Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Cerita Belajar di Rumah, Guru Makan Gaji Buta

Cerita guru dan murid masa covid 19

Cerita kali ini tentang siswa di suatu negeri yang belajar di rumah selama masa merebaknya wabah covid-19. Cerita ini hanya fiksi, cerita hayalan tentang dunia pendidikan. Kalau ada kemiripan, maaf ya. Bentuk tulisannya kok mirip artikel? Ini fiksi gaya baru. Cerpen ini tentang sekolah selama masa pandemi corona. Cerita ini tentang siswa belajar di rumah, orang tua siswa membantu anaknya mengerjakan tugas yang diberikan guru. Cerpen ini bercerita kehidupan siswa dan guru di dunia pendidikan, banyak masalah dirankum dalam cerita singkat, dalam cerita ini ada guru yang mengajar online dan memberi tugas siswa dari rumah, dan komentar-komentar mereka serta cerita-cerita pengalaman belajar dari rumah.

Sekolah libur, SPP Tetap Bayar

Cerita yang cukup menyedihkan adalah disaat ekonomi merosot karena efek virus corona, tetapi pengeluaran tetap tidak berkurang. Dalam hal ini, orang tua siswa atau wali murid tetap membayar SPP. Ada yang bilang begini, "Enak gurunya makan gaji buta, orang tua sibuk ngajari anak di rumah." Tentu saja banyak guru tersinggung. Sebagian pun saling serang, bahkan saling caci, saling menyalahkan. Benar juga ya. Anak kan sudah tidak sekolah, guru hanya ngasih tugas, ada juga yang bahkan diam di rumah saja karena tidak ada fasilitas, tetapi ada juga sekolah yang full belajar online via skype, zoom dll. Biasanya sekolah-sekolah di kota besar. Wajar, mereka memiliki fasilitas super lengkap. Jadi, pembelajarannya tetap berlangsung seperti biasa. Sebelum ada covid-19, tidak ada orang tua siswa yang protes minta potongan biaya karena ada liburan semester, liburan kenaikan kelas dan semacamnya. Bahkan mereka senang kalau ada liburan. Bahkan ada yang sengaja maksa libur sendiri demi acara keluarga. Apalagi mahasiswa, libur semesternya tu lumayan lama. Tidak ada yang protes kan? Andai guru tidak usah digaji atau dikurangi gajinya, tentu tidak ada yang protes. Sama seperti sebelum adanya covid-19, banyak guru yang gajinya hanya Rp 300.000-, bahkan ada yang Rp 50.000,- per bulan. Tidak ada kan orang tua yang protes dengan gaji segitu? Tetapi, banyak dari guru dengan gaji kecil memilih meninggalkan karir keguruannya. Kuli bangunan 100ribuan per hari. Lebih baik jadikuli ya.

Baca juga: tertipu label sekolah sunnah

Orang Tua Kerepotan Bantu Anak

"Ini susah, aku tidak bisa...!!" Ibunya pun terpaksa membantu anaknya mengerjakan tugas. "Enak gurunya," gumamnya. "Saya yang susah, gurunya tetap digaji." "Aku malas ngerjakan kalau susah kayak gini...!!" Ibunya pun tambah pusing. Pikirnya, seharusnya guru memberi tugas yang mudah, yang sesuai dengan kemampuan siswa biar anak tidak stress, biar orang tua tidak kerepotan bantu anak. Beginilah kalau guru tidak pernah tahu kesibukan orang tua di rumah. Tapi ya repot juga, masak guru harus mengunjungi semua rumah siswa?

Apakah kalau anak sudah sekolah, orang tua santai?

Adakah orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang terbaik, berprestasi, menjadi orang hebat? Saya yakin tidak ada. Semua orang tua ingin anaknya menjadi orang hebat. Lalu bagaimana caranya agar anak menjadi orang hebat? Dengan dimanja? Tidak pernah dibuat stress dan tidak pernah dibuat susah? Adakah pemain sepak bola yang tidak pernah latihan karena latihan itu capek? "Sekalipun anakku sudah dididik oleh guru-guru kelas internasional di sekolahnya, sebagai orang tua, aku akan tetap kerja keras mendidiknya di rumah," kata Femey, seorang ibu muda. Untuk anak, ibu selalu ingin yan istimewa. Tak ada yang mengalahkan kasih sayang ibu untuk anak tercinta. Memang, guru terprofesional tingkat internasional sekalipun, tidak akan menyayangi muridnya sebagaimana sayangnya ibu kepada anak.

Guru makan gaji buta

Viney mengelus dada. Sudah sepuluh tahun dia menjadi guru. Dia tidak pernah mengeluh meski siang malam sering teringat masalah siswa-siswanya, baik masalah belajar mereka maupun masalah pribadinya yang berimbas pada aktivitas belajarnya. Sepulang dari sekolah, ia membuka catata hariannya. Bertumpuk masalah siswa di catatan itu. Ada tumpukan hasil kerja siswa yang juga harus ia evaluasi. Ia juga aktif sharing di gup guru, berdiskusi mencari solusi atas segenap masalah siswanya. Malam tiba, Viney perlu membaca dan browsing untuk menyusun materi yang akan diajarkan besok. Materinya, metode mengajarnya, media ajarnya harus sesuai dengan karakter kelas yang diajar. Kadang dia teringat siswanya yang sering murung, juga siswanya yang suka tidur. Jua tak lepas dari ingatannya hutangnya yang belum ia bayar, awal bulan masih agak lama. Mungkin perlu bisnis mencari penghasilan tambahan. Kuli harian dibayar per hari, kerja mulai jam 08.00 sampai jam 16.00. Jika dalam sehari digaji Rp 120.000, dan dalam sebulan masuk kerja 24 hari, maka dalam sebulan ia akan mendapatkan gaji Rp 2,880,000. Mereka kerja delapan jam sehari, selebihnya bebas, bisa rekreasi, bisa bersantai. 

Baca juga: kumpulan cerpen pendidikan

Wali Murid Menyerang Guru

Banyak orang tua kesal pada guru karena harus bayar SPP, sedangkan anaknya tidak diajari oleh guru. Di sosial media, jaman sekarang ini, guru dan orang tua agak mirip sama Tom and Jerry. Bahkan ada yang bilang guru gila hormat. Katanya, guru itu dihormat kalau tidak digaji. Padahal nanti, ketika anak sudah dewasa dan orang tua sudah tidak mampu bekerja, anaklah yang akan menanggung hidupnya. Apakah anak tidak wajib lagi menghormat orang tua ketika sudah menanggung hidup orang tuanya? Jika masa kecilnya begitu sama guru, bisa jadi setelah dewasa begitu juga sama guru.
Kata Pak Ustadz, Orang tua itu ada tiga macam, yaitu yang melahirkan, yang menikahkan anaknya, dan yang memberi ilmu. Ketiganya wajib dihormat, sekalipun mereka bukan orang baik. Begitu katanya. Sekalipun hidup mereka ditanggung anaknya. Jadi, kalau posisinya sama di hdapan Tuhan, seharusnya tidak saling serang, tapi saling percaya.

Pemerintah Sibuk

Di masa pandemi ini pemerintah sibuk. Mereka tidak sempat memikirkan atau mencarikan solusi bagaimana seharusnya mengenai keuangan sekolah. Sehingga masalah ini diserahkan pada sekolah masing-masing. Bahkan ada sekolah yang sudah tidak mampu menggaji guru-gurunya. Terus, jika gurunya pada resign, sekolah tutup? Repot juga. Tetapi, orang tua juga lagi kesusahan, penghasilan menurun, kecuali yang punya gaji bulanan.
Saran saya, sebaiknya para orang tua tegas, berhentikan anak dulu dari sekolah biar tidak bayar SPP. Nanti setelah usai masa pandemi covid-19 ini, daftarkan lagi. Atau homeschooling. Tapi, saya tidak tahu apakah ini solusi terbaik. Ini kan hanya cerita fiksi ya... Anggap saja terjadi di negeri dongeng. Jadi, kalau semua siswa diberhentikan dulu, kan guru tidak usah digaji, para guru juga bisa cari kerjaan lain.Sekian dulu ceritanya. Bentuk cerpennya agak unik ya, kayak artikel. Cerpen ini merupakan contoh cerita fiksi masalah-masalah di dunia pendidikan yang bentuknya seperti penulisan makalah. hehe... Dunia fiksi memang bebas berkreasi, tidak terikat aturan. Semoga dari cerita ini ada manfaat yang bisa diambil.

Belum ada Komentar untuk "Cerita Belajar di Rumah, Guru Makan Gaji Buta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel