Blogger Widgets

Featured post

Kisah Cinta Bidadari Tercantik, Ainul Mardhiah

Cerita cinta beda dunia ini terjadi pada seorang sahabat Nabi. Waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberi semangat j...

Kau Gerimis Menghapus Kemarau

Cerpen, cerpen asmara, cerpen baru, cerpen cinta, CERPEN ISLAMI, Cerita romantis, cerpen cinta romantik, cerpen cinta romantis

Entah apa yang membuat Ardian ingin sekali makan bakso siang ini. Padahal dia sulit ingat makan. Tetapi kali ini seperti ada yang menariknya. Ia pun mampir ke warung bakso Mbak Nik yang berada di utara jalan arah ke kota Bondowoso. Sebenarnya setiap hari lewat di situ, tapi tidak pernah mampir karena banyak tugas yang ia bawa pulang. Ini yang pertama kalinya. Ia pun bingung mau bakso yang seperti apa. Saat ditanya bakso apa, jawabnya yang penting enak. Tentu saja Mbak Nik tertawa. Semua bakso yang Mbak Nik jual pasti enak. Akhirnya Mbak Nik pun memilihkan porsi paling besar.

Ardian duduk di tempat duduk paling pinggir biar bisa makan bakso sambil menikmati hijaunya persawahan.

"Halimah tidak nikah lagi ya?"

"Tidak. Trauma, paling."

Terdengar dua perempuan sedang ngobrol di belakang Ardian.

"Katanya jahat suaminya yang dulu ya?"

"Kejam, Fin. Dua kali Halimah masuk rumah sakit karena dipukul."

"Astaghfirullah! Tidak sampek punya anak ya?"

"Punya, sudah umur lima tahun sekarang."

"Berarti waktu cerai sudah hamil?"

"Sidangnya sudah lahir. Tapi sudah ditinggal sejak usia kandungannya hampir empat bulan."

"Kemana suaminya sekarang?"

"Nikah lagi katanya."

"Kok bisa nikah sama dia ya? Halimah kan santri."

"Bukan cuma santri, sudah jadi ustadzah dia."

"Bisa baca kitab berarti?"

"Iya. Tahfidz juga dia."

"Tiga puluh juz?"

"Nggak tahu ya, tapi kayaknya sudah lebih 15 juz."

Ardian jadi lupa sama baksonya, malah mendengarkan dialog dua orang di belakangnya. Ia hanya menggigit pentolnya sedikit. Akhhir-akhir ini dia tiba-tiba ingin punya istri ustadzah. Katanya biar cepat bisa bahasa Arab, ingin dirikan keluarga ahli ilmu. Dia sudah bisa bahasa Inggris dan Prancis. Tetapi, ia merasa telah keliru pilih bahasa, seharusnya Bahasa Arab dulu, baru bahasa asing lainnya.

Dua perempuan tadi sudah selesai makan bakso dan segera bayar pada Mbak Nik. Ardian pun segera menyusul bayar juga. Hampir saja dua perempuan itu pergi dengan motornya, tapi Ardian segera menghampiri mereka sebelum tarik gas motor. "Maaf, Mbak. Bisa bicara sebentar? Saya ada perlu." Dua perempuan itu pun kaget.

"Perlu apa ya, Mas?"

"Saya mendengar percakapan mbaknya tadi. Saya guru Bahasa Prancis di SMA 01. Saya ingin bisa Bahasa Arab dan sedang mencari calon istri yang bisa Bahasa Arab."

Kedua perempuan itu tersenyum. "Masnya tertarik sama wanita yang kami ceritakan?"

"Iya." Tanpa malu-malu, mantap Ardian menjawabnya.

"Sudah janda lho, Mas."

"Tidak apa-apa."

Kedua perempuan itu agak bingung. Mereka saling pandang.

"Bisa antar saya ke rumahnya?"

"Masnya serius?"

"Iya, serius."

***

Rumah sederhana tapi di lemari yang terletak di ruang depan penuh dengan buku berbahasa Arab (kitab). Dua perempuan itu langsung masuk saja dan menyuruh Ardian duduk di kursi, "Assalamualaikum!" ucap salamnya setelah masuk ke dalam ruangan. "Bu De!" Teriaknya. Berarti dia sepupunya Halimah. Tak lama kemudian keluarlah perempuan tua. "Ada tamu tu." Ardian pun bingung harus bersikap bagaimana. "Mas ini mau melamar Halimah," katanya sambil menunjuk Ardian. Ardian pun kaget dibilang blak-blakan begitu.

"Ow..." beliau segera duduk menghadap Ardian, "Orang mana?" tanyanya.

"Orang Wonosroyo, Bu."

"Pak De-mu di rumah Pak Khotib, Rin. Panggil sana." Sepupu Halimah biasa dipanggil Ririn, nama lengkapnya Rindiani.

Ardian penasaran, tak sabar ingin segera bertemu Halimah. Ia merasa sedikit minder dan tidak percaya diri karena pengetahuan agamanya sedikit. Sedangkan yang akan ia lamar seorang ustadzah. Bahkan ia merasa akan pulang dengan tangan hanpa. Tetapi semua harus dihadapi. Tak lama ayah Halimah pun datang bersama sepupu Halimah tadi. Ardian langsung bersalaman cium tangannya.

"Mana Halimah?" tanya beliau pada Ririn. "Suruh kesini."

Ririn pun masuk ke ruang tengah dan tak lama keluar lagi bersama Halimah. Berdesir dada Ardian saat bertemu pandang dengan Halimah. Tadi sempat terlintas di benaknya wajah Halimah jelek dan tak enak dipandang. Tetapi, ia yakin, wajah akan enak dipandang jika jasad membingkai jiwa mulia. Halimah duduk di samping ibunya. Mungkin wajahnya memang bukan kelasnya artis, tapi sejuk Ardian memandangnya. Beauty is in the eyes of beholder, begitu kata orang inggris.

"Mas ini mau melamarmu," kata ibunya Halimah.

"Tahu Halimah dari mana?" tanya ayahnya Halimah pada Ardian.

Ardian tersenyum. "Tadi waktu makan bakso saya mendengar Mbak Ririn bercerita tentang Halimah. Saya tidak sengaja mendengar."

"Cerita bagaimana?"

"Mmm... Banyak... Cuma, yang membuat saya tertarik, katanya bisa baca kitab."

"Masya Allah. Sampeyan ustadz?"

Ardian kaget, bingung, tapi ia memilih berterus terang. "Bukan. Saya guru bahasa Prancis."

"Bahasa Prancis?! Wah, bisa bahasa Prancis, juga bisa bahasa Arab. Luar biasa," puji ayah Halimah.

"Tidak. Saya tidak bisa bahasa Arab."

"Tapi ingin istri yang bisa Bahasa Arab?"

Ardian menanggapinya dengan senyum. Ia diam sejenak. Dia lihat Halimah memandangnya. "Sejak kecil saya berambisi mencari pengetahuan. Banyak baca buku. Karena tidak puas, saya pun mempelajari Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis. Menurut saya dengan dua bahasa tersebut, saya akan mendapatkan banyak ilmu."

"Ternyata?"

"Saya memang mendapat banyak pengetahuan, tapi jujur, kedamaian jiwa, ketenangan batin, tidak saya dapatkan. Malah sering gelisah, banyak rasa khawatir. Seperti menuhankan logika. Kata Ibnul Qoyyim, jika ilmumu tak mendamaikan jiwamu, berarti itu bukan ilmu." Ayahnya Halimah tersenyum. "Karena itulah, saya ingin mengisi jiwa saya dengan ilmu dari ulamak pewaris Nabi. Ilmu yang diwahyukan lewat Malaikat ibril pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Menetes air mata Ardian. Ia tarik nafas dalam, melonggarkan rongga dadanya yang terasa menyempit. "Karena itulah, saya ingin menikah dengan wanita yang bisa baca kitab-kitab ulamak... ..., itu pun... ... itu pun kalau saya dianggap layak... ..." Ardian menghapus air matanya dengan ujung jempol dan telunjuknya.

Ibunya Halimah mengarahkan pandangannya pada ayahnya Halimah. Seakan meminta beliau berkomentar tentang tetes air mata Ardian. Tetapi beliau malah membalas dengan pandangan kebingungan juga. Keduanya bingung memilih kata yang tepat. Beliau memandang Halimah, "Kamu mau, Halimah?"

Halimah merasa berat untuk menjawabnya. Dia masih trauma dengan perlakuan suami pertamanya. Tetapi, tak sedikit pun ia melihat karakter jahat pada diri Ardian. Halimah sangat yakin dia laki-laki baik. Tapi, Ardian tampak masih sangat muda. Halimah khawatir kejiwaannya belum cukup matang. "Mas Ardian umur berapa?" nekad ia menanyakan usia Ardian, meskipun merasa tak sopan.

Sejuk rasanya mendengar suara itu. "Dua tujuh."

"Ow. Lebih tua saya tiga tahun ya," kata Halimah sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa," Ardian berusaha tersenyum walau rasa takut ditolak mulai menguasai jiwanya. "Istri Rasulullah yang pertama lebih tua dari Beliau." Ibu Halimah tersenyum mendengarnya.

"Maaf, tapi saya belum bisa memutuskan hari ini," kata Halimah.

Seakan itu adalah jawaban penolakan bagi Ardian. Pupus rasanya harapannya. Padahal baginya tak mudah mendapatkan wanita yang berilmu seperti Halimah. Banyak perempuan yang ia kenal, tapi lebih suka mendengar lagu-lagu tak jelas manfaatnya daripada mendengar dan membaca Al Quran. Ardian sudah kenyang dengan musik, dan tidak ia dapatkan kedamaian jiwa yang sebenarnya.

"Mas Ardian belum pernah menikah?" Tanya Ririn.

"Belum pernah."

"Pacar?" tanyanya lagi sambil tersenyum.

"Pernah punya teman dekat. Tapi dia tidak siap saya ajak membangun keluarga ahli ilmu."

"Ahli ilmu, maksudnya?"

"Untuk bahagia di dunia ini dengan ilmu, begitu juga untuk dapatkan surga."

"Mas Ardian hafal Quran juga?"

Ardian tersenyum. Ia merasa diinterogasi oleh Ririn, tapi ia jawab saja. Ririn memang tampak gampang akrab. "Hafal Quran itu adalah cita-cita besar semua umat islam, kata Ardian. "Siapa yang tidak ingin mendapatkan surga spesial, surga 'adn? Siapa yang tidak ingin dihias dengan jubah kehormatan, dihiasi mahkota dari cahaya, kedua orang tuanya juga dihiasi mahkota, Bahkan bisa mengajak pasangan dan anak keturunan ke surga," semua memandang Ardian dan mendengarkan dengan perasaan haru. "disuruh melewati semua pintu surga dan menyaksikan tingkatan keindahan yang belum pernah terbayang kan, disambut semua malaikat di semua pintu surga hingga membuat orang yg sudah di dalam surga menyesal melihatnya karena tidak menghafal Quran? Dan diperintahkan oleh Allah untuk membaca hingga ayat terakhir surat An Nas sambil naik ke tingkatan surga tertinggi, surga terindah."

"Berarti Mas Ardian hafal Quran?!" tanya Ririn lagi dengan suara lebih nyaring dari sebelumnya.

Ardian menggelengkan kepala, "Baru setengah juz. Terlambat saya menyadarinya. Dulu saya terlena dengan nyanyian-nyanyian. Sekarang, saya ingin hidup dalam keluarga ahli Quran."

... bersambung

Menyoal Sila Satu Ketuhanan Yang Maha Esa



CERPEN. "Bikin mangkel aja wali murid yang satu ini. Selalu bawa-bawa agama," kata Bu Sulis, guru BK, usai menerima telefon dari salah satu wali muridnya.

Guru-guru di ruang itu sudah sangat paham. Pasti orang tua Si Leo. "Padahal namanya Leo, bukan nama islam," komentar Bu Ida. "Iya, kelakuannya juga tidak mencerminkan anak berakhlak," tambah Bu Sutin. "Ayahnya selalu nyalahin guru. Wong memang anaknya yang nakal," kata Bu Fatma. "Yang lainnya loh, tidak ada yang begitu," kata Bu Ima. Bu Ismi, guru termuda yang baru lulus S1, hanya berkomentar dalam hati dengan kebingungannya. Sedangkan Bu Ela asyik mendengarkan lagu dangdut di ponselnya.

"Hidup di Indonesia kok ngomongin agama melulu," lanjut Bu Sulis. "Nggak sekalian pindah ke arab sana. Ikut perang."


"Istrinya pakai cadar itu, Bu," sahut Bu Sutin.

"Pantesan. Jangan-jangan teroris, ingin mengubah Indonesia jadi negara islam."

"Mau dirikan Khilafah."

Bu Ismi masih canggung. Dia baru sebulan menjadi pengajar di sekolah ini, masih polos. Belum ada guru yang menjadi teman akrabnya. Mau ikut geng-nya Bu Sulis, tidak berani. Untuk menutupi kecanggungannya, ia menyibukkan diri dengan membaca. Ruang guru masih menakutkann baginya. Satu-satunya sahabat yang selalu menemaninya bercerita adalah buku hariannya. Ia tulis di sana dengan huruf kapital semua.

DIARY,

BUKANKAH SILA SATU ITU KETUHANAN YANG MAHA ESA?

BUKANKAH ITU ARTINYA KITA HARUS HIDUP BERDASARKAN AJARAN TUHAN?

BUKANKAH PEKERJAAN GURU ITU MENDIDIK?

ANAK YANG TIDAK BAIK DIDIDIK AGAR JADI BAIK?

BUKANKAH ANAK YANG TIDAK BAIK PUNYA POTENSI JADI ANAK BAIK?

Terdengar salah seorang siswa yang sedang lewat di depan ruang guru menyebut kelamin perempuan. Semua yang di dalam ruangan mendengar. Sebagian dari mereka geleng-geleng kepala. “Anak jaman sekarang,” kata Pak Rusdi. “Nggak ada takutnya,” tambah Bu Ima. “Kayak nggak ada dosa.”

Pak Ardian yang kebetulan melihat siswa tersebut ikut berkomentar, “Sering saya lihat keluar dari hotel Melati anak itu sama ceweknya.”

“Siswa sini juga, Pak, ceweknya?” Tanya Bu Ima.

“Ganti-ganti, Bu.”

“Wah, kalah Pak Ardian. Gurunya masih jomblo, muridnya sudah laris gonta-ganti pasangan.”

“Siapa, Pak?”

“Edi.”

“Edi kelas XI IPS dua?”

“Iya.”

“Dia itu nakalnya main perempuan. Kalau si Alfan, kelas XII IPS satu, kriminal nakalnya. Pernah begal kan dia, ketangkap kadesnya sendiri.”

“Kok tidak dipenjara?” Bu Ima kaget mendengarnya.

“Ditebus sama Bapaknya. Anak orang kaya, Bu. Katanya bapaknya dia tim sukses kadesnya dulu.”

“Bapaknya Bos kayu itu. Mobilnya empat.”

“Istrinya empat juga?”

“Yang resmi satu, kalau yang tidak resmi, ndak tahu.”

“Menakutkan anak kayak gitu. Mending kayak si Edi,” imbuh Bu Ima.

“Wah, Bu Ima mau juga?”

“Mau apa?!”

“Jadi salah satu teman malamnya Edi?”

“Amit-amit ya… Suamiku masih normal.”

“Brondong lebih agresif, Bu,” sahut Bu Sulis.

“Iya juga ya, hahahaha…!! ndak, ndak, ndak mau saya. Mending yang halal. Yang ada saja diopeni.”

***

“Hari minggu ada acara?” tanya Vina lewat voice call Whatsapp.

“Tidak ada, Mel. Kenapa?”

“Ikut kopdar yuk!”

“Kopdar apaan?”

“Kopdar komunitas guru di alun-alun Bondowoso, di utaranya monument gerbong maut.”

Bu Ismi meng-iya-kan ajakan temannya. Ia berharap bertemu guru-guru profesional yang memang benar-benar guru yang niat mendidik generasi bangsa. Vina lebih dulu mengajar di salah satu sekolah swasta di Bondowoso, sejak dia masih semester tiga dulu. Berkat keaktifannya di organisasi kampus, di punya banyak relasi.

Hari Minggu pagi, jam 06.30 Bu Ismi berangkat ke alun-alun Bondowoso. Seperti biasa, rame di sana: acara car free day. Dia langsung menuju lokasi. Ternyata Vina sudah di sana bersama dua temannya. “Kenalin, Bu Ramla dan Bu Fatimah,” kata Vina. Bu Ismi berkenalan dengan mereka. “Dia teman kuliah saya, Bu. Sudah ngajar juga sekarang.” Bu Ismi masih tampak malu-malu.

“Bu Ramla ini kepala sekolah, Mi,” kata Vina. “Beliau membuat program Guru Wajib Ngaji di sekolahnya. Menurut beliau, sebagai mahluk Tuhan, kita wajib memahami ajarannya; caranya dengan mengaji.” Bu Ramla tersenyum. “Beliau mewajibkan semua warga sekolahnya, termasuk tukang kebun, untuk mengawali aktivitas dengan membaca Al Quran setiap hari.”

“Kecuali yang non-muslim,” tambah Bu Ramla.

“Laki perempuan dipisah ya, Bu?”

“Tidak. Mereka masih campur satu kelas. Masih belum bisa dipisah. Tetapi kantin dan perpustakaan kami pisah: ada kantin putra dan kantin putri. Di luar jam pelajaran, ada petugas yang khusus mengawasi pergaulan siswa.”

“Guru-gurunya tidak ada yang protes, Bu?”

“Tidak ada. Tujuannya baik, mau protes apa?”

“Kan ada juga yang bilang pacaran itu hak asasi dan tidak dilarang undang-undang negara.”

“Sila satu itu sila ketuhanan. Jadi, siapapun yang hidup di negara ini wajib beragama. Beragama itu maksudnya menjalankan ajaran agama yang dianutnya seutuhnya, bukan setengah-setengah. Jadi, jika ada orang yang tidak menjalankan ajaran agama, berarti dia menyepelekan pancasila. Untuk menjalankan ajaran agama itu butuh ilmu. Karena itulah saya menyusun kurikulum kajian agama untuk para guru.”

“Wah, luar biasa,” kata Bu Ismi.

“Bagaimana mereka bisa mendidik anak-anak menjadi insan berketuhanan kalau mereka sendiri tidak menjalankan ajaran agama secara utuh? Jadi, menurut saya, di fakultas keguruan ini seharusnya materi psikologi dan keagamaan itu jadi yang utama. Spirit mendidik itu bisa lahir dari dua ilmu tersebut.”

Tak lama kemudian anggota yang lain pun berdatangan.

“Sampai hari ini, saya rutin ikut kegiatan tahsin, memperbagus bacaan Quran. Semoga bisa menghafal Quran 30 juz bersama semua bawahan saya dan murid-murid saya, sahabat-sahabt saya juga. Pastinya keluarga saya juga.”

“Aamiin.”

“Alhamdulillah, sudah ada dua guru yang hafal 30 juz. Itu kata ustadz pembimbing tahfidz yang saya tugasnya untuk membimbing para guru.”

Bu Ismi terharu mendengar cerita Bu Ramla. Tak terasa air matanya mau menetes karena rasa haru.

“Siapa yang tidak mendambakan surga terbaik, para penghafal Quran oleh Allah dilewatkan di semua pintu surga, semua malaikat disuruh menyambut di semua pintu surga dan mengucap salam, dihias dengan jubah kebesaran dan mahkota dari cahaya. Bahkan bisa mengajak pasangan dan keturunan. Kedua orang tuanya juga dihiasi mahkota dari cahaya. Setiap melihat ke pintu surga, keindahannya tak pernah terbayangkan. Betapa indahnya surga teratas yang akan ditempati. Orang-orang di dalam surga yang dilalui menyesal karena tak menghafal Quran ketika di dunia.”

bersambung...

Kisah Cinta Bidadari Tercantik, Ainul Mardhiah

Cerita cinta beda dunia ini terjadi pada seorang sahabat Nabi. Waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberi semangat jihad kepada para sahabat pada bulan puasa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid karena Allah akan dikaruniai bidadari tercantik bernama Ainul Mardhiah.” Rupanya nama Ainul Mardhiah memikat hati salah seorang sahabat yang masih muda. Rasa penasaran menguasai jiwanya, tapi ia malu untuk bertanya lebih jauh tentangnya pada Rasulullah.

Bidadari digambarkan sangat cantik, tak pernah terbayangkan kecantikannya. Bidadari tidak pernah disentuh oleh jin dan manusai. Bahkan ada riwayat yang mengatakan, andai bidadari meludah sekali saja pada lautan, maka air laut di seluruh dunia akan harum wangi kasturi. “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan” (Ar Rahman ayat 58). Nah, sedangkan yang ini adalah bidadari tercantik.

Menjelang waktu dzuhur para sahabat menyempatkan tidur sejenak sebelum berangkat berperang sesuai sunnah Rasul. Dalam tidurnya sahabat yang sedang dilanda rasa penasaran pada kecantikan Ainul Mardhiah ini pun bermimpi berada di suatu tempat yang sangat indah yang belum pernah ia lihat keindahannya. Di sana ia bertemu dengan wanita cantik yang belum pernah ia lihat kecantikannya. “Dimanakah ini?” tanyanya pada wanita itu.

“Inilah surga.”

Dengan rasa penasarannya ia bertanya, “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya bukan Ainul Mardhiah. Kalau kamu ingin bertemu dia, dia sedang istirahat di bawah pohon yang rindang itu.”

Sahabat itu pun segera mendekati pohon itu dan ditemuinya seorang wanita yang jauh lebih cantik dari yang tadi. Ia pun mengira bahwa dialah Ainul Mardhiah, bidadari tercantik. “Kamukah Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya penjaganya. Jika ingin bertemu dia, itulah singgasananya.” Semakin penasaranlah ia, pastinya Ainul Mardhiah sangat cantik.

Segera sahabat itu pun menuju istana indah yang ditunjuk wanita cantik tadi. Di mahligainya ia bertemu dengan wanita sangat cantik yang jauh lebih cantik dari wanita tadi. Dia sedang membersihkan perhiasan dengan lap cantik. Ia sangat yakin inilah Ainul Mardhiah. Untuk memastikan, ia pun bertanya padanya, “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya penjaga mahligai ini. Dia berada di mahligai itu.”

Tiga wanita cantik dengan tingkatan kecantikan berbeda sudah ia temui. Tak terbayangkan seperti apa cantiknya Ainul Mardhiah. Ia pun menuju mahligai yang ditunjuk wanita tadi. Ditemuinya wanita cantik yang jauh lebih cantik dari wanita cantik tadi. Wanita ini tampak pemalu sekali. “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

Dengan wajah tampak malu ia menjawab, “Iya, benar. Saya Ainul Mardhiah.”

Akhirnya, ia temui bidadari tercantik. Kecantikan yang belum pernah terlukis di alam dunia. Tak tertandingi kecantikannya. Tak ada pelukis yang pernah menghayalkan kecantikannya.  Ia pun mendekatinya, tapi  Ainul Mardhiah menghindar, “Kamu bukan orang yang mati syahid,” katanya. Seketika ia pun terbangun.

Ia menceritakan kisah indah dalam mimpinya ini pada sahabat lain yang sangat ia percaya. Ia meminta sahabat tersebut untuk merahasiakannya hingga ia mati syahid untuk bertemu Ainul Mardhiah. Maka ketika komando jihad diteriakkan ia pun segera pergi ke medan jihad dengan penuh semangat untuk bertemu kekasih pujaan di surga. Cita-citanya tercapai, Allah menganugerahkan syahid padanya.

Saat petang tiba, sahabat kepercayaan yang mendengar cerita mimpi sahabatnya tadi menceritakannya pada Rasulullah. “Sekarang ia bahagia bersama Ainul Mardhiah,” begitu tanggapan Nabi saw. Kisah ini ada dalam hadits Nabi Muhammad saw. riwayat Imam Tirmidzi.


Ajaran Kelompok Sesat

Cerpen, cerpen asmara, cerpen bahasa Indonesia, cerpen cinta, CERPEN ISLAMI,
CERPEN. Abdurrahman sedang mengedit foto pemandangan yang ia ambil dengan kamera ponselnya sore tadi di sawah. Fotografi, khususnya landscape fotography menjadi hobi barunya sejak beberapa bulan terakhir, sejak ia memiliki smartphone canggih yang harganya lumayan mahal.

"Abdurrahman."

Mendengar suara panggilan ibunya, Abdurrahman segera keluar dari kamarnya. "Iya, Bu."
"Sini."

Abdurrahman pun mendekat dan duduk di samping ayahnya di sofa, berhadapan dengan ibunya.

"Tadi siang ibu sama bapak main ke rumah Bu Diah."

"Guru SMA Rahman?"

"Iya. Dia nanyain kamu: kenapa belum nikah."

"Mau ditawari calon istri?"

"Iya. Sesuai kriteriamu, bahkan dia bukan hanya lulusan pesantren, tapi yang punya pesantren."

"Ow."

Responnya membuat ibunya terkejut. Selama ini Abdurrahman taat ibadah, banyak melakukan amalan sunnah, mendambakan istri taat ibadah. Seharusnya sangat bergembira dijodohkan sama anak pengasuh pesantren. "Kamu tidak suka?"

"Perlu kenal dulu."

Bu Diah menjadi perantara pertemuan Abdurrahman dengan calonnya. Keduanya bertemu di rumah Bu Diah.

***

"Bagaimana, kamu mau kan sama dia?"

"Dia yang tidak mau."

Jawaban Abdurrahman sangat mengejutkan ibunya dan beliau langsung ke rumah Bu Diah ingin tahu sendiri kebenarannya. "Katanya sudah ingin menikah? Kok tidak mau sama Abdurrahman?!"

Bu Diah geleng-geleng kepala. "Saya kaget, Tin." Bu Diah biasa memanggil Ibunya Abdurrahman dengan panggilan Tin, suku kata akhri dari Sujiatin. "Anakmu terlalu berambisi."

"Berambisi bagaimana?"

"Masak dia bilang mendambakan keluarga penghafal Quran dan tak mau mendengarkan musik atau nyanyian-nyanyian. Dia ingin keluarganya jadi ahli ilmu dan ahli ibadah. Katanya dia tidak mau hidup dengan wanita yang menyepelekan ilmu. Katanya, jika sudah berilmu, ya hidup sesuai ilmu. Begitu kata dia. Kalau semua ilmu agama mau diamalkan, seberapa banyaknya?!"

Bu Sujiatin bingung mau jawab apa. Bingung. "Bukankah itu keinginan baik?"

"Masak hidup cuma isinya ibadah terus?! Paling anakmu dikira ikut aliran sesat. Sekarang kan lagi marak aliran sesat. Mereka kan memang rajin ibadah, sering di masjid. Sayangnya aqidahnya melenceng."

Bu Sujiatin tidak begitu paham aliran agama. Ia segera pulang hendak mengintrogasi putranya, khawatir ikut aliran yang dianggap sesat oleh orang-orang.

"Kamu ikut aliran yang sering di masjid itu? Mereka aqidahnya tidak lurus."

Abdurrahman tersenyum. "Bu, saya hormat orang tua itu karena ilmu, saya berperilaku baik juga karena punya ilmu. Saya yakin Allah ada. Saya yakin surga dan neraka ada. Apa meyakini keberadaan Allah dianggap tidak lurus aqidahnya?"

"Semua tokoh agama bilang aqidah mereka sesat."

Abdurrahman tersenyum. Dia paham kalau ibunya tak paham apa itu aqidah. "Saya sudah pernah beberapa kali ikut musyawarah bersama para tokoh desa. Kata beliau-beliau, mereka dianggap sesat karena salah meyakini tentang Allah. Tapi, Bu, meskipun mereka salah meyakini, mereka sangat yakin Allah ada, makanya taat ibadah, Al Quran pun mereka hafal agar tambah dekat dengan Allah. Mereka terus menambah ilmu. Orang tersesat, kalau terus menambah ilmu, akan paham juga nanti mana yang benar." Ibunya diam saja. "Sedangkan yang merasa aqidahnya lurus, tak semangat ibadah. Punya ilmu, tak diamalkan. Bahkan suka melakukan hal makruh. Padahal yang dicintai Allah itu yang mengerjakan amalan sunnah, lawannya amalan makruh. Menurut saya mereka ini bukan lurus aqidahnya, tapi hampir tak beraqidah, hampir tak yakin akan adanya Allah. Kalau yakin Allah bersamanya, tak mungkin mereka bersenang-senang mendengarkan lagu-lagu cinta tak halal."

"Terus, kamu mau menikah sama kelompok mereka itu?"

"Tidak harus."

"Cari masalah saja!" Bu Sujiatin tampak kesal.

Membuat orang tua sakit hati itu dosa. Abdurrahman paham itu. "Abdurrahman tidak pilih-pilih calon istri. Tapi Abdurrahman tak ingin punya anak yang tumbuh di rahim wanita yang jarang mengingat Allah. Apalagi tak mejaga lidah, mata dan pendengaran dari hal-hal tak baik."

"Itu kan tugasmu sebagai laki-laki untuk menjaganya."

"Asal dia mau saya jaga dengan cara saya."

***

bersambung...

Jika Jodohku Tak Sholehah


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Cerita Hikmah,

Laki-laki baik untuk wanita yang baik. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Begitu Firman Allah dalam Al Quran surah An Nuur ayat 26. Lalu bagaimana dengan kenyataan yang ada? Tidak sedikit laki-laki baik istrinya tidak baik, atau sebaliknya? Allah Maha Benar. Tak mungkin Ia salah. Saya pernah membaca dalam salah satu buku karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Beliau membahas masalah ini. Saya lupa buku yang mana. Buku beliau yang pernah saya baca: Agar Cinta Bersemi Indah, Kupinang Kau dengan Hamdalah, Kado Pernikahan Buat Istriku.

Ustadz Mohammad Fauzil Adhim mengisahkan seorang pria baik yang mempunyai istri yang suka marah-marah, super cerewet, dan suka mengolok-olok suaminya. Kisah ini ada dalam kitab Uqudul Lujjain karya Syekh Nawawi al-Bantani. Pria tersebut biasa mencari kayu di hutan. Di rumah ia selalu berusaha untuk menyenangkan istrinya, selalu berusaha membuat istrinya tersenyum, selalu berusaha mereda amarahnya saat istrinya marah. Tetapi tabiat istrinya memang sudah begitu. Namun, sang suami yang penyayang tak pernah berputus asa.


Suatu ketika saat ia sedang berburu di hutan, tiba-tiba ada seekor singa besar di hadapannya. Sontak ia terkejut. Jarak begitu dekat. Mau lari, ia pasti kalah cepat. Mau melawan, tidak mungkin. Di tengah kebingungannya, tak sadar rupanya harimau tersebut sudah berada tepat di hadapannya. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali pasrah saja. Ia diam saja pasrah pada keadaan.

Namun, rupanya si singa tidak hendak menerkamnya. Singa itu malah duduk di hadapannya. Ia pun duduk dan memegang kepala harimau tersebut dengan pelan. Si singa diam saja membiarkan ia membelai-belai kepalanya. Ia pun akhirnya menyadari bahwa singa tersebut ingin menjadi sahabatnya. Sejak saat itu si singa menjadi sahabatnya.

Suatu hari saudaranya datang ke rumahnya. Ia disambut oleh istrinya, "Siapa?!"

"Saya saudara suamimu. Saya hendak mengunjunginya."

"Suamiku sedang mencari kayu. Semoga dia tidak dikembalikan ke rumah ini lagi oleh Allah," jawabnya dari balik pintu. Dia terus mengolok-olok suaminya.

Sang tamu heran dengan sikapnya. Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang bersama seekor singa dengan kayu bakar dipunggungnya. Sang tamu menyaksikan dua hal yang unik: istri yang tampak buas dan singa yang jinak dan baik.

"Kembalilah ke dalam. Semoga Allah memberkatimu," katanya pada istrinya, lalu mempersilahkan sang tamu masuk. Ia gembira sekali menyambut kedatangan saudaranya itu.

Setahun kemudian ia berkunjung lagi ke rumah saudaranya. Sama seperti tahun sebelumnya, ia tidak berjumpa sudaranya, hanya istrinya di rumah. Tetapi kali ini berbeda. Ia disambut dengan ramah oleh istri saudaranya. Ia juga memuji-muji suaminya. Sang tamu heran dengan perubahan ini. Tak lama kemudian yang ditunggu datang membawa kayu bakar. Tetapi bukan seekor singa yang memikul kayu bakar itu, ia memikulnya sendiri. Karena penasaran, ia pun bertanya pada saudaranya tentang perubahan istrinya dan kemana singa yang dulu membawakan kayu bakarnya.

"Saudaraku, istriku yang dulu itu meninggal. Aku menikah lagi dengan wanita sholehah. Dulu aku bersusah payah dengan sabar menghadapi sikap buruknya, hingga oleh Allah aku dikaruniai kemampuan yang luar biasa untuk menjinakkan singa. Sekarang aku hidup dengan wanita sholehah, keahlian itu pun hilang. Si singa itu pun pergi meninggalkanku."

Versi cerita mungkin berbeda-beda. Tetapi, yang ingin saya sampaikan adalah pelajaran dari kisah tersebut yang dijelaskan oleh Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Kata Ustadz Fauzil Adhim, berkat usahanya setiap hari berusaha keras menyenangkan istri, berusaha memberi kasih sayang terbaik untuk sang istri agar ia bahagia, usaha keras tersebut telah menjadikan jiwanya kaya cinta, kaya kasih sayang, auranya kuat hingga binatang buas sekalipun bisa merasakan kehangatannya. Mungkin menurut kita sang istri tak baik, buruk ahlaknya, tapi ternyata melalui sikapnya Allah memberi manfaat bagi sang suami.

Dari kisah di atas, kita bisa memahami bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Sabar itu dibalas pahala. Jika siang malam ia bersabar atas siakp istrinya, berarti sepanjang siang malam itu juga ia mendapat pahala sabar. Tentu ia juga berusaha memahamkan istrinya tentang ahlak mulia, walau istrinya tidak kunjung berubah. Berapa besar pahala yang ia dapatkan. Itu lahan dakwah baginya. Di dalam rumah pun ia punya kesempatan berdakwah. Tetapi, bukan berarti istri boleh bersikap buruk. Setiap amal muslim laki-laki maupun perempuan akan dihisap nanti. Juga bukan berarti kita dianjurkan mencari pasangan yang buruk ahlaknya, kita harus tetap berikhtiar mencari yang terbaik. Namun, jika hasilnya tidak sesuai harapan, yakinlah itu yang terbaik yang dipilihkan Allah.

Kisah Pengorbanan Cinta Sahabat Rasulullah saw.


Kisah Sahabat Nabi, kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,

Kisah pengorbanan cinta ini terjadi dizaman Rasulullah. Mereka adalah sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya berasal dari suku Aus. Mereka adalah Handzhalah bin Abu Amir dan Jamilah. Keduanya adalah pengantin baru. Baru saja merasakan manisnya cinta. Kemesraan cinta menyelimuti keduanya.

Namun iman keduanya diuji dengan datangnya seruan jihad, seruan pada semua kaum muslimin untuk berperang. Sang pengantin baru, Handzhalah pun mendengar seruan tersebut. Berat tentunya meninggalkan istri tercinta yang baru ia nikahi. Tetapi, keindahan alam abadi jauh lebih indah dari alam fana ini.

Handzhalah segera bergabung dengan pasukan kaum muslimin hingga lupa tak sempat mandi junub. Sang istri, Jamilah, pun mendukung tekad sang suami. Ia berangkat ke bukit Uhud berperang dengan orang kafir. Jamilah, sang istri, menunggu di rumah. Dalam penantiannya ia tertidur dan bermimpi melihat suaminya terbang menuju langit. Langit terbuka, lalu tertutup lagi setelah Handzhalah masuk. Jamilah bahagia melihatnya, namun kebahagiaan tersebut segera sirna karena awan tiba-tiba datang membuatnya ketakutan.


Perang Uhud mengisahkan menyisakan cerita pilu bagi kaum muslimin karena sebagian sahabat tergiur keindahan harta rampasan perang (Ghanimah), akhirnya mereka tak sanggup melawan serangan musuh. Di awal pertempuran, kemenangan sudah tampak berada di tangan kaum muslimin, tetapi pasukan pemanah terburu-buru meninggalkan posnya. Pasukan orang kafir pun berbalik menyerang.

Handzhalah maju ke arah Abu Sufyan bin Harb dan berhasil mematahkan kaki kudanya. Abu Sufyan pun terjatuh. Namun ia ditolong oleh Syaddan bin Aswad. Ia berhasil membunuh Handzhalah, sang pengantin baru, dengan tombaknya. Banyak sahabat yang syahid dalam perang tersebut.

Rasulullah saw. mendapati jasad Handzhalah tergeletak bersimbah darah. Ada air menetes dari langit. Para sahabat heran dengan tetesan air tersebut. Sebagian dari mereka menyampaikan pada RAsulullah bahwa Handalah baru menikah. Tetapi air tersebut bukan tetesan air mata pengantin. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya para malaikat sedang memandikannya." Berkat peristiwa tersebut ia dijuluki "Ghasilul Malaikah" yaitu orang yang dimandikan malaikat.

Jamilah tidak mengira mimpinya merupakan tanda perpisahannya dengan suami tercinta di dunia. Ia tidak mengira akan menjadi janda di hari pernikahannya. Ia mengira tafsir mimpinya petanda akan terjadi fitnah sehingga ia mengumpulkan para saksi dan meminta mereka untuk menyampaikan pada masyarakat bahwa ia telah menikah dengan Handzhalah. Namun, rupanya Yang Maha Penyayang memberinya gelar istri sang syuhada.

Syahidnya Handzhalah menambah daftar kebanggan suku Aus. Kabilah Aus selalu membangga-banggakannya. Kata mereka, "Dari golongan kami ada yang dimandikan malaikat, dialah Handzhalah bin Abu Amir. Ada yang jasadnya dilindungi lebah, dialah Ashim bin Tsabit. Ada juga yang kesaksiannya disetarakan dengan kesaksian dua orang. Dia adalah Khuzaimah bin Tsabit. Ada juga yang kematiannya mengguncang Arasy Allah. Dialah Saad bin Muadz."
Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.