Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Menikahi Janda Kaya Untuk Dibiaya Kuliah


Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. "Ajak teman-temannya makan malam bareng."

Wah, ibu kost yang satu ini memang baik banget. Dari pada harus cari makan di luar, mending makan sama ibu kost. Kamar Rian memang yang paling dekat dengan rumah Bu Rahma. Dia pun segera ke kamar-kamar lainnya. Ada sepuluh kamar, ada yang isi satu, ada juga yang isi dua hingga tiga orang. Bu Rahma memang sering begitu, baik sekali beliau. Mungkin karena tidak punya anak, naluri keibuannya untuk anak kostnya.

"Kebetulan, uangku habis," kata Andi. "Makan besar nih."

Mereka dipersilahkan makan di ruang tengah, lesehan. Rian dan beberapa temannya bantu menyiapkan. "Farhan mana?" tanya Bu Rahma saat habis naruh sayur.

"Sepertinya tadi masih mandi," kata Toni.

"Dipanggil aja."

Rian segera memanggilnya. Farhan ini memang agak pemalu juga. Rian membuka pintu kamar kostnya, "Diajak makan bareng sama ibu kost," kata Rian padanya.

"Aku kenyang."

"Ah, ayo sudah," bujuk Rian. "Menghormati saja. Ambil dikit. Bu Rahma sudah kadung masak banyak." Rian menarik lengan Farhan.

Dengan ekspresi terpaksa, Farhan pun mau.

"Dihabisin ya," kata Bu Rahma.

Wah, pikir Andi, kayaknya harus nambah semua, harus habis dua porsi biar habis. Kalau teman-temannya tidak mau, Andi bisa habis 3 porsi, pikirnya.

Bu Rahma menghidupkan TV. Mereka memang diizinkan untuk nonton TV asal bukan di jam tidur. Mungkin biar beliau ada temannya. Sejak ditinggal kawin lagi oleh suaminya, pasti beliau merasa kesepian. Bu Rahma tidak ikut makan. Beliau duduk di kursi depan.

"Arman itu kuliah dimana sekarang?" tanya beliau, mengajak mereka ngobrol sambil makan.

Arman masih tetangganya Rian sama Andi. Kakak kelas mereka yang sudah lulus. "Tidak kuliah," kata Andi. "Kerja, Buk."

"Kerja apa?"

"Di warung makan."

"Dulu kan daftar kuliah ya?"

"Tidak lolos tes. Katanya ingin yang negeri kuliahnya."

"Berarti mau daftar lagi tahun depan?"

"Iya, mungkin."

"Bareng kalian berarti?"

Andi tertawa. "Kalau ada biayanya," katanya.

"Cari beasiswa. Eman-eman, masih muda. Jaman sekarang, kalau cuma lulusan SMA, sulit cari kerja."

"Toni sering bolos, Buk," kata Andi.

"Ah, kamu juga," kata Toni.

"Gimana mau dapat beasiswa, kalau suka bolos."

Rupanya masih ada sisa sedikit makanannya. Padahal Andi sama Toni sudah habis dua porsi. "Habiskan itu," kata Bu Rahma. "Bawa aja ke kamarnya." Wah, Andi sama Toni selalu siap.

Malam menjadi sepi lagi bagi Bu Rahma. Kadang dirinya merasa tak berguna. Dokter sudah mengatakan dirinya tidak bisa punya anak. Memang ada yang bilang prediksi dokter tidak selalu benar, artinya masih ada kemungkinan hamil. Tetapi, Sudah dua kali dirinya menikah, yang kedua malah hanya dijadikan mainan. Seminggu saja hidup bersamanya, langsung minta cerai.

Banyak orang bilang, sebagai anak tunggal, Bu Rahma sangat beruntung dapat harta warisan orang tua yang cukup banyak. Punya usaha tempat kost, punya toko, masih punya kebun jeruk. Tetapi, bagi seorang wanita, rupanya harta tak lebih membahagiakan dibanding dengan bisa hamil layaknya wanita normal. Usianya sudah 42 tahun, rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk memiliki anak.

Baca juga: Dijodohkan dengan Bude

***

“Rian tidak pulang kan?” tanya Bu Rahma saat Rian baru pulang sekolah.

Rian yang masih berseragam menghentikan langkahnya, “Tidak, Bu,” jawabnya memandang ke Bu Rahma yang berdiri di teras.

Akhir pekan biasanya anak kost pada pulang, kecuali beberapa yang rumahnya cukup jauh, atau mereka yang memang tidak ada kepentingan.

“Hari minggu pagi, bantu Ibu ya?”

Rian sudah paham. Pasti acara bagi-bagi. Andi yang sudah ada di kamar mendengarnya. Pikirnya, pasti dia akan mendapatkan sesuatu, ya, biasanya kan kalau habis bantu-bantu dapat sesuatu. Dia senang sekali.

“Bisa, Bu,” jawab Rian. Dia memang jarang menolak kalau diminta bantuan. Dan biasanya memang selalu siap apapun tugasnya, selama itu kebaikan.

“Ajak temannya yang tidak pulang ya?”

“Baik, Bu.”

Bu Rahma masuk ke rumahnya. Rian segera ke kamarnya dan segera mandi. Andi ke kamar Rian, dia menunggu Rian selesai mandi. Kamar mandi di kost ini memang tidak di dalam kamar. Andi dan Rian memang sudah biasa saling masuk kamar. Andi melihat buku-buku Rian di rak. Ada buku berjudul “Mimpi Besar”. Andi mengambilnya dan membaca daftar isinya. Dia coba baca biografi penulisnya di halaman akhir. Wow…!! Luar biasa. Dia coba baca salah satu bab tentang courage. Dia baca sekilas definisinya, ada cerita, yang ia pahami, courage adalah mau terus maju meskipun dalam kondisi ketakutan dan kekhawatiran.

Rian selesai mandi. Dilihatnya pintu kamarnya terbuka. “Wah, ada tamu,” katanya. Dia melihat Andi sedang baca bukunya yang berjudul Mimpi Besar. “Kalau hatam itu, bisa terbang kamu,” katanya sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya.

Andi tersenyum. “Sudah tidak nyentuh tanah ya?” tanyanya, yang ia maksud kaki Rian.

“Sudah satu mili,” katanya becanda. “Nanti juga terbang sepuluh meter.”

“Mau kuliah dimana kamu?”

Rian yang lagi memasang pakaian tidak segera menjawabnya. Dia mendekat ke cermin dan menyisir rambutnya. “Dimana saja, yang penting orang tua mampu,” jawabnya.

“Tidak cari beasiswa?”

Rian duduk di samping Andi. “Ada info beasiswa?”

“Banyak, asal mau ikuti prosesnya.”

***

Malam ini, Rian, Andi, Toni, Farhan dan beberapa teman mereka sibuk bantu-bantu Bu Rahma untuk acara bagi-bagi sumbangan besok pagi. Ada banyak barang untuk orang jompo, anak-anak yatim dan juga kebutuhan dapur. Farhan kagum sama ibu kostnya ini. Luar biasa baik. Dia ingin kalau nanti jadi orang kaya, bisa meniru beliau.

Pagi-pagi sekali Bu Rahma dan beberapa anak kost berangkat ke salah satu panti asuhan naik mobil beliau. Tidak begitu jauh. Tiba di sana, Rian dkk langsung beraksi. Tampak wajah anak-anak yatim berlarian dengan ceria. Andi jadi membayangkan dirinya adalah bagian dari mereka. Ia tertawa dalam hati. Anak-anak itu tidak punya orang tua, tapi tampak ceria sekali. Memang semua di dunia ini bukan milik kita, pikirnya, hanya titipan. Nikmati saja yang ada, syukuri, kalau tidak sesuai harapan, sabar saja. Hidup memang begitu, tak perlu berhayal terbang ke angkasa.

Usai bagi-bagi di panti, mereka melanjutkan perjalanan ke panti jompo. Jaraknya juga tidak begitu jauh. Suasananya beda dengan di panti asuhan yang penuh aura mimpi. Pikir Andi, mereka ini adalah orang tua yang kurang beruntung. Menurutnya, seharusnya kan anak-anaknya, atau ponakannya, atau cucunya yang merawat mereka.

Usai dari panti jompo mereka ke warung makan terbesar. Wah, Andi senang banget makan enak. Karena Bu Rahma bilang ambil saja, Andi pun memanfaatkan ambil sepuasnya, nasi menggunung di piring, lobster, ikan bakar, dan sate. Hahahaha… Rian dan Toni tertawa melihatnya.

Usai makan mereka pulang. Masih belum usai, mereka membagi-bagi pada tetangga dekat yang kurang mampu.

“Semoga dengan amal kebaikan ini urusan kita dimudahkan Allah,” kata Bu Rahma. Rian dkk mengamini. “Kalian yang sudah bantu, semoga jadi orang sukses semua.” Kemudian beliau memberi mereka hadiah.

***

Hari ini Bu Rahma ke rumah Kyai Sakir di desa Saliwan, Kecamatan Cermee. Kyai Sakir merupakan salah satu guru spiritual yang banyak dikunjungi orang: minta doa atau minta nasehat. Dulu Bu Rahma minta doa agar usaha lancar. Alhamdulillah, Allah kabulkan, usahanya berkembang. Toko busana sudah ada dua cabang.

“Saya mohon doa agar dikaruniai pasangan, Kyai,” kata Bu Rahma.

Tak banyak bicara. Kyai Sakir ke dalam ruangan kecil, agak lama. Kemudian keluar lagi menggenggam sesuatu dibungkus plastik. “Ini tabur di halaman depan rumah setiap sore,” kata beliau. Bu Rahma menerimanya. “Banyak sedekah, banyak baca sholawat, banyak bersyukur, jangan suka mengeluh.” Bu Rahma mendengar nasehat beliau. Tak lama kemudian Bu Rahma memberi amplop pada beliau. Lalu pamit pulang. Beliau berharap berkat doa kyai, Allah datangkan pria yang baik dan penyayang.

Menjelang maghrib Bu Rahma menabur garam yang dikasih Kyai Sakir di halaman depan rumah. Entah untuk apa itu, beliau tidak paham, yang penting mengikuti petunjuk sang guru saja. Setiap hari beliau lakukan menabur garam sedikit demi sedikit di halaman depan rumah sambil dengan sabar berharap datangnya jodoh.

***

Rian, Andi, Toni dan Farhan senang sekali. Hari ini mereka sudah sah melepas seragam abu-abu putih. Tandanya sudah bukan lagi anak sekolah. Mereka ngobrol rencana ke depan di teras sambil menikmati suasana sore. “Kuliah dimana, Han?” tanya Toni.

“Aku daftar di UGM. Kamu?”

“Ke UIN.”

Rian dan Andi masih mikir. Rian malah lebih suka kerja. Dia ingin tahu rasanya punya penghasilan sendiri. Andi masih mencoba cari-cari info beasiswa. Tetapi, sepertinya dia nyerah. Dia memang kurang suka dengan yang rumit-rumit. Dia malah berbalik cari info lowongan kerja di Facebook. Kebetulan ada lowongan jualan es buah di dekat alun-alun. Andi langsung menghubunginya.

Sehabis sholat Isyak, Andi mendatangi rumah yang memberi info lowongan kerja tersebut. Rumahnya besar sekali, banyak gerobak di depannya. Andi pencet bel di gerbang. Tak lama kemudian keluar seorang wanita cantik. “Masnya yang WA tadi?” tanyanya.

“Iya, benar.”

Wanita itu membukakan pintu gerbang dan mengajak Andi masuk. Andi dipersilahkan duduk di kursi di teras. Tak lama kemudian wanita itu keluar lagi membawa minuman. “Ini usaha saya, Mas,” katanya menunjuk gerobak-gerobak di depan rumah. “Sudah lima tahun berjalan, sejak ditinggal suami," katanya. "Sebelumnya kerja dimana?”

“Baru lulus, Mbak.”

“Ow, baru lulus tahun ini ya… Berarti baru pertama kali ya.”

“Iya.”

“Tidak apa-apa, yang penting semangat.”

***

“Dari mana?” tanya Rian saat Andi tiba di kost.

“Lamar kerja aku,” katanya, tampak ceria sekali. Dia duduk di samping Rian, di teras kamar kost.

“Kerja apaan malam-malam?”

“Jualan es buah, aku dari rumahnya yang punya.”

Rian tertawa. “Kamu mau, jualan es buah?” kaget dia mendengarnya.

“Yang penting bisa mandiri.”

“Jualannya dimana?”

“Katanya di alun-alun.”

Boleh juga sih, pikir Rian. Jaman sekarang memang bukan lagi jamannya jaga gengsi. Tampil keren kalau kantong kering, percuma. Tapi, Rian mau coba cari lowongan kerja lainnya. Siapa tahu dapat yang lebih baik.

"Kamu mau balik kampung?" Tanya Andi.

"Sepertinya tidak, langsung cari kerja aja."

"Iya, kalau balik kampung, malah buntu jadinya."

________________

Untuk membaca novel ini, selengkapnya ada di KBM App, bisa install di PlayStore . Bisa Klik di sini sudah sampai bab 9

Belum ada Komentar untuk "Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel