Artikel Terbaru

Anak Jadi Korban Buli, Orang Tua Mau Lapor Polisi

 CERPEN

Anak Jadi Korban Buli, Orang Tua Mau Lapor Polisi

Siang itu Faldy pulang dari sekolah sambil menangis. Ibunya, Salma, sangat mengenal suara tangisan si Faldy. Ia yang lagi masak di dapur langsung keluar. Dilihatnya Faldy berjalan sendirian sambil menangis. Salma segera menghampirinya, "Kenapa, Nak?" lalu digendongnya.

"Faldy.. Faldy dipukul teman di sekolah," katanya sambil nangis.

Baru saja tiga hari sekolahnya menerapkan tatap muka terbatas, Faldy sudah kena buli temannya. Salma jengkel sekali, ingin ia umek-umek aja tu anak orang yang sudah bikin Faldy nangis. Besoknya, tak sabar rasanya, ia langsung ke sekolah dan langnsung masuk ke ruang guru marah-marah mengadukan kasus buli yang sudah menimpa Faldy.

Guru-guru pun kaget. "Duduk dulu, Buk..., monggo duduk," Pak Rahmat, guru kelas VI mempersilahkan Salma. Salma dengan nafas tidak teratur tampak marah. "Monggo ke ruang BK," ajak Pak Rahmat. Kurang baik juga kalau di ruang guru. Apalagi ada beberapa guru yang agak marah juga karena Salma langsung marah-marah.

Di ruang BK Salma berbicara dengan nada tinggi. Untung semua siswa yang lagi bimbingan di situ sudah disuruh ke kelas masing-masing. Jadi mereka tidak tahu adegan serunya. Pak Salim dan Bu Rusmi sebagai guru BK hanya menanggapi dengan senyum. Sudah sering menghadapi wali murid seperti itu. "Pokoknya mau saya lapor polisi...!!" kata Salma. Lama mereka berdialog. Akhirnya, sekolah memutuskan untuk memanggil orang tua si Danang, pelaku buli yang telah memukul Faldy.

Besoknya Ayah Danang dan Salma ke sekolah, langsung menuju ruang BK, tetapi diarahkan ke ruang waka urusan kesiswaan. Ayah Danang terlihat santai saja, menurut Salma, tidak nampak tanda rasa bersalah. Kalau saja dia bersama anaknya, ingin dia hajar tu anak. Kalau mau hajar bapaknya, mikir-mikir jua, gagah, tinggi besar. Pasti kalah dia.

Di ruang waka kesiswaan, Salma masih belum bisa menurunkan emosinya. Ayah Danang malah tersenyum. "Pelaku buli harus dihukum, kalau perlu dikeluarkan...!!" kata Salma.

Sambil tersenyum, ayah Danang menanggapi. "Ini kan masalah anak sama anak, Mbak."

"Loh, anda tidak mersa bersalah ya...?!" kata Salma. "Coba kalau anak anda yang jadi korban?!"

"Ya, biar aja... Namanya anak. dunia anak, kalau tidak ada guraunya, jadi kayak mayat mereka ini."

"Anda paham bulying?!"

"Itu kan istilah sekarang. Coba ingat waktu kita masih anak-anak dulu? Biasa kan saling pukul, saling cubit, kejar-kejaran."

"Tapi kan tidak kelewatan?!"

"Namanya bergurau, ya kadang ada kelewatnya. Biasalah. Saya serahkan ke sekolah saja, mau dihukum bagaimana anak saya, terserah. Saya percaya sama sekolah. Mau dijemur, silahkan. Anak laki kok."

Salma tambah marah. "Jemur aja seminggu...!!" katanya.

Pak Rijal, waka kesiswaan mencoba mendinginkan suasana. Ia sudah memesan mie ayam untuk dimakan bersama. Bisanya kalau habis makan bersama, pikiran jadi lebih tenang. Tak lama kemudian mie ayam pun datang diantar pak pesuruh. "Monggo dimakan dulu," katanya. Salma jadi tidak enak. Sudah marah-marah, malah disuguhin mie ayam, pas banget itu makanan kesukaannya. Jadi canggung deh. 'Monggo, Pak, monggo, Buk."

Rupanya ide Pak Rijal berhasil. Emosi Salma meurun. "Ini bakso langganan saya," kata beliau. "Rumahnya di sebelah sekolah. Dulu jualan di depan sekolah, sama Pak Kepala sekolah disuruh di dalam aja sekalian." Wah, baik banget. Salma jadi kagum. "Enak banget baksonya." Topik pembicaraan beralih.

Tidak seperti saat barudatang. Salma kini bisa menerima keputusan bapak waka kesiswaan. Danang dihukum sesuai peraturan sekolah.


0 Response to "Anak Jadi Korban Buli, Orang Tua Mau Lapor Polisi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel