Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Sosialisasi Bahaya Corona di Desa Karang Semangka

cerpen sosial

Spanduk besar bertuliskan: "Corona Hilangkan Nyawa, Ingat Anak dan Istri" di bawah gambar masjid dikerumuni gambar virus berwarna merah. Spanduk besar tersebut tergantung di gerbang masuk kantor Desa, Desa ini namanya Desa Karang Semangka. Katanya, yang mendirikan desa ini suka semangka dan menanam semangka di pekarangannya. Ada foto ibu kepala desa di pojok kiri bawah spanduk memakai kerudung coklat dan baju batik hijau, terlihat cantik sekali, juga foto Pak Camat di sebelah kanan bawah memakai songkok hitam bertempel burung garuda di bagian depan. Kumisnya yang tebal membuat beliau tampak sangar dan gagah. Dilihat dari kejauhan tadi, yang nampak hanya foto beliau berdua, seperti foto pengantin diantara bunga anggrek yang memenuhi pinggiran gerbang hingga ke halaman kantor desa.

Sebagian warga sudah ada yang masuk lokasi. Sesuai undangan, acara sosialisasi dilakukan di halaman kantor desa. Penasaran, apa sih yang akan dibahas? Apa warga mau datang semua? Sudah lama saya meninggalkan desa ini. Tetapi, sepertinya aku masih kenal sekali dengan karakter warga, tak banyak berubah. Mereka sibuk bekerja, tak terlalu menghiraukan acara-acara seperti ini. Paling ibu-ibu yang tidak sibuk saja yang datang. Biasanya, bapak-bapak tidak mau hadir, alasannya tidak bisa memahami yang dibahas jika diajak rapat atau musyawarah. Ya, begitulah kaum adam di kampung ini.

Benar. Hanya ada tiga pria, termasuk saya. Ibu-ibu sudah banyak yang datang. Setiap hari pemuda-pemuda desa membicarakan Bu Lurah yang cantik ini, kemana mereka sekarang? Biasanya kesempatan ini ditunggu-tunggu pemuda-pemuda nakal untuk mencoba kekuatan ilmu peletnya. Moderatornya juga cantik, seperti dua bidadari mereka.

***

"Baik, Bapak Ibuk sekalian, kita ini sedang mendapat musibah corona. Makanya, masjid pun banyak yang ditutup sekarang," Bapak petugas dari kecamatan mulai berpidato usai Pak camat dan Bu Lurah memberi sambutan. Sepertinya beliau agak gugup. Mungkin pegawai baru. "Tetapi, masih ada beberapa yang bilang tidak takut mati karena corona, lebih takut sama Allah, katanya." Sebagian ibu-ibu masih rame. Biasa, jam segini biasanya mereka lagi ngrumpi, terpaksa dipotong cerita mereka untuk mengikuti sosialisasi ini. "Ini salah, masak lebih berani dibanding ulamak? Yang menyarankan sholat di rumah kan ulamak." Sebagian ibuk-ibuk tertawa.

"Masjid yang dilarang ya?" bisik salah seorang dari ibu-ibu.

"Iya," jawab yang lain.

"Berarti tidak apa-apa di musolla."

"Iya, kita sudah benar. Dari dulu kan memang tidak pernah ke masjid."

"Itu daerah lain yang biasa sholat di masjid."

"Di isni, kan cuma Pak Sadin yang biasa sholat di masjid."

Ibu lurah tampak curiga. Beliau agak gelisah karena sepertinya ibu-ibu kurang memperhatikan pembicara. Tatapan beliau tertuju pada ibu-ibu yang rame di pinggir kiri, tidak jauh dari tempat saya duduk. Sesekali pembicara membumbui canda, tapi sepertinya tidak nyambung. Sebagian ibu-ibu tertawa, tapi seperti dibuat-buat. Mungkin karena beliau menggunakan Bahasa Indonesia, masyarakat di desa ini kan berbahasa Madura meskipun desa ini berada di pulau jawa. Rasanya lebih nyaring suara ibu-ibu dibanding suara beliau.

Beberapa pemuda mulai berdatangan. "Wah, moderatornya, bening," kata salah seorang dari mereka. Sepertinya Bu Lurah mendengar, tatapannya tampak sinis ke arah sini. "Bibirnya manis sekali," tambah pemuda yang lain. "Moderatornya itu loh, masih single kayaknya," kata yang lainnya. Mereka langsung membicarakan dua wanita cantik di depan itu. "Kalau ada yang perawan, buat apa yang udah bersuami." Mereka tak kalah berisiknya dibanding ibu-ibu di sebelah.

"Jika ada yang ditanyakan, silahkan," kata pembicara.

Entah apa yang dibicarakan. Saya tidak fokus.

"Masnya, mau bertanya?"

Entah kenapa moderator cantik ini tiba-tiba menunjuk saya. Saya pun berdiri. Pembicara memberi saya mikrofon. "Maaf, Pak, Buk. Kalau saya perhatikan spanduk di depan, tema kita hari ini adalah bahaya virus corona bagi kesehatan kita. Usul saya, Kami perlu diberi gambaran seperti apa itu virus corona, bagaimana sifatnya, apakah dia terbang atau melompat sejauh berapa meter atau berapa kilo atau bagaimana. Jika kita terkena virus ini, apa gejala awalnya. Terus langkah menghindarinya bagaimana. Mungkin perlu dipraktekkan di depan. Terus, yang kedua, perlu saya beri tahu, masjid di desa ini, memang sejak dulu sepi, sholat jumat aja yang rame, itupun tidak sampek separuh." Moderator tertawa. "Terakhir, usul saya, sebaiknya gunakan Bahasa Madura biar semuanya paham."

"Ibu-ibu paham?!" tanya pembicara memastikan apa dugaan saya.

"Paham...!!" serempak ibuk-ibuk menjawab.

Bu lurah tersenyum. Sepertinya beliau paham. Apalagi terdengar sebagian ibu-ibu bilang "Apa katanya?" jelas sekali saya dengar. Sebagian menjawab, "Nggak tahu." Penyampaian pembiacara kurang bisa menarik perhatian audien.

"Ibu-ibu ada yang mau bertanya?" tanya moderator.

Malah tambah rame mereka, "Tanya apa?" kata sebagian. "Kamu, katanya mau nanya," tunjuk yang lain. "Ndak, takut. Kamu aja," jawabnya. Tak satu pun tampak memperhatikan moderator. Sepertinya, lebih baik Bu Lurah yang menyampaikan, pasti beliau lebih kenal karakter warganya. Meskipun beliau pendatang di desa ini, tapi sudah lama hidup bersama warga desa ini.

Belum ada Komentar untuk "Sosialisasi Bahaya Corona di Desa Karang Semangka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel