Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

73 Golongan, yang Selamat yang Ikut Sunnah

73 Golongan, yang Selamat yang Ikut Sunnah

Sudah sejak lama dibahas bahwa umat islam ini akan terbagi menjadi 73 golongan. Bukan hanya kalangan ilmuan atau ulama yang membahasnya, golongan awam pun ikut-ikutan. Sekarang, eranya sosial media, gampang sekali tersebar. Tetapi, yang menarik untuk dibahas menurut saya adalah fakta-fakta di kehidupan nyata bagaimana umat islam khususnya di Indonesia menyikapi kabar tersebut.

Sesama muslim dipersaudarakan oleh Allah, ayo saling doakan. Berbeda itu biasa. Diskusi/adu argumen, tidak masalah, asal jangan saling benci. Mengkafirkan muslim lain, jika ternyata di mata Allah dia tidak kafir, maka kembali pada yang mengkafirkan. Bagaimana dengan menuduh ahli bid'ah?

73 Golongan Islam yang Terpecah di Akhir Zaman Apa Saja?

Ini haditsnya:

 اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً

Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. (HR. Abu Daud, Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim, Ibnu Hibban)

Ada yang mengatakan bahwa golongan yang selamat itu adalah yang mengikuti sunnah Nabi. Nah, di jaman sekarang ini istilah sunnah agak rancu. Saat ada kesempatan, saya pernah bertanya pada orang yang bilang ikut sunnah. Soalnya, yang umum diketahui masyarakat, sunnah itu kan jika dikerjakan dapat pahala, jika ditinggalkan tidak dosa. Hehe... begitu kan yang kita tahu. Nah, kok ada orang bilang ikut sunnah, apa maksudnya?

Ternyata, menurut mereka ini, amalan itu ada 2 yaitu sunnah dan bid'ah. Sunnah itu maksudnya ikut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan khulafaurrasidin. Jika tidak ikut mereka, itu bid'ah. Begitu katanya. Nah, biasanya mereka ini mempersempit lagi, maksudnya, urusan agama / ibadah itu harus sama seperti Nabi dan khulafaurrashidin. Kalau beda, hukumnya haram.

Mengenai detail kesamaan dan perbedaannya, saya belum dapat jawabannya. Sebab, yang saya tahu, untuk tempat tidak harus sama, karena ini mustahil juga ya, masak harus ibadah di tanah Arab semua seperti Nabi dan khulafaurrashidin, tidak kan?

Satu hal yang kurang logis dari mereka ini, menurut saya, adalah, apa yang dipahami mereka dari Al Quran dan Hadits itu adalah final, artinya mutlak kebenarannya, dan tidak menerima kritik sekalipun itu ilmiah sifatnya. Biasanya, kalau ada yang mengkritik, mereka jawab, cara berfikir anda keliru. Waw, berarti harus sama otaknya.

Bagaimana Islam yang Sesuai Sunnah itu?

Dalam hal ini, biasanya mereka mengatakan ikut hadits yang shohih dan ayat Al Quran. Dipersempit lagi, yaitu ikut pemahamannya ulama salaf, utamanya sahabat terhadap ayat dan hadits. Jadi, biasanya mereka ini jarang menyebut nama ulama. Mereka lebih suka langsung menyebut ayat dan haditsnya.

Jadi prinsip mereka begini: 

Al Quran

Hadits

Sahabat (khulafaurrashidin)

Tabiin

tabiut tabiin

...

ulama kelompok mereka

umat islam

Jadi yang tertulis di urutan tersebut hanya ulama mereka saja. Meskipun mereka ini bukan Nabi.

Kalau kita perhatikan posisi ulama mereka yang hidup jauh di luar zaman salaf, (yang saya tandai warna hijau itu kan zaman salaf) secara akal sehat tidak mungkin bisa menerima hadits langsung dari Nabi, juga tidak mungkin menerima wahyu. Mereka bukan sahabat. Lalu dari mana mereka mendapat pengetahuan tentang Al Quran dan Hadit? Dari ulama tabiin? Tidak, zamannya terlalu jauh.

Kesimpulannya, mereka tahu tentang Al Quran dan Hadits melalui paketan ilmu ilmu dari ulama sebelum mereka. Maaf, saya menggunakan istilah paketan, kan oleh ulama dipaket-paket, ada paketan ilmu fiqih, ilmu aqidah, ilmu nahwu, dsb. Jadi, mereka ini sama seperti ulama lainnya, sama-sama tidak hidup sezaman dengan Nabi. Sama-sama tahu lewat paketan ilmu juga. Lalu apa yang menjadi landasan mereka mengklaim sebagai golongan yang paling selamat, paling sesuai dengan sunnah?

Kita harus realistis. Ulama mereka itu mengetahui Al Quran dan Hadits melalui paketan ilmu yang diajarkan oleh ulama. Sama seperti ulama lainnya yang mereka anggap sesat. Realita manusia itu tidak sempurna, mereka bukan Nabi yang menerima wahyu. Ulama saling kritik itu biasa (tapi, kita sebagai pelajar, kurang tepat kalau ikut-ikutan mengkritik ulama). Kelompok mereka ini memang beda, kalau ditanya detail, jawabnya, jangan begitu cara berpikirnya. Lah, jadi semua orang harus sama, kalau tidak sama terus auto masuk neraka?

Jadi, klaim mereka sebagai kelompok paling sesuai dengan nabi, menurut akal sehat saya tidak masuk akal. Sebab mereka mengenal islam juga melalui paketan ilmu yang diajarkan ulama. Hanya saja, mereka sok bisa merujuk langsung pada Quran dan sunnah. Padahal, kitab hadits yang ada sekarang itu juga hasil kerja ulama hadits mengumpulkan dan mengklasifikasikannya. Ulama hadits juga banyak.

Mereka ini memang kurang menghargai ilmu dan ulama. Menurut mereka, Al Quran dan hadits sudah jelas, sudah bisa langsung merujuk pada keduanya. Jadi, sekian banyak ilmu dan ulama selepas masa salaf hingga lahirnya ulama mereka itu menjadi tidak berarti di mata mereka. Bahkan tak jarang mereka mengatakan, jika ulama berbeda, kembali pada Al Quran. Malah tambah tidak masuk akal. Ibarat begini, kita mau bepergian dan belum tahu jalan juga tak paham peta, ada dua orang tahu jalan dan paham peta, lalu ada sedikit perbedaan diantara mereka, terus kita memilih tidak ikut keduanya, kan konyol.

Itu realita yang ada di kehidupan nyata yang saya temui. Di internal mereka, sesama golongan yang mengaku paling sunnah ini pun juga saling menyalahkan. Ya, wajar, sebab cara berpikirnya begitu: tidak mengakui ilmu sebagai hasil pemikiran manusia yang boleh-boleh saja diuji keilmiahannya. Seakan-akan pendapat mereka adalah wahyu yang harus diterima seluruh alam.

Benarkah mereka ini adalah golongan yang selamat?

Siapakah yang 72 golongan tersisa?

Bagi saya, mengkritisi suatu ilmu itu boleh-boleh saja. Tetapi, ilmunya harus mumpuni. Saya sendiri hanya bisa menyampaikan pendapat ulama saja sebab status saya hanya sebagai penuntut ilmu, bukan ulama. Artikel ini saya tulis untuk menyampaikan bahwa ulama itu banyak dan masing-masing memiliki ilmu, biar orang tidak beranggapan hanya ulama mereka saja yang benar dan paling nyunnah.

Baru saja saya mendapat kabar cukup menarik di status Ust Ahmad Sarwat tentang kabar 73 golongan umat. Beliau menyampaikan pendapat seorang ulama besar. Berikut saya kutip status beliau yang menjawab pertanyaan siapa saja 73 golongan itu:

Beliau adalah Syeikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy rahimahullah.

Jawaban Beliau cukup unik yaitu kita harus teliti baca matan hadits itu. Lalu juga wajib membedakan antara penyebutan 'umat Nabi SAW' dengan 'muslimin' atau umat Islam. 

Lho memangnya berbeda?

Dalam hal ini berbeda. Dalam teks hadits, yang dibilang terpecah jadi 73 golongan itu ternyata bukan muslimin, tapi disebut dengan 'umatku'.

Siapakah yang dimaksud dengan 'umatku' oelh Beliau SAW?

Mereka adalah seluruh umat manusia yang hidup di era Nabi Muhammad hingga hari kiamat. 

Ingat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak diutus hanya kepada orang Arab saja, tetapi kepada seluruh umat manusia. 

Jadi seluruh umat manusia itu adalah umat Nabi Muhammad SAW. Istilahnya 'umat dakwah' alias umat yang jadi objek dakwahnya Beliau.

Jadi, menurut ilmu yang beliau miliki, begitu. Jadi, bukan umat islam yang terpecah menjadi 73 golongan. Ini bukan berdasarkan Al Quran dan Sunnah ya, tapi berdasrkan ilmu dari ulama. Meskipun, ujungnya juga Al Quran dan Sunnah. Adapun mereka yang mengatakan kelompok sunnah (non bid'ah), mereka itu sebenarnya juga berdasarkan ilmu dari ulama, sebab mereka tidak mendengar hadits dari Nabi dan juga tidak menerima wahyu. Jadi, adu keilmiahan itu biasa. Tidak usah alergi dengan kritik ilmiah terhadap suatu ilmu.

Tetapi, bagaimana pun, mereka yang saya ceritakn (tanpa menyebut merk) ini adalah saudara kita. Jaga persaudraan, saling doakan. Kalau mau diskusi, yang objektif saja. Semoga kita semua selalu mendapat petunjuk Allah. Terus belajar tambah ilmu. Semoga masuk ke surga terbaik semuanya, Aamiin.




Belum ada Komentar untuk "73 Golongan, yang Selamat yang Ikut Sunnah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel