Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Bila Sudah Jodoh, Musuh Pun Jadi Kekasih

Bila Sudah Jodoh, Musuh Pun Jadi Kekasih

Zaman dahulu hidup penuh peperangan. Bagi yang suka nonton film action movie mungkin seru ya, tapi namanya perang, pasti tidak ada yang mengharapkannya. Nah, di zaman Rasulullah, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, di Madinah, ada suatu suku yang disebut Bani Mushthaliq. Suku ini dipimpin oleh al-Harits bin Abi Dhiraar. Beliau sangat membenci Islam.

Nah, suatu ketika al-Harits bin Abi Dhiraar ini berencana menyerang kaum Muslimin di Madinah. Ia ingin merebut kembali kekuasaan kaum muslimin. Rupanya kabar ini sampai pada Rasulullah saw. Rasulullah pun mengutus salah seorang sahabat, Buraidah bin Al-Hushaid, untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Berangkatlah Buraidah ke sana, ternyata kabar itu benar.

Karena mendapat ancaman akan diserang oleh suku yang sangat membenci islam ini, Rasulullah saw. segera menyusun kekuatan untuk menghadapinya. Hingga akhirnya terjadilah perang di daerah Muraisi', tepatnya pada bulan Sya'ban tahun kelima hijrah. Pada perang ini pihak kaum muslimin menang. Pimpinan bani Mushthaliq, al-Harits bin Abi Dhiraar, melarikan diri.

Nah, al-Harits bin Abi Dhiraar ini mempunyai anak perempuan cantik, menurut riwayat sangat cantik, cerdas, dan fasih tutur bahasanya. Ia sudah menikah dengan anak pamannya sendiri, Musafi' bin Shafwan bin Malik bin Juzaimah. Tetapi dia tewas terbunuh dalam pertempuran tersebut. Seperti biasa, kalau sudah kalah perang, maka kaum bani mushthaliq pun menjadi tawanan perang, termasuk anak sang pemimpin yang cantik jelita itu.

Namanya Barra, katanya makna kata nama tersebut adalah kebaikan. Nama lengkapnya adalah Barra Binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin al-Habib al-Khuza'iyah al-Mushthaliqiyyah, riwayat lain mengatakan nama lengkapnya Barra Binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin al-Habib bin 'A-idz bin Malik bin Jadzimah. Nah, Jadzimah inilah yang disebut Mushthaliq, berasal dari kabilah Khuza'ah. Panjang banget ya namanya.

Baca Juga: Janda Cantik dengan Mahar Termulia

Rasulullah saw. membagi-bagi wanita tawanan perang. Disisihkan seperlima, sisanya dibagi-bagikan. Pasukan kuda mendapat dua bagian, laki-laki yang lain mendapat satu bagian. Barra jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas al-Anshari. Meskipun berstatus budak, Barra diperlakukan dengan baik. Tetapi, namanya juga seorang sayyidah, anak seorang pemimpin, tentu sangat bersedih menjadi seorang budak. Ia pun mengajukan diri memohon agar dimerdekakan. Tetapi, Tsabit bin Qais memintanya 9 keping emas. Barra tidak sanggup.

Akhirnya ia mengajukan diri untuk bertemu Rasulullah saw. Rupanya permohonannya dikabulkan. Ia pun bertemu Rasulullah saw. Nah, saat itulah Sayyidah Aisyah ra. melihat dari pintu kamarnya betapa cantiknya Barra, katanya, "Tidak ada seorang pria pun yang melihat kecantikannya melainkan akan jatuh hati padanya". Beliau merasa cemburu.

Pada Rasulullah saw. Barra mengadukan semua kesedihan yang dideritanya. Suaminya tewas terbunuh, ayahnya melarikan diri. Sedang dirinya kini menjadi budak. Ia juga mengadukan keinginannya untuk merdeka. "Apakah engkau mau jika aku beri yang lebih dari itu?" tanya Rasulullah saw. padanya.

"Apa itu ya Rasulullah?"

"Aku bebaskan engkau dan kunikahi engkau?"

Tentu saja ia sangat senang. Beliau langsung menerima tawaran itu.

Al-baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya, dari Juwairiyah, dia berkata, "Aku bermimpi pada tiga hari sebelum datangnya Nabi muhammd saw., bulan seolah-olah berjalan dari Yastrib lalu jatuh di kamarku. Aku tidak mau memberitahukan mimpi itu kepada siapapun hingga datangnya Rasulullah saw. Ketika aku ditawan, aku mengharapkan mimpi itu menjadi nyata, Rasulullah saw memerdekakan aku dan menikahiku."

Ada riwayat lain yang mengatakan bahwa ayah Barra datang untuk menebusnya, namun Rasulullah saw. memberi pilihan, mau bebas atau mau menikah dengan Rasulullah saw. al-Harits bin Abi Dhiraar menyampaikan itu kepada putrinya, ternyata Barra memilih Allah dan Rasulnya.
Sedangkan dalam riwayat lain, al-Harits bin Abi Dhiraar datang untuk menebus putrinya dengan membawa unta, namun menyembunyikan 2 unta terbaiknya di Aqiq. Ia tidak memberitahu siapapun tentang dua unta terbaik tersebut. Diriwayatkan oleh ibnu Hisyam, Ternyata Rasulullah mengetahui tentang dua unta tersebut dan menanyakan tentangnya. al-Harits bin Abi Dhiraar pun kaget, namun takjub. Akhirnya ia mengakui bahwa beliau seorang Rasulullah, dan ia pun masuk islam. Kedua putranya dan beberapa kaumnya yang bersamanya juga ikut masuk islam.
Setelah menjadi istri Rasulullah saw. Sayyidah Juwairiyah rajin ibadah: shalat, dzikir, sedekah (dari harta yang didapatkannya dari baitul maal), juga rajin puasa. Pernah Rasulullah saw. mendapatinya berpuasa pada hari Jumat, Rasulullah memintanya untuk membatalkannya. Pernah juga beliau berdzikir pagi sampai siang, Rasulullah mengetahuinya. Lalu Rasulullah saw. bersabda bahwa 4 kalimat yang diucapkan 3 kali menyamai timbangannya dengan yang telah dibaca Sayyidah Juwairiyah ra sejak tadi. Kalimat tersebut adalah subhanallah wabihamdihi, 'adada khalqih, wa ridho nafsih, wa zinata 'arsyih, wa midaada kalimatih (HR Muslim).

Rasulullah menikahi Barra dengan mahar 400 dirham. Saat itu Barra berusia 20 tahun. Lalu Rasulullah mengganti namanya menjadi Juwairiyah karena Rasulullah tidak suka kalau sehabis berjumpa dengannya dikatakan, "Beliau keluar dari Barra (kebaikan)." Kabar pernikahan ini segera tersebar. Tentu saja semua penduduk Bani Mushthaliq yang menjadi tawanan perang langsung dibebaskan tanpa syarat oleh para sahabat karena sudah menjadi kerabat Rasulullah saw. Mereka pun serempak masuk islam.

"Tidak ada wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyah," begitu kata Sayyidah Aisyah ra.

Setelah Rasulullah saw. beliau menyibukkan diri dengan beribadah dan berbagi ilmu. Saat terjadi fitnah yang menimpa Sayyidah Aisyah ra. beliau memilih diam, tidak banyak komentar. Sayyidah Juwairiyah ra. wafat pada masa kekhalifahan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, pada usia 60 tahun, pada tahun 50 H, riwayat lain mengatakan tahun 56 H. Pelaksanaan sholat janazahnya diimami oleh Marwan bin al-Hakam, gubernur Madinah. Beliau dimakamkan di Baqi', bersebelahan dengan makam istri-istri Rasulullah saw. yang lain.

sumber:
republika.co.id
kisahmuslim.com
emir.co.id
rumaysho.com
bincangysariah.com

Belum ada Komentar untuk "Bila Sudah Jodoh, Musuh Pun Jadi Kekasih"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel