Artikel Terbaru

IBADAH dan TRADISI


Vino, Rian, Aldi dan Ari sedang duduk di atas batu besar yang terletak di tepi Sungai Kertas. Mereka suka pemandangan alam yang indah dan keunikan warna air sungai yang putih seperti kertas. Begitulah rutinitas mereka di hari minggu. Enam hari waktu mereka, pagi hingga sore dihabiskan belajar di SMP Zaid bin Tsabit Karang Sengun. "Assalamualaikum, ya Akhi...!!" datang Farhan memberi salam. Vino, Rian, Aldi dan Ari menyambut salamnya. "Saya sering melihat kalian duduk di sini, ngapain? Ritual?"

"Ritual?!"

"kami muroja'ah hafalan, Han, bukan ritual."

"Setiap hari Ahad?!"

"Kenapa? Ada yang salah?" Rian, Aldi dan Ari pun juga menghentikan muroja'ahnya.

"Ibadah itu tidak boleh ditentukan waktu dan tempatnya. Kalian sudah mengkhususkan tempat ini dan waktu hari Ahad untuk melakukan ibadah baca Quran. Itu tidak ada tuntunannya. Apalagi sambil makan-makan snack, mirip tradisi hindu."

"What....?!" Rian kaget.

"Terus... di sekolah tahfidz, salah juga?! kelasnya ditentukan, waktunya ditentukan, siswanya bawa air iminum, gurunya diberi teh."

Ari tertawa. "Hidup sudah susah, jangan bikin susah," katanya. Aldi terbahak mendengarnya. "Akhi Farhan, Antum jalani yang antum pahami, biar kami jalani tuntunan yang kami fahami. Antum merasa benar, kami pun merasa benar. Deal?!"

baca juga: Kelompok maha benar

"Dikasih tahu, malah ngeyel."

"Ana ngasih tahu antum, kok ngeyel juga?"

"Ibadah itu lebih baik daripada debat," kata Rian.

"Ibadah tanpa ilmu, sia-sia, malah dapat dosa," kata Farhan.

Vino, Rian, Aldi dan Ari kompak turun dari batu besar. Ari ambil batu di tanah, Vino, Rian, dan Aldi ikut ambil batu juga. "Mau damai, atau kami hajar," kata Ari.

0 Response to "IBADAH dan TRADISI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel