Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

KONFLIK WAHABI dan AHLI BID'AH

Kisah nyata, kisah hikmah, wahabi salafi, aswaja, bid'ah, sunnah

(sekedar cerita pengalaman)

Tahun 90-an belum saya kenal istilah wahabi, artinya wahabi belum masuk kampung saya. Waktu itu, yang ada hanyalah kelompok yang tidak mau melakukan amalan sunnah, kata orang, hanya melakukan ibadah inti. ORMAS tersebut bernama Muhammadiyah (MD). Tahun 2000an saya mulai mendengar sebutan bid'ah. Ternyata, kata ini biasa dilontarkan oleh orang MD ditujukan kepada orang NU. Kedua ORMAS ini seperti perang dingin. Tahun 2008 saya menjadi mahasiswa dan menjadi pengurus di salah satu banom Muhammadiyah, juga menjadi pengurus di pesantrenn NU, juga menjadi pengurus di organisasi lain yang berafiliasi dengan ormas keislaman lain. Saya pun aktif di tiga organisas keislaman berbeda.

Tahun 2015 Saya mulai kenal dengan istilah wahabi dan ASWAJA (yang dimaksud di sini adalah ASWAJA NU/an Nahdliyah) dan saya menjadi pengurus di salah satu pesantren yang sedang berjuang menegakkan ASWAJA melawan WAHABI, Syiah, dan Liberal. Tahulah saya dengan tokoh ASWAJA: Ust idrus Ramli, UAS, Buya Yahya juga ulamak yang saat ini disebut ulamak salafi wahabi, yakni Ust Kholid Basalamah, Ust Syafiq Reza Basalamah, Ust Firanda, dll.

Noted: Menurut saya, Ust Adi Hidayat dan ust Abdul Somad cukup powerful memersatukan umat ini. Mungkin seperti Ust Hasan al Banna (Ikhwanul Muslimin) di Mesir dulu.

Bagi saya, berbeda itu biasa, yang penting terus belajar dan saling hormat. Kita memang harus meyakini benar yang kita yakini, tapi tak perlu menyalahkan yang berbeda di depan umum. Otak tiap manusia ini berbeda, cara memandang sesuatu pun juga berbeda.

Orang ASWAJA NU bilang, "Salafi wahabi itu tekstualis, tidak kontekstual"

Kata salafi, "Mereka itu liberal, agama itu harus berdasarkan teks"

baca juga: Cinta gadis wahabi

Berada di lembaga ASWAJA NU, memberi saya peluang untuk mencari tahu lebih dalam, apa sebenarnya konfliknya. Berikut kurang lebihnya yang saya dapatkan:

Agama itu dibagi tiga: Aqidah/keyakinan, fiqih/hukum islam, ahlak. Untuk urusan fiqih (halal, haram, sunnah, makruh, mubah), selama jalur ilmunya masih jelas dari jalur 4 ulamak tabiin dan tabiit tabiin (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali), maka tak usah dipermasalahkan, mereka itu saudara kita. Mau pake qunut, mau tidak, mau basmalah jahar, sirr, semua itu diajarkan oleh 4 imam, mereka belajar pada sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Saya pun tanya tentang ulamak-ulamak panutan kelompok yang disebut salafi wahabi, kata mereka, yang tidak boleh diikuti itu ajaran bidang aqidahnya. Katanya, sanad/sambungan/jalur keilmuan mereka terputus sampai Syekh Ibnu Taimiah. Sanad ini masalahnya. Saya jadi teringat kwalitas keilmiahan sains (science), ilmuan mendefinisikan science sebagai Kajian terhadap hukum sebab akibat pada alam melalui observasi yang sistematis. Itu science, ada observasi dan ada sebab akibat. Sedangkan ilmu agama itu bukan hasil observasi, tapi diwahyukan/diturunkan oleh Allah kepada NAbi Muhammad saw, kepada sahabat, kepada tabiin, dan tabiit tabiin. Sehingga, kwalitas keilmiahan ilmu agama tidak sama dengan science. Sanad/jalur turunnya ilmu itu syarat mutlak dalam agama. Katanya sanad itu bagian dari agama. Sabda Nabi, sebaik-baik generasi adalah yang hidup sejaman dengan Nabi, setelahnya, dan setelahnya. Ada yang bilang 300 tahun awal.

Lalu ASWAJA NU ikut siapa dalam hal aqidah? Kata ustadz-ustadz di sana, ikut Abu hasan al Asy'ari dan Abu Mansur al Maturidi. Abu Hasan al Asy'ari lahir pada 300 tahun awal masa keislaman. Orang Salafi wahabi menuduh Abu Hasan al Asy'ari sesat. Ada juga yang mengatakan, ada sebagian imunya yang sesat (bukan semua). Saya pun mencoba menelusuri, bagian mana yang diperdebatkan dua kelompok ini. Ada banyak debat di YouTube, paling banyak menyerang kelompok yang disebut salafi wahabi Ust Idrus Ramli. Bisa cari sendiri di YouTube.

Saya pernah tanya sama seorang ustadz yang cukup mumpuni (menurut saya) dalam keilmuan ASWAJA NU, adik kelas Ust idrus Ramli, saya tanya tentang pembagian 3 aqidah ajaran Ibnu Taimiyah: Tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma wa sifat. Kata beliau, sebenarnya, selama pembagian tersebut tidak membatasi sifat Allah, tidak masalah. Yang tidak boleh, kalau sampai membatasi, maksudnya, "saat bertauhid rububiyah, maka Allah tidak uluhiyah. Nah, ini tidak boleh. Kalau hanya membagi, tidak masalah." Bahkan kata beliau, "Sebenarnya, yang kita musuhi ini tidak semua salafi wahabi, tapi hanya wahabi takfiri." Kata beliau, wahabi takfiri itu meyakini halal/boleh membunuh muslim yang berbeda pemahaman.

Saya pernah bilang sama salah seorang orang salafi, "Meskipun saya ahli bid'ah, tapi sebagai muslim, saya kan masih saudaramu." Kata dia tidak ada persaudraan dengan ahli bid'ah. Dalam hati saya, berarti dia termasuk yang takfiri.

Satu hal yang saya (jujur) tidak suka dengan dakwah kelompok yang disebut salafi wahabi, kurang memperhatikan psikologi sosial dalam dakwah. Selalu memicu perdebatan. Sudah jelas berdakwah di daerah NU, malah ngajarkan tahlil sesat, bid'ah... Kenapa tidak memotivasi umat untuk semangat ibadah dan belajar...??? Kenapa tidak memotivasi mereka untuk selalu mendekatkan diri pada Allah? Malah debat mencari-cari kesalahan kelompok lain.

Saya pernah tinggal sekamar dengan beberapa alumni LIPIA Jakarta (Salafi) dan beberapa alumni semacam salafi tapi tidak terlalu ekstrim. Ada tiga aliran lah di kamar itu, ada yang liberal juga, berarti 4 aliran.

Saya pernah tanya hukum musik, "Ada ibu-ibu bilang, 'Aaaaadiiiiik.... jaaangan naaakal' dilagukan begitu bicaranya. Apa itu termasuk musik?" Mereka bingung jawabnya. Saya tanya lagi, "Ada beberapa tukang di atap rumah sedang memasang paku, karena capek mukulnya dibuat lagu. Apa itu termasuk musik?" Dua pertanyaan ini belum saya dapatkan jawabannya.

Hukum musik dijelaskan detail sekali oleh ust Adi Hidayat di Yuotube, sekitar 2 jam videonya. Menurut saya, SANGAT ilmiah penjelasannya.

Tentang baca yaasiin. Saya bilang begini, "Orang kampung itu kan kuli, ibadahnya tentu sedikit. Oleh ulamak dinasehati, 'Baca Quran, kalau tidak mampu, baca hatinya Quran saja, yaasiin, kalau tidak mampu tiap malam, sekali seminggu saja, pilih hari terbaik, sayyidul ayyam, yaitu hari jumat'. Namanya orang kampung, ya milih yang ringan. Lalu dikenal, yasinan malam jumatan."

Ada lagi tentang amalan cepat kaya, sholawat Nariya. Kata mereka, tidak ada amalan bikin kaya, yang bikin kaya itu Allah. Kalau saya beri contoh, begini. Ada sekelompok petani sedang ngobrol, ada Pak Topek tukang jahit ikut nimbrung. Lalu datang Pak Rusli bilang, "Kalau ingin kaya, tanam cabe". Pak Topek langsung pulang cari biji cabe di dapur, begitu dapat langsung ditanam di halaman rumahnya. Setelah tumbuh ia datang ke rumah PAk Rusli marah-marah, "Kamu bilang, kalau mau kaya, tanam cabe, saya sudah tanam cabe, kok tidak kaya?!"

Pada kisah di atas tergambar jelas pemahaman tekstual dan kontekstual. Tentu yang dimaksud Pak Rusli adalah tanam cabe dalam konteks sesuai ilmu bisnis pertanian.

Berbeda itu biasa. Hanya berbagi pengalaman. Mohon, bagi yang lebih berilmu, dikoreksi jika ada yang salah.

Belum ada Komentar untuk "KONFLIK WAHABI dan AHLI BID'AH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel