Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 9: Harapan Cinta


Bab 7 dan 8

Sehabis makan malam, Elin ajak Andi nonton TV bareng di ruang tengah. Beda rasanya bagi Andi. Seakan Elin sudah menjadi miliknya. “Mas setia ya,” kata Elin. Rasanya baru kemarin pertemuannya dengan Elin saat melamar kerja. Kalau sudah jodoh, mudah jalannya. Elin senang, Andi mau menerimanya, padahal Andi sudah tahu dirinya mandul. Elin tiduran, kepalanya ia rebahkan di paha Andi.

Udah kayak suami istri aja, pikir Andi. Bulan depan, pasti lengket banget.

“Tidak apa-apa kan, Mas, aku tiduran gini?” kata Elin.

Andi tersenyum.

Elin memandang wajah Andi. “Mas seneng kan...”

Andi masih bingung harus bagaimana bersikap.

“Tadi malam aku ngabari saudaraku yang di Arab,” cerita Elin. “Kata dia, ‘What…?! Kamu dapat brondong…!!’” Andi tertawa mendengarnya. “Tidak apa-apa, yang penting sayang.”

“Sudah lama di Arab?” Andi baru nemu topik; mulai tadi diam aja.

“Udah 10 tahun lebih.”

“Tidak punya suami?”

“Cerai dia. Jahat suaminya dulu. Ndak tahu di Arab, tidak pernah cerita sih.” Kepala Elin gerak-gerak di paha Andi, bikin dia...

Ke depan, setelah menikah, seperti ini suasana hari-hari Andi, ditemani bidadari cantik. Indah rasanya. Tidak ia sangka akan menemukan jodoh secepat ini. Saat sekolah dulu, tidak pernah terpikir untuk pacaran. Rasanya sibuk dengan PR terus. Ah, jadi tidak sabar menunggu hari pernikahan.

***

Bu Rahma mengajak anak kostnya makan malam lagi malam ini. Senang berbagi. Menyaksikan anak kostnya makan di rumahnya, jadi hilang rasa kesepiannya. Beliau berharap akan hadir menemaninya seorang pangeran untuk bersama menghabiskan sisa usia. Guru spiritual beliau selalu menganjurkan untuk selalu bersyukur, tidak mengeluh, sabar jika bersedih, dan banyak sedekah.

Sudah lama hidup menjanda, kini ingin lagi ada sosok pria di sampingnya. Bulan ini beliau juga menaikkan gaji seluruh karyawannya. Semoga dengan senyum mereka, Allah mudahkan urusannya, Allah hadirkan seorang kekasih hati.

“Kebetulan banget, anakku mulai masuk sekolah,” kata salah seorang karyawan beliau saat menerima gaji lebih besar dari biasanya.

Padahal, kata manajernya, tidak ada peningkatan penjualan. Berarti ini memang murni niat baik Bu Rahma.

“Ini bukan bonus kan?” Tanya salah seorang karyawan lainnya.

“Bukan. Sudah jelas diumumkan, naik gaji.”

“Baik banget ya beliau. Aku dulu pernah pinjam uang ke beliau.”

“Pinjam berapa?”

“500 ribu. Dulu, udah lama. Mungkin beliau kasihan, tahu kan keadaan keluargaku. Dibebaskan sama beliau.”

“Tidak usah bayar, berarti.”

“Iya.”

***

Beberapa hari lalu ada seorang pria yang bertamu ke rumah Bu Rahma. Sempat beliau berpikir ia lah jodohnya. Tapi rupanya bukan. Dari cara bicaranya, dia bukan lelaki baik. “Anda cantik, seksi, sangat menggoda,” katanya. Bu Rahma jadi takut. Kayak anak muda saja. Seusianya, seharusnya yang dibahas bukan itu lagi, meskipun dibutuhkan dalam hubungan suami istri.

“Maaf, saya belum bisa menerima anda.”

Andai ia baik sikapnya, mungkin beliau minta waktu berpikir saja sebelum memberi jawaban, tapi karena sikapnya begitu, langsung saja beliau tolak.

“Apa saya tidak baik?” Lelaki itu masih mencoba membujuk beliau.

“Mungkin bukan jodoh.”

Akhirnya pria itu pergi. Bisa jadi ia hanya ingin hidup enak dengan janda kaya.

***

Rian jadi ingin juga seperti sahabatnya, Andi. Ia mulai menghayal, teringat teman-teman SMA-nya. Pasti mereka juga pada cari jodoh, yang jomblo. Banyak juga yang cantik, yang masih jomblo. Tapi, kalau tidak punya penghasilan sendiri, repot juga. Jadi bingung: kuliah, kerja, kawin?

Rian coba buka-buka gallery foto-foto di sekolah. Ada satu teman yang ia suka sebenarnya: Fitria Ramadhani. Ia perhatikan lagi fotonya. Cantik. Tapi dia anak orang kaya. Katanya mau kuliah di Singapura. Orang kaya, tak perlu nyari beasiswa. Ia coba chat. Nomor WA-nya ada di grup alumni. “Hi, gimana kabar?” Baru kali ini ia chat cewek tanpa ada urusan.

Agak lama tidak dibalas, tapi akhirnya dibalas juga. “Siapa?” jawabnya.

“Baru lulus udah lupa,” balas Rian.

“Tidak ada fotonya.”

“Hehe… Yang dulu juara lomba KTI.”

“Rian ya…? Kuliah dimana kamu?”

“Belum. Lagi nunggu pengumuman di UNESSA. Kamu?”

“Aku di Jordan.”

What…?! Rian kaget. Jauh banget. Tapi, nomor WA-nya kok tetap nomor yang dulu. “Kamu kuliah di situ?”

“Masih kursus bahasa, belum masuk kuliah.”

Yaaah… Kayaknya tak ada harapan untuk pdkt. Tapi, keren juga kalau bisa dekatin dia.

BAB 10: Pernikahan Andi dengan Bos

Hari ini pernikahan Andi dan Elin diselenggarakan. Keluarga Andi banyak yang hadir. Keluarga Elin tidak ada yang hadir. Bu Rahma bersama beberapa anak kost hadir. Wah, jadi tampak dewasa di Andi, padahal baru lulus SMA. Tak disangka hari ini ia duduk di pelaminan. Rian bersama Toni ke depan, mau foto bersama sang pengantin. “Dah siap nembak ntar malam,” kata Toni berbisik pada Andi. Elin mendengarnya.

Menyaksikan ekspresi bahagia Andi dan Elin, Bu Rahma kok jadi agak iri, ingin rasanya punya pendamping hidup lagi, tapi bukan brondong seperti Andi. Walau harta banyak, sepi rasanya jika hidup sendiri.

“Kamu banyak kamu, Ton?” kata Rian melihat piring Toni kayak gunung.

“Ini makanan berkah,” kata Toni. “Siap tahu ketularan. Orang nikah itu rizkinya tambah banyak.”

Tak lama kemudian, nasinya pun habis. “Mau nambah lagi, Ton?” tanya Rian.

Toni tertawa. “Tidak, malu.”

“Bilang aja sama Andi.”

“Hahahahaaa... ngawur kamu.”

Sesekali Andi memandang wajah istrinya di sela-sela ramainya tamu. Bosnya kini sudah jadi miliknya. Cantik. Tak terbayangkan sebelumnya bisa sejauh ini.

***

Sepulang dari acara pernikahan Andi, Bu Rahma berkunjung ke guru spiritualnya lagi untuk mohon doa.

“Belum datang jodoh?”

“Belum, Kyai.”

“Sabar, mungkin nanti, atau besok, atau minggu depan.”

Benar juga, pikir Bu Rahma. Kita tidak tahu. Tetapi, sang guru masuk ke ruangan agak lama. Pikir Bu Rahma, pasti akan diberi sesuatu lagi, seperti biasanya. Benar, tak lama kemudian, beliau keluar dengan garam dibungkus plastik. “Seperti biasa, tabur di halaman ya. Banyak baca istighfar dan sholawat, banyak sedekah.”

Bu Rahma pamit dan segera menaburnya di halaman.

Rian inbox Andi. “Pemanasan dulu ya,” pesannya.

Andi membalasnya dengan emot tertawa. Lalu segera matikan handfonnya.

Malam semakin larut. Andi dan Elin kini tidur sekamar. Andi memandang istrinya yang baru saja halal untuknya. Agak canggung. Wanita yang berada di hadapannya adalah wanita sukses, lebih dewasa, bosnya sendiri. Tetapi, rasa canggung itu seakan pergi terusir oleh kecantikannya. Andi membelainya. Manisnya senyumnya. Ia kecup keningnya.

Rian jadi ingin menikah juga, tapi ia lebih terobsesi untuk kuliah. Pasti keren jadi mahasiswa, pikirnya.

Tengah malam Bu Rahma bangun untuk sholat malam. Beliau ingin mengadukan dan meminta pada Yang Maha Pemberi, ingin hadirkan pendamping hidup yang shalih. Beliau ingin di sisa usianya, hidupnya tidak kesepian.

***

Pagi menjelang siang Rian mencoba menemui Bu Rahma, ucap salam dan ketuk pintu. Bu Rahma langsung menyuruhnya masuk. Rian pun masuk.

“Ada apa Rian?” Tanya Bu Rahma karena Rian kayak mematung di pintu. Agak bingung. Bu Rahma kaget melihatnya. Rian sudah biasa bantu-bantu, kok jadi terlihat canggung. “Begini, Bu...”

“Duduk dulu,” tegur Bu Rahma yang sudah duduk di kursi.

Rian pun duduk. Aneh, pikir beliau. “Bolehkah saya minta bantuan Ibu?”

“Boleh.” Bu Rahma memang senang bantu orang. “Selama ini kamu kan sering bantu saya. Butuh bantuan apa?”

“Saya… Saya ingin kuliah, tapi tidak ada biaya. Saya mau nikahin ibu dan merawat ibu.”

Bu Rahma kaget. Kalau bukan Rian yang selama ini banyak bantu beliau, sudah beliau tampar. Dasar brondong, pikirannya aneh-aneh. “Ada apa dengan kamu, Rian?” tanya beliau. “Kamu kok jadi begini?”

“Ibu kan tidak punya anak. Saya bersedia hidup bersama ibu selamanya.”

Bu Rahma teringat garam yang diberi guru spiritualnya, Kyai Sakir. Beliau pikir, mungkin Rian terdampak. “Hmmm... Ibu pikir dulu ya, Rian. Belum bisa memberi jawaban.”

Rian menatap Bu Rahma sejenak. “Baik, Bu.”

Bu Rahma langsung ke kediaman guru spiritualnya lagi. Beliau ceritakan yang terjadi.

“Jodoh itu Allah yang menentukan, bukan manusia. Kita hanya berdoa.”

“Tapi dia masih anak-anak, Kyai?”

“Dunia ini memang kadang aneh. Anda punya harta dan butuh pendamping, dia butuh harta dan mau mendampingi anda.” Benar, tapi Bu Rahma masih sulit menerima. “Dunia tidak bisa kita atur sesuai kemauan kita. Hanya sedikit yang bisa kita atur.”

Bu Rahma pamit dengan hati bingung. Memalukan sekali, pikir beliau jika harus menikah dengan anak baru lulus SMA. Tiba di rumah, Beliau langsung masuk kamar, duduk, merenung. Kalau Rian mau hidup bersama beliau, itu tidak masalah, pikir beliau. Beliau akan anggap anak. Tetapi, kalau dianggap anak, mungkin akan pergi juga kalau dia nikah. Sedang jika dia menikahi Bu Rahma, maka akan hidup bersama hingga akhir usia. Tapi ini aneh, memalukan. Anak seusia Rian pasti masih mikir asmara, sedang beliau sudah mikir asal hidup bersama saja. Mengenai permintaan Rian, minta bantu biaya kuliah, sepertinya Bu Rahma bersedia. Sejak awal kost di situ, Beliau sering minta bantuan Rian. Dia anak baik.

BAB 11: Rumah Buat Rian

Belum ada Komentar untuk "BAB 9: Harapan Cinta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel