Wednesday, 19 June 2019

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Zonasi Mendikbud

CERPEN PENDIDIKAN, Pendidikan Islam, potret pendidikan Indonesia, Pendidikan,
Dullun baru saja membaca berita di detikNews. "Kamu sudah dengar tentang sistem zonasi?" tanyanya pada Dulla. Dulla sudah banyak dengar desas-desus tentang sistem zonasi, tapi ia diam saja. "Lihat nih beritanya di detikNews."

CERPEN PENDIDIKAN, Pendidikan Islam, potret pendidikan Indonesia, Pendidikan,
BACA JUGA:

"Bagaimana dengan fasilitas di sekolah terdekat?" kata Dullun. "Bagaimana kwalitas gurunya? Apakah pemerintah sudah menyetarakan kuantitas dan kwalitas yang tersedia di semua sekolah di tiap daerah? Jika tidak, itu tidak adil namanya. Iya kan?

Dulla hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum. dia tetap asyik membaca novel.

"Berarti acuannya bukan desa, kecamatan atau kabupaten ya?"

"Jarak kan acuannya?"

"Soalnya ada anak yang lebih dekat ke sekolah di kabupaten lain, contohnya di daerah perbatasan."

"Ada daerah yang minim sekolahnya juga. Atau pindah saja, urus KTP dan surat pindah."

"Aneh-aneh saja."

CERPEN PENDIDIKAN, Pendidikan Islam, potret pendidikan Indonesia, Pendidikan,
"Hak yang sama bagaimana? Menurutmu, adil itu bagaimana, La?"

"Ya, menerima sesuai haknya."

"Contoh, di sekolah A di daerah A guru Bahasa Inggrisnya dan guru Bahasa Arabnya fasih berbicara Bahasa Inggris dan Arab, mengajar siswa dengan baik. Sedangkan di sekolah B di daerah B sebaliknya, yang mengajar sarjana baru lulus, masih kaku berbicara bahasa Inggris/Arab dan belum pengalaman mengajar. Apakah disebut adil jika anak-anak di daerah B harus menerima apa adanya kwantitas dan kwalitas fasilitas sekolah?"

Jika definisi adil yang dimaksud adalah siswa mendapatkan layanan dan fasilitas yang sama, maka pemerintah perlu memenuhinya.

Selain itu, minat, bakat dan kebutuhan anak tidak sama. Ada yang unggul dalam bidang bahasa, ada yang unggul dalam bidang teknik, dan semacamnya. Pemerintah juga perlu memenuhinya di semua daerah."

"Katanya mau disetarakan semua?"

"Kata Pak menteri?"

"Mungkin."

"Masalah berikutnya tentang kompetisi berlebihan. Apakah berlebihan menurut pandangan pribadi Pak menteri atau sudah dikaji bersama para ahli di bidang pendidikan di Indonesia sehingga didapatkan kesimpulan bahwa sistem yang berjalan selama ini melahirkan kompetisi berlebihan?"

Dulla mau tertawa. Seperti seorang ahli saja Dullun ini.
CERPEN PENDIDIKAN, Pendidikan Islam, potret pendidikan Indonesia, Pendidikan,
"Jika masing-masing individu yang menentukan prestasi dan masa depan, buat apa sekolah? Menurut saya guru dan fasilitas tetap punya peran dalam hal ini. Iya kan, La?"

"Iya, betul."

"Tidak semua anak bisa mengembangkan sendiri potensinya. Gurulah yang perlu membantu anak untuk mengenali potensi diri dan mengembangkan potensi diri. Guru harus jadi motivator dan konsultan bagi siswa."

"Benar sekali."

"Masalahnya, tidak semua guru begitu. Siswa atau orang tua memilih sekolah itu kan juga karena faktor kwalitas guru."

"Kayaknya sudah dipikirkan dengan matang oleh Pak Menteri."
CERPEN PENDIDIKAN, Pendidikan Islam, potret pendidikan Indonesia, Pendidikan,
"Wah, apa gurunya juga ditempatkan berdasarkan daerah asalnya? atau berdasarkan skill yang dimiliki atau berdasarkan kwalitasnya?"

"Kalau berdasarkan daerah asal sulit. Bagaimana dengan yang menikah di luar kota, dan sama-sama jadi guru?"

"HahahahaHAHahah... harus cerai ya?"

CERPEN PENDIDIKAN, Pendidikan Islam, potret pendidikan Indonesia, Pendidikan,
"Apa ini hanya berlaku untuk sekolah negeri atau sekolah swasta juga? Kalau sekolah swasta juga begini, sulit. Bagaimana dengan sekolah agama?"

sumber DetikNews

No comments:

Post a Comment