Home » , , » Trend Hijrah Menjadi Peluang Bisnis Pendidikan Islam

Trend Hijrah Menjadi Peluang Bisnis Pendidikan Islam


______________________________________________________________

Kata hijrah popular sekali belakangan ini. Istilah hijrah di Indonesia dikenal dari sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, setelah Rasulullah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beserta para sahabat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Namun, belakangan ini istilah Hijrah tidak hanya digunakan bagi orang yang pindah tempat, melainkan juga bermakna berubah: dari sifat/perilau/gaya hidup tidak baik menjadi baik.

Trend Hijrah membooming berkat dakwah-dakwah gaya modern oleh ustadz-ustadz muda, bahkan para artist. Ramailah kajian-kajian yang dihadiri oleh anak-anak muda, bahkan geng motor tidak mau ketinggalan hingga muncul istilah geng motor syariah.

Trend hijrah ini rupanya menjadi peluang bagi para pebisnis, ada bisnis fashion, bisnis pengobatan ala nabi juga berkembang, herbal juga laris. Bahkan bisnis pendidikan islam pun juga ambil bagian.

Saya ingin bercerita khusus bisnis pendidikan islam saja. Saya merasa perlu untuk mengulas yang satu ini. Beberapa hari yang lalu salah satu teman bercerita tentang curhatan salah seorang ibu di sosial media (identitas dan tempat dirahasiakan). Sepertinya beliau kecewa dengan sekolah tempat anaknya belajar. Katanya ada siswa baru pindah, kemudian ikut lomba dan juara, oleh sekolah diberitakan. Padahal, itu bukan hasil didikannya. Sistem/manajemennya kacau. Selain itu, dia juga bilang kalau sekolah tersebut buka cabang dimana-mana, padahal manajemen di pusatnya saja masih kacau. Gedung megah tak menjamin kwalitas bagus. Progres hasil belajar tidak jelas. Padahal beliau berharap sekali anaknya mendapatkan pendidikan agama yang baik. Ternyata, menurut beliau, sekolah tempat anaknya belajar money oriented banget.

Saya jadi teringat tulisan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim di Fans Page Facebooknya. Kata beliau, banyak sekolah islam terburu-buru membuka cabang, padahal manajemen belum matang. Akibatnya, malah tidak terurus. Begitu kurang lebihnya.

Komentar beberapa teman atas cerita seorang ibu diatas: buruknya manajemen sekolah islam biasanya karena SDM yang ada tidak paham manajemen, mereka hanya memiliki ilmu agama yang luas, bisa mengajar, ahli dalam ceramah, hafalan Quran dan Hadits, lulusan kampus luar negeri. Padahal, suatu lembaga pendidikan memerlukan manajemen yang baik. Apalagi tidak gratis, lebih-lebih biayanya mahal.

Biasanya ada investor yang mendanai fasilitas sekolah. Investor tersebut mengharap income dari lembaga pendidikan tersebut. "Niatnya bukan mendidik lagi," komentar yang lain. "Bagaimana bisa berkah ilmunya." Cerita lain dari seorang teman juga, katanya siswa di sekolah islam yang mewah tempat dia mengajar dulu sulit diatur. Kata dia, ada siswa yang berani bilang, "Saya yang bayar, Ustadz," saat ditegur karena berbuat kesalahan. Katanya, sikap wali murid memang seperti bos pada babunya. Mungkin karena mereka sudah membayar mahal. Bahkan hampir setiap masalah yang menimpa anaknya urusannya sama kepolisian. Seperti babu mendidik bos.

Pikir saya, jika sekarang anak tersebut/generasi islam tersebut tidak mau menghormat guru/ustadz karena ustadznya dibayar, bagaimana nanti ketika ia sukses dan menanggung hidup orang tuanya, apakah dia juga akan memperlakukan orang tuanya seperti budak?

Banyak lembaga pendidikan islam di kampung-kampung yang sangat sederhana, bahkan serba kekurangan. Ada yang lantai kelasnya masih berupa tanah, ada yang dibangun dari anyaman bambu, ada yang sudah gedung tapi atapnya bocor. Gaji gurunya tidak seberapa. Jumlah muridnya juga sedikit. Tetapi, menurut saya itu lebih baik keadaannya; jika tradisi keislamannya ditegakkan, daripada lembaga pendidikan yang gedungnya mewah, siswanya banyak, yang sekolah anak-anak orang kaya, tetapi penuh ketegangan, konflik orang tua murid dan para guru/ustadznya tinggi, siswanya berperilaku seperti bos. Pernah saya melihat seorang wali murid berbusana syar'i marah-marah pada pihak sekolah karena fasilitas yang diberikan untuk anaknya tidak memuaskan. Bukankah musyawarah lebih baik? bukankah kita diberi contoh untuk sabar oleh Rasulullah saw dan para sahat?

Bisnis pendidikan islam di zaman ini memang cukup menjanjikan. Kenakalan remaja, bahaya narkoba, tawuran, dan semacamnya membuat para orang tua, khususnya, di kota besar memilih untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan islam, baik yang full day atau yang asrama atau dalam istilah kerennya Boarding School.

Akan tetapi, ada hal yang perlu dikaji ulang oleh semua yang peduli pendidikan islam. Pendidikan umum dan pendidikan agama tidaklah sama. Lembaga pendidikan umum mendidik generasi bangsa ini agar berguna bagi bangsa dan negara ini. Negara butuh ahli kelautan, didirikanlah lembaga pendidikan bidang kelautan. Suksesnya lembaga pendidikan umum ini diukur dengan kesuksesan alumni dalam karirnya (yang saya tahu begitu). Berbeda dengan pendidikan islam, ini tugas dari Tuhan kita, ulamak mengajarkan ilmu agama bukan karena negeri ini butuh guru Quran atau butuh imam mamsjid, tapi karena itu tugas mulia dari Sang Pencipta.

Segala perbuatan itu tergantung niatnya. Seorang pengajar ilmu agama tidak mengajar dengan niat agar muridnya jadi juara Qiroat, juara lomba bahasa Arab, dan semacamnya, bukan juga dengan niat agar jadi imam masjid yang gajinya besar, tetapi seorang ulamak mendidik murni karena mencari Ridho dan Kasih Sayang Allah.

Beberapa tahun lalu salah seorang teman saya yang sekarang menjadi pengasuh salah satu pesantren di Jawa Timur pernah berkomentar, "Bisa jadi kesuksesan yang kamu bangga-banggakan sekarang itu bukanlah kesuksesan sejati, melainkan adzab yang menjerumuskanmu pada kesesatan." Beliau berkomentar begitu sebagai tanggapan atas senior kami yang terlalu bangga dengan keberhasilan duniawi, bangga dengan barat, seakan-akan kita dibilang sukses jika sudah seperti barat: kaya harta dan menjadi terkenal.

Keberhasilan pendidikan islam adalah terbentuknya ahlak pada diri peserta didik: budaya ilmiah tertanam dalam dirinya, semangat untuk terus menuntut ilmu, sabar dalam menjalani hidup, ikhlas dalam menjalani kesulitan-kesulitan, semangat menjalani hidup, tidak suka mengeluh, dan banyak bersyukur. Bukan berpakaian islami, tapi suka marah-marah, berpakaian islami tapi tak hormat sama yang lebih tua, na'udzubillah, apalagi sampai bangga dengan harta.

Kita semua yang muslim ingin generasi kita menjadi ahli ibadah, ahli ilmu, ahli Quran yang hidup sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

______________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.