Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

3 CINTA 1 RUMAH

Novel 3 CINTA 1 RUMAH


Tiga pasang suami istri hidup dalam satu rumah. Tentu saja tidak mudah menjaga keharmonisan hidup. Tetapi, hidup kadang harus memilih.

BAB 1: 1. Desahan di Kamar adik ipar

Sofi keluar dari kamarnya hendak ke dapur, melewati kamar adik iparnya. Terdengar suara mendesah-desah di dalam kamar. Tadi dia memang melihat suami adik iparnya itu datang. Biasanya dia pulang istirahat saat siang begini. Istirahatnya pasti selalu bersama istri di kamar. Sofi sudah sering kali mendengar suara desahan adik iparnya itu saat mereka di kamarnya. Entah sudah berapa kali seperti itu. Bahkan pernah sore hari juga saat suaminya baru pulang. Padahal itu waktu tanggung. Dia merasa iri pada adik iparnya. Betapa senangnya punya suami sangat perkasa.

Ia kembali ke kamarnya, direbahkannya kepalanya di paha suaminya, Hamdi, yang sedang tiduran. Tetapi, suaminya diam saja. Yah, begitulah. Waktu jadi pengantin baru pun dulu juga begitu, tidak setiap malam. Mau ia raba-raba, takut kena marah. Hamdi malah mendorong kepalanya agar tidak tidur di pahanya. Sepertinya dia ingin tidur. Usaha Sofi gagal, suaminya benar-benar tertidur.

Menjelang sholat ashar sofi melihat ibu mertuanya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Tampak ceria sekali wajahnya. Sore dan pagi adik ipar dan mertuanya memang sering keramas. Dirinya yang jarang, tapi masih mending daripada tidak pernah sama sekali. Tetapi, tetap saja ia merasa iri.

Malam ini Sofi merasa tidak tahan sekali. Pokoknya ia akan berusaha untuk menggoda suaminya. Ia sudah menyiapkan berbagai strategi. Padahal Hamdi sedang fokus mikir bisnis, saat ini ia sedang berencana untuk tanam cabai di sawahnya. Tetapi, ia masih mikir-mikir. Tanaman cabai memang cukup unik karena harganya yang cukup fluktuatif. Jika saat panen harga melonjak naik, bisa kaya mendadak. Tetapi, jika sudah anjlok turun, siap-siap bangkrut. Hampir tiap hari Hamdi mencari-cari info bisnis yang bisa memberinya keuntungan besar, tapi baru di angannya.

Sofi langsung merangkulkan tangannya ke badan suaminya. Malam sudah mulai sepi. Hamdi diam saja. Sofi merapatkan badannya. Tetapi, pikiran Hamdi lagi fokus pada bisnis. Seperti kurang selera untuk bercinta. Sofi tidak mau menyerah. Dia menggerak-gerakkan badannya. Akhirnya Hamdi pun terpengaruh. Senangnya, malam ini Sofi berhasil. Tetapi, rupanya pikiran Hamdi lagi tidak relax. Hanya sesaat saja. Sofi menyesal, pikirnya, mending tidak usah.

Pagi-pagi Bu Haji keramas lagi. “Kok basah rambutnya,” kata Mak Dira yang kebetulan pas berkunjung mau ngasih sayuran. Beliau memang sering berbagi kalau pulang dari sawah, di sawahnya banyak kangkung tumbuh liar. “Aku sudah jarang,” tambah beliau, masih berdiri di pintu.

“Masakin akar putri malu,” kata Bu Haji agak berbisik. “Atau madu sama bawang putih.” Sofi mendengarnya.

***

“Telurnya dibuat telur mata sapi aja ya,” kata Ima saat masak di dapur.

“Kakakmu kan tidak suka telur mata sapi,” kata Bu Haji.

“Kapan hari mau, kok, Bu,” kata Sofi.

“Nah, mau kan,” kata Ima. Ia memang suka sekali. “Mas Hamdi itu tidak terlalu pilih-pilih makanan.”

Sofi sebenarnya yang kurang suka. Tapi, sejak menikah, dirinya memang kurang bisa berebut peran di dapur. Mertua dan adik iparnya masih mendominasi. Tapi, tidak masalah sih, mereka baik. Hanya saja, ia tidak bebas menentukan menu masakannya.

Masih bersyukur, sebab banyak yang bilang mertua itu lebih kejam dari ibu tiri. Ternyata Bu Haji baik. Ima juga baik. Hanya saja Sofi belum dipercaya memegang kendali dapur. Jadinya, dia jarang makan makanan kesukaannya. Mau masak sendiri, yang beda, tidak enak. Ntar dikira merendahkan atau menyepelekan masakan mertua dan ipar. 


Ibadah yang pasti DITERIMA
adalah MEMBACA SHOLAWAT 
صلى الله على محمد

 

BAB 2: Obrolan Kuli Kandang

“Kamu tinggal serumah sama mertuamu?” tanya Rahman pada Fikri saat mengaduk pakan fermentasi ternak di kandang.

“Iya, kakak ipar juga,” jawab Fikri.

“Hah….?! satu rumah?!”

“Cantik iparmu itu,” kata Saiful. Saiful tahu istrinya Hamdi.

“Wah, hati-hati,” kata Rahman.

“Tidak lah, istri saya lebih cantik.” Fikri paham. Maksud Rahman, hati-hati tergoda ipar.

“Siapa tahu ingin ganti selera. Hahaha...”

Pak Haji Shaleh bersama istri keduanya ke kandang melihat hewan ternaknya. Mereka pun berhenti ngobrol, biar tampak fokus bekerja.

“Seksi banget ya meskipun sudah tua,” kata Saiful melihat istri pak haji, agak berbisik.

“Astaghfirullah, matanya,” kata Rahman.

“Istri ketiganya itu kan.”

“Bukan. Itu istri keduanya. Istri ketiganya lebih kurus.”

“Orang sukses kebanyakan besar nafsunya ya.”

“Makanya, besarin nafsumu, biar kaya juga.”

“Hahahahaaa...”

“Tapi memang mujarab jamunya Pak Haji itu,” kata Fikri.

“Kamu sudah nyoba?”

“Sejak malam pertama.”

“Wah, puas istrimu.”

“Senyum-senyum aja dia.”

“Aku tak coba beli juga lah.”

Saat jam istirahat, Saiful ke tokonya Pak Haji. Rupanya istri keempatnya yang jaga. Hmm… Cantiknya. Walau sudah tua, menggoda sekali. Bening. “Apa, Ful?” tanya beliau. Saiful jadi malu. Ia tertawa. “Kenapa tertawa?” tanya Bu Haji.

“Beli jamu kuat, Bu.”

Hahahahaaa… Bu Haji senyum-senyum. Beliau ambilkan satu wadah. “Minum dua sendok sehari, bisa main tiga kali sehari kamu,” kata beliau.

Jadi tidak enak. Saiful tertawa. “Bisa lama, Bu Haji?” tanyanya.

Bu Haji mau tertawa mendengar pertanyaan Saiful. “Bukan cuma lama, bisa berkali-kali.”

Pikir Saiful, sepertinya obat seperti ini laris dijual. Kalau dirinya berjualan, pasti banyak yang beli. Ini kan kebutuhan semua orang. Tapi, sepertinya Pak Haji meracik sendiri. Saiful tidak tahu bahan-bahannya.

Baca juga: Menikahi Ibu Teman Sendiri

***

Fikri kembali ke kandang dengan rambut basah. “Kamu, kalau pulang istirahat, main?” tanya Rahman.

Fikri tertawa. “Kamu?”

“Capek. Tiduran aja.”

“Aku nyoba tadi,” kata saiful. “Hahaha… Sukses. Istri saya kaget.”

“Kapan kamu belinya?”

“Tadi, pas istirahat. Bu Haji yang jaga tokonya.”

“Tidak sekalian kamu tanya testimoni.”

“Iya, tak tanya.”

“Hah..?! Beneran?! Terus gimana jawaban beliau?!”

“Senyum-senyum beliau. Bisa berkali-kali katanya.”

“Hahahahaaa…. Tidak malu kamu nanya gitu.”

“Ini bagus kayaknya buat bisnis. Kayaknya laris.”

“Mau jadi saingannya Pak Haji, kamu?”

“Ya, kan tidak di sini jualannya, di rumah.”

“Kalau kayak Pak Haji,” kata Rahman. “Paling rizki 4 orang jadi satu ya. Makanya, ngalir terus rizkinya.”

“Mau nambah istri kamu?”

“Kalau niat ada. Tapi urusan perut masih belum maksimal, bisa tambah masalah kalau nambah yang di bawah perut.”

“Dulu, waktu istrinya masih satu, kan bisa aja ya hidup beliau,” kata Fikri.

“Iya, istri kedua dan ketiganya kan bareng itu nikahnya.”

“Iya ya…?! Gimana malam pertamanya ya?” kata Rahman. “Apa tidak rebutan.”

“Ya, gantian lah.”

Belum ada Komentar untuk "3 CINTA 1 RUMAH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel