Artikel Terbaru

Tergoda Bidadari Desa Pengidap AIDS

Bidadari desa pengidap aids

Pemandangan hijau di desa ini cukup indah. Menyenangkan sekali hunting foto landscape di desa ini. Andi mencoba mampir ke salah satu warung di tepi jalan di daerah persawahan, sekitar 500 meter dari rumah paling barat kampung itu. Ada lima orang bapak-bapak di situ. Penjualnya seorang wanita paruh baya. Mereka memandang Andi dengan ekspresi curiga, mungkin karena penampilan dia tidak seperti orang desa. Andi agak takut karena tampang mereka agak seram. Badannya juga berotot, mungkin karena kerja kasar.

Andi duduk di samping salah seorang bapak-bapak itu. "Tanahnya subur di sini ya," Andi memulai basa-basi biar tampak akrab.

"Iya, subur di sini," jawab si penjual.

"Orang mana?" tanya salah seorang bapak.

"Saya dari Jawa Barat, Pak."

Rupanya mereka ramah juga kalau sudah bicara. Tampangnya aja yang agak menyeramkan.

"Wah, jauh sekali."

"Iya, liburan di sini."

Ada seorang wanita datang, sekilas Andi melihat wajahnya, cantik sekali. Dia langsung duduk di samping Andi, "Goreng singkongnya ada, Mak?" tanyanya. Dia ambil goreng tempe satu di atas piring di meja dan dimakannya. Andi agak deg-degan. Dia tidak biasa dekat wanita kampung, pasti beda budaya. Ia khawatir, takutnya dikira ngapa-ngapain, ia kan pendatang.

"Tinggal dimana, Mas?" tanya ibu warung itu.

"Di Hotel Mawar, Bu, Timur alun-alun."

Wanita cantik itu melihat Andi, pas sekali Andi juga sedang melihatnya. Empat mata bertemu, jantung Andi berdetak tambah kencang. Ia gugup. "Sama istri, Mas?" tanya wanita cantik itu.

Baca juga: Tak Tega Menikah Lagi

Andi tersenyum. "Belum menikah, Mbak," jawabnya.

"Nah, Tin, kebetulan," kata salah seorang bapak.

Wanita cantik itu mengedipkan mata kanannya. Sepertinya ia memang juga lagi cari calon pasangan.

"Ah, sampeyan ini, tahu aja."

Andi paham, mereka sedang menggoda Andi.

"Tidak mau cari istri di sini, Mas?" tanya wanita cantik itu.

Andi tersenyum. Ia suka sama wanita itu. Dia cantik, seksi, sesuai dengan seleranya. Tapi, Andi masih menahan diri. Ingin sekali ia bilang suka sama dia dan menikahinya. Tetapi, ia belum mengenalnya, ia juga tidak tahu kehidupan di desa, masih baru. Andi pun berusaha bersikap pasif saja daripada dituduh yang aneh-aneh oleh warga di sana.

Sejak saat itu Andi sering berkunjung ke warung tersebut. Lama-lama dia kenal dengan Mak Wati, pemilik warung itu, Andi juga kenal sama Pak Latif, Pak Sadirun, dan Pak Sukirman. Kali ini warung lagi sepi, hanya ada Andi dan Mak Wati. “Mak, boleh tanya?” Mak Wati tersenyum. “Tapi, tolong rahasiain ya,” pintanya. Mak Wati mengerutkan kening, curiga. “Mbak yang cantik itu masih single?” tanyanya.

Mak Wati tertawa. “Sampeyan suka?”

Andi tersenyum. “Cantik, Mak.”

“Dia itu memang paling cantik di sini. Tidak ada pemuda desa yang berani melamarnya, pasti ditolak,” kata Mak Wati. “Kalau sama sampeyan, pasti dia mau.”

“Beneran, Mak?”

“Coba saja.”

“Ehm... Dia kerja?”

“Iya, katanya kerja di kota.”

“Kerja apa?”

“Tidak ada yang tahu kerja apa. Bayarannya banyak.”

“Ow. Ehmm... Kalau boleh... saya titip nomor hp saya ya, Mak?”

“Boleh.”

"Oya, namanya siapa, Mak?"

"Sumiatin."

Tengah malam ada yang inbox WA Andi. Ia langsung kenal melihat foto profilnya. Bidadari desa itu yang inbox. “Belum tidur?” tanyanya.

Andi membalasnya, “Lagi terbayang wajahmu.”

“Wkwkwkwkwkwkw.”

“Kenapa ketawa?”

“Beneraaaaaaaan?”

“Hehe...”

***

Hari ini Andi janjian sama Mbak Tin di Alun-alun. Andi ingin lebih dekat dengannya, tidak hanya komunikasi di Whatsapp. Mereka janjian bertemu di bawah pohon beringin di tepi utara alun-alun. Andi tiba duluan. Agak lama ia menunggu. Beberapa perempuan ia perhtikan, tapi bukan Mbak Tin. Baru sekitar 30 menit kemudian Mbak Tin datang.

Andi mengehela nafas panjang, lalu dihembusnya dengan keras. Wanita itu memang beda. Di acantik, mempesona. Mungkin memang begitu kalau pria lagi jatuh cinta. Ia tersenyum. Ingin rasanya Andi langsung memeluknya dan menciumnya, tapi ia bukan tipe cowok yang begitu. "Cantik," katanya. Mbak Tin tersenyum.

Keduanya menikmati keindahan taman di alaun-alun sambil jalan-jalan. Banyak hal dibicarakan. Andi merasa nyaman dengan Mbak Tin, komunikasi lancar. Ternyata, meskipun dia wanita desa, nyambung juga ngobrol sama Andi. Mungkin karena dia kerja di kota juga. Mbak Tin menyandarkan kepalanya di bahu Andi. Andi kaget. Ia tidak menyangka Mbak Tin secepat itu. Andi bingung harus bagaimana.

Andi seakan lupa diri. Tambah engket aja ia dengan Mbak Tin. "Di isni aja, Mas?" tanya Mbak Tin manja di bahu Andi. Wajah Andi begitu dekat dengan wajahnya. Dia agak bingung, tapi merasakan begitu mesra dengan wanita cantik itu. Ia pun membawa Mbak Tin ke kamar hotelnya. Bebas juga hotelnya. Cerita cinta romantis mereka pun dimulai.

***

Teman Andi meinta bantuannya agar mendonorkan darahnya untuk istrinya karena di rumah sakit lagi kosong, kebetulan darah Adi sama. Andi pun segera ke rumah sakit. Tetapi, usai diperiksa darahnya, doker menolaknya untuk mendonorkan darahnya. Andi kaget, "Kalau sama, kenapa, Dok?" Teman Andi juga kaget.

"Darah anda menandung HIV."

Andi dan temannya terkejut. Mereka saling pandang. "Kok bisa?!" Andi tidak percaya.

"Anda tidak terkena AIDS, tapi darah anda mengandung HIV."

Andi kaget. Ia teringat wanita kampung itu. Sebelumnya ia pernah donor darah, dan tidak masalah. Ia yakin sekali, wanita cantik di kampung itulah yang menularkannya. Tetapi, semua sudah terjadi. Mau marah padanya sudah tidak berguna, percuma. Sejak dirinya kembali ke kota, semakin jarang komunikasi. Mbak Tin juga jarang balas kalau disapa di WA. Sekarang, Andi berpenyakitan, penyakit yang mematikan.

Suatu ketika ibunya memintanya untuk segera menikah. Andi menolak. Penyakitnya pasti akan menular pada istrinya. Ia sudah menjadi pria berpenyakitan. Andi sering murung. Bahkan sempat berpikir untuk menhabisi hidupnya daripada menjadi penular virus mematikan tersebut. Semakin lama, semakin banyak yang menyudutkannya. Usianya bertambah, tapi ia tidak ada keinginan untuk menikah. Banyak dari keluarganya yang bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan dirinya.

Sempat ia berpikir untuk menikahi Mbak Tin, kan sama-sama pengidap AIDS, tapi ia mikir nasib anaknya nanti. Lebih baik tidak menikah. Saat malam Andi merasa tersiksa, ia sudah ingin sekali bercinta. Ia butuh istri. Tetapi takut untuk menikah, ia tidak mau menularkan penyakitnya. Kedua orang tuanya sudah putus ada, adik-adiknya sudah pada menikah. Kini ia menjadi pemudah aneh yang hidup sendiri tanpa pasangan.

Salah satu cara menikmati hidup yang ia lakukan adalah berburu dan huntingn foro pemandangan. Ia sering ke gunung, ke pedesaan menikmati pemandangann alam sambil berburu. Suatu hari ia kemalaman karena tersesat di daerah lereng gunung. Ia kebingungan. Untungnya ada seorang nenek menemukannya dan mengajaknya ke rumahnya. Andi pun bermalam di rumah nenek tersebut. Rumahnya sendirian di lereng gunung.

"Tidak ada tetangga, Nek?" Tanya Andi sambil menikmati snack.

"Banya," katanya.

Andi heran. "Dimana?"

"Di belakang sana ada satu, terus di timur itu ada dua. Itu di barat juga ada satu."

Nenek itu menunjuk ke arah yang jauh. Di timur itu lembah, mungkin di bawah lembah atau masih naik lagi, atau di balik bukit. Memang, rumah di daerah itu jarang-jarang, jaraknya berjauhan. Rumah nenek itu berbentuk persegi empat. Ruang tamu, tempat tidur dan dapurnya jadi satu. Nenek itu tidur di atas ranjangnya, Andi tidur di kursi kayu. Tengah malam ia terbangun, "Andai sudah menikah, senangnya satu kamar sama istri," tapi sekrang dia malah satu ruangan sama nenek-nenek tua.

Setelah kenal nenek itu, Andi semakin sering ke sana. Ia lebih nyaman di sana karena sepi. Di sana tidak ada yang menanyainya kapan nikah. Ia lebih menikmati kesunyian. Suatu malam tiba-tiba terbersit di benaknya untuk menikahi nenek itu, sekedar untuk memuaskan syahwatnya. Dia kan sudah tua, tiak masalah tertular, dan tidak akan punya anak lagi.

Sore itu Andi mencoba menyampaikan keinginannya pada nenek itu. Nenek itu tertawa. Mungkin menurutnya aneh ada anak muda yang mau menikahinya. Usianya sepantaran cucunya. "Mau sama perempuan keriput," responnya sambil tertawa. "Kalau saya, mau saja. Enak," katanya lalu tertawa. Andi malah ikut tertawa. Mungkin karena sudah akrab, keduanya pun nikah sirri pada seorang kyai di daerah tersebut.

*Terinspirasi dari kisah nyata

0 Response to "Tergoda Bidadari Desa Pengidap AIDS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel