Artikel Terbaru

Guru Ternak Kambing

Guru ternak kambing

"Pulang kampung?"

Pak Hadi yang lagi berdiri di lobi membaca sesuatu di handphone-nya berhenti dan menyapa Pak Zaki yang sedang berjalan membawa tas besar di punggungnya. Keduanya sama-sama tinggal di mess yang di sediakan sekolah untuk para guru yang berasal dari luar kota.

"Iya. Mau cari-cari kambing."

"Buat apa?"

"Ingin ternak kambing saya."

"Wah... luar biasa nih... Pebisnis rupanya...!!"

"Hehe... Ingin mandiri."

***

Hari Senin pagi Pak Hadi sudah duduk di kantor. Belum banyak guru yang datang. Biasanya memang sedikit yang datang, meskipun sudah diwajibkan WFS, tapi banyak juga yang mengajar oline dari rumah. Biasanya guru yang rajin datang karena sinyal internet di rumah tidak lancar. Mereka memilih datang ke sekolah dan menggunakan komputer sekolah yang sudah disediakan di tiap kelas. Tetapi, banyak juga yang memilih di rumah saja. Maklumlah pihak sekolah mewajibkan guru masuk sekolah di masa pandemi, tapi tidak mau menjamin jika ada yang positif covid-19. Mungkin kepala guru juga segan untuk tegas karena tidak adil.

"Assalamualaikum...!!"

"Waalaikumsalam...!!" jawab Pak Hadi.

Rupanya Pak Zaki sudah datang. "Sendirian saja nih?"

"Iya, kapan balik dari kampung?"

"Tadi jam tiga."

"Udah dapat kambing?"

"Belum. Baru selesai bangun kandangnya."

"Berapa harga kambing sekarang?"

"Tergantung jenisnya. Kalau yang etawa, sembilan jutaan per ekor. Kalau kambing biasa, satu jutaan sudah dapat."

"Sebenarnya enakan bisnis ya."

"Kalau mikir uang, lebih enak bisnis, Pak. Anggap saja jadi guru ini beramal."

"Hahaha... gajjinya level amal jariyah, tugasnya kelas profesional."

"Hahahahahaha..... Ada-ada saja anda."

"Kan iya... Banyak banget tugas kita. Harus ini, harus itu. Belum lagu komplain wali murid. Kita juga yang kena batunya."

"Kalau soal uang, kalah sama lulusan SMA kita, pegawai mini market, pegawai pom, kayaknya UMR gajinya."

"Benar, saudara saya ada yang kerja di miniamrket, UMR gajinya. Pulang kerja, mereka bisa langsung istirahat, kita... koreksi tugas menumpuk, belum lagi ditambah administrasi."

"Saya tarjet, dua tahunlah bisa balik kampung. Hidup di kapung saja, lebih menentramkan."

"Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, benar, Pak. Hidup di kampung itu lebih membahagiakan. Cuma, kalau jadi guru di kampung, wah, bisa tidak makan kalau tidak punya usaha yang jadi pemasukan lain."

bersambung

0 Response to "Guru Ternak Kambing"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel