Ajaran Kelompok Sesat


______________________________________________________________

Cerpen, cerpen asmara, cerpen bahasa Indonesia, cerpen cinta, CERPEN ISLAMI,
CERPEN. Abdurrahman sedang mengedit foto pemandangan yang ia ambil dengan kamera ponselnya sore tadi di sawah. Fotografi, khususnya landscape fotography menjadi hobi barunya sejak beberapa bulan terakhir, sejak ia memiliki smartphone canggih yang harganya lumayan mahal.

"Abdurrahman."

Mendengar suara panggilan ibunya, Abdurrahman segera keluar dari kamarnya. "Iya, Bu."
"Sini."

Abdurrahman pun mendekat dan duduk di samping ayahnya di sofa, berhadapan dengan ibunya.

"Tadi siang ibu sama bapak main ke rumah Bu Diah."

"Guru SMA Rahman?"

"Iya. Dia nanyain kamu: kenapa belum nikah."

"Mau ditawari calon istri?"

"Iya. Sesuai kriteriamu, bahkan dia bukan hanya lulusan pesantren, tapi yang punya pesantren."

"Ow."

Responnya membuat ibunya terkejut. Selama ini Abdurrahman taat ibadah, banyak melakukan amalan sunnah, mendambakan istri taat ibadah. Seharusnya sangat bergembira dijodohkan sama anak pengasuh pesantren. "Kamu tidak suka?"

"Perlu kenal dulu."

Bu Diah menjadi perantara pertemuan Abdurrahman dengan calonnya. Keduanya bertemu di rumah Bu Diah.

***

"Bagaimana, kamu mau kan sama dia?"

"Dia yang tidak mau."

Jawaban Abdurrahman sangat mengejutkan ibunya dan beliau langsung ke rumah Bu Diah ingin tahu sendiri kebenarannya. "Katanya sudah ingin menikah? Kok tidak mau sama Abdurrahman?!"

Bu Diah geleng-geleng kepala. "Saya kaget, Tin." Bu Diah biasa memanggil Ibunya Abdurrahman dengan panggilan Tin, suku kata akhri dari Sujiatin. "Anakmu terlalu berambisi."

"Berambisi bagaimana?"

"Masak dia bilang mendambakan keluarga penghafal Quran dan tak mau mendengarkan musik atau nyanyian-nyanyian. Dia ingin keluarganya jadi ahli ilmu dan ahli ibadah. Katanya dia tidak mau hidup dengan wanita yang menyepelekan ilmu. Katanya, jika sudah berilmu, ya hidup sesuai ilmu. Begitu kata dia. Kalau semua ilmu agama mau diamalkan, seberapa banyaknya?!"

Bu Sujiatin bingung mau jawab apa. Bingung. "Bukankah itu keinginan baik?"

"Masak hidup cuma isinya ibadah terus?! Paling anakmu dikira ikut aliran sesat. Sekarang kan lagi marak aliran sesat. Mereka kan memang rajin ibadah, sering di masjid. Sayangnya aqidahnya melenceng."

Bu Sujiatin tidak begitu paham aliran agama. Ia segera pulang hendak mengintrogasi putranya, khawatir ikut aliran yang dianggap sesat oleh orang-orang.

"Kamu ikut aliran yang sering di masjid itu? Mereka aqidahnya tidak lurus."

Abdurrahman tersenyum. "Bu, saya hormat orang tua itu karena ilmu, saya berperilaku baik juga karena punya ilmu. Saya yakin Allah ada. Saya yakin surga dan neraka ada. Apa meyakini keberadaan Allah dianggap tidak lurus aqidahnya?"

"Semua tokoh agama bilang aqidah mereka sesat."

Abdurrahman tersenyum. Dia paham kalau ibunya tak paham apa itu aqidah. "Saya sudah pernah beberapa kali ikut musyawarah bersama para tokoh desa. Kata beliau-beliau, mereka dianggap sesat karena salah meyakini tentang Allah. Tapi, Bu, meskipun mereka salah meyakini, mereka sangat yakin Allah ada, makanya taat ibadah, Al Quran pun mereka hafal agar tambah dekat dengan Allah. Mereka terus menambah ilmu. Orang tersesat, kalau terus menambah ilmu, akan paham juga nanti mana yang benar." Ibunya diam saja. "Sedangkan yang merasa aqidahnya lurus, tak semangat ibadah. Punya ilmu, tak diamalkan. Bahkan suka melakukan hal makruh. Padahal yang dicintai Allah itu yang mengerjakan amalan sunnah, lawannya amalan makruh. Menurut saya mereka ini bukan lurus aqidahnya, tapi hampir tak beraqidah, hampir tak yakin akan adanya Allah. Kalau yakin Allah bersamanya, tak mungkin mereka bersenang-senang mendengarkan lagu-lagu cinta tak halal."

"Terus, kamu mau menikah sama kelompok mereka itu?"

"Tidak harus."

"Cari masalah saja!" Bu Sujiatin tampak kesal.

Membuat orang tua sakit hati itu dosa. Abdurrahman paham itu. "Abdurrahman tidak pilih-pilih calon istri. Tapi Abdurrahman tak ingin punya anak yang tumbuh di rahim wanita yang jarang mengingat Allah. Apalagi tak mejaga lidah, mata dan pendengaran dari hal-hal tak baik."

"Itu kan tugasmu sebagai laki-laki untuk menjaganya."

"Asal dia mau saya jaga dengan cara saya."

***

bersambung...


______________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.