Artikel Terbaru

Kerja Dulu atau Nikah Dulu

cerpen wirausaha

"Lebih baik dagang, Man."

"Aduh... bahaya. Kalau hasil banyak, tapi... kalau sudah kadung rugi..."

"Memang kayak gitu hidup. Orang punya pekerjaan tetap saja bisah kena PHK."

"Iya juga ya."

Faris sudah punya bisnis yang lumayan penghasilannya. Dia jualan nasi goreng di timur alun-alun setiap hari mulai sore hingga malam. Dulu ia guru, tapi karena hanya mendapat gaji Rp 300.000 per bulan, ia menyerah, tidak sabar menunggu diangkat jadi PNS. Belum lagi tertekan oleh atasan dan wali murid. Gaji sudah sedikit, hidup seperti babu. Kalau pagi dia kadang bersantai di rumah kalau keperluannya untuk jualan sudah siap.

"Kamu kalau dagang, enak, mandiri. Orang itu belum sukses kalau masih kerja di daerah orang."

Salman tersenyum. Ia setuju dengan Faris. Sudah lama ia hidup di perantauan. Saat pulang diam di rumah, tidak bekerja. Uang habis, berangkat merantau lagi. Begitu hidupnya dari dulu.

"Coba kamu nikah, kerja itu biar ada hasilnya," kata Faris. "Kalau membujang terus, rizkinya kebawa angin."

"Nikah sama siapa?"

"Hahahaha... Jadi laki-laki kok tanya mau nikah sama siapa, Man... Man...."

"Kerja belum jelas gini."

"Masa depan itu tidak usah dikhawatirkan, Allah tidak tidur."

baca juga: Cerpen Berhenti Jadi Guru, lalu Jadi Kuli Bangunan

Sulis lewat di depan mereka.

"Ini Sulis, Man," kata Faris.

"Apa?!" respon Sulis.

Salman tertawa.

"Iya, kan, Lis?!"

Sulis berhenti. "Apa sih?!"

"Iya, gitu."

"Ah, nggak jelas," ia pun berlalu.

"Cantik kan, Man, dia."

Salman buang muka. Nampaknya dia tidak suka.

Tak lama kemudian Mbak Rahma lewat.

"Ini janda, Man," kata Faris berbisik, takut terdengar.

Salman menahan tawa. "Masih perjaka, ditawarin janda..."

"Hahahahaha... Dia cantik, kan?"

"Ah, kalau itu, semua orang tahu."

***

"Kamu belum mau nikah, Man?" tanya Pak Hanif saat berjalan pulang dari masjid.

"Cari kerja yang bagus dulu, Pak."

"Nikah aja dulu. Kalau Allah mau nasih kerjaan yang bagus sepuluh tahun lagi, gimana?"

Salman menarik nafas panjang, lalu melepasnya perlahan. Begitulah kalau lagi di kampung, semua pada bahas nikah. Tetapi, ada benarnya juga kata Pak Hanif. Tapi, kalau lagi nganggur, tidak ada pemasukan, siapa yang mau? Sebenarnya, di kampungnya ada kerjaan yang lumayan bayarannya, yaitu tukang bangunan. Ia bisa ikut pemborong. Selain itu, ia bisa jadi kuli tani, tapi bayarannya kecil. Tetapi, kalau biaya hidup sehari-hari bersama istri, cukup.



0 Response to "Kerja Dulu atau Nikah Dulu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel