Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Sang Kyai dan Calon Kades Playboy

Sang Kyai dan Calon Kades Playboy

"Kok bisa abah mendukung bajingan jadi kepala desa?!"

kyai Firman tidak kuasa menahan emosi. Hampir tiap hari selalu marah-marah di rumah. Neng Ima, istrinya, merasa sedih. Biasanya penuh keceriaan, sekarang berubah. Tidak ia duga suaminya yang romantis bisa berubah seperti itu pasca Kyai Firman mengumumkan pada warga desa Karang Pereng bahwa dirinya mendukung Bang Santo, preman kelas kakap, untuk menjadi kepala desa. Padahal lawannya seorang ustadz taat dan berilmu yang aktif di masjid.

Orang-orang kaget dengan keputusan Kyai Firman. Mereka tidak menduga. Bang Santo istrinya empat dan sering gonta-ganti, mungkin sudah lebih 50 wanita yang pernah jadi istrinya. "Saya ini bukan main perempuan, nikah itu halal," dalihnya. "Saya tidak menikahi gadis, tapi janda-janda tua yang tidak diurus oleh anak dan cucu-cucunya. Saya menolong mereka, yang penting masih terlihat cantik." Pemuda-pemuda yang mendengarnya tertawa. "Saya tanggung hidup mereka, dan saya puas," katanya. Memang, hanya satu istri yang seusia dengan beliau, adapun yang lain, janda-janda tua. Bang Santo disukai banyak orang, terutama pemuda-pemuda desa. Dia lucu. Meski dia dikenal sebagai maling, tapi sangat menjaga keamanan desa sendiri. Bahkan sengaja mengumumkan, kalau ada yang kehilangan agar lapor dirinya.

Baca juga: Ini Rupanya 73 golongan Umat Akhir Zaman

Tetapi, preman tetaplah preman. Banyak warga yang tidak suka juga. Ust Edo, lawan Bang Santo, adalah seorang pendatang. Beliau seorang ustadz yang aktif mengajar di salah satu sekolah islam di dekat alun-alun. Orang desa tidak begitu akrab dengan beliau. Maklum, gaya hidup orang kota beda. Beliau selalu sholat berjamaah di masjid bersama istrinya, sering bersedekah pada warga. Bahkan beliau juga senang meminjamkan uang pada tetangga, katanya, agar mereka tidak pinjam di bank atau rentenir, menurut beliau itu haram.

"Aneh ya kalau dipikir," kata Taufiq, salah seorang santri yang baru saja lulus, pada Zainul. "Kenapa kyai Firman malah dukung Bang Santo? Bagaimana jadinya desa ini?"

"Kita ini hanya santri yang baru lulus," kata Zainul. "Kita lama hidup dalam pondok, tak tahu keadaan. Tentu kyai lebih paham."

"Tapi, lawannya kan ustadz, Nul?!"

"Gelar ustadz bukan jaminan mampu mengurus desa kan? Sebagai santri, kita tak boleh buruk sangka pada kyai."


"Iya sih."

Di sawah, para kuli juga saling tanya alasan Kyai Firman mendukung Bang Santo. Ada yang sudah berburuk sangka Kyai Firman diberi uang banyak oleh Bang Santo.

Baca juga: Agama Gaya Baru Masuk Kampung

"Jaman akhir ini memang sudah serba terbalik."

"Kalau dipikir, seharusnya yang alim kan yang didukung."

"Tapi kalau terlalu alim, tidak enak juga."

"Iya, kamu takut dirasia."

"Hahahahahaa... Nanti semua pekarangan dikasih lampu."

"Mmmm... Ngomongin apa sih," sahut Buk Saidah.

"Anu yu...!!"

"Kan masih ada tanaman jagung sama tebu."

"Mending nikah," tambah Buk Saidah.

"Sampeyan mau, Buk, sama saya?"

"Hahahahha... kok langsung tembak di tempat?!"

"Beh, namanya juga cowok."

"Udah tua, udah tidak mikir itu lagi. Kamu tu seumuran cucuku."

"Buk Subia itu lebih tua dari sampean kan, masih mau gitu jadi istri Bang Santo, Buk Lis, Buk Jum juga."

"Yaaaa, lain itu."

"Apanya lain, wong sama-sama perempuan."

"Udah-udah...!! Ngomongin kawin terus....!!"

"Hahahahaa..."

"Kalau kata Buk Sum," kata Buk Suri, "Ustadz Edo itu aliran keras, katanya."

"Aliran keras gimana?"

"Anu tu, suka menyesatkan orang. Wong, Ida dilarang ziarah ke makam bapaknya. Haram katanya ziarah kubur."

"Loh, aliran apa?"

"Ow, itu paling yang bikin Kyai Firman tidak suka," sahut Toni.

"Iya, jaman sekarang memang banyak aliran aneh-aneh."

"Ida pake jilbab lebar terus ya sekarang."

"Iya. Wajib katanya."

"Ustadz Edo orang berilmu, taat ibadah. Kita semua ingin pemimpin seperti beliau," Kata Kyai Firman pada Ustadz Latif, Ustadz Sukir, Ustadz Farhan dan menantunya. Mereka sedang berkumpul di ruang tengah. "Tetapi, Kita semua tahu bagaimana sikap beliau terhadap sesama. Semua yang berbeda pemahaman disesatkan, bahkan disamakan dengan orang kafir." Ustadz Sukir tersenyum dan mengangguk. "Masak beliau membacakan ayat 170 surat al Baqarah kepada kita? Ayat itu ditujukan kepada orang kafir, kita hanya berbeda pendapat dengan beliau, sudah disamakan dengan orang kafir." Menantu beliau menunduk. "Perbedaan pendapat itu sudah ada sejak dulu, Ustadz Edo belum bijak menyikapi perbedaan. Berapa persen muslim di negeri ini yang sudah disamakan dengan orang kafir oleh beliau, di desa ini, bahkan sekabupaten, kafir semua menurut beliau. Kerukunan, kedamaian itu lebih utama dibanding mencari kemenangan diri. Jangankan jadi lurah, jadi menantu saja sudah dimusuhi saudara-saudaranya. Hanya istri dan ibu mertuanya kan yang nurut."

"Iya, acara seratus harinya Pak Suliman itu dilarang, katanya," sahut Ustadz Farhan.

"Katanya mau diusir sama Pak An," tambah Ustadz Latif.

"Berbeda itu boleh," Lanjut Kyai Firman. "tapi tak usah menyesatkan yang berbeda. Sama-sama punya dasar ilmu. Kita di pondok kan sering debat, rutin malah, pada saat jadwal bahstsul masail. Kelompok A bilang, 'ini haram berdasarkan kitab ini' kata kelompok B, 'ini sunnah berdasarkan kitab ini', begitu kan dalam bahtsul masail. Waktu saya mondok, kyai punya anak empat, yang dua, Gus Fadlan sama Gus Musa, beda pemahaman sama abahnya dan kedua kakaknya. Tapi ya biasa hidup bersama, tidak saling menyesatkan. Ustadz Edo ini, pokoknya kalau sudah dari ulamak panutannya, pasti benar, dan yag berbeda pasti sesat dan ahli neraka. Padahal ulama bukan nabi. Meyakini begitu sih boleh saja, tapi jangan disampaikan ke orang lain yang beda pendapat; seakan-akan hanya dirinya yang berilmu. Membahas perbedaan itu hanya mengeraskan hati, dan tidak ada habisnya. Kalau orang seperti beliau jadi pemimpin negara, bisa perang."

Menantu kyai Firman masih belum puas dengan penjelasan Kyai Firman. Beliau menimbang-nimbang, lebih buruk mana dibanding seorang preman, maling, suka main perempuan. Tetapi, beliau juga marah jika mengingat sikap Ustadz Edo. Madratsah yang dipimpin Kyai Firman dianggap sekolah sesat oleh Ustadz Edo. Dulu hampir saja sebagian warga mau membakar rumah Ustadz Edo, tapi mereka masih mikir, karena itu milik mertua beliau.

***

Acara pemilihan kepala desa baru saja usai, perhitungan suara sedang berlangsung. Semua warga menunggu dengan sabar, tak ada yang berani berbuat rusuh. Akhirnya tibalah pengumuman pemenang terpilih sebagai kepala desa, atas nama Bang Santo. Resmilah desa Karang Preng dipimpin oleh seorang playboy yang juga aktif berprofesi sebagai maling. Ada yang menduga kemaksiatan akan marak di desa Karang Pereng.

Baru seminggu menjadi kepala desa, Bang Santo berhasil menangkap 8 maling. Luar biasa, namanya juga maling senior. Warga senang jika begitu. Bang Santo jadi sering diundang acara-acara keagamaan desa karena kepala desa disamakan statusnya dengan para kyai oleh warga yang punya hajatan. Jadi orang terhormat sekarang. Bang Santo jadi tidak enak.


Belum ada Komentar untuk "Sang Kyai dan Calon Kades Playboy"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel