Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Tanya Zakat Fitrah Disebut Juga Zakat Apa

Zakat Fitrah Disebut Juga Zakat, pertanyaan tentang zakat, yang berhak menerima zakat, mustahiq zakat

Cerita ini hanyalah fiksi tentang dua orang yang mendadak kaya. Keduanya membahas tentang zakat, biasalah, banyak uang, yang dibahas zakat, sedekah, wakaf, donasi, dan semacamnya. Banyak hal mereka bicarakan seperti pengertian atau definisi zakat, sejarah zakat, zakat fitrah disebut juga zakat apa, dan semacamnya, manfaat zakat, orang yang berhak menerima zakat, dan semacamnya.

Zakat Fitrah Disebut Juga Zakat Apa?

Enam bulan lalu Silun dan Sarim pergi ke hutan di sebelah timur desa Juntelengan. Keduanya mendapat kabar katanya di sana ada orang sakti yang dapat membantu siapapun untuk sukses dalam bisnis, intinya untuk kaya. Ada yang bilang, katanya diberi amalan sholawat nariyah, ada juga yang diberi amalan surat al waqiah.

“Zakat fitrah itu disebut juga zakat nafs,” kata Silun. “Nafs itu jiwa.”

“Kalau zakat fitrah itu biasa disebut juga zakat nafs, berarti zakat fitrah untuk jiwa.”

“Benar. Zakat fitrah itu untuk mensucikan jiwa kita.”

Begitulah kalau sudah jadi orang kaya, biasanya kedudukan di masyarakat jadi trangkat. Keduanya lagi bersantai ngobrol tak tentu arah di teras rumah Sarim, rumah megah yang baru selesai dibangun. Bahkan tak jarang yang bisa langsung jadi kyai. Begitulah di desa. Ilmu tak jadi persoalan, apalagi sudah naik haji, wah, tambah keramat. Perkataan orang semacam ini bisa dianggap sabda Tuhan oleh oran kampung.

Baca juga: Sejarah Zakat dalam Islam

Kembali ke cerita awal mula ia ke desa Juntelengan. Desa ini berada di wilayah paling pinggir di Bondowoso, sebelah timurnya sudah hutan perbatasan dengan Banyuwangi. Jalan menuju desa ini sangat sulit melewani lereng pegunungan yang panjang. Penduduk di wilayah tersebut jarang sekali, jarak antara satu rumah ke rumah lainnya berjauhan.

“Wah, perkampunan seperti ini enak buat cari istri muda,” kata Silun.

“Belum kaya, udah mikir istri muda.”

“Loh, tidak apa-apa, motivasi.”

Keduanya berboncengan mengendarai motor bebek. Jalannya berliku-liku, berbatu dan tak teratur. Pemandangan alam hijau tampak indah di sepanjang jalan, dihiasi bukit-bukit kecil. Keduanya menikmati sulitnya rute perjalanan. Itulah cerita mereka dulu. Masa-masa awal perjuangan.

“Banyak orang bertanya apa itu zakat, zakat mal atau zakat fitrah apa manfaatnya, ini juga disebut apa, zakat ini wajib atau tiak, dan semacamnya.”

“Tapi tidak bayar zakat.”

“Hahahahaa... iya.”

“Sebenarnya, bicara zakat, baik zakat fitrah atau zakat apapun, tidak perlu kita tahu definisinya, tak perlu tanya zakat ini disebut juga zakat apa, yang penting bayar.”

“Ilmu penting juga sih, tapi...”

Asyik sekali keduanya ngobrol di teras Sarim, padahal inti pembicaraanya tidak jelas. Sekedar berekspresi kesenangan karena sudah kaya.

Sekitar dua jam perjalanan keduanya tiba di desa Katesan, desa sebelum desa Juntelengan. Keduanya melihat beberapa orang sedang santai di depan satu rumah kayu. Silun meminta Sarim berhenti, “Cantik-cantik juga wanita pegunungan,” kata Silun. “Tidak ada warung ya di sini?”

“Nanti saja, sekarang kita harus fokus pada tujuan. Luruskan niat,” kata Sarim.

“Ow, iya, lupa. Astaghfirullah.”

Tidak sengaja tadi Silun melihat seorang wanita yang menurutnya sangat cantik. Ia merasakan getaran hati tadi, makanya minta berhenti. Tetapi, benar kata Sarim, harus fokus pada niat. Keduanya pun melanjutkan perjalanan ke desa Juntelengan. Tiba-tiba ada seorang wanita berjalan sendirian, Silun tergoda lagi. “Cantik banget, Rim,” katanya. Wanita itu mendengar dan tersenyum.

“Fokus, fokus pada tujuan. Itu godaan.”

“Oh, iya, astaghfirullah.”

Keduanya tidak tahu kediaman orang sakti tersebut, bingung juga. Akhirnya Sarim menemui seorang kakek yang sedang merumput dan menanyakan tentang kyai sakti tersebut. Bapak tersebut menarik tangan Sarim dan mengajak berjalan sekitar 10 meter. Lalu beliau memberi tahu Sarim tentang orang sakti tersebut. Silun heran, kenapa mereka bicara di sana, tidak di dekatnya.

Sarim segera mengajak Silun ke rumah kakek itu untuk menitipkan motor dan segera memasuki hutan. Keduanya pun berpetualang.

“Dulu waktu SD pernah dapat soal, zakat fitrah disebut juga zakat apa?”

“Bingung dulu jawabnya.”

“Iya, soalnya belum punya harta.”

“Hahaha... masak hanya untuk menjawab soal zakat fitrah itu disebut juga zakat apa, harus kaya dulu?”

“Ya, iyalah.”

Obrolan ringan di teras rumah Sarim tak selesai-selesai.

Berpetualang Mencari Sumber Harta

Lama keduanya berjalan memasuki hutan melewati rute sesuai petunjuk kakek tadi. Sarim mencoba mempercepat langkahnya. Silun pun mengikutinya. Akhirnya, Sarim melihat pohon besar bercabang lima. Ia duduk di bawahnya. “Tunggu di sini,” katanya. Silun agak takut. Baru kali ini ia masuk hutan. Rupanya orang sakti itu tidak muncul-muncul hingga matahari terbenam. Silun agak putus asa, sepertinya hidupnya akan berakhir di situ. Banyak nyamuk, tentu banyak hewan buas di situ.

Menjelang subuh, sehabis sholat malam, ada orang tua menghampiri mereka. Silun kaget dan agak takut. Lalu keduanya bersalaman. Orang itu langsung menyuruh mereka mengikuti apa yang beliau ucapkan. “Tingkatkan ibadah, tambah terus ilmu kalian,” nasehatnya kemudian. “Kamu, kalau suka sama wanita, langsung nikahi,” kata beliau pada Silun sambil sedikit tersenyum. Sarim tersenyum. Lalu beliau menghilang.

Sarim dan Silun segera keluar hutan ketika matahari terbit. Rupanya keluar hutan lebih cepat dibanding masuknya kemarin. Keduanya langsung menuju rumah kakek yang kemarin untuk ambil motor. Rupanya, wanita cantik yang dilihat Silun kemarin ada di rumah kakek itu. “Anak kakek?” Tanya Silun. Sarim agak marah, menurutnya tidak sopan.

“Iya, anak saya.”

Silun ingin bertanya sudah menikah apa belum. Tapi takut dianggap tidak sopan.

“Dia baru saja ditinggal suaminya, diterkam buaya di hutan.”

Silun kaget. Untung dirinya selamat. Sesuai pesan orang sakti tadi, Silun langsung bilang, “Bolehkah saya lamar untuk saya jadikan istri?” tanyanya.

“Boleh, kalau dia mau.”

“Tapi...,” Silun jadi ketakutan, tapi nekad saja. “Tapi saya sudah punya istri.”

Kakek itu tidak marah. “Tidak apa-apa, kan boleh empat. Orang sini sudah biasa istri dua, tiga, empat.”

Akhirnya keduanya langsung menikah pagi itu juga di rumah kyai Soluman. Mendengar penuturan kakek tentang tradisi poligami, sehabis sholat duhur ia pun mencoba mendatangi wanita di desa Katesan yang sempat ia lihat. Sarim disuruh nunggu di rumah mertuanya. Nekad sekali ia, langsung bertanya pada seorang wanita yang ia temui di situ, “Mbak, di sini ada wanita janda?” tanyanya. “Sssstt.... Jangan rame-rame.”

Wanita itu mau tertawa. “Saya janda. Ada lima janda di sini.”

“Saya kemarin melihat wanita cantik di sini, apa dia juga janda?”

Wanita itu langsung paham. “Itu Bu Lek saya. Terkenal cantik memang. Ayo kalu mau nikahin dia.”

Silun kaget. Gampang banget urusan nikah di kampung tersebut. “Mau kan jadi istri ketiga?” tanya Silun.

“Tidak mau cari yang keempat?” kata mbak itu.

Silun kaget. “Siapa? Mbaknya?”

“Kalau mau.”

Silun pun resmi beristri empat. Wah, yakin sekali ia akan jadi kaya. Seandainya, dalam waktu dekat ia tidak kaya, bagaimana bisa menafkahi keempat istrinya? Tetapi, ia yakin sekali. Enam bulan berlalu, keempat istri Silun hamil semua. Ia sempat putus asa mau menceraikan ketiga istri barunya, tapi mencoba sabar dulu. Tiga bulan tidak ada tanda-tanda akan jadi kaya. Baru dua bulan yang lalu dagangannya laris. Ia pun nekad pinjam modal ke bank, tentu saja dengan modal besar hasilnya melimpah. Silun pun segera menyusul Sarim, kaya mendadak tapi agak terlambat.

“Pesan guru kita, harus terus tingktkan ibadah dan tambah ilmu,” kata Sarim.

“Iya. Bayar zakat itu kan ibadah.”

“Iya. Kalau perlu kita biayayi anak-anak kampung belajar di pesantren.”

“Setuju. Tak perlu banyak tanya definisi zakat, zakat mal, zakat fitrah disebut juga zakat apa, itu tak penting. Yang penting bayar zakat.”

"Aku berencana, kalau bisnisku terus meningkat setiap bulannya, aku akan biayai anak-anak saudara dan tetangga yang mau mondok."

"Bagus. Saya juga."

Sekian. Tamat.

"Zakat Fitrah dikeluarkan oleh seoran muslim menjelang idul fitrih, zakat ini disebut Juga Zakat nafs."

"Betul ini adalah zakat jiwa, Zakat yang disebut zakat nafs, yakni zakat fitrah kata kyai Disebut Juga Zakat pensucian jiwa."

"Oran yang mengeluarkan Zakat Fitrah maka Disebut Juga orang yang hatinya suci."

"Ow, tidak juga. Memang Zakat Fitrah itu Disebut Juga sebagai zakat penyucian jiwa, tapi kita harus terus mensucikan jiwa"

Keduanya ngobrol tak tentu arah, berbicara tentang zakat, manfaat zakat, definisi zakat fitrah, ini disebut apa, juga tentang zakat mal, dan semacamnya.

Belum ada Komentar untuk "Tanya Zakat Fitrah Disebut Juga Zakat Apa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel