuk menjadi donatur lembaga tahfidz Quran pada istrinya. Hamdi tertarik untuk menjadi donatur, ini menjadi lahan amal dirinya. Hanya saja di brosur tersebut ada foto seorang wanita. Pikiran Hamdi jadi terpecah. Hamdi coba musyawarah dengan ketiga istrinya, “Boleh aku donasikan sebagian penghasilan untuk pesantren ini?” tanyanya.

Ketiga istrinya tidak melarangnya.

Satu lagi, Hamdi menunjuk foto di brosur itu. “Andai wanita di foto ini janda, dan mau jadi istri saya, kalian mengizinkan aku menikah lagi?”

Ketiga istrinya tertawa. Mak Lastri dan Mak Da setuju aja. Mereka sudah pada tua, sudah capek melayani Hamdi. Tinggal si Yuli, istri termuda. Ia tampak berat sih, tapi sudah biasa berbagi kan. Hanya saja, wanita di foto itu, meskipun tampak tua, tapi jauh lebih cantik dari dirinya. Penampilannya mempesona. Yuli cemburu. Tapi, kalau dipikir, memang lebih baik nambah istri satu lagi, sebab Hamdi terlalu perkasa. Akhirnya, Yuli pun mengizinkan.

Hamdi kirim pesan pada nomor WA tercantum di brosur, sekaligus menanyakan wanita di foto tersebut. Langsung ada balasan. Ternyata wanita di foto tersebut adalah pimpinannya, Ustadzah Ana. Beliau menggantikan almarhum suaminya memimpin pesantren.

Hamdi balas lagi WA-nya, “Kalau beliau mau, saya jadikan istri. Saya bantu biaya pesantrennya.”

Hamdi terpesona kecantikannya sampai lupa kalau mengurus pesantren itu berarti menjadi tokoh masyarakat. Sedangkan dirinya masih berstatus buronan. Sebagai ahli ilmu supranatural, Hamdi pun memanfaatkan ilmunya. Ia lakukan ritual pada foto Ustadzah Ana. Esok harinya ia suruh orang untuk mengantar bantuan bahan pokok ke pesantrennya Ustadzah Ana dan memintanya untuk menaburkan garam yang sudah ia bacain mantra di halaman rumah Ustadzah Ana.

Rupanya Ustadzah Ana hanyalah ustadzah modern yang tak begitu peduli dengan pergulatan ghoib. Jurus Hamdi dengan mudah tembus. Ustadzah Ana seperti ditarik oleh suatu kekuatan cinta. Beliau langsung ikut orang suruhan Hamdi mengendarai mobil sendiri. Dari jauh Hamdi merasakan kehadirannya.

Tak lama kemudian beliau tiba. Mak Lastri yang disuruh Hamdi untuk menyambutnya dan mengajaknya masuk. Hmm… Cantiknya. Yuli sangat cemburu. Dia merasa kalah. Hamdi jadi lupa lagi dengan dosa-dosanya. “Saya akan nikahi anda,” kata Hamdi. Ustadzah Ana menjawabnya dengan senyum. Hamdi memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sungguh cantik sempurna. Tak sabar ia ingin segera mencicipinya.

Hamdi meminta Mak Da untuk memanggilkan kyai dan mengajak dua orang untuk jadi saksi. Sama seperti pernikahannya dengan Mak Lastri dan Mak Da, juga Yuli. Nikah tanpa ramai-ramai.

Tak lama kemudian akad nikah dilangsungkan. Walau Hamdi orang kaya dan sudah menjadi donatur pesantren, Ustadzah Ana hanya minta maskawin uang Rp 50.000. Beliau mau jadi istri keempat. Sah. Tak satu pun keluarga pesantren tahu. Acara selesai.

Hamdi langsung mengajaknya ke kamar. Mak Da dan Mak Lastri hanya tersenyum saja. Yuli merasa tak kuat menahan cemburu. Selama ini, dirinyalah istri tercantik Hamdi. Sekarang, posisinya sudah direbut.

“Tolong rahasiakan pernikahan kita,” pinta Hamdi pada ustadzah Ana saat masih di kamar. Sepertinya ia sadar dirinya terjebak. Jika ustadzah Ana tidak bisa jaga rahasia, habislah riwayat Hamdi. “Aku akan bantu keuangan pesantren.”

Ustadzah Ana setuju saja. Berarti dirinya tidak tinggal serumah dengan Hamdi.

***

Habis mandi Hamdi duduk bersama keempat istrinya. Tampak sekali ustadzah Ana paling bening, paling seksi. “Sekarang sedang membangun dua asrama,” kata Ustadzah Ana.

“Saya bantu untuk segera menyelesaikannya,” kata Hamdi. “Saya ingin pahala dari ikut membangun pesantren.”

“Aamiin, aamiin, aamiin,” kata Ustadzah Ana. Sepertinya beliau merasa kelelahan sekali.

Mak Da mempersilahkan beliau istirahat saja. Ustadzah Ana pun ke kamar, istirahat.

Belum ada Komentar untuk "BAB 17: Pesantren Tahfidz Istri Keempat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel