Home » , » Makna Administrasi Guru

Makna Administrasi Guru


______________________________________________________________

cerpen pendidikan, contoh cerpen sekolah, contoh cerpen terbaik, cerpen remaja, cerpen lucu, contoh cerpen panjang

"Pak Budi masuk tim akreditasi juga kan?" tanya Pak Iwan yang baru saja datang.

"Saya berdoa dalam sujud, semoga tidak," jawab beliau.

Masih belum hilang segarnya embun pagi di sepanjang jalanan desa. Ruang guru masih sepi. Pak Budi senang sekali duduk di teras kantor menikmati halaman sekolah yang penuh dengan tanaman hijau. Tetapi menjadi kurang nikmat ketika pikirannya diajak berdialog tentang administrasi. Beliau merupakan guru lama di sekolah ini. Biasa, guru kampung memang kurang suka dengan yang namanya administrasi.

Pak Iwan tertawa mendengar tanggapan Pak Budi. Cara becanda beliau memang khas.

"Fulusnya lumayan loh, Pak."

"Dua puluh juta?"

"HahahahHahaha...!! Seharga semangkok bakso."

"Saya paling males kalau sudah ngomongin soal administrasi. Memang dengan administrasi karakter siswa terbentuk?!" Tahun ini merupakan proses akreditasi yang kedua. Akreditasi sebelumnya mendapatkan nilai A, tentu dengan biaya yang tidak sedikit, juga lumayan menguras tenaga, bahkan lembur hingga larut malam. "Akreditasi sekolah ini A, tapi, adakah perubahan signifikan terkait karakter, ahlaq siswa?"

"Administrasi itu kan syarat wajib, Pak. Mau tidak mau kita harus melakukannya."

Pak Joko datang. Beliau langsung menghampiri Pak Budi sama Pak Iwan. "Kayaknya seru sekali topiknya nih," dan menjabat tangan mereka, lalu duduk di samping Pak Budi. "Saya masuk tim akreditasi lagi," katanya.

Baca juga: Orang Tua Tertipu Label Sekolah Sunnah

"Saya juga, Bro," kata Pak Iwan.

"Pak Budi?"

"Dipaksa keadaan."

"HahahHahaha..."

"Idealisme tergilas ya..."

Pak Budi masih ingat dulu waktu belum ada kewajiban administrasi. Ruang guru selalu terisi dengan topik-topik pendidikan, tentang perkembangan siswa, tentang teladan ulamak. Meskipun bukan pesantren, tetapi tradisi keislaman cukup dominan. Bahkan di masa kecilnya Pak Budi dulu, hampir tidak ada anak desa yang tidak sekolah agama (Madratsah diniyah tingkat MI) di desa. Seakan bukan anak manusia jika tidak sekolah MI dan tidak ngaji di musholla pada malam hari dan habis subuh. Pikir Pak Budi, dulu kyai dan ustadz-ustadz tidak pernah ngurus administrasi, tapi jelas terlihat perkembanan karakter siswa.

"Jiwa guru terlalu disibukkan untuk membahas hal-hal materi, sehingga koneksi batin dengan siswa jadi berkurang."

"Waduh, tinggi bahasannya," kata Pak Joko becanda. "Nggak kejangkau."

***

"Kenapa banyak siswa yang melakukan pelanggaran," kata Pak Sutono, kepala sekolah, saat rapat. "karena siswa yang melanggar tidak terdata. Sehingga tidak jelas mana yang melanggar, mana yang sudah dihukum dan yang belum." Pikir Pak Budi, perhatian guru terhadap siswa yang lemah. "Maka dari itu, penting sekali administrasi. Untuk itu, Bapak dan ibu guru, wajib bagi kita semua untuk tertip administrasi."

Kepala sekolah pertama, Pak Setia Budi, hafal nama-nama siswa. Setiap duduk dengan beliau, motivasi dan inspirasi yang didapat. Mimpi beliau, anak desa bisa mimpin dunia. Kekeluargaan terasa sekali. Tidak seperti sekarang, Pak Budi merasa komunikasi lebih banyak dengan benda mati, dengan kertas, topiknya juga tentang benda mati. Tak ada inspirasi, sudah diganti jadi administrasi.

Bu Eno acung tangan untuk mengajukan pertanyaan. Pak kepala sekolah memberi waktu. “Maaf, Pak. Sebenarnya apa fungsi dan makna administrasi di sekolah ini?” Semuau guru memandang Bu Eno. Terkesan aneh bagi mereka, belum pernah terpikir tentang makna adminsitrasi.

“Fungsinya banyak. Fungsi adminsitrasi membuat pekerjaan kita rapi, jelas, dan terukur,” jawab Pak kepala sekolah. “Makna administrasi... ...” sepertinya beliau perlu berpikir sejenak untuk menjawabnya. Beberapa guru tersenyum, ada yang menahan tawa menyaksikan kepala sekolahnya agak kebingungan. Pak budi menundukkan kepala, tidak suka menyaksikan pemandangan seperti ini. “Administrasi sangat bermakna. Kalau di negara maju seperti Amerika, wah, adminsitrasinya lengkap, detail sekali. Kalau kita ingin maju seperti mereka, ya, kita harus melengkapi adminsitrasi selengkap-lengkapnya.”

Bu Eno paham. Kesimpulan beliau, di sekolah ini administrasi memang tidak jelas maknanya. Beliau bertanya tentang sekolah ini, bukan soal Amerika.

Bu Lidia acung tangan. Pak kepala sekolah memberi waktu. “Maaf, koreksi saya jika keliru. Ehmmm... Menurut saya, Pak, adminsitrasi itu alat komunikasi.” Pak kepala sekolah tampak mencatat sesuatu. “Kita ini organisasi, bekerja sama, kita seperti satu badan.  Ibarat badan, kepala berkomunikasi dengan tangan itu melalui saraf. Begitu juga dengan organisasi, kepala dengan bawahannya berkomunikasi dengan administrasi. Kenapa harus tertulis komunikasinya? Sebab, komunikasi lisan itu gampang dilupakan, gampang berubah. Organisasi kecil mungkin masih bisa tanpa administrasi, tapi untuk organisasi besar, harus tertulis komunikasinya.”

Sebagian guru sepakat. Tetapi, faktanya tidak begitu.

Pak Salim mengacungkan tangan. Pak kepala sekolah memberi waktu. “Maaf, mohon penjelasan tentang RPP. Kita membuat RPP itu berkomunikasi dengan siapa?” Rupanya pertanyaan Pak Salim membuat banyak guru tertawa. Pak Budi menahan tawa sambil menunduk.

Pak kepala sekolah rupanya cepat menemukan jawaban, tapi menunggu audien menyelesaikan tawanya. “RPP itu berguna sekali bagi guru. Dengan RPP guru semakin enak ngajarnya, jadi terstruktur, lebih rapi.”

“Berarti bukan alat komunikasi, Pak?”

“Kenapa formatnya harus sama?”

Forum jadi ramai. Banyak yang berbisik-bisik dengan rekan di sampingnya.

***

“Kita kan sudah membuat administrasi seperti RPP, absen siswa, dan semacamnya. Terus, kenapa untuk akreditasi kita masih harus buat lagi?” tanya Pak Iwan. “Kalau dulu kan karena masih yang pertama.”

“Datanya banyak yang tidak sesuai dengan yang diminta assessor,” jawab Bu Fina.

Jam istirahat kantor guru selalu ramai. Saat ini topik hangatnya tentang akreditasi. Ada yang fokus dengan laptopnya. Di luar anak-anak menikmati waktu istirahatnya, ada yang di kantin, ada yang di perpustakaan, ada yang duduk-duduk di teras, ada yang lari-lari. Cukupnya administrasi kedisiplinan yang memerhatikan mereka? Tanya Pak Budi dalam hati. Anak-anak itu tidak lagi menadi topik bahasan di ruang guru; cukup dicatat yang melanggar dan dihukum.

“TaaAaRrRRRr....!!!” keras terdengar suara kaca pecah.

...bersambung

______________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.