Blogger Widgets

Featured post

Kisah Cinta Bidadari Tercantik, Ainul Mardhiah

Cerita cinta beda dunia ini terjadi pada seorang sahabat Nabi. Waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberi semangat j...

Kau Gerimis Menghapus Kemarau

Cerpen, cerpen asmara, cerpen baru, cerpen cinta, CERPEN ISLAMI, Cerita romantis, cerpen cinta romantik, cerpen cinta romantis

Entah apa yang membuat Ardian ingin sekali makan bakso siang ini. Padahal dia sulit ingat makan. Tetapi kali ini seperti ada yang menariknya. Ia pun mampir ke warung bakso Mbak Nik yang berada di utara jalan arah ke kota Bondowoso. Sebenarnya setiap hari lewat di situ, tapi tidak pernah mampir karena banyak tugas yang ia bawa pulang. Ini yang pertama kalinya. Ia pun bingung mau bakso yang seperti apa. Saat ditanya bakso apa, jawabnya yang penting enak. Tentu saja Mbak Nik tertawa. Semua bakso yang Mbak Nik jual pasti enak. Akhirnya Mbak Nik pun memilihkan porsi paling besar.

Ardian duduk di tempat duduk paling pinggir biar bisa makan bakso sambil menikmati hijaunya persawahan.

"Halimah tidak nikah lagi ya?"

"Tidak. Trauma, paling."

Terdengar dua perempuan sedang ngobrol di belakang Ardian.

"Katanya jahat suaminya yang dulu ya?"

"Kejam, Fin. Dua kali Halimah masuk rumah sakit karena dipukul."

"Astaghfirullah! Tidak sampek punya anak ya?"

"Punya, sudah umur lima tahun sekarang."

"Berarti waktu cerai sudah hamil?"

"Sidangnya sudah lahir. Tapi sudah ditinggal sejak usia kandungannya hampir empat bulan."

"Kemana suaminya sekarang?"

"Nikah lagi katanya."

"Kok bisa nikah sama dia ya? Halimah kan santri."

"Bukan cuma santri, sudah jadi ustadzah dia."

"Bisa baca kitab berarti?"

"Iya. Tahfidz juga dia."

"Tiga puluh juz?"

"Nggak tahu ya, tapi kayaknya sudah lebih 15 juz."

Ardian jadi lupa sama baksonya, malah mendengarkan dialog dua orang di belakangnya. Ia hanya menggigit pentolnya sedikit. Akhhir-akhir ini dia tiba-tiba ingin punya istri ustadzah. Katanya biar cepat bisa bahasa Arab, ingin dirikan keluarga ahli ilmu. Dia sudah bisa bahasa Inggris dan Prancis. Tetapi, ia merasa telah keliru pilih bahasa, seharusnya Bahasa Arab dulu, baru bahasa asing lainnya.

Dua perempuan tadi sudah selesai makan bakso dan segera bayar pada Mbak Nik. Ardian pun segera menyusul bayar juga. Hampir saja dua perempuan itu pergi dengan motornya, tapi Ardian segera menghampiri mereka sebelum tarik gas motor. "Maaf, Mbak. Bisa bicara sebentar? Saya ada perlu." Dua perempuan itu pun kaget.

"Perlu apa ya, Mas?"

"Saya mendengar percakapan mbaknya tadi. Saya guru Bahasa Prancis di SMA 01. Saya ingin bisa Bahasa Arab dan sedang mencari calon istri yang bisa Bahasa Arab."

Kedua perempuan itu tersenyum. "Masnya tertarik sama wanita yang kami ceritakan?"

"Iya." Tanpa malu-malu, mantap Ardian menjawabnya.

"Sudah janda lho, Mas."

"Tidak apa-apa."

Kedua perempuan itu agak bingung. Mereka saling pandang.

"Bisa antar saya ke rumahnya?"

"Masnya serius?"

"Iya, serius."

***

Rumah sederhana tapi di lemari yang terletak di ruang depan penuh dengan buku berbahasa Arab (kitab). Dua perempuan itu langsung masuk saja dan menyuruh Ardian duduk di kursi, "Assalamualaikum!" ucap salamnya setelah masuk ke dalam ruangan. "Bu De!" Teriaknya. Berarti dia sepupunya Halimah. Tak lama kemudian keluarlah perempuan tua. "Ada tamu tu." Ardian pun bingung harus bersikap bagaimana. "Mas ini mau melamar Halimah," katanya sambil menunjuk Ardian. Ardian pun kaget dibilang blak-blakan begitu.

"Ow..." beliau segera duduk menghadap Ardian, "Orang mana?" tanyanya.

"Orang Wonosroyo, Bu."

"Pak De-mu di rumah Pak Khotib, Rin. Panggil sana." Sepupu Halimah biasa dipanggil Ririn, nama lengkapnya Rindiani.

Ardian penasaran, tak sabar ingin segera bertemu Halimah. Ia merasa sedikit minder dan tidak percaya diri karena pengetahuan agamanya sedikit. Sedangkan yang akan ia lamar seorang ustadzah. Bahkan ia merasa akan pulang dengan tangan hanpa. Tetapi semua harus dihadapi. Tak lama ayah Halimah pun datang bersama sepupu Halimah tadi. Ardian langsung bersalaman cium tangannya.

"Mana Halimah?" tanya beliau pada Ririn. "Suruh kesini."

Ririn pun masuk ke ruang tengah dan tak lama keluar lagi bersama Halimah. Berdesir dada Ardian saat bertemu pandang dengan Halimah. Tadi sempat terlintas di benaknya wajah Halimah jelek dan tak enak dipandang. Tetapi, ia yakin, wajah akan enak dipandang jika jasad membingkai jiwa mulia. Halimah duduk di samping ibunya. Mungkin wajahnya memang bukan kelasnya artis, tapi sejuk Ardian memandangnya. Beauty is in the eyes of beholder, begitu kata orang inggris.

"Mas ini mau melamarmu," kata ibunya Halimah.

"Tahu Halimah dari mana?" tanya ayahnya Halimah pada Ardian.

Ardian tersenyum. "Tadi waktu makan bakso saya mendengar Mbak Ririn bercerita tentang Halimah. Saya tidak sengaja mendengar."

"Cerita bagaimana?"

"Mmm... Banyak... Cuma, yang membuat saya tertarik, katanya bisa baca kitab."

"Masya Allah. Sampeyan ustadz?"

Ardian kaget, bingung, tapi ia memilih berterus terang. "Bukan. Saya guru bahasa Prancis."

"Bahasa Prancis?! Wah, bisa bahasa Prancis, juga bisa bahasa Arab. Luar biasa," puji ayah Halimah.

"Tidak. Saya tidak bisa bahasa Arab."

"Tapi ingin istri yang bisa Bahasa Arab?"

Ardian menanggapinya dengan senyum. Ia diam sejenak. Dia lihat Halimah memandangnya. "Sejak kecil saya berambisi mencari pengetahuan. Banyak baca buku. Karena tidak puas, saya pun mempelajari Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis. Menurut saya dengan dua bahasa tersebut, saya akan mendapatkan banyak ilmu."

"Ternyata?"

"Saya memang mendapat banyak pengetahuan, tapi jujur, kedamaian jiwa, ketenangan batin, tidak saya dapatkan. Malah sering gelisah, banyak rasa khawatir. Seperti menuhankan logika. Kata Ibnul Qoyyim, jika ilmumu tak mendamaikan jiwamu, berarti itu bukan ilmu." Ayahnya Halimah tersenyum. "Karena itulah, saya ingin mengisi jiwa saya dengan ilmu dari ulamak pewaris Nabi. Ilmu yang diwahyukan lewat Malaikat ibril pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Menetes air mata Ardian. Ia tarik nafas dalam, melonggarkan rongga dadanya yang terasa menyempit. "Karena itulah, saya ingin menikah dengan wanita yang bisa baca kitab-kitab ulamak... ..., itu pun... ... itu pun kalau saya dianggap layak... ..." Ardian menghapus air matanya dengan ujung jempol dan telunjuknya.

Ibunya Halimah mengarahkan pandangannya pada ayahnya Halimah. Seakan meminta beliau berkomentar tentang tetes air mata Ardian. Tetapi beliau malah membalas dengan pandangan kebingungan juga. Keduanya bingung memilih kata yang tepat. Beliau memandang Halimah, "Kamu mau, Halimah?"

Halimah merasa berat untuk menjawabnya. Dia masih trauma dengan perlakuan suami pertamanya. Tetapi, tak sedikit pun ia melihat karakter jahat pada diri Ardian. Halimah sangat yakin dia laki-laki baik. Tapi, Ardian tampak masih sangat muda. Halimah khawatir kejiwaannya belum cukup matang. "Mas Ardian umur berapa?" nekad ia menanyakan usia Ardian, meskipun merasa tak sopan.

Sejuk rasanya mendengar suara itu. "Dua tujuh."

"Ow. Lebih tua saya tiga tahun ya," kata Halimah sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa," Ardian berusaha tersenyum walau rasa takut ditolak mulai menguasai jiwanya. "Istri Rasulullah yang pertama lebih tua dari Beliau." Ibu Halimah tersenyum mendengarnya.

"Maaf, tapi saya belum bisa memutuskan hari ini," kata Halimah.

Seakan itu adalah jawaban penolakan bagi Ardian. Pupus rasanya harapannya. Padahal baginya tak mudah mendapatkan wanita yang berilmu seperti Halimah. Banyak perempuan yang ia kenal, tapi lebih suka mendengar lagu-lagu tak jelas manfaatnya daripada mendengar dan membaca Al Quran. Ardian sudah kenyang dengan musik, dan tidak ia dapatkan kedamaian jiwa yang sebenarnya.

"Mas Ardian belum pernah menikah?" Tanya Ririn.

"Belum pernah."

"Pacar?" tanyanya lagi sambil tersenyum.

"Pernah punya teman dekat. Tapi dia tidak siap saya ajak membangun keluarga ahli ilmu."

"Ahli ilmu, maksudnya?"

"Untuk bahagia di dunia ini dengan ilmu, begitu juga untuk dapatkan surga."

"Mas Ardian hafal Quran juga?"

Ardian tersenyum. Ia merasa diinterogasi oleh Ririn, tapi ia jawab saja. Ririn memang tampak gampang akrab. "Hafal Quran itu adalah cita-cita besar semua umat islam, kata Ardian. "Siapa yang tidak ingin mendapatkan surga spesial, surga 'adn? Siapa yang tidak ingin dihias dengan jubah kehormatan, dihiasi mahkota dari cahaya, kedua orang tuanya juga dihiasi mahkota, Bahkan bisa mengajak pasangan dan anak keturunan ke surga," semua memandang Ardian dan mendengarkan dengan perasaan haru. "disuruh melewati semua pintu surga dan menyaksikan tingkatan keindahan yang belum pernah terbayang kan, disambut semua malaikat di semua pintu surga hingga membuat orang yg sudah di dalam surga menyesal melihatnya karena tidak menghafal Quran? Dan diperintahkan oleh Allah untuk membaca hingga ayat terakhir surat An Nas sambil naik ke tingkatan surga tertinggi, surga terindah."

"Berarti Mas Ardian hafal Quran?!" tanya Ririn lagi dengan suara lebih nyaring dari sebelumnya.

Ardian menggelengkan kepala, "Baru setengah juz. Terlambat saya menyadarinya. Dulu saya terlena dengan nyanyian-nyanyian. Sekarang, saya ingin hidup dalam keluarga ahli Quran."

... bersambung

Menyoal Sila Satu Ketuhanan Yang Maha Esa



CERPEN. "Bikin mangkel aja wali murid yang satu ini. Selalu bawa-bawa agama," kata Bu Sulis, guru BK, usai menerima telefon dari salah satu wali muridnya.

Guru-guru di ruang itu sudah sangat paham. Pasti orang tua Si Leo. "Padahal namanya Leo, bukan nama islam," komentar Bu Ida. "Iya, kelakuannya juga tidak mencerminkan anak berakhlak," tambah Bu Sutin. "Ayahnya selalu nyalahin guru. Wong memang anaknya yang nakal," kata Bu Fatma. "Yang lainnya loh, tidak ada yang begitu," kata Bu Ima. Bu Ismi, guru termuda yang baru lulus S1, hanya berkomentar dalam hati dengan kebingungannya. Sedangkan Bu Ela asyik mendengarkan lagu dangdut di ponselnya.

"Hidup di Indonesia kok ngomongin agama melulu," lanjut Bu Sulis. "Nggak sekalian pindah ke arab sana. Ikut perang."


"Istrinya pakai cadar itu, Bu," sahut Bu Sutin.

"Pantesan. Jangan-jangan teroris, ingin mengubah Indonesia jadi negara islam."

"Mau dirikan Khilafah."

Bu Ismi masih canggung. Dia baru sebulan menjadi pengajar di sekolah ini, masih polos. Belum ada guru yang menjadi teman akrabnya. Mau ikut geng-nya Bu Sulis, tidak berani. Untuk menutupi kecanggungannya, ia menyibukkan diri dengan membaca. Ruang guru masih menakutkann baginya. Satu-satunya sahabat yang selalu menemaninya bercerita adalah buku hariannya. Ia tulis di sana dengan huruf kapital semua.

DIARY,

BUKANKAH SILA SATU ITU KETUHANAN YANG MAHA ESA?

BUKANKAH ITU ARTINYA KITA HARUS HIDUP BERDASARKAN AJARAN TUHAN?

BUKANKAH PEKERJAAN GURU ITU MENDIDIK?

ANAK YANG TIDAK BAIK DIDIDIK AGAR JADI BAIK?

BUKANKAH ANAK YANG TIDAK BAIK PUNYA POTENSI JADI ANAK BAIK?

Terdengar salah seorang siswa yang sedang lewat di depan ruang guru menyebut kelamin perempuan. Semua yang di dalam ruangan mendengar. Sebagian dari mereka geleng-geleng kepala. “Anak jaman sekarang,” kata Pak Rusdi. “Nggak ada takutnya,” tambah Bu Ima. “Kayak nggak ada dosa.”

Pak Ardian yang kebetulan melihat siswa tersebut ikut berkomentar, “Sering saya lihat keluar dari hotel Melati anak itu sama ceweknya.”

“Siswa sini juga, Pak, ceweknya?” Tanya Bu Ima.

“Ganti-ganti, Bu.”

“Wah, kalah Pak Ardian. Gurunya masih jomblo, muridnya sudah laris gonta-ganti pasangan.”

“Siapa, Pak?”

“Edi.”

“Edi kelas XI IPS dua?”

“Iya.”

“Dia itu nakalnya main perempuan. Kalau si Alfan, kelas XII IPS satu, kriminal nakalnya. Pernah begal kan dia, ketangkap kadesnya sendiri.”

“Kok tidak dipenjara?” Bu Ima kaget mendengarnya.

“Ditebus sama Bapaknya. Anak orang kaya, Bu. Katanya bapaknya dia tim sukses kadesnya dulu.”

“Bapaknya Bos kayu itu. Mobilnya empat.”

“Istrinya empat juga?”

“Yang resmi satu, kalau yang tidak resmi, ndak tahu.”

“Menakutkan anak kayak gitu. Mending kayak si Edi,” imbuh Bu Ima.

“Wah, Bu Ima mau juga?”

“Mau apa?!”

“Jadi salah satu teman malamnya Edi?”

“Amit-amit ya… Suamiku masih normal.”

“Brondong lebih agresif, Bu,” sahut Bu Sulis.

“Iya juga ya, hahahaha…!! ndak, ndak, ndak mau saya. Mending yang halal. Yang ada saja diopeni.”

***

“Hari minggu ada acara?” tanya Vina lewat voice call Whatsapp.

“Tidak ada, Mel. Kenapa?”

“Ikut kopdar yuk!”

“Kopdar apaan?”

“Kopdar komunitas guru di alun-alun Bondowoso, di utaranya monument gerbong maut.”

Bu Ismi meng-iya-kan ajakan temannya. Ia berharap bertemu guru-guru profesional yang memang benar-benar guru yang niat mendidik generasi bangsa. Vina lebih dulu mengajar di salah satu sekolah swasta di Bondowoso, sejak dia masih semester tiga dulu. Berkat keaktifannya di organisasi kampus, di punya banyak relasi.

Hari Minggu pagi, jam 06.30 Bu Ismi berangkat ke alun-alun Bondowoso. Seperti biasa, rame di sana: acara car free day. Dia langsung menuju lokasi. Ternyata Vina sudah di sana bersama dua temannya. “Kenalin, Bu Ramla dan Bu Fatimah,” kata Vina. Bu Ismi berkenalan dengan mereka. “Dia teman kuliah saya, Bu. Sudah ngajar juga sekarang.” Bu Ismi masih tampak malu-malu.

“Bu Ramla ini kepala sekolah, Mi,” kata Vina. “Beliau membuat program Guru Wajib Ngaji di sekolahnya. Menurut beliau, sebagai mahluk Tuhan, kita wajib memahami ajarannya; caranya dengan mengaji.” Bu Ramla tersenyum. “Beliau mewajibkan semua warga sekolahnya, termasuk tukang kebun, untuk mengawali aktivitas dengan membaca Al Quran setiap hari.”

“Kecuali yang non-muslim,” tambah Bu Ramla.

“Laki perempuan dipisah ya, Bu?”

“Tidak. Mereka masih campur satu kelas. Masih belum bisa dipisah. Tetapi kantin dan perpustakaan kami pisah: ada kantin putra dan kantin putri. Di luar jam pelajaran, ada petugas yang khusus mengawasi pergaulan siswa.”

“Guru-gurunya tidak ada yang protes, Bu?”

“Tidak ada. Tujuannya baik, mau protes apa?”

“Kan ada juga yang bilang pacaran itu hak asasi dan tidak dilarang undang-undang negara.”

“Sila satu itu sila ketuhanan. Jadi, siapapun yang hidup di negara ini wajib beragama. Beragama itu maksudnya menjalankan ajaran agama yang dianutnya seutuhnya, bukan setengah-setengah. Jadi, jika ada orang yang tidak menjalankan ajaran agama, berarti dia menyepelekan pancasila. Untuk menjalankan ajaran agama itu butuh ilmu. Karena itulah saya menyusun kurikulum kajian agama untuk para guru.”

“Wah, luar biasa,” kata Bu Ismi.

“Bagaimana mereka bisa mendidik anak-anak menjadi insan berketuhanan kalau mereka sendiri tidak menjalankan ajaran agama secara utuh? Jadi, menurut saya, di fakultas keguruan ini seharusnya materi psikologi dan keagamaan itu jadi yang utama. Spirit mendidik itu bisa lahir dari dua ilmu tersebut.”

Tak lama kemudian anggota yang lain pun berdatangan.

“Sampai hari ini, saya rutin ikut kegiatan tahsin, memperbagus bacaan Quran. Semoga bisa menghafal Quran 30 juz bersama semua bawahan saya dan murid-murid saya, sahabat-sahabt saya juga. Pastinya keluarga saya juga.”

“Aamiin.”

“Alhamdulillah, sudah ada dua guru yang hafal 30 juz. Itu kata ustadz pembimbing tahfidz yang saya tugasnya untuk membimbing para guru.”

Bu Ismi terharu mendengar cerita Bu Ramla. Tak terasa air matanya mau menetes karena rasa haru.

“Siapa yang tidak mendambakan surga terbaik, para penghafal Quran oleh Allah dilewatkan di semua pintu surga, semua malaikat disuruh menyambut di semua pintu surga dan mengucap salam, dihias dengan jubah kebesaran dan mahkota dari cahaya. Bahkan bisa mengajak pasangan dan keturunan. Kedua orang tuanya juga dihiasi mahkota dari cahaya. Setiap melihat ke pintu surga, keindahannya tak pernah terbayangkan. Betapa indahnya surga teratas yang akan ditempati. Orang-orang di dalam surga yang dilalui menyesal karena tak menghafal Quran ketika di dunia.”

bersambung...

Kisah Cinta Bidadari Tercantik, Ainul Mardhiah

Cerita cinta beda dunia ini terjadi pada seorang sahabat Nabi. Waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberi semangat jihad kepada para sahabat pada bulan puasa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid karena Allah akan dikaruniai bidadari tercantik bernama Ainul Mardhiah.” Rupanya nama Ainul Mardhiah memikat hati salah seorang sahabat yang masih muda. Rasa penasaran menguasai jiwanya, tapi ia malu untuk bertanya lebih jauh tentangnya pada Rasulullah.

Bidadari digambarkan sangat cantik, tak pernah terbayangkan kecantikannya. Bidadari tidak pernah disentuh oleh jin dan manusai. Bahkan ada riwayat yang mengatakan, andai bidadari meludah sekali saja pada lautan, maka air laut di seluruh dunia akan harum wangi kasturi. “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan” (Ar Rahman ayat 58). Nah, sedangkan yang ini adalah bidadari tercantik.

Menjelang waktu dzuhur para sahabat menyempatkan tidur sejenak sebelum berangkat berperang sesuai sunnah Rasul. Dalam tidurnya sahabat yang sedang dilanda rasa penasaran pada kecantikan Ainul Mardhiah ini pun bermimpi berada di suatu tempat yang sangat indah yang belum pernah ia lihat keindahannya. Di sana ia bertemu dengan wanita cantik yang belum pernah ia lihat kecantikannya. “Dimanakah ini?” tanyanya pada wanita itu.

“Inilah surga.”

Dengan rasa penasarannya ia bertanya, “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya bukan Ainul Mardhiah. Kalau kamu ingin bertemu dia, dia sedang istirahat di bawah pohon yang rindang itu.”

Sahabat itu pun segera mendekati pohon itu dan ditemuinya seorang wanita yang jauh lebih cantik dari yang tadi. Ia pun mengira bahwa dialah Ainul Mardhiah, bidadari tercantik. “Kamukah Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya penjaganya. Jika ingin bertemu dia, itulah singgasananya.” Semakin penasaranlah ia, pastinya Ainul Mardhiah sangat cantik.

Segera sahabat itu pun menuju istana indah yang ditunjuk wanita cantik tadi. Di mahligainya ia bertemu dengan wanita sangat cantik yang jauh lebih cantik dari wanita tadi. Dia sedang membersihkan perhiasan dengan lap cantik. Ia sangat yakin inilah Ainul Mardhiah. Untuk memastikan, ia pun bertanya padanya, “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya penjaga mahligai ini. Dia berada di mahligai itu.”

Tiga wanita cantik dengan tingkatan kecantikan berbeda sudah ia temui. Tak terbayangkan seperti apa cantiknya Ainul Mardhiah. Ia pun menuju mahligai yang ditunjuk wanita tadi. Ditemuinya wanita cantik yang jauh lebih cantik dari wanita cantik tadi. Wanita ini tampak pemalu sekali. “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

Dengan wajah tampak malu ia menjawab, “Iya, benar. Saya Ainul Mardhiah.”

Akhirnya, ia temui bidadari tercantik. Kecantikan yang belum pernah terlukis di alam dunia. Tak tertandingi kecantikannya. Tak ada pelukis yang pernah menghayalkan kecantikannya.  Ia pun mendekatinya, tapi  Ainul Mardhiah menghindar, “Kamu bukan orang yang mati syahid,” katanya. Seketika ia pun terbangun.

Ia menceritakan kisah indah dalam mimpinya ini pada sahabat lain yang sangat ia percaya. Ia meminta sahabat tersebut untuk merahasiakannya hingga ia mati syahid untuk bertemu Ainul Mardhiah. Maka ketika komando jihad diteriakkan ia pun segera pergi ke medan jihad dengan penuh semangat untuk bertemu kekasih pujaan di surga. Cita-citanya tercapai, Allah menganugerahkan syahid padanya.

Saat petang tiba, sahabat kepercayaan yang mendengar cerita mimpi sahabatnya tadi menceritakannya pada Rasulullah. “Sekarang ia bahagia bersama Ainul Mardhiah,” begitu tanggapan Nabi saw. Kisah ini ada dalam hadits Nabi Muhammad saw. riwayat Imam Tirmidzi.


Ajaran Kelompok Sesat

Cerpen, cerpen asmara, cerpen bahasa Indonesia, cerpen cinta, CERPEN ISLAMI,
CERPEN. Abdurrahman sedang mengedit foto pemandangan yang ia ambil dengan kamera ponselnya sore tadi di sawah. Fotografi, khususnya landscape fotography menjadi hobi barunya sejak beberapa bulan terakhir, sejak ia memiliki smartphone canggih yang harganya lumayan mahal.

"Abdurrahman."

Mendengar suara panggilan ibunya, Abdurrahman segera keluar dari kamarnya. "Iya, Bu."
"Sini."

Abdurrahman pun mendekat dan duduk di samping ayahnya di sofa, berhadapan dengan ibunya.

"Tadi siang ibu sama bapak main ke rumah Bu Diah."

"Guru SMA Rahman?"

"Iya. Dia nanyain kamu: kenapa belum nikah."

"Mau ditawari calon istri?"

"Iya. Sesuai kriteriamu, bahkan dia bukan hanya lulusan pesantren, tapi yang punya pesantren."

"Ow."

Responnya membuat ibunya terkejut. Selama ini Abdurrahman taat ibadah, banyak melakukan amalan sunnah, mendambakan istri taat ibadah. Seharusnya sangat bergembira dijodohkan sama anak pengasuh pesantren. "Kamu tidak suka?"

"Perlu kenal dulu."

Bu Diah menjadi perantara pertemuan Abdurrahman dengan calonnya. Keduanya bertemu di rumah Bu Diah.

***

"Bagaimana, kamu mau kan sama dia?"

"Dia yang tidak mau."

Jawaban Abdurrahman sangat mengejutkan ibunya dan beliau langsung ke rumah Bu Diah ingin tahu sendiri kebenarannya. "Katanya sudah ingin menikah? Kok tidak mau sama Abdurrahman?!"

Bu Diah geleng-geleng kepala. "Saya kaget, Tin." Bu Diah biasa memanggil Ibunya Abdurrahman dengan panggilan Tin, suku kata akhri dari Sujiatin. "Anakmu terlalu berambisi."

"Berambisi bagaimana?"

"Masak dia bilang mendambakan keluarga penghafal Quran dan tak mau mendengarkan musik atau nyanyian-nyanyian. Dia ingin keluarganya jadi ahli ilmu dan ahli ibadah. Katanya dia tidak mau hidup dengan wanita yang menyepelekan ilmu. Katanya, jika sudah berilmu, ya hidup sesuai ilmu. Begitu kata dia. Kalau semua ilmu agama mau diamalkan, seberapa banyaknya?!"

Bu Sujiatin bingung mau jawab apa. Bingung. "Bukankah itu keinginan baik?"

"Masak hidup cuma isinya ibadah terus?! Paling anakmu dikira ikut aliran sesat. Sekarang kan lagi marak aliran sesat. Mereka kan memang rajin ibadah, sering di masjid. Sayangnya aqidahnya melenceng."

Bu Sujiatin tidak begitu paham aliran agama. Ia segera pulang hendak mengintrogasi putranya, khawatir ikut aliran yang dianggap sesat oleh orang-orang.

"Kamu ikut aliran yang sering di masjid itu? Mereka aqidahnya tidak lurus."

Abdurrahman tersenyum. "Bu, saya hormat orang tua itu karena ilmu, saya berperilaku baik juga karena punya ilmu. Saya yakin Allah ada. Saya yakin surga dan neraka ada. Apa meyakini keberadaan Allah dianggap tidak lurus aqidahnya?"

"Semua tokoh agama bilang aqidah mereka sesat."

Abdurrahman tersenyum. Dia paham kalau ibunya tak paham apa itu aqidah. "Saya sudah pernah beberapa kali ikut musyawarah bersama para tokoh desa. Kata beliau-beliau, mereka dianggap sesat karena salah meyakini tentang Allah. Tapi, Bu, meskipun mereka salah meyakini, mereka sangat yakin Allah ada, makanya taat ibadah, Al Quran pun mereka hafal agar tambah dekat dengan Allah. Mereka terus menambah ilmu. Orang tersesat, kalau terus menambah ilmu, akan paham juga nanti mana yang benar." Ibunya diam saja. "Sedangkan yang merasa aqidahnya lurus, tak semangat ibadah. Punya ilmu, tak diamalkan. Bahkan suka melakukan hal makruh. Padahal yang dicintai Allah itu yang mengerjakan amalan sunnah, lawannya amalan makruh. Menurut saya mereka ini bukan lurus aqidahnya, tapi hampir tak beraqidah, hampir tak yakin akan adanya Allah. Kalau yakin Allah bersamanya, tak mungkin mereka bersenang-senang mendengarkan lagu-lagu cinta tak halal."

"Terus, kamu mau menikah sama kelompok mereka itu?"

"Tidak harus."

"Cari masalah saja!" Bu Sujiatin tampak kesal.

Membuat orang tua sakit hati itu dosa. Abdurrahman paham itu. "Abdurrahman tidak pilih-pilih calon istri. Tapi Abdurrahman tak ingin punya anak yang tumbuh di rahim wanita yang jarang mengingat Allah. Apalagi tak mejaga lidah, mata dan pendengaran dari hal-hal tak baik."

"Itu kan tugasmu sebagai laki-laki untuk menjaganya."

"Asal dia mau saya jaga dengan cara saya."

***

bersambung...

Jika Jodohku Tak Sholehah


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Cerita Hikmah,

Laki-laki baik untuk wanita yang baik. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Begitu Firman Allah dalam Al Quran surah An Nuur ayat 26. Lalu bagaimana dengan kenyataan yang ada? Tidak sedikit laki-laki baik istrinya tidak baik, atau sebaliknya? Allah Maha Benar. Tak mungkin Ia salah. Saya pernah membaca dalam salah satu buku karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Beliau membahas masalah ini. Saya lupa buku yang mana. Buku beliau yang pernah saya baca: Agar Cinta Bersemi Indah, Kupinang Kau dengan Hamdalah, Kado Pernikahan Buat Istriku.

Ustadz Mohammad Fauzil Adhim mengisahkan seorang pria baik yang mempunyai istri yang suka marah-marah, super cerewet, dan suka mengolok-olok suaminya. Kisah ini ada dalam kitab Uqudul Lujjain karya Syekh Nawawi al-Bantani. Pria tersebut biasa mencari kayu di hutan. Di rumah ia selalu berusaha untuk menyenangkan istrinya, selalu berusaha membuat istrinya tersenyum, selalu berusaha mereda amarahnya saat istrinya marah. Tetapi tabiat istrinya memang sudah begitu. Namun, sang suami yang penyayang tak pernah berputus asa.


Suatu ketika saat ia sedang berburu di hutan, tiba-tiba ada seekor singa besar di hadapannya. Sontak ia terkejut. Jarak begitu dekat. Mau lari, ia pasti kalah cepat. Mau melawan, tidak mungkin. Di tengah kebingungannya, tak sadar rupanya harimau tersebut sudah berada tepat di hadapannya. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali pasrah saja. Ia diam saja pasrah pada keadaan.

Namun, rupanya si singa tidak hendak menerkamnya. Singa itu malah duduk di hadapannya. Ia pun duduk dan memegang kepala harimau tersebut dengan pelan. Si singa diam saja membiarkan ia membelai-belai kepalanya. Ia pun akhirnya menyadari bahwa singa tersebut ingin menjadi sahabatnya. Sejak saat itu si singa menjadi sahabatnya.

Suatu hari saudaranya datang ke rumahnya. Ia disambut oleh istrinya, "Siapa?!"

"Saya saudara suamimu. Saya hendak mengunjunginya."

"Suamiku sedang mencari kayu. Semoga dia tidak dikembalikan ke rumah ini lagi oleh Allah," jawabnya dari balik pintu. Dia terus mengolok-olok suaminya.

Sang tamu heran dengan sikapnya. Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang bersama seekor singa dengan kayu bakar dipunggungnya. Sang tamu menyaksikan dua hal yang unik: istri yang tampak buas dan singa yang jinak dan baik.

"Kembalilah ke dalam. Semoga Allah memberkatimu," katanya pada istrinya, lalu mempersilahkan sang tamu masuk. Ia gembira sekali menyambut kedatangan saudaranya itu.

Setahun kemudian ia berkunjung lagi ke rumah saudaranya. Sama seperti tahun sebelumnya, ia tidak berjumpa sudaranya, hanya istrinya di rumah. Tetapi kali ini berbeda. Ia disambut dengan ramah oleh istri saudaranya. Ia juga memuji-muji suaminya. Sang tamu heran dengan perubahan ini. Tak lama kemudian yang ditunggu datang membawa kayu bakar. Tetapi bukan seekor singa yang memikul kayu bakar itu, ia memikulnya sendiri. Karena penasaran, ia pun bertanya pada saudaranya tentang perubahan istrinya dan kemana singa yang dulu membawakan kayu bakarnya.

"Saudaraku, istriku yang dulu itu meninggal. Aku menikah lagi dengan wanita sholehah. Dulu aku bersusah payah dengan sabar menghadapi sikap buruknya, hingga oleh Allah aku dikaruniai kemampuan yang luar biasa untuk menjinakkan singa. Sekarang aku hidup dengan wanita sholehah, keahlian itu pun hilang. Si singa itu pun pergi meninggalkanku."

Versi cerita mungkin berbeda-beda. Tetapi, yang ingin saya sampaikan adalah pelajaran dari kisah tersebut yang dijelaskan oleh Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Kata Ustadz Fauzil Adhim, berkat usahanya setiap hari berusaha keras menyenangkan istri, berusaha memberi kasih sayang terbaik untuk sang istri agar ia bahagia, usaha keras tersebut telah menjadikan jiwanya kaya cinta, kaya kasih sayang, auranya kuat hingga binatang buas sekalipun bisa merasakan kehangatannya. Mungkin menurut kita sang istri tak baik, buruk ahlaknya, tapi ternyata melalui sikapnya Allah memberi manfaat bagi sang suami.

Dari kisah di atas, kita bisa memahami bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Sabar itu dibalas pahala. Jika siang malam ia bersabar atas siakp istrinya, berarti sepanjang siang malam itu juga ia mendapat pahala sabar. Tentu ia juga berusaha memahamkan istrinya tentang ahlak mulia, walau istrinya tidak kunjung berubah. Berapa besar pahala yang ia dapatkan. Itu lahan dakwah baginya. Di dalam rumah pun ia punya kesempatan berdakwah. Tetapi, bukan berarti istri boleh bersikap buruk. Setiap amal muslim laki-laki maupun perempuan akan dihisap nanti. Juga bukan berarti kita dianjurkan mencari pasangan yang buruk ahlaknya, kita harus tetap berikhtiar mencari yang terbaik. Namun, jika hasilnya tidak sesuai harapan, yakinlah itu yang terbaik yang dipilihkan Allah.

Kisah Pengorbanan Cinta Sahabat Rasulullah saw.


Kisah Sahabat Nabi, kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,

Kisah pengorbanan cinta ini terjadi dizaman Rasulullah. Mereka adalah sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya berasal dari suku Aus. Mereka adalah Handzhalah bin Abu Amir dan Jamilah. Keduanya adalah pengantin baru. Baru saja merasakan manisnya cinta. Kemesraan cinta menyelimuti keduanya.

Namun iman keduanya diuji dengan datangnya seruan jihad, seruan pada semua kaum muslimin untuk berperang. Sang pengantin baru, Handzhalah pun mendengar seruan tersebut. Berat tentunya meninggalkan istri tercinta yang baru ia nikahi. Tetapi, keindahan alam abadi jauh lebih indah dari alam fana ini.

Handzhalah segera bergabung dengan pasukan kaum muslimin hingga lupa tak sempat mandi junub. Sang istri, Jamilah, pun mendukung tekad sang suami. Ia berangkat ke bukit Uhud berperang dengan orang kafir. Jamilah, sang istri, menunggu di rumah. Dalam penantiannya ia tertidur dan bermimpi melihat suaminya terbang menuju langit. Langit terbuka, lalu tertutup lagi setelah Handzhalah masuk. Jamilah bahagia melihatnya, namun kebahagiaan tersebut segera sirna karena awan tiba-tiba datang membuatnya ketakutan.


Perang Uhud mengisahkan menyisakan cerita pilu bagi kaum muslimin karena sebagian sahabat tergiur keindahan harta rampasan perang (Ghanimah), akhirnya mereka tak sanggup melawan serangan musuh. Di awal pertempuran, kemenangan sudah tampak berada di tangan kaum muslimin, tetapi pasukan pemanah terburu-buru meninggalkan posnya. Pasukan orang kafir pun berbalik menyerang.

Handzhalah maju ke arah Abu Sufyan bin Harb dan berhasil mematahkan kaki kudanya. Abu Sufyan pun terjatuh. Namun ia ditolong oleh Syaddan bin Aswad. Ia berhasil membunuh Handzhalah, sang pengantin baru, dengan tombaknya. Banyak sahabat yang syahid dalam perang tersebut.

Rasulullah saw. mendapati jasad Handzhalah tergeletak bersimbah darah. Ada air menetes dari langit. Para sahabat heran dengan tetesan air tersebut. Sebagian dari mereka menyampaikan pada RAsulullah bahwa Handalah baru menikah. Tetapi air tersebut bukan tetesan air mata pengantin. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya para malaikat sedang memandikannya." Berkat peristiwa tersebut ia dijuluki "Ghasilul Malaikah" yaitu orang yang dimandikan malaikat.

Jamilah tidak mengira mimpinya merupakan tanda perpisahannya dengan suami tercinta di dunia. Ia tidak mengira akan menjadi janda di hari pernikahannya. Ia mengira tafsir mimpinya petanda akan terjadi fitnah sehingga ia mengumpulkan para saksi dan meminta mereka untuk menyampaikan pada masyarakat bahwa ia telah menikah dengan Handzhalah. Namun, rupanya Yang Maha Penyayang memberinya gelar istri sang syuhada.

Syahidnya Handzhalah menambah daftar kebanggan suku Aus. Kabilah Aus selalu membangga-banggakannya. Kata mereka, "Dari golongan kami ada yang dimandikan malaikat, dialah Handzhalah bin Abu Amir. Ada yang jasadnya dilindungi lebah, dialah Ashim bin Tsabit. Ada juga yang kesaksiannya disetarakan dengan kesaksian dua orang. Dia adalah Khuzaimah bin Tsabit. Ada juga yang kematiannya mengguncang Arasy Allah. Dialah Saad bin Muadz."

Puisi Neno Warisman itu Katanya Doa Rasulullah saw

kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Sahabat Nabi, hadits nabi saw., Sejarah Hidup Nabi saw., kisah teladan nabi muhammad, Sejarah Nabi Muhammad saw.,

Isu terbaru di acara malam munajat 212 viral menarik perhatian masyarakat Indonesia. Awalnya saya tidak tertarik untuk berkomentar, tapi setelah saya dengar komentar ulamak kebanggaan saya, Buya Yahya, saya tertarik untuk menceritakannya di sini.

Cerita doa dalam puisi kontroversi Neno Warisman ini saya dengar dari teman, katanya mengancam Allah. Saya pun coba searching di Google dan menemukan di Tribunnews isi lengkapnya. Tetapi mungkin karena saya tidak akrab dengan isu politik, saya merasa biasa ketika membaca kalimat "Kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahnya". Dalam pemahaman saya terhadap puisi tersebut, itu saya pahami, "Kami khawatir tak ada lagi orang beriman." Merasa khawatir itu kan wajar. KARENA MERASA khawatir itulah kita MEMINTA dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, jika tidak khawatir, tak perlu berdoa.

baca juga: Saat  Perang pun Rasulullah saw. Meminta Ali ra. untuk Mengajarkan Islam pada Musuh


Berikut penggalan puisi tersebut:
.... 
Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami khawatir ya Allah

Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Ya Allah
Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin
Oleh pemimpin terbaik
Dengan pasukan terbaik
Untuk negeri adil dan makmur terbaik
Takdirkanlah bagi kami

Generasi yang dapat kami andalkan
Untuk mengejar nubuwwah kedua
Wujud dan nyata 
... 
Selengkapnya
Berikut komentar Buya Yahya:


Buya Yahya sangat berhati-hati menjelaskan. Beliau tidak membahas tentang puisi Neno, tapi khusus mengenai teksnya saja, kalimatnya saja. Rupanya itu memang doa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam perang Badr. Menurut beliau itu bukan mengancam Allah. Jadi, penjelasan Buya Yahya ini bukan mengenai tentang puisi yang dibacakan, tapi mengenai teksnya saja. Di akhir video, Buya berkata, "Saya rindu umat islam bersatu."

Namun, jika ada ulamak lain mengatakan kalimat doa tersebut menantang Allah dan tidak sopan, wallahu a'lam. Bukan kapasitas saya untuk menentang ulamak. Biarlah ulamak berurusan dengan ulamak. Kewajiban yang awam menghormati ulamak. Tetapi saya memilih tidak menilai salah sesuatu yang memang tidak salah.

Mengenai pembacaan puisi berisi doa di acara tersebut yang dinilai banyak orang ada tendensi politik, saya kurang ilmu untuk mengomentarinya. Cukup tentang kalimat doa tersebut saja, bahwa kalimat doa tersebut bukan mengancam Allah. Mengenai kata lawan, menang, kalah, yang dianggap mengarah pada pertarungan politik, saya tidak berani membahasnya.

Non Muslim Merasa Tenang Jiwanya Mendengar Bacaan Quran


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,


Tidak sengaja saya membaca komentar-komentar di bawah video Syeikh Khalid Al Jaleel yang membaca Al Quran surat Ali Imran di YouTube. Ternyata ada beberapa nonmuslim yang berkomentar. Ternyata mereka senang mendengar bacaan Al Quran. Berikut saya screenshoot komentar-komentar mereka.
kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,

Kata Leonar Floyd Lucky Suberon, "Saya seorang katholik, tetapi lagu ini sunggu mengisi hati sayay dengan kebahagiaan dan menenangkan pikiran... salamualaikum"
Kata pemilik akun bernama d3 19, "Saya bukan muslim, tapi ini sungguh menenangkan.Tolong jangan jangan berpandangan negatif dan tidak menghargai saya karena saya orang kristen. Kita semua adalah manusia. Kekerasan dan pertarungan tidak penting. Tuhan memberkati kamu semua."
Kata Ishan Narula, "Dulu saya Hindu, saya baru masuk islam. Saya bersyahadat tahun lalu di masjid dekat rumahku... Ketika aku mendengar Quran, aku merasa damai... Itu menyenangkan jiwa dan tak bisa kujelaskan dengan kata.. Agama paling indah di dunia. Ikuti Quran, saudara dan saudari.


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,
Kata Clementine, "Saya orang Kristen, tapi saya suka lagu Al Quran dan saya menghormati setiap agama."

kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,
Kata Marcin Okroy, "Saya bukan seorang muslim dan tidak mengerti kata yang ia nyanyikan, tapi ini indah dan aku suka mendengarkannya."

Kata Football 4Ever, "Ini sungguh mendamaikan karena ketika anak perempuanku menangis, aku menaruh ini di dekatnya dan dia berhenti menangis."

di sini Link videonya 


DIALOG TIGA ILMUAN TIDAK TIDUR SEMALAMAN


kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Sahabat Nabi, Kisah Teladan,

Mengintip aktivitas malamnya para ilmuan. Kali ini kita akan mengambil teladan dari tiga ilmuan yang biasa dipanggil Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Yahya bin Ma'in. Imam Ahmad dan Imam Yahya ahli dalam bidang hadits, ia juga ahli ibadah dan ahli zuhud, sedangkan Imam Syafii ahli dalam bidang fiqih (hukum).

Ketika sedang melaksanakan ibadah haji, ketiganya sempat berada dalam satu kamar sehabis melaksanakan sholat isyak di masjidil haram. Imam Syafii melihat Imam Ahmad bin Hanbal melaksanakan sholat hingga subuh. Beliau juga melihat Imam Yahya bin Ma'in duduk sambil menoleh ke kanan, lalu ke kiri, begitu hingga subuh.

Sehabis sholat subuh ketiganya kembali ke kamar lagi. Imam Syafii yang sejak tadi malam penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya bertanya pada Imam Ahmad, "Wahai, Ahmad. Tadi malam aku melihat engkau berdiri tegak, rukuk, sujud hingga adzan subuh. Apa yang engkau lakukan?"

"Aku menghatamkan Quran dalam sholat tahajjudku."

Imam Syafii juga bertanya pada Imam Yahya, "Engkau, Yahya, aku melihat engkau duduk toleh kanan, toleh ke kiri. Apa yang engkau lakukan semalaman?"

"Aku menshohihkan dan mendhoifkan hadits."

Keduanya pun juga bertanya pada Imam Syafii, "Engkau melihat kami, berarti engkau pun juga tidak tidur. Ngapain?"

"Aku mengambil hukum dari Quran, hadits, ijmak, Qiyas."

Luar biasa. Itulah sepenggal kisah tentang tiga ahli ilmu yang namanya dikenal hingga hari ini. Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk bisa meneladaninya.

Baca juga kisah Thariq bin Ziad Penakluk Andalusia

CINTA SEJATI FATIMAH BINTI ABDUL MALIK



Wanita cantik bernama Fatimah Binti Abdul Malik adalah salah satu sahabiah, terlahir dari keluarga bangsawan. Siapa yang tak terpana pada wanita cantik, kaya dan baik ahlaknya. Ia menikah denan pria hebat, yaitu Umar bin Abdul Aziz, pria tampan yang juga keturunan bangsawan. Dialah Amirul Mukninin. Kisah keduanya terkenal di sepanjang sejarah Kota Damaskus.

Sebagai seorang pemimpin (Khalifah) Umar bin Abdul Aziz tentunya punya tanggung jawab lebih dari pria biasa. Ia baktikan seluruh waktu, harta, dan tenaganya untuk umat dan negara. Seluruh kekayaannya ia serahkan untuk keperluan negara. Semoga kita dikaruniai pemimpin seperti beliau.

Lalu bagaimana dengan Fatimah Binti Abdul Malik, sang istri? Bukankah hidup butuh harta? Cinta sejati mekar bukan hanya di istana megah. Tetapi cinta sejati adalah ikatan jiwa dua insan. Fatimah mendukung keputusan sang kekasih. Ia rela hidup di gubuk kecil bersama suaminya. Ia bangga, pria yang patut dibanggakan bukanlah ia yang bergelimang harta hidup penuh kemewahan, tetapi apa yang telah ia perbuat untuk orang lain. Demi meraih bahagia di kehidupan yang abadi, apalah arti kaya harta di dunia.

Pada hari kedua setelah ia dilantik sebagai pemimpin, ia menyampaikan khutbah umum. Di akhir khutbahnya ia duduk dan menangis, "Betapa besar ujian yang Allah berikan padaku." Ia menangis hingga pulang ke rumah.

"Apa yang membuatmu menangis, Wahai Amirul Mukminin?" tanya Fatimah.

"Istriku, Allah mengujiku dengan jabatan ini. Aku teringat orang-orang miskin, wani-wanita janda dan anak-anaknya yang rizqinya sedikit, para tawanan, para fuqara'. Mereka akan mendakwaku di akhirat. Aku takut, sebagai khalifah, tidak bisa menjawab hujjah-hujjah mereka. Aku tahu pembela mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam."

Pernah suatu ketika seorang wanita menemui Fatimah di gubuknya dan berkata padanya, "Tinggalkan saja tukang batu itu, ia selalu melihat ke wajah anda."

Fatimah tersenyum, "Tukang batu itu suamiku, Sang Amirul Mukminin."

Keindahan surga tiada bandingannya. Pernah keduanya tidak memegang uang sepeser pun, pakaian Umar pun sudah ada tambalannya, tetapi tak berat bagi Fatimah untuk tersenyum. Padahal keduanya dulunya kaya raya. Demi meraih cinta Sang Khaliq, demi kehidupan yang abadi.

Umar bin Abdul Aziz adalah Khalifah bani Umayyah, berkuasa selama 3 tahun kurang sedikit, yakni 2 tahun 135 hari (22 September 717 - 4 Februari 720). Ia mulai memerintah pada usia 36 tahun. Umar bukanlah keturunan khalifah sebelumnya. Jabatan tersebut ia dapatkan dengan ditunjuk langsung. Ia adalah sepupu khalifah sebelumnya dan masih satu nasab dengan Umar bin Khattab. Masa pemerintahannya mampu mengembalikan keadaa negara seperti masa 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin). Bahkan harta zakat diiklankan karena sudah tidak ditemukan umat islam yang pantas menerima zakat. Ia meninggal di daerah dekat Aleppo, Syiria.

Kisah Cinta Thalhah Harus Ia Relakan


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Sahabat Nabi,

Cerita cinta akan selalu indah bila dikisahkan. Dari zaman ke zaman cinta selalu exist dan selalu menjadi kenikmati para pecinta. Begitu juga dengan para sahabat Nabi Sang Utusan Allah yang bertugas menyampaikan wahyu ajaran agama. Salah satu kisah cinta yang dialami oleh Sahabat Nabi bernama Thalhah bin Ubaidullah. Ia adalah pria yang taat.

Suatu ketika ia berbicara dengan istri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, 'Aisyah ra. Rasulullah melihat mereka dan menghampiri 'Aisyah dengan raut muka tidak suka. Beliau memberi isyarat agar 'Aisyah masuk. Sebenarnya Thalhah masih sepupu 'Aisyah, tapi rupanya hubungan kerabat tak menghalangi munculya rasa di hati Thalhah. Wajah Thalhah memerah karena sikap Rasulullah. Ia pergi dengan gumaman dalam hati, "Rasulullah melarangku berbincang dengan 'Aisyah. Tunggulah saatnya. Jika Rasulullah wafat, tak akan kubiarkan pria lain mendahuluiku."

Begitulah jika cinta menguasai hati manusia. Menikahi janda itu halal, boleh dalam islam. Tetapi, terkhusus untuk istri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Allah berkehendak lain. Karena peristiwa ini turun ayat:

"Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat."
(QS.Al Ahzab : 53)

Ketika ayat ini dibaca Thalhah menangis dan bertobat pada Allah karena merasa bersalah. Sebagai wujud taubatnya, ia memerdekakan budaknya, menyumbangkan 10 onta, serta menunaikan haji dengan berjalan kaki. Inilah teladan yang luar biasa. Cinta pada manusia tak membutakan hati, tak mengungguli cintanya pada Allah dan RasulNya.

NB:
Riwayat ini belum jelas kebenarannya. Jadi tidak semua ulamak sepakat bahwa pria yang ingin menikahi 'Aisyah ra. adalah Thalhah. Kata Imam Al Qurtuby: “Dalam hal ini Ibnu Abbas menyebut orang tersebut dengan kata ‘beberapa sahabat’, Sementara Maki menceritakan dari Ma’amar bahwa sahabat tersebut adalah Thalhah bin Ubaidullah. Wallahu a'lam

Baca juga: Kisah Sahabat Nabi yang Menolak Ditawari Nikah Lagi oleh Istrinya

Khalid bin Walid Sang Pedang Allah

Kisah Sahabat Nabi, kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Teladan,


Khalid bin Walid adalah pejuang yang hebat, banyak kaum muslimin tewas di tangannya. Perawakannya besar dan berotot. Banyak yang bilang ia mirip Umar. Ia adalah putra dari Walid bin Mughirah, pembesar kaum musyrik yang sangat membenci islam. Khalid bin Walid melanjutkan perjuangan ayahnya memusuhi islam. Berkat kecerdasannya, kemahirannya dalam mengatur strategi perang, orang-orang Quraisy mempertahankan keberadaan Khalid di kelompok mereka. Apalagi Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib telah masuk islam, membuat para pembesar Quraisy khawatir.

Peperangan yang pertama kali terjadi antara kaum muslimin dan kaum musyrikin adalah perang Badr. Pada perang tersebut saudara Khalid bin Walid yang bernama Walid bin Walid ditawan kaum muslimin. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam. memberi tawaran pada Walid apakah mau masuk islam atau mau bebas dengan tebusan keluarganya. Khalid segera menebusnya dan membawanya pulang ke Mekkah.

Namun, betapa terkejutnya Khalid bin Walid karena di hadapan para pemuka kafir Quraisy, Walid bin Walid trang-terangan mengaku telah masuk islam. Khalid sangat terkejut dan bertanya bagaimana ia bisa masuk islam dan kenapa tidak mengatakannya ketika masih di Madinah. Kata Walid, "Sunggu aku melihat sendiri perlakuan baik kaum muslimin terhadapku, belum pernah aku mendapatkan perlakuan sebaik itu bahkan dari kerabat paling dekatku sekalipun. Aku tidak mengumumkan keislamanku di madinah karena aku khawatir mereka mengira aku masuk islam hanya karena takut ditawan."


Cerita Walid bin Walid menunjukkan pada kita betapa baiknya ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Seorang tawanan perang sekalipun diperlakukan dengan baik hingga tidak ia temukan bandingan yang lebih baik, bahkan kerabat terdekatnya sekalipun.

Khalid bin Walid semakin geram terhadap islam. Ia marah karena saudaranya sudah bergabung dengan kaum muslimin. Para pemimpin kafir Quraisy menunjuk Khalid bin Walid untuk memimpin perang Uhud. Dengan kecerdikannya, ia memutar balik arah pasukan berkudanya untuk melancarkan serangan terhadap pasukan panah kaum muslimin yang melanggar ketentuan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam.

Di Hudaibiyah Bersama pasukan berkuda Khalid bin Walid mencoba mendekati Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Khalid melihat Beliau sedang sholat dzuhur bersama sahabatnya di 'Usfah. Tetapi Khalid bersama pasukannya tidak melakukan penyerangan. Namun sepertinya Rasulullah dan para sahabat curiga dengan gelagat Khalid. Mungkin karena hal tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam bersama para sahabat melaksanakan Ashar bersama sahabat dengan sholat Khauf. Khalid kaget karena ketika sebagian menunduk, yang lain tegak berdiri. "Muhammad terlindungi," pikir Khalid.

Ada sesuatu yang mengganjal di benak Khalid, tiap kali ia berusaha mendekati Rasulullah dengan niat buruknya, selalu gagal, bahkan untuk mendekat pun sulit. "Lelaki ini akan jadi pemenang. Ia akan jadi pemimpin," pikirnya. Khalid bingung mau menemui Najasyi, ia sudah masuk islam. Mau ikut Hiraqla, ia harus meninggalkan agamanya untuk memeluk Kristen atau Yahudi. Akhirnya ia pun tinggal bersama orang-orang 'Ajam yang belum memeluk islam di kampungnya.

Ketika Rasulullah hendak melakukan Umroh Qodhiyyah bersama para sahabat, termasuk Walid bin Walid, Khalid bin Walid menyembunyikan diri tidak mau menemui mereka. Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam menanyakan keberadaan Khalid kepada Walid. "Allah akan membawanya kemari," jawabnya.

"Tidak ada orang secerdas Khalid yang tidak mampu memahami kebenaran islam. Jika dia mengunakan keahlian perangnya untuk membela agama Allah, itu lebih baik baginya. Kami akan mendahulukannya."

Mendengar perkataan Rasulullah Walid segera mencari Khalid, namun tidak ia temui. Akhirnya ia menulis surat untuk Khalid yang isinya:

"Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh aku heran dengan ketidakmampuanmu memahami kebenaran agama islam, padahal akalmu sehat. Engkau bisa membedakan yang hak dan yang bathil. Adakah orang yang tidak tahu tentang islam? Rasulullah bertanya tentangmu kepadaku. Beliau bertanya, 'Dimana Khalid?'. Kujawab, 'Allah akan membawanya kesini'. Lanjut Beliau, 'Tidak ada orang secerdas Khalid yang tidak mampu memahami kebenaran islam. Jika dia mengunakan keahlian perangnya untuk membela agama Allah, itu lebih baik baginya. Kami akan mendahulukannya.' Wahai Saudaraku, kejarlah kebaikan-kebaikan yang telah engkau lewatkan!"

Pikiran Khalid terus gelisah memikirkan tentang islam. Semakin nampak saja agama yang ia benci itu adalah agama yang benar. Ada kegembiraan dalam hatinya membaca surat dari saudaranya yang mengabarkan bahwa Rasulullah menanyakan tentang dirinya. Suatu malam ia bermimpi berada di negeri yang sempit dan tandus. Kemudian ia berpindah ke negeri yang hijau dan luas. Pikirnya itu hanyalah mimpi.

Akhirnya Khalid pun memutuskan untuk ke Madinah untuk menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Tetapi sebelum berangkat, ia mencoba mencari teman. Ia menemui Shafwan bin Umayyah. “Wahai Abu Wahb, lihatlah keadaan kita sekarang. Kita hanyalah hujan rintik-rintik. Muhammad telah meraih kemenangan besar atas orang-orang Arab dan Aajam. Sebaiknya kita mengikutinya saja, sebab kemuliaan Muhammad adalah kemuliaan kita juga.”

Shafwan kaget mendengar perkataan Khalid. “Sekalipun seluruh orang Arab dan non-Arab ikut Muhammad, dan tersisa aku saja, biarlah aku sendirian saja.” Khalid maklum karena saudara dan ayahnya terbunuh dalam perang Badar.

Lalu Khalid mencoba meemui Ikrimah bin Abu Jahal dan mengatakan hal serupa. Ikrimah pun memberi jawaban yang sama. Khalid pun meminta Ikrimah merahasiakan pertemuan mereka. "Aku akan merahasiakannya," kata Ikrimah.

Khalid pun kembali ke rumahnya dan berangkat sendiri. Ia bertemu Utsman bin Thalhah r.a. Khalid pun ingin menceritakan niatnya pada utsman, tapi dia ingat bahwa banyak dari moyangnya yang terbunuh. Tetapi, Khalid memaksakan diri untuk bercerita padanya. "Sesungguhnya kita ini seperti musang di dalam lubang, jika disemprot air, maka keluarlah musang tersebut." Lalu ia menyampaikan niatnya pada Utsman. Ternyata, Utsman menyambut baik ajakan Khalid. "Sesungguhnya aku sudah bersiap berangkat," kata Khalid. Keduanya pun membuat janji untuk bertemu di Ya'juj, kurang lebih 8 mil dari Mekkah.

Keduanya bertemu di Ya'juj dan melanjutkan perjalanan. Setibanya di Haddah keduanya bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash. "Selamat datang, Wahai saudara," sambutnya.

Khalid dan Utsman pun mengucap salam juga.

"Kemana arah tujuan kalian?"

Khalid dan Utsman balik bertanya, "Apa yang menyebabkanmu keluar dari Mekkah?" tapi 'Amr juga membalas dengan pertanyaan yang sama.

"Untuk ikut Muhammad Shalallahu ‘Alihi wa sallam menjadi seorang muslim."

"Itulah yang membuatku sampai di sini," kata 'Amr bin 'Ash.

Ketiganya berangkat bersama-sama ke Madinah. Setibanya  di sana, bertepatan pada bulan Shafar tahun kedelapan hijrah, mereka meletakkan unta mereka di bagian luar Harrah. Khalid langsung menemui adiknya, Walid. "Bersegeralah menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam. Kedatangan kalian sudah disampaikan pada Beliau dan Rasulullah sangat gembira dengan kedatangan kalian. Beliau sedang menunggu kalian." Ketiganya mempercepat langkahnya. Khalid segera mendekati Rasulullah dan berhenti di hadapan Rasulullah.

Khalid memberi salam. "Assalamualaikum, Wahai Nabi Allah." Rasulullah menjawab salam Khalid dengan gembira.

Khalid bersyahadat di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘Alihi wa sallam.

Kata Nabi pada Khalid, "Marilah. Segala puji bagi Allah yang telah memberimu hidayah. Aku melihat engkau adalah pria yang cerdas dan aku berharap kecerdasanmu membawamu pada kebaikan."

"Wahai Rasulullah, selama ini aku sangat menentang engkau dan islam, mohonkanlah ampunan buatku pada Allah."

"Ketika engkau masuk islam, seluruh dosamu yang lalu telah diampunkan Allah."

"Selain itu Ya Rasulullah?"

Rasulullah pun berdoa, "Ya Allah, berilah ampunan pada Khalid atas kekeliruan yang telah dilakukannya dahulu."

Utsman dan ‘Amr bin 'Ash juga mendekat pada Rasulullah dan masuk islam.

Khalid menyampaikan mimpinya pada Abu Bakar r.a. Kata Abu Bakar pada Khalid, "Negeri sempit yang tandus itu adalah tempat kamu berada sebelum masuk islam. Sedangkan negeri yang luas dan hijau itulah islam.”

*Mohon koreksi jika ada yang menemukan kekeliruan pada cerita 

Thariq bin Ziyad Penakluk Andalusia

Fathul Andalus bukanlah penjajahan Andalusia karena Islam tidak pernah menjajah. Tetapi Fathul Andalus merupakan pembukaan Andalusia, membuka dari belenggu derita karena kekejaman rajanya. Saat itu Andalusia dikuasai oleh raja kejam bernama Roderick. Diam-diam orang Andalusia meminta tolong kepada umat islam agar dibebaskan dari derita siksaan Raja Roderick.

Thariq bin Ziyad mendengar kabar tersebut dan melapor pada Musa bin nushair. Beliau pun juga melapor kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Syukurlah beliau setuju untuk menaklukkan Andalusia.

Diberangkatkanlah sebanyak 500 orang pasukan pada bulan Juli tahun 710 Masehi menyeberangi lautan dari Selat Gibraltar untuk mempelajari situasi medan perang di Andalusia. Setelah mereka berhasil mempelajari situasi medan perang, dan persiapan perang sudah cukup, Thariq bin Ziyad pun membawa 7000 pasukan.

Raja Roderick pun segera mendengar kabar kedatangan pasukan kaum muslimin. Ia pun mengalihkan perhatiannya untuk menghadapinya. Padahal ia sibuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan kecil di wilayah kekuasaannya. Segera Roderick kembali ke ibu kota Andalusia, Toledo, dan mengumpulkan 100.000 pasukan untuk menghadang pasukan kaum muslimin yang dipimpin Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad mengetahui jumlah pasukan Roderick yang begitu besar tersebut, ia pun minta pasukan tambahan pada Musa bin Nushair dan dikirimi pasukan tambahan 5000 orang.

Kedua pasukan bertemu pada 28 Ramadhan 92 Hijriyah atau 18 Juli tahun 711 Masehi di Medina Sidonia. Perang pun terjadi. Perang terjadi selama delapan hari dan dimenangkan oleh kaum muslimin. Perang tersebut disebut dengan Perang Sidonia.

Ada yang mengisahkan, untuk mengobarkan semangat pasukan kaum muslimin, Thariq bin Ziyad meminta untuk membakar semua kapal yang mereka tumpangi dan berkata, "Mau kembali menyeberang laut, akan berhadapan dengan maut. Menghadapi pasukan Visigoth juga berhadapan dengan maut, tapi syahid menanti." Tentu saja pasukan kaum muslimin memilih syahid meskipun jumlahnya tidak seimbang.

Rakyat Tak Mau Ganti Pemimpin


Pemimpin yang dicintai rakyat tak perlu berkampanye, tak perlu pencitraan, juga tak perlu mentogok rakyat agar terus bisa duduk di kursi kepemimpinan, contohnya, Muawiyah bin Abu Sufyan, beliau adalah sahabat Nabi Muhammad saw. yang diangkat sebagai gubernur di wilayah Syam. Wilayah tersebut meliputi Suriah, Libanon, Yordania, dan Palestina.

Dikisahkan bahwa beliau sangat dicintai rakyatnya hingga rakyatnya tidak mau ganti pemimpin. Namun, kata beliau kurang baik jika terlalu lama dalam kepemimpinan. Rupanya rakyat sudah terlalu cinta hingga mereka meminta keluarga Muawiyah saja yang menggantikannya.

Itulah potret pemimpinyang dicintai rakyat.

Di Saat Perang Pun Tetap Mengajar

Kisah Sahabat Ali, Sayyidina Ali Sahabat Nabi
Kisah perintah mengajar meskipun di medan perang ini saya dengar dari Mufti Ismail Ibn Musa Menk di salah satu videonya.

Beliau berkisah tentang peristiwa perang (Saya lupa namanya: Perang Khandaq atau Khaibar). Rasulullah saw. menunjuk Ali ra. sebagai panglima perang. Beliau berkata pada Ali ra., "Wahai Ali, jangan kamu pergi ke medan perang hanya membunuh musuh, ajarilah mereka tentang islam."
Bukankah orang berperang itu saling bunuh? Tetapi, Rasulullah saw. malah menyuruh sahabatnya mengajar di medan perang.

Kalau kita ingat film Ramayana dan Shinta, musuh mereka, Rahwana, punya saudara bernama Kumba Karna. Ia menjalani tapa tidur. Artinya ia orang suci yang kaya cinta. Tetapi saat ia diajak ke medan perang, ia habisi musuh. Orang-orang kaget dan menegurnya, tapi respon dia, "Tidak ada kasih sayang di medan perang, yang ada hanyalah kekejaman."

Musuh itu jahat pada kita. Tetapi, Rasulullah saw. ingin mengajari kita bahwa kemungkaran tak selalu diatasi dengan kekerasan. Melainkan dengan memahamkan mereka dengan pengajaran.

Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.