Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Tiga Wanita Dalam Gua

Tiga Wanita Dalam Gua

Malam ini, malam Jumat, di desa Sumber Tellu sedang geger. Malam ramai menjadi seperti siang. Suara pentungan berteriak-teriak seperti memanggil dewa-dewa di angkasa karena tak ada petugas keamanan di sana yang akan menolong mereka. Mereka tak kenal Pak  Polisi, tak kenal Koramil, tak kenal Pak bupati. Desa mereka memang sangat terpencil, namun asri dan tak kenal polusi. Pak Lurah yang menjadi satu-satunya pimpinan desa ikut berteriak-teriak kebingungan seperti anak kecil ketakutan pada tikus, menambah ketakutan warga.

Rumah-rumah yang jumlahnya tak lebih dari seperempat jumlah penduduknya kosong karena penghuninya berhamburan keluar membawa parang, cangkul, celurit dan pentungan. Perempuan-perempuan pun keluar menggendong anak-anaknya. Sang dewi malam yang anggun seakan terbelalak menyaksikan manusia-manusia kebingungan. Suara mereka telah membangunkan mahluk-mahluk yang sedang terlelap oleh belaian sinar dewi malam.

Bintang-bintang berkedipan seperti mata-mata bidadari, tak nampak sama sekali peduli apa yang terjadi di bumi Sumber Tellu. Dan awan-awan bercerai berai, seakan tak mau turun untuk menjadi hujan. Mereka tak peduli bumi. Malam memang terang dan terlihat tidak menakutkan. Mahluk-mahluk sedang terlena oleh kehangatan suasana.

Penduduk desa yang sedang terlelap tiba-tiba dikejutkan oleh jeritan suara gadis jelita yang teraniaya, tiga kali jeritannya dari mata air yang berjumlah tiga di tengah-tengah desa. Konon ceritanya, karena ketiga mata air itulah desa ini diberi nama Sumber Tellu. Tellu adalah bahasa Jawa yang berarti tiga.

Seorang kakek yang sudah sangat sepuh, satu-satunya orang tertua di desa tersebut, pernah menceritakan pada salah seorang pemuda yang hatinya mulai merindu bidadari. Pemuda itu  bernama Suratmuda, usianya baru 16 tahun. Kakek tersebut bernama Kakek Jujurudin, umurnya sudah 116 tahun. Beliau menceritakan awal mula desa 500 tahun silam. 

Tiga sumber mata air itu berasal dari ludah tiga pemuda kembar tampan penghuni pertama desa tersebut, bernama Rismu, Simu, dan Sumu. Waktu itu, ketiga pemuda kembar tampan tersebut sedang tersesat di hutan, bingung tidak tahu arah. Mereka hanya bisa pasrah pada nasib menahan haus karena tidak menemukan mata air. Dan tiba-tiba ada seekor kambing hutan betina yang sedang ketakutan dikejar harimau terjatuh di hadapan mereka dan tidak sadarkan diri. Sementara harimau yang mengejarnya terkaget-kaget karena tidak pernah melihat manusia. Tiga pemuda kembar tampan terperangah, terpaku oleh ketakutan. Salah satu dari mereka, Rismu, melirik kambing yang bergerak-gerak hingga ekornya menyentuh kakinya. Dia melihat perut kambing itu basah, karena kehausan ia pun langsung menduga itu air susu dan meminumnya seperti anak kambing menyusu. Kedua saudaranya juga ikut menyusu, lupa pada harimau yang mengancam.

Harimau itu ketakutan, menduga tiga manusia yang menurutnya mahluk aneh memakan kambing dari perutnya, bukan lehernya. Dia lari sejauh-jauhnya ditertawakan pohon dan rumput. Terhapuslah dahaga ketiga anak manusia itu dan si kambing pun terbangun dari pingsannya. Dia memandang ketiga pemuda kembar tampan. Tetapi dia tidak keheranan seperti si harimau. Kambing itu malah menjilat-jilat tangan mereka dan melangkah perlahan seperti mengajak mereka. Tiga pemuda kembar tampan itu pun mengikuti dengan hati bertanya-tanya tak mengerti. Bunga-bunga bermekaran mengiringi langkah mereka. Aroma harum semerbak mengudara. 

Si kambing menuju sebuah gua, mereka mengikuti seperti budak setia pada tuannya. Dan ketika memasuki gua sejauh kira-kira 5 km terdengar suara wanita bercanda ria di dalam gua. Hutan seolah berubah menjadi istana dewi cantik berhias bunga-bunga wangi. Seakan surya meredup namun tak mengurangi keindahannya agar bumi menjadi sejuk, dan angin berhembus teratur menyuarakan alunan merdu seperti suara seruling yang dibunyikan oleh bibir-bibir indah bidadari. Dari sinilah semerbak wangi bunga berasal. 

Mereka semakin cepat melangkah, bunga-bunga cinta bermekaran, memanggil-manggil ingin dipetik seperti dewi kerinduan. Wanita-wanita itu tersenyum menyambut kedatangan tiga pemuda kembar tampan. Tatapan cinta beradu membuat pohonan menari-nari ria disaksikan senyum mentari. Hati wanita-wanita itu bersuara bahwa cinta mereka bukanlah buah untuk dinikmati, bukan air susu pelepas dahaga. Suaranya diantar angin dan ditaburkan di pucuk-pucuk pohon. Cinta mereka adalah penyatuan jiwa dari keping yang terpisah. 

Seekor burung berwarna jingga menjadi resah menyaksikan alam yang hendak berubah karena cinta akan menemui kesempurnaan. Daun kering di dekatnya bertanya tentang keresahannya. “Cinta sangat indah, namun sangat menyakitkan. Dalam cinta selalu ada derita dan bahagia,” kata burung jingga sambil tersedu. 

Salah seorang dari wanita itu mundur satu langkah dan tertunduk karena merasa kalah cantik. Namun ketiga pemuda kembar tampan justru terpana pada keindahan yang terpancar pada wanita yang telah mengakui kekalahannya. Di wajahnya terpancar kesedihan mendalam, bagai mawar kelelahan mekar, tetapi menjadikan dia semakin anggun. Ketiga wanita cemburu dan marah sehingga seolah mereka berubah menjadi tiga orang raksasa berwajah buruk menjijikkan.

Tiga pemuda kembar tampan meludah karena jijik melihat ketiga wanita yang telah berubah menjadi buruk rupa. Namun wanita yang keanggunan tiba-tiba menghilang, seakan menyadari bahwa kecantikannya hanya akan membawa petaka. Dan tanpa sepengetahuan ketiga pemuda kembar tampan, dia berpesan pada sebongkah batu di dinding gua, “Ibarat aku sebuah pohon, kuingin dimiliki seutuhnya, bukan hanya dipetik buahnya dan tak dirawat.” Tak ada yang tahu pesan itu kecuali sebongkah batu yang selalu membisu.

Tiga pemuda kembar tampan keluar dari gua karena jijik melihat tiga wanita yang sedang terpedaya api asmara. Hanya ludah yang mereka tinggalkan. Ketiga wanita itu mendekati ludah tiga pemuda kembar tampan, dan tiba-tiba muncul tiga mata air sangat deras. Ketiga wanita itu segera minum seperti bidadari kehausan cinta di taman surga. Tetapi mereka malah kepanasan, seperti terbakar tenggorokannya. Seakan air itu adalah jiwa tiga pemuda kembar tampan yang tidak mau menyentuh hati yang tidak suci.

Tubuh mereka mengguling-guling di tanah karena tidak kuat menahan panas hingga akhirnya mereka pingsan. Mereka tergeletak tak berdaya, tak bergerak lagi, hanya nadinya yang masih berdenyut. Si kambing segera lari ke luar, mengejar tiga pemuda kembar tampan. Pohonan seakan berhenti melambai, angin-angin bersembunyi setelah menyapu sampah-sampah yang berserakan sehingga hutan menjadi tenang dan ada jalan bersih yang dibentuk oleh angin. Si kambing melewatinya dan bertemulah ia dengan ketiga pemuda kembar tampan sedang menatap langit.

Ketiga pemuda itu melihat si kambing dan menghampiri. Si kambing menunduk sedih, matanya berlinangan mengabarkan jiwa yang sedang menderita karena termangsa kebuasan cinta.  Satu air matanya jatuh menyentuh bumi. Pohon-pohon gemetar mencium aroma asmara dan bumi gemetar seakan menggigil. Jiwa tiga anak manusia yang berbudi luhur mengerti si kambing  mengharap kebijaksanaan yang mampu tundukkan kebuasan yang memangsa ketiga dewi yang sudah lama menjadi temannya dalam gua. Tanpa suara kambing itu berbalik dan melangkah. Ketiga pemuda kembar tampan mengikutinya.

Ketiga pemuda kembar tampan berdiri di dekat tubuh wanita yang tak berdaya. Mega merintih-rintih memanggil malam. Matahari tahu diri dan kembali ke persembunyiannya dan dewi malam segera menguasa menaburi bumi dengan keemasan cahaya cinta. Bintang-bintang berkedipan dan bintang kejora menyendiri bak bidadari sedang cemburu. Langit cerah, angin bersiul lembut menyanyikan kidung malam yang indah.

Begitulah kisah tiga mata air di tengah desa Sumber Tellu yang diceritakan oleh Kakek Jujurudin. Hal itu berarti seluruh penghuni desa Sumber Tellu merupakan anak-anak dari ketiga bersaudar kembar tampan dengan tiga wanita di dalam gua. Gua itu amblas setelah ketiga wanita itu di bawa keluar oleh tiga pemuda kembar tampan untuk menjalani hidup di alam bebas bersama bunga-bunga di taman. Gua itu seolah merasa tidak perlu lagi melindungi tiga wanita yang sudah lama berlindung padanya. Namun mata air itu tetap ada dan muncul di punggung gua yang sudah amblas.

Suratmuda sejenak merasa tersiram ludah bidadari yang indah bak air telaga nirmala dalam kisah mahabharata, tapi bibirnya tidak tersenyum seperti muda-mudi bila mendengar kata cinta. Dia hanya mendesah seperti nafas alam yang berhembus seperti angin ribut. Bumi seakan berhenti berputar sejenak. Suratmuda memerah mata namun bayu datang menghibur.

Penduduk desa yang sedang geger bertanya-tanya pada sesamanya, tapi percuma tak ada jawab. Ada yang mengira setan pengganggu yang menjerit-jerit membangunkan penduduk desa. Ibu-ibu yang sepakat membawa anak-anaknya ke dalam rumah, tapi mereka takut setannya ada di dalam rumah. Bapak-bapaknya pun ikut ke dalam. Sehingga desa kembali tenang. Namun keresahan belum reda, angin masih berlarian kian kemari.

Kakek Jujurudin yang sejak tadi berada di dalam rumah keluar mengira penduduk sudah pada tidur. Dia mendekati tiga mata air seperti yang biasa ia lakukan setiap malam. Kakek Jujurudin berkeyakinan jeritan itu adalah rintihan Dewi Rarawati, seorang wanita yang menghilang ketika tiga pemuda kembar tampan memasuki gua. Dia bersedih hati karena merasa tak pantas memiliki cinta dan menahan derita cinta selamanya. Setiap malam Kakek Jujurudin mendatangi sumber mata air itu untuk menghibur Dewi Rarawati yang sedang tersiksa oleh gejolak asmara.

Malam ini Kakek Jujurudin lupa tidak menengok tiga mata air untuk memberi sentuhan hangat sosok yang diyakininya masih bersemayam di air benih jelmaan ludah tiga pemuda kembar tampan. Dia barusaja terjaga dari lamunannya, teringat istrinya yang sudah meninggal enam puluh tahun lalu. Dia baru tersadar saat orang-orang ramai di luar. Anak dan cucunya lupa tidak menengoknya tadi untuk melihat keadaannya karena sudah ketakutan. Apalagi Kakek Jujurudin memang tidak serumah dengan mereka, dia tinggal sendirian di gubuk kecil.

Suratmuda mengetahui Kakek Jujurudin yang sedang berjalan mendekati tiga mata air. Dia mengintip di jendela rumahnya. Dia tahu tujuan Kakek Jujurudin untuk menemui Dewi Rarawati yang diyakini bersemayam di tiga mata air itu. Suratmuda ingin keluar, tapi takut karena Kakek Jujurudin memiliki kebiasaan yang berbeda dengan warga yang lain. Jaman sekarang sudah tidak sejaman dengan jaman kakek tua yang sudah berusia seratus lebih itu. Suratmuda bisa diduga yang bukan-bukan oleh warga bila menemui Kakek Jujurudin malam-malam begini, apalagi baru saja terjadi huru-hara tidak jelas. Desa ini sangat patuh pada adat dan tegas menjalankan hukumannya; tak perlu undang-undang, tak perlu pejabat, semua warga akan menjalankan hukum sendiri sesuai adat. Mereka yakin bila adat tidak dipatuhi, maka akan terjadi bencana besar. 

Suratmuda khawatir ada warga yang sudah lama tidak suka pada Kakek Jujurudin menuduh kakek tua itu sedang melakukan guna-guna untuk berbuat jahat. Bisa saja Kakek Jujurudin disangka memiliki ilmu hitam yang membahayakan. Dia bisa dikeroyok warga seperti yang terjadi pada Pak Dami setahun lalu. Dia mati di tangan warga karena dituduh sebagai sumber terjadinya angin kencang yang merobohkan beberapa rumah warga. Menurut warga, dia telah melanggar adat-istiadat yang disepakati bersama sehingga alam pun marah dan angin mengamuk. Dan dengan alasan menjalankan hukum adat yang suci, Pak Dami harus dipulangkan ke alam baka untuk menemui penciptanya. 

Bila Suratmuda mengingat cerita yang pernah ia dengar dari Kakek Jujurudin tentang tiga wanita dalam gua yang katanya adalah leluhur mereka, Suratmuda tidak sependapat dan menganggap cerita itu adalah takhayul. Suratmuda yang baru saja mengenal asmara merasa terhina bila ia dan semua warga adalah keturunan tiga pemuda kembar tampan dan wanita yang mengagungkan cinta seperti binatang di dalam gua. Di usianya yang keenambelas tahun, malam-malam Suratmuda telah dipenuhi mimpi-mimpi dari taman bidadari yang bergantian berkisah tentang cinta.

Cinta mesti merekah di istananya seperti dalam satu mimpinya. Dia melihat bidadari sayu memanggil-manggil, suaranya riuh rendah dibawa angin malam dari istana cinta bermegahan. Dan di hadapannya terhampar jalan panjang berbatu dan bertikungan. Jalan itu menuju telaga bening penyucian bertepi lantai istana yang indah. Istana yang gemerlapan dijaga purnama di atasnya. Sayap malam mengibas-ngibas menantang sebagai wujud kerinduan cinta sang bidadari. Dan angin bergerilya, berputar-putar di tepi jagad, seakan siap mengabarkan gejolak hati Suratmuda yang terpana cinta.

Dengan niat suci Suratmuda melangkah, menginjak jalan cinta menuju istana bidadari. Bintang-bintang berkedipan seakan hendak turun mengantar Suratmuda menuju gerbang istana dan purnama tersenyum kekaguman menyaksikan bebatuan menusuk kaki Suratmuda hingga berdarah. Sesekali ia tersungkur namun mawar memaksa diri untuk mekar malam hari agar kerinduan sang bidadari mekar jadi bunga-bunga cinta.    

Surat muda berhasil lalui jalan derita yang disebut jalan cinta. Tinggal satu jalan: penyucian di telaga bening disaksikan seluruh alam dan penyerahan cinta sang dewi malam. Percikan-percikan air cinta penyucian bertaburan menjadi mutiara-mutiara di halaman istana dan purnama menuntun Suratmuda menuju istana.

Malam ini indah kesucian.

Sementara kisah cinta tiga wanita dalam gua itu sama kisahnya seperti kisah pemuda bernama Ruman dengan salah satu gadis desa di bawah pohon cinta yang masih diyakini oleh sebagian warga sebagai pohon keabadian cinta. Kejadian ini terjadi enam bulan lalu. Mereka yang masih percaya  hal itu dengan sembunyi-sembunyi menjayakan cinta bersama gerak daunan yang memainkan cahaya bulan. Menganggap bintang-bintang merayakan malam berkat cinta mereka; tak peduli kejora yang sedang cemburu menyendiri dengan terangnya. Mereka meyakini bintang-bintang yang gemerlapan adalah kedipan bidadari yang sejuk hatinya oleh air cinta.

Tetapi perputaran bumi yang selalu merindu kebaharuan telah merubah wajah alam. Pohon cinta sudah tidak pantas lagi dipuja karena binatang suka memakan daunnya. Sama saja nantinya dengan mengagungkan nafsu kebinatangan untuk mendapatkan senyum alam. Takkan Nampak lagi manusianya ketika kebinatangan telah menguasa, ibarat api ingin menunjukkan keperkasaannya dengan menjadi air. Sang jago merah tak dikenal lagi.

Suratmuda yang baru mengenal gejolak asmara meyakini cinta adalah cinta. Bahasa manusia tak mampu mendefinisikan. Cinta yang agung ada pada jiwa yang berbudi luhur, tak terkotori nafsu buta. Anak-anak terlahir karena cinta bapak dan ibunya, dua insan manusia yang telah diakui seisi alam sebagai pasangan cinta sejati. Cinta yang demikianlah yang diyakini Suratmuda sebagai cinta yang agung, dan ia yakin leluhurnya adalah dua insan yang memiliki cinta luhur. Bukan dua insan yang bercinta seperti binatang.

Beberapa warga keluar dengan amarah menyala-nyala. Rembulan meredup, bintang-bintang berkedip-kedip risau. Angin tak menentu arusnya, dan ombak menerjang-nerjang pantai. Bumi seakan terguncang karena perutnya kepanasan oleh amarah. Wajah dunia memerah.

Kakek jujurudin yang sedang terlena dalam cintanya tak menyadari keadaan bumi. Dia hanyut dalam buaian cinta yang indah sehingga baginya bumi yang membara pun nampak seperti taman surga yang berhias mawar-mawar jelita. 

Ada jeritan seorang wanita dan huru-hara pun kembali terjadi. Kakek Jujurudin tewas di tangan warga yang marah karena menduga kakek tua itu telah mengganggu mereka dengan ilmu hitamnya. Bahkan menduga suara jeritan wanita yang membuat huru-hara sebelumnya adalah perbuatan jahat Kakek Jujurudin karena tadi tidak seorang pun dari warga yang melihat kakek tua itu. Dan saat warga hendak terlelap, kakek tua itu keluar.

Malam mencekam, cahaya bulan memerah. Langit sedih dan awan resah bertumpuk-tumpuk bertindihan dengan kawannya. Bintang-bintang yang bagai kedipan bidadari bersembunyi. Angin mengamuk. Bumi kehilangan keseimbangan. Rembulan tak kuasa meraja malam, dia mengutus fajar untuk memanggil matahari yang lebih perkasa. Dan bukit di sudut dunia tersenyum tanpa gerak, seolah tak peduli keadaan bumi, seperti kakek tua yang sudah letih hidup. 

Pagi pun terang. Tak ada kicau burung, matahari pun bersinar redup kesuraman. Dia malu untuk tersenyum pada bumi yang sedang bersedih. Cahaya semakin panas dan membangunkan mahluk-mahluk yang masih terlelap. Matahari gelisah, ingin bicara dengan sang dewi malam untuk menanyakan hal semalam, dan dengan panas sinarnya membangunkan seorang pemimpin dari pihak manusia di tanah Sumber Tellu. Pemimpin rakyat Sumber Tellu pun keluar dari istananya melihat dunia yang pucat. Dia bertanya pada rakyatnya apa gerangan yang sudah terjadi.

Tetapi bumi menjawab sebelum rakyatnya bersuara. Bumi malu dan menumpahkan kekesalannya hingga rumah-rumah roboh karena terguncang. 


Belum ada Komentar untuk "Tiga Wanita Dalam Gua"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel