Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

BAB 1: Makan Malam Masakan Ibu Kost Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak ...

BAB 19: Mahasiswi Cantik

BAB 19: Mahasiswi Cantik

Bab 17 dan 18

“Mas yakin mau bisnis lele pake kolam terpal?” tanya Elin waktu sarapan.

“Iya,” sepertinya Andi sudah mantap. “Mulai saja dulu satu kolam kecil, ntar kalau sudah cukup paham, bisa nambah lagi.”

Ada WA masuk di HP Andi, Ia cek, ternyata ada pesanan bunga 5 buah. Bikin tambah semangat jalankan bisnis, pagi-pagi sudah ada orderan.

“Orderan?”

“Iya, agronema, lima. Efek sholawat,”

“Alhamdulillah.”

Sepertinya Andi sudah benar-benar lupa dengan keinginannya untuk kuliah. Sepertinya sudah terlanjur hidup bahagia bersama Elin. Ditambah lagi bisnisnya sudah mulai nampak jalan terangnya, sepertinya akan terus berkembang. Tidak ia sangka hidupnya akan sebahagia ini, dapat istri cantik, kaya, meskipun sudah janda, tapi ia baik. Rizki memang tidak tertukar.

***

Terik matahari panas sekali. Rian baru saja keluar dari kelas. Ia ke serambi masjid kampus, pojok sebelah utara bagian depan, agak teduh di situ. Agak tenang suasananya. Ia bersandar ke dinding dan membuka handphonenya. Terdengar ada suara orang membaca Al Quran di dalam. Biasanya anak tahfidz sedang muroja’ah, mengulang hafalannya. Enak suaranya.

Angan Rian jadi terbang ke masa lalu, masa masih jadi siswa, masa masih kost di rumah Bu Rahma. Tidak ia sangka sekarang ibu kost yang sudah tua itu jadi istri rahasianya. Tak pernah terpikir dirinya akan terjebak cinta janda tua, bukan terjebak cintanya sih, tapi hartanya. Mungkin ini sudah takdir, mungkin ini cara Allah memberi jalan. Rian ingin kuliah dan butuh biaya, Allah pertemukan dengan janda kaya yang kesepian.

Dari arah timur tampak seorang mahasiswi berjalan menuju masjid. Tak sengaja pandangan Rian tertuju padanya, terus ia pandangi. Anggun. Cantik. Mendadak suasana jadi berubah, seperti tak ada mahasiswa lain, terus saja Rian memandanginya. semakin dekat. Sepertinya mahasiswi tersebut merasa ada yang memandanginya, sejenak ia memandang Rian. Sempat tersenyum sekilas, tapi segera mengalihkan pandangan.

Adzan berkumandang. Rian segera wudhu untuk sholat berjamaah. Dia segera menuju shaf terdepan, masih ada yang kosong di tepi kiri, barisan terbaik paling depan. Rupanya Rian jadi tidak fokus gara-gara memandang wajah mahasiswi tadi. Cantik sekali. Rian suka.

Usai sholat, bahkan ia lupa untuk sholat sunnah ba’diyah, keburu ke serambi kanan, menunggu si cantik keluar. “Tidak pulang, Rian?” sapa Leo. Ah, ganggu aja ni orang, pikir Rian. “Ke kontrakan yuk!” ajaknya. Pikir Rian, pasti ada ceweknya di sana. Mending yang halal, meskipun sudah tua.

“Duluan aja,” jawab Rian.

Tak lama kemudian mahasiswi cantik yang ia tunggu pun keluar dari bilik sebelah kanan masjid. Rian memandanginya menuruni tangga masjid. Cantiknya. Mempesona. Ia berjalan sendiri. Rian segera ambil kesempatan mengikutinya. Ia percepat langkahnya dan berjalan di sampingnya, “Boleh kenalan?” sapa Rian.

Ia pun memandang Rian dengan senyum, “Olivia,” katanya.

“Aku Rian.” Sebenarnya ingin minta WA, tapi nanti saja dulu. “Semester berapa?”

“Semester satu.”

“Boleh tahu IG-nya?”

Dia tersenyum, “Olivia Sri Ratna Dewi,” jawabnya. Surprised. Rupanya dia mau berteman di sosial media.

“Udah makan siang?”

“Puasa.”

“Ow. Maaf… Makasih ya, udah mau berteman.”

“Iya.”

Rian pun menghentikan langkahnya, membiarkannya pergi. Sepertinya dia ada urusan.

***

Tiba di rumah. Bu Rahma sudah menunggunya. Makan siang sudah siap. Rian menghela nafas. Beliau sayang sekali pada dirinya, dibiayai kuliah, dimasakin makanan enak. Jadi merasa terhina. Tetapi, tak apalah, pikirnya, Rian akan merawat Bu Rahma hingga akhir hayatnya. Ia menghampiri Bu Rahma, kecup pipinya. Sudah tidak canggung sekarang.

Saat makan, Rian jadi teringat Olivia tadi. Cantik. Andai saja dirinya masih single, kan bisa berusaha dapatkan hatinya. Tetapi, Bu Rahma yang telah membantu dirinya bisa kuliah, bisa menjadi mahasiswa. Dengan uang beliau bisa berada di kampus dan bertemu Olivia.

Olivia Sri Ratna Dewi, sepertinya dia adalah cinta sebenarnya. Angan Rian tak bisa lepas dari senyumnya. Hubungannya dengan Bu Rahma selama ini sudah menjadi rutinitas biasa yang tak ada istimewanya lagi: makan bersama, tidur bersama, sesekali ngobrol. Bagi Rian, itu sudah biasa. Namun, patut ia syukuri juga, Bu Rahma selama ini banyak jasa menyelamatkan dirinya dari dosa zina.

Ia pandangi wajah Bu Rahma. Wanita tua ini banyak jasa, jadi orang tua, sekaligus jadi istri. Sungguh aneh, tapi ini nyata. “Kenapa memandang begitu?” tanya Bu Rahma. Rian menanggapi dengan senyum.

Usai mandi Rian dan Bu Rahma duduk di teras belakang, memandangi taman bunga. Saat seperti ini, Rian lupa dengan dunia kampus. Bahkan saat di kampus, sering merasa rindu aroma shampo yang masih melekat di rambut istrinya usai keramas. Bahagia juga berdua dengan istri, meskipun beliau sudah tua. Sering kali pikiran yang aneh-aneh jadi sirna berkat belaian cinta beliau.

Menjelang maghrib Bu Rahma pulang ke rumahnya. Rian sendirian. Dia teringat Olivia lagi. Dia buka IG, ia cari namanya. Langsung ia temukan. “Hi,” ia kirim pesan. Postingannya banyak gambar bunga.

Tak lama kemudian ia balas, “Hi.”

“Aku Rian, yang tadi kenalan.”

“Ow. Ini IG-mu. Salam kenal ya.”

“Iya. Lagi apa?”

“Mau ke masjid.”

“Ow.”

Ramah sekali dia. Biasanya mahasiswi yang sering ke masjid tidak mau komunikasi dengan cowok. Olivia tampak ramah sekali, bahkan ia mau komunikasi di sosial media. Pikir Rian, kesempatan jika dia masih single. Sayangnya Rian sudah punya istri. Tapi, kalau Bu Rahma mengizinkan dirinya menikah lagi, boleh juga.

BAB 20: Menikah Lagi

“Berangkat jam berapa ke kampus?” tanya Rian lewan IG.

Olivia selalu cepat membalasnya. “Jam 8,” jawabnya.

“Ntar makan siang sama aku ya?”

Olivia kirim emot tertawa. “Ok.”

Rian kaget. Pikirnya, ia akan menolaknya atau merasa malu. Aneh. sejak awal kenal dia, mulus saja jalannya. Terasa gampang banget. Sempat Rian pikir dia cewek gampangan. Tapi, tampaknya dia rajin ibadah. Rian pun berangkat ke kampus sebelum jam 8, padahal kuliahnya sekitar jam 10.

Tiba di kampus, Rian kirim pesan, “Aku udah di kampus.” Kayak sudah jadi pacarnya saja.

Olivia pun segera membalas. “Baru sampek gerbang.”

Rian jalan kaki ke double way menuju gerbang kampus. Dilihatnya Olivia berjalan sendirian. Langsung saja ia menghampirinya, “Ada kuliah?”

“Nanti jam 9. Mau ke perpustakaan aja. Kamu?”

“Tidak ada.”

“Kok pagi?”

Rian tersenyum. “Nggak ada, mau ketemu kamu aja.”

Olivia tersenyum. “Mau ke perpustakaan juga?”

“Iya.”

Mereka pun ke perpustakaan. Rian merasa jadi single lagi. Lupa pada istri saat begini. Olivia cantik, anggun. Rian terpesona. Tak pernah terbayang sebelumnya bisa berjalan berdua dengan cewek cantik seperti ini. Rian masih penasaran, Olivia single atau sudah ada yang punya. Mumpung lagi berdua, ia tanya aja. “Kamu belum punya pacar?” tanyanya.

Olivia tersenyum. “Tidak. Belum mikir ke sana,” jawabnya. “Langsung nikah aja ntar.”

Wah, mantap. Andai Rian masih single, langsung lamar saja. Sayangnya, harta yang ia miliki adalah milik istrinya. Kenyataan memang tak selalu sesuai keinginan.

***

Panas matahari menyengat, tepat di ubun-ubun. Rian menunggu Olivia di depan masjid. Ada rasa senang, ada rasa khawatir, ada rasa takut. Bingung. Entah apa yang akan terjadi nanti? Tentu dirinya akan semakin dekat dengan Olivia. Bagaimana dengan Bu Rahma? Tak lama kemudian Olivia keluar dari bilik sebelah kanan. Begitu anggun dia.

Olivia segera menghampirinya. “Makan dimana?” tanyanya.

Hmm… Cantik sekali. Sikapnya yang agak manja bikin Rian lupa dunia. Jadi terasa berdua di surga. “Di warung Dapur Mama, depan.” Romantis sekali.

Waaahh… Seneng banget. Masakannya mantap di situ.

***

Elin mencoba membicarakan lagi soal anak dengan Andi. “Kalau mas mau nikah lagi, tidak apa-apa,” katanya.

“Ssssst…!! Jangan bilang begitu.” Menurut Andi, tidak ada wanita yang tidak sakit hatinya karena rasa cemburu.

“Usia terus bertambah, kita akan semakin tua.”

“Terus berdoa saja pada Allah.”

Rupanya Elin sudah mulai memikirkan hari tua. Memang, menyuruh suami nikah lagi itu bisa jadi bumerang. Bisa jadi Andi malah meninggalkan dirinya. Tetapi, ia yakin Andi orang baik. Menurutnya, usia semakin bertambah, tidak akan lagi mikir hal-hal romantis. Elin pun mencoba terus mendesak Andi untuk menikah lagi saja.

Andi merasa tidak akan tega melihat dua wanita didera rasa cemburu. Memang, kemauan Elin agar dirinya menikah lagi juga tidak salah. Sebab dia memang divonis tidak bisa hamil oleh dokter. Apalagi dalam islam, mau dimadu itu berpahala bagi istri. Kalaupun terpaksa harus menikah lagi, mungkin Andi akan menikah dengan wanita tua yang masih bisa punya anak saja, pikirnya. Mungkin yang sudah tua, tak punya rasa cemburu lagi.

“Wanita tua itu sudah tidak bisa hamil, Mas,” kata Elin. “Kalaupun bisa, resikonya besar.”

“Insya Allah dengan panduan dokter, aman.”

“Memang mas mau sama wanita tua?”

“Tujuannya kan hanya agar punya anak; bukan untuk bersenang-senang.”

“Ya… Tidak apa-apa, kalau mas mau.”

Menurut Andi, istri dua pasti ribet. Tapi gimana lagi, agar bisa punya anak, memang harus menikah lagi. Dirinya ingat waktu di kampung dulu, ada ibu-ibu yang sudah punya cucu masih punya anak lagi. Mungkin karena konsumsi mereka makanan alami. Mungkin Andi bisa menikahi wanita seusianya. Setahu dia juga, kalau di kampung, ibu-ibu tidak cemburuan. Biasanya yang penting dikasih uang.

Andi pun mencoba ke daerah pedesaan cari calon istri kedua. Aneh rasanya. Tetapi, tidak apa-apalah. Pikirnya, kayak nyari indukan hewan ternak aja. Tetapi, bingung juga jalan-jalan tanpa tujuan. Ia pun beralih ke online. Banyak grup cari jodoh. Siapa tahu ada yang cocok. Ia posting di beberapa grup menggunakan akun samaran.

Banyaklah yang tertawa di komentar, tapi ada juga yang memuji. Katanya, sudah benar, demi istri pertama yang sudah lama setia, biar tidak cemburu. Ada satu inbox yang menarik perhatian Andi: “Ada, tetanggaku, 50 tahun lebih, dia tinggal sendiri, anaknya di luar negeri tidak ada kabar. Siapa tahu masih bisa punya anak.”

Coba saja Andi minta alamatnya. Tak perlu tahu fotonya, yang penting bisa punya anak. Tetapi, coba Andi cari-cari info lain, siapa tahu ada solusi lain selain nikah lagi. Ia coba browsing internet solusi bagi wanita mandul agar punya anak. Mesin mbah google memang cerdas, di suatu website ada yang mengulas 9 solusi agar wanita yang divonis mandul bisa hamil dengan beberapa teknik. Wah, lumayan. Tidak perlu nikah lagi, pikir Andi. Ia coba tunjukkan pada istrinya.

“Boleh dicoba."


Belum ada Komentar untuk "BAB 19: Mahasiswi Cantik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel