Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Agama Gaya Baru Masuk Kampung

Agama Gaya baru

"Ada apa kok rame-rame di masjid tadi?"

Abdul Shaleh tersenyum ditanya mertuanya yang tiba-tiba masuk ke rumahnya. Rumah beliau di sebelah, berdampingan. Ia pun duduk di ruang tamu. Sebenarnya ia ingin tidur, tadi malam anak tirinya menangis semalaman. Ia dan istri tidak bisa tidur. Begitulah menjadi pengantin baru bersama janda, malam-malam tak selalu menjadi milik berdua. Kalau sudah bicara soal agama, biasanya sang mertua keasikan dan lupa waktu. Shaleh mencari jawaban yang tepat agar perbincangan tidak berlangsung lama.

"Itu, Abah, suaminya Retno mau dipukulin sama orang-orang," jelas Shaleh.

"Kenapa?"

"Dia bilang kegiatan rutin tiap malam selasa di masjid itu tidak boleh, katanya itu dilarang dalam agama."

"Loh, ibadah kok dilarang?!"

Shaleh bingung. Kalau dijawab, diskusi makin panjang. Tidak dijawab, bahaya. "Tadi Ustadz Imam yang menyelesaikan." Mertua Shaleh dekat dengan Ustadz Imam. Shaleh ingin beliau diskusi sama Ustadz Imam saja.

"Dia Islam?"

Shaleh menghela nafas. Rupanya diskusi berlanjut di rumah sang pengantin. "Iya, islam."

"Kok ada orang islam melarang orang ibadah, gimana?"

Shaleh diam.

"Coba tak tanya Ustadz Imam."

Akhirnya. Shaleh lega.

Baca juga: Cerita Ustadz Radikal Masuk Kampung

***

Suami Retno menjadi bahan perbincangan warga. Banyak warga yang marah, bahkan ada yang usul agar disantet saja. Begitulah orang desa, meskipun taat beribadah, tapi tidak banyak ilmu. Tak paham mereka kalau santet itu dosa. Mertua Shaleh memang aktif sekali di masjid, cuma dua hari ini beliau tidak ke masjid karena sakit. Tetapi, rupanya adanya masalah di masjid membuat beliu lupa kalau sedang sakit.

"Dia itu beda pemahaman agamanya," jelas Ustadz Imam.

"Paham apa, kok ibadah dilarang?"

Ustadz Imam tersenyum. "Sama seperti waktu kita di pondok dulu. Kalau sudah bahtsul masail, debat tidak karuan."

"Itu kan di forum. Kalau di masyarakat debat, bikin kacau."

"Makanya, belajar adab itu sebelum belajar ilmu. Kalau ilmunya dia luar biasa, luas pengetahuannya."

"Berilmu kalau tidak beradab, cuma cari masalah."

"Tadi hampir dihajar sama warga. Sudah ada yang pegang celurit." Pak Haji Latif, mertua Shaleh, geleng-geleng kepala. "Saya baru sampek rumah, dipanggil sama Karman, kisruh, kisruh, kisruh, Ustadz, katanya. Kaget saya. Langsung lari ke masjid."

"Apa sebelumnya pernah bertamu ke sini?"

Menurut adat desa, setiap orang baru bertamu ke rumah tokoh agama. Itu sudah tradisi. Apalagi mau menyampaikan ajaran baru yang berbeda dari yang biasa dijalankan masyarakat, sehrusnya musyawarah dulu dengan tokoh desa. Suami Retno malah langsung melabeli sesat tokoh agama.

"Tidak pernah. Katanya saya dibilang ustadz sesat."

"Loh, kok kurang ajar gitu!"

Ustadz Imam tersenyum. "Dulu di pondok kan biasa kita akting pake ajarannya ulamak yang berbeda-beda. Tapi kan tidak sampai menyesatkan begini."

"Mondok dimana, katanya?"

"Pegawai kantoran, bukan santri. Ikut-ikut pengajian gitu paling. Gus Fadlan itu kan juga beda pemahamannya sama kyai dan gus-gus yang lain."

"Iya, tapi kan tetap ikut acara-acara di pondok. Dipake pribadi saja pemahamannya yang beda. Namanya manusia, mahluk sosial. Perbedaan kok dibesar-besarkan."

"Kata Abdi, anaknya Pak Haji Sirath, katanya suka ngajari orang-orang di lingkungan situ."

"Ngajarin apa?"

"Ngajarin kalau ini sesat, itu sesat. Pokoknya banyak kebiasaan di sini yang dibilang sesat, katanya dosa kalau dilakukan."

"Gimana kata Pak Haji Sirath?"

"Pernah diambilin celurit sama beliau, katanya."

Pak Haji Latif tertawa. "Mangkel paling Pak Haji Sirath. Merusak ketenangan."

"Tiap hari katanya, pokoknya tiap ketemu orang, itu yang disampaikan. Pokok ajarannya tentang penyesatan."

"Hahahahaa... Kok bisa dapat suami kayak gitu, Retno?"

"Ini banyak orang yang marah. Bahkan dijadikan kesempatan sama pemuda-pemuda nakal. Kan banyak yang suka sama Retno."

"Iya, tahu rasa kalau tidak berhenti dia."

***

Sodiq mendatangi Pak Dasuki sehabis sholat isyak. Beliau terkenal pandai ilmu ghoib, khususnya ilmu pelet. "Bisa bantu saya melet perempuan, Kang?"

"Orang mana?"

Sodiq mendekat pada Pak Dasuki. Ia takut terdengar istri beliau di dalam. "Retno," bisiknya.

"Loh, sudah punya suami...!!"

"Suaminya kan usil."

Pak Dasuki agak setuju, tapi masih mikir-mikir. Pikirnya, benar juga, daripada dia bikin ulah terus di kampung ini, mending usir aja. "Kamu serius mau nikahin dia kalau pisah sama suaminya?"

"Serius, Kang."

"Saya punya yang ampuh. Tetapi, syaratnya berat."

"Apa, Kang?"

"Selama empat puluh hari tidak boleh meninggalkan sholat lima waktu, tidak boleh kasar sama orang, tahan amarah, tidak boleh sombong dan harus setia."

"Kalau dilanggar?"

"Kalau yang pertama dilanggar, ilmu ini tidak berfungsi. Kalau yang kedua, ketiga dan keempat dilanggar, kamu akan terkena penyakit aneh."

"Waduh...!!" Sodiq mikir-mikir. Ia jarang sholat, dan agak pemarah juga agak sombong.

"Bagaimana?"

"Tak pikir-pikir dulu, Kang."

"Terserah kamu. Hampir tidak pernah gagal saya pake ilmu ini."

Retno jarang keluar rumah sejak bersuami. Kalau keluar rumah biasanya bersama suaminya, itupun tidak untuk kumpul-kumpul sama tetangga karena biasanya sang suami selalu menyampaikan pemahamannya pada tetangga dan itu dibenci tetangga. Dulu Retno biasa kumpul-kumpul tetangga seperti orang kampung lainnya. Bahkan sekarang tidak pernah berkunjung ke rumah saudaranya sendiri lagi karena sang suami tidak pernah ngajak ke sana. Sebelum menikah ia pernah kena pelet, katanya dia menginjak pasir yang sudah diguna-guna. Kata suaminya, "Banyak baca Quran, sihir tidak akan mempan." Retno pun nurut.

***

Shodiq nekad menerima ilmu dari Pak Dasuki. Ia pun jarang keluar rumah karena takut marah dan sombong, juga tidak banyak aktivitas karena takut lupa sholat. Orang-orang yang akrab dengannya heran. Ada yang mengunjunginya dan bertanya kabar, Shodiq hanya tersenyum. Dia berubah. Tak terasa hari-hari berlalu. Warga semakin marah karena suami Retno semakin nekad. Bahkan pada hari Jumat ia nekad menyampaikan pemahamannya di masjid sebelum khutbah dimulai. Katanya sebaiknya khotib meninggalka cara-cara sesat. Kalau tidak ada Ustadz Imam, warga sudah menghajarnya. Ustadz Imam meminta dia pindah ke masjid lain. Untungnya dia nurut.

Rupanya pelet Pak Dasuki cukup ampuh. Padahal belum genap 40 malam. Retno lari ke rumah Shodiq malam-malam. Suaminya mengejarnya, ia marah. "Istri kurang ajar...!!" Retno menangis, ia seperti hilang akal. Warga ramai berkumpul di rumah Shodiq. Kedua orang tua Retno turut mengejar Retno. Mereka juga marah dan malu sama tetangga. "Ayo pulang...!!" paksa suaminya. Tetapi Retno tidak mau. Dia menangis ingin tetap di rumah Shodiq. Shodiq hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah tua. Beliau ketakutan. Suami Retno membaca ayat-ayat al Quran, "ini sihir, ini sihir," katanya. Retno menjerit-jerit. Kedua orang tua Retno menjadi khawatir dan meminta suaminya Retno berhenti membaca ayat-ayat al Quran. Tetapi dia terus saja membaca. Setelah hampir dua jam akhirnya Retno berhasil dibawa pulang.

Malam berikutnya Retno hilang. Suaminya mencari ke rumah Shodiq, rupanya Shodiq juga tidak ada di rumah. Suami dan saudara, juga orang tua Retno mencarinya ke rumah saudara Retno di daerah lain juga ke rumah saudaranya Shodiq. Tetapi mereka tidak ditemukan. "Istri biadab...!!" kata suami Retno. Saudara Retno agak marah mendengarnya. "Pasti dia sudah berzina. Harus dirajam...!"

"Jangan ngawur, sampean...!!" kata Pak De-nya Retno. "Kalau sudah tidak suka, ceraikan saja. Allah menerima taubat hambaNya."

Belum ada Komentar untuk "Agama Gaya Baru Masuk Kampung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel