Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 16: 3 Istri 1 Rumah

 BAB 16: 3 Istri 1 Rumah


BAB 15

Sore ini ada tamu dua orang wanita cantik. “Bagaimana kabar, Mak?” sapa yang berbadan gemuk saat disambut Mak Halima. “Mantap, Mak. Suami saya ketagihan sekarang,” katanya.

Mak Halima tertawa. Senang rasanya bisa bantu masalah para istri.

“Ini teman saya, Mak. Suaminya kurang jreng, Mak,” katanya. Temannya tertawa.

Hamdi banyak belajar pada Mak Halima tentang ilmu pertabiban. Ada beberapa mantra yang harus ia baca dengan konsentrasi, ada kalimat dzikir dan beberapa potong ayat Al Quran juga. Berkat bimbingan Mak Halima, akhirnya Hamdi pun menguasainya. Hamdi memanfaatkan ilmunya untuk bisnis, tapi kata Mak Halima, tidak boleh minta uang atau pasang tarif pada orang yang minta bantuan, termasuk yang minta doa kesembuhan. Jadi, Hamdi hanya memanfaatkan untuk melariskan barang dagangannya. Nah, yang paling laris adalah ramuan keperkasaan.

Karena dirinya masih berstatus buronan, maka tidak bisa menggunakan namanya dalam menjalankan bisnis. Dia hanya bantu promosi, semuanya menggunakan nama Mak Halima. Tetapi hamdi bahkan berani memanfaatkan internet. Walau di daerahnya tidak ada jaringan internet, untungnya ada jasa reseller wifi illegal. Katanya ilegal, karena dilarang menjual lagi jika pasang internet. Tetapi, kata sang reseller, katanya bukan jual lagi, kalau ditanya, bilang saja dipakai bersama, bayarnya urunan. Jadi, beda istilah saja. Pintar juga.

Bisnis obat keperkasaan Hamdi pun semakin dikenal orang, tanpa ada yang tahu kalau Hamdi yang menjalankannya. Bahkan ada tetangganya, teman abahnya, yang membeli padanya juga. Semua pelanggan yang datang, Mak Halima yang menemui. Kalau dipaketkan, baru Hamdi yang kirim. Agak beresiko sebenarnya kalau ada polisi atau mata-mata.

***

Malam ini Mak Halima menolak melayani Hamdi. Hamdi kaget, tidak biasanya. Dia pun tidak maksa. Mungkin beliau kelelahan. Tengah malam Hamdi terbangun, dilihatnya Mak Halima belum tidur, badannya panas sekali. Hamdi mencoba mengobatinya. Tetapi, rupanya sudah takdirnya, Mak Halima meninggal dunia sehabis subuh. Hamdi segera memberi tahu tetangga terdekatnya, Mak Sar. Dengan segera Mak Sar memberi tahu yang lain. Walau jarak antar rumah berjauhan, ternyata cepat sekali mereka berkumpul.

Mak Halima segera dimakamkan, proses pemakaman dipimpin oleh salah seorang kyai sepuh. Hamdi merasa kehilangan. Beberapa orang langsung minta izin pada Hamdi untuk masak persiapan acara tahlilan. Hamdi senang sekali, para tetangga sigap saling bantu. Ada Mak Sar, Mak Lastri, Mak Da, dan Mbak Sani yang masak di dapur. Sebagian yang lain bantu bersih-bersih. Beberapa bapak-bapak mengumpulkan kayu bakar.

Hamdi agak bingung. Bisa jadi para pasien Mak Halima datang melayat. Hamdi khawatir ada yang tahu kalau dirinya buronan, lebih-lebih mungkin diantara mereka ada yang polisi. Hamdi mencoba mengajak Mak Sar bicara berdua. Beliau seumuran dengan Mak Halima. “Saya takut ditangkap, Mak,” jelas Hamdi. Semua ia sampaikan pada Mak Sar.

“Tinggal di rumah saya, tidak apa-apa,” kata Mak Sar. “Saya tinggal sendiri di rumah.”

Wah, kalau tinggal sendiri, berarti nanti berdua sama Hamdi. “Maksud Mak Sar… Kita tinggal bersama di rumah Mak Sar…?”

Mak Sar tertawa. “Ya…. Gimana lagi.”

“Mak Sar mau nikah sama saya?” nekad saja Hamdi menawarkan diri.

Mak Sar sih senang aja punya suami muda, apalagi sudah sukses. “Tidak apa-apa kalau mau,” jawabnya sambil tertawa.

“Baik. Jadi, Mak Sar saja yang menyambut tamu ya?”

Melihat Hamdi kayak ketakutan, Mak Sar berbicara pada salah seorang lelaki tua dan kemudian segera mengajak Hamdi ke rumahnya. Cepat-cepat mereka menyusuri jalan setapak. Rumah Mak Sar berada di dekat sungai, dekat pohon bambu yang rimbun. Hamdi pun langsung dimasukkan kamar. “Kalau mau makan, di dapur,” kata Mak Sar, lalu berangkat lagi ke rumah duka.

***

Sore hari Mak Sar pulang. Ia jadi bingung harus serumah sama Hamdi. “Kita nikah dulu, Mak?” tanya Hamdi.

Mak Sar tertawa. Aneh rasanya nikah sama anak muda. Tetapi, ia mau saja biar Hamdi aman. Ia memanggil kyai untuk menikah. Tak lama kemudian kyai datang bersama dua orang saksi. Keduanya pun dinikahkan dengan maskawin uang Rp 100.000. Sah.

Sebagai pria perkasa, walau istri pertamanya baru meninggal, Hamdi langsung saja ingin segera malam pertama dengan Mak Sar. Bukan malam pertama jadinya, tapi sore pertama. Sore itu juga, ia ajak Mak Sar ke ranjang. Hmm… Mak Sar merasa canggung sekali. Dia tertawa malu. Aneh rasanya. Tapi, sudah jadi istri, sudah kewajiban, ia turuti saja. “Pake Vigel, Mak, biar tidak sakit. Sudah tua,” kata Hamdi. Mak Sar tidak paham apa itu vigel. Dia serahkan saja semuanya pada suaminya. Terserah dia mau ngapain.

***

Hari ketiga ramai sekali orang tahlil. Hamdi, sang tuan rumah bersembunyi. Mak Sar merasa kualahan juga punya suami muda. Ia coba menawarkan Mak Lastri dan Mak Da, untuk jadi istri juga. Mereka tertawa mendengarnya. Aneh-aneh saja pikir mereka. Rupanya, mereka semua mau. Sorenya, Mak Sar mencoba bicara sama Hamdi. Tentu saja Hamdi mau.

Habis maghrib Hamdi menikah lagi dengan dua orang perempuan sekaligus. Mereka bertetangga, tapi agak jauh juga jaraknya. Hamdi meminta mereka tidur serumah saja dulu, di rumah Mak Sar, karena yang paling dekat dengan rumah duka.

Usai hari ke-7 Hamdi dan Mak Sar pindah ke rumah Mak Halima. Hamdi menurunkan ilmunya pada Mak Sar. Tetapi, rupanya beliau kurang bakat. Tapi, masih bisa diatasi, beliau bisa jadi perantara saja. Mak Lastri dan Mak Da juga ikut menjalankan bisnisnya. Berempat mereka jalankan bisnis pengobatan alternatif.

Semakin hari semakin banyak pelanggannya, semakin besar omsetnya. Hamdi pun membeli tanah dan membangun rumah gedung yang cukup besar. Tetapi, saat baru saja selesai pembangunannya, Mak Sar meninggal dunia. Mak Da menawarkan ponakannya pada Hamdi agar dijadikan istri juga, dia baru saja cerai sama suaminya. Bukan ponakan dari saudara kandungnya sih, tapi dari saudara jauh. Cuma dari urutan nasab, dia ponakannya. Mungkin biar bisa punya anak. Hamdi pun mau dan menikahinya.

Banyak agen, reseller, dropshipper yang ikut bersama menjual produk Hamdi, tapi tak satu pun dari mereka yang pernah melihat Hamdi. Para tamu juga tak pernah. Rumahnya atas nama Mak Da sekarang. Hamdi juga beli mobil dengan nama Mak Sar, tapi Hamdi yang nyetir meskipun dirinya tidak punya SIM. Untungnya Yuli mau belajar nyetir mobil, tentu dia senang bisa jalan-jalan sendiri dengan mobil. Yulilah yang buat SIM. Jadi sopir dia kalau jalan-jalan, hanya kalau pas dikira ada polisi saja sih. Oleh Hamdi Yuli diberi tanah di dekat kebun jeruk milik Pak Haji Sarwani di utara bukit. Jadi, adil sudah.

BAB 17: Pesantren Tahfidz Istri Keempat


Belum ada Komentar untuk "BAB 16: 3 Istri 1 Rumah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel