Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 3: Mengharap Cinta

BAB 3: Mengharap Cinta

Bab 1 dan 2

Hari ini Bu Rahma ke rumah Kyai Sakir di desa Saliwan, Kecamatan Cermee. Kyai Sakir merupakan salah satu guru spiritual yang banyak dikunjungi orang: minta doa atau minta nasehat. Dulu Bu Rahma minta doa agar usaha lancar. Alhamdulillah, Allah kabulkan, usahanya berkembang. Toko busana sudah ada dua cabang.

“Saya mohon doa agar dikaruniai pasangan, Kyai,” kata Bu Rahma.

Tak banyak bicara. Kyai Sakir ke dalam ruangan kecil, agak lama. Kemudian keluar lagi menggenggam sesuatu dibungkus plastik. “Ini tabur di halaman depan rumah setiap sore,” kata beliau. Bu Rahma menerimanya. “Banyak sedekah, banyak baca sholawat, banyak bersyukur, jangan suka mengeluh.” Bu Rahma mendengar nasehat beliau. Tak lama kemudian Bu Rahma memberi amplop pada beliau. Lalu pamit pulang. Beliau berharap berkat doa kyai, Allah datangkan pria yang baik dan penyayang.

Menjelang maghrib Bu Rahma menabur garam yang dikasih Kyai Sakir di halaman depan rumah. Entah untuk apa itu, beliau tidak paham, yang penting mengikuti petunjuk sang guru saja. Setiap hari beliau lakukan menabur garam sedikit demi sedikit di halaman depan rumah sambil dengan sabar berharap datangnya jodoh.

***

Rian, Andi, Toni dan Farhan senang sekali. Hari ini mereka sudah sah melepas seragam abu-abu putih. Tandanya sudah bukan lagi anak sekolah. Mereka ngobrol rencana ke depan di teras sambil menikmati suasana sore. “Kuliah dimana, Han?” tanya Toni.

“Aku daftar di UGM. Kamu?”

“Ke UIN.”

Rian dan Andi masih mikir. Rian malah lebih suka kerja. Dia ingin tahu rasanya punya penghasilan sendiri. Andi masih mencoba cari-cari info beasiswa. Tetapi, sepertinya dia nyerah. Dia memang kurang suka dengan yang rumit-rumit. Dia malah berbalik cari info lowongan kerja di Facebook. Kebetulan ada lowongan jualan es buah di dekat alun-alun. Andi langsung menghubunginya.

Sehabis sholat Isyak, Andi mendatangi rumah yang memberi info lowongan kerja tersebut. Rumahnya besar sekali, banyak gerobak di depannya. Andi pencet bel di gerbang. Tak lama kemudian keluar seorang wanita cantik. “Masnya yang WA tadi?” tanyanya.

“Iya, benar.”

Wanita itu membukakan pintu gerbang dan mengajak Andi masuk. Andi dipersilahkan duduk di kursi di teras. Tak lama kemudian wanita itu keluar lagi membawa minuman. “Ini usaha saya, Mas,” katanya menunjuk gerobak-gerobak di depan rumah. “Sudah lima tahun berjalan, sejak ditinggal suami," katanya. "Sebelumnya kerja dimana?”

“Baru lulus, Mbak.”

“Ow, baru lulus tahun ini ya… Berarti baru pertama kali ya.”

“Iya.”

“Tidak apa-apa, yang penting semangat.”

***

“Dari mana?” tanya Rian saat Andi tiba di kost.

“Lamar kerja aku,” katanya, tampak ceria sekali. Dia duduk di samping Rian, di teras kamar kost.

“Kerja apaan malam-malam?”

“Jualan es buah, aku dari rumahnya yang punya.”

Rian tertawa. “Kamu mau, jualan es buah?” kaget dia mendengarnya.

“Yang penting bisa mandiri.”

“Jualannya dimana?”

“Katanya di alun-alun.”

Boleh juga sih, pikir Rian. Jaman sekarang memang bukan lagi jamannya jaga gengsi. Tampil keren kalau kantong kering, percuma. Tapi, Rian mau coba cari lowongan kerja lainnya. Siapa tahu dapat yang lebih baik.

"Kamu mau balik kampung?" Tanya Andi.

"Sepertinya tidak, langsung cari kerja aja."

"Iya, kalau balik kampung, malah buntu jadinya."

BAB 4: Kisah Inspiratif

“Es buah, Mas, empat.”

Pembeli pertama. Andi masih kaku. Tapi, ia harus bisa melayani pelanggan dengan baik. Mungkin karena mereka cantik-cantik, masih muda-muda. Namanya juga anak muda, lihat cewek cantik dan seksi, langsung puyeng kepalanya. Andi menghidangkan minuman es buahnya di meja. Gerobaknya memang gandeng dengan meja, tapi cuma muat lima orang. Kalau ada pembeli lagi, hanya ada kursi, atau cari tempat duduk sendiri.

Langit cerah, tampak sekali wajah cewek-cewek itu jadi tambah bening. Andi bingung, harus diarahkan kemana pandangannya. Ia pun pura-pura pencet-pencet hapenya.

“Pak Andi itu sudah doktor ya?”

Andi kaget mendengar namanya disebut oleh cewek itu. Namanya sama.

“Iya. 10 juta gajinya itu.” Andi kaget mendengarnya. Enak juga punya gelar Doktor.

“Wih….!! Iya tah?! Gaji dosen itu berapa sih?”

“Tidak tahu. Beliau pernah cerita sama Mbakku. Kenal kan sama beliau. Katanya segitu gajinya. Katanya beliau itu ngajar di tiga lembaga.”

“Wow….!! Enak ya kalau sudah bergelar doktor.”

“Tapi, prosesnya juga tidak mudah, biayanya juga. Butuh perjuangan dan kesabaran.”

“Iya, kalau orang tidak punya, bisanya nyari beasiswa.”

“Saingannya banyak.”

“Nikah sama duda kaya aja.”

“Hahahahahaaa…. Ngawur…!!”

Andi mau tertawa juga, tapi ia tahan. Ia jadi mikir, gaji seorang doktor segitu, jauh lebih tinggi dibanding gajinya sebagai kuli es buah. Ingin rasanya kuliah hingga bergelar doktor. Tak lama kemudian, datang seorang wanita cantik berseragam, sudah terlihat agak tua, tapi make up-nya bikin wajahnya jadi bening menggoda. Beliau memesan es buah juga. Andi segera membuatkannya. Wanita itu memilih duduk di kursi samping gerobak.

Tiba-tiba hapenya berdering. “Iya, halo,” kata wanita itu. “Iya, benar. Macam-macam harganya, ada yang dua ratus, ada yang lima ratus juta.”

Waduh…!! Keren juga. Jualannya ratusan juta. Tidak seperti Andi, hanya jualan es buah, harga lima ribuan. Dunia ini luas. Terlalu lama dirinya bertapa di ruang kelas sekolah.

Jam 8 malam Andi antar gerobak ke rumah bosnya. Melihat bosnya, ia jadi menghayal, enak jadi bos. Tinggal bersantai di rumah, uang mengalir. Benar kata cewek tadi, proses itu tidak mudah. Andi baru saja memulai proses tersebut.

Tiba di tempat kost Andi melihat Rian sedang membaca buku di teras. Ia duduk di dekat Rian. “Belum tidur?” tanyanya.

“Wah, gimana hari pertama kerja?” Rian balik nanya.

“Alhamdulillah, laris. Kamu, udah dapat kerja?”

Rian menutup buku yang dibacanya. “Sepertinya aku mau usaha untuk kuliah saja, cari beasiswa,” jawabnya. “Nanti bisa sambil kerja atau bisnis.”

“Aku tadi ada pelanggan mahasiswa yang ngobrol soal gaji dosennya yang sudah bergelar doktor, katanya 10 juta gajinya.”

Rian tersenyum. “Memang, Bro. Kita memang perlu berproses menjadi lebih baik. Harus berubah.”

“Capek juga kerja,” kata Andi. “Kalau bosku enak, tinggal santai di rumah nunggu uang.”

“Orang mana bosnya?”

“Ke timur dari alun-alun. Janda dia, cantik juga.”

“Sssttt…!!” Rian ngasih isyarat Andi ngomongin janda. Ibu kost mereka janda.

Andi segera sadar. “Tapi memang cantik, seksi. Hmm… Menggoda.”

“Tidak kamu nikahin aja?”

“Haha… Terus kuliah pake uang dia.”

Rian tertawa. “Boleh juga idemu.”

Belum ada Komentar untuk "BAB 3: Mengharap Cinta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel