Ardian Si Anak Tunggal

Cerita Wali murid
"Selamat pagi," suaranya lantang dan tegas. Semua guru yang sedang di ruangan itu terkejut. "Bisa bertemu kepala sekolah sekarang?" agak memaksa.

Salah seorang guru menghampiri, "Monggo, silahkan masuk, saya antar ke ruang kepala sekolah."

Ia dipersilahkan masuk. "Ada perlu apa ya memanggil saya?" tanyanya ketus kepada kepala sekolah. "Saya tidak bisa lama-lama." Wajahnya tampak tak ramah.

Bu Rahma yang baru lima bulan menjabat kepala sekolah kaget menghadapi wali murid semacam itu. Ia berusaha menenangkan diri, "Maaf, Buk. Saya sekedar mau memberi tahu bahwa putra ibuk, Ardian, sudah ijin sebanyak 80 hari..."

"Kan sudah ijin?!"

Aneh. Bu Rahma bingung menghadapi sikapnya. Banyak guru yang mendengar percakapan mereka, seperti bertengkar. "Iya, tapi terlalu sering tidak ikut pelajaran, Buk..."

"Yang penting ijin, lagian saya juga bayar. hak saya mau bawa anak saya jalan ke mana aja. Apa saya telat bayar?!" Bu Rahma bingung. "Sudah, kalau tidak ada hal penting untuk dibicarakan, saya mohon pamit...!!"

"Mungkin ibu ini sedang ada masalah," pikir Bu Rahma. Dengan senyum ia akhiri percakapan itu, "Maaf, beribu maaf, Buk. Terima kasih kehadirannya." Ia pun pergi.

Wajah polos Ardian datang membayang, badannya kurus, pemalu, dan suka menyendiri. Sering ia temani anak itu saat jam istirahat, bahkan Bu Rahma memberi tugas khusus kepada guru BK agar memberikan bimbingan khusus pada Ardian.

Baca juga: Kepala Sekolahku Cantik

***

Tentang Anak yang Malang dan Guru Penyayang

Bel pulang sudah 30 menit yang lalu berbunyi. Semua siswa sudah pulang, kecuali yang ikut kegiatan ekstrakurikuler. Sebagian dari mereka memang tidak pulang. Terlihat di bawah tangga, di pojok sebelah barat, Ardian duduk sendiri. Tangga itu berjarak sekitar 25 meter dari pintu ruangan Bu Rahma. Bu Rahma yang baru keluar dari kantornya segera menghampirinya. Ardian diam saja memandangi beliau yang menghampirinya.

"Ardian belum dijemput?"

Ardian hanya geleng-geleng kepala tanpa suara.

Bu Rahma semakin yakin bahwa anak ini menderita tekanan psikis yang cukup berat. Beliau duduk di lantai agar bisa semakin dekat bicara dengan Ardian. "Ayo, bu guru antar." Ardian menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Rahma menggendongnya, Ardian tidak menolak.

Seorang pria menghampirinya, "Ayah," Ardian mengulurkan tangannya pada pria itu.

"Tadi saya mendapati dia duduk sendirian di bawah tangga."

"Terima kasih. Anda baik sekali. Dan... maaf atas sikap istri saya. Dia memang begitu. Dia egois, kalau sudah maunya, tidak ada yang bisa mencegah."

Bu Rahma terkejut mendengar curhatnya, tapi berusaha menanggapi dengan senyum. Mungkin istrinya tadi cerita obrolannya. Tetapi itu aneh, menurutnya, tak sepatutnya seorang suami membeberkan keburukan istri, apalagi di depan wanita lain. Seharusnya seorang suami bisa membimbing dan mengarahkan istri dan anaknya. Keburukan istri adalah keburukannya.

"Oya, kenalkan, saya Adrian," sambil mengulurkan tangannya. Bu Rahma menyambutnya. "Terima kasih atas kebaikannya pada anak saya selama ini."

"Sudah kewajiban saya."

"Oya, ini nomor HP saya, kalau ada apa-apa sama Ardian, tolong hubungi saya saja."

Pasangan yang tidak kompak, pikir Bu Rahma. Tapi untuk tahu detail masalahnya, itu bukan haknya. Tanggungjawabnya hanya mendidik Ardian saja. Namun, ia juga perlu tahu hal-hal yang berdampak pada Ardian, entah menggali informasi dari Ardian atau ayahnya. 

***

"Ardian itu cucunya orang kaya," kata Bu Aulia pada Bu Rahma saat istirahat di ruang tamu sekolah. "Dia tetangga ipar saya. Kemarin saya tanya-tanya. Punya mobil tiga, sawahnya lebar." 


"Dari bapak atau ibuknya?"

"Ibuknya. Bapaknya itu orang tidak punya, katanya. Katanya, bapaknya itu kayak numpang aja di rumahnya. Kakek sama neneknya Ardian memihak pada ibunya Ardian. Ibuknya lebih berkuasa dari bapaknya."

"Begitu memang kalau istri lebih kaya," imbuh Bu Rina.

"Sombong, katanya, Bu. Sama tetangga tidak baik juga."

"Kasian Ardian, jadi korban. Pendidikannya jadi kacau."

"Pendidikan kayak dianggap tidak penting, Buk."

"Sudah kaya, merasa tak butuh, Buk," sahut Bu Rina. ***

Kisah Wirausahawan

10 tahun berlalu

Sepanjang Jalan Jawa dan Jalan Kalimantan, di trotoar, selalu rame bahkan hingga pagi, penuh dengan pedagang kaki lima. Ardian adalah salah seorang dari mereka. Bu Rahma terkejut saat pemuda si penjual nasi tiba-tiba menghampirinya, bukannya melayani pesanannya, "Bu Rahma," sapanya sambil mengulurkan tangannya. Bu Rahma menjabat tangannya, pemuda itu mencium tangan beliau. "Ingat saya, Bu?" tanya Ardian.

Bu Rahma memandangi wajah pemuda itu. Lama sekali. Para pelanggan Ardian yang sedang makan di trotoar dan yang sedang antri tercengang menyaksikan adegan itu. Rekan Ardian menggantikannya melayani pelanggan lainnya. "Ardian?" tebak Bu Rahma. Ardian tak kuasa menahan air matanya. "MaashaaAllah, sudah dewasa kamu, Nak." Air mata Ardian mengalir deras. Bu Rahma memegangi lengan kanan Ardian. "Tidak terasa, sudah sedewasa ini kamu. Sudah lama jualan di sini?"

"Baru lima bulanan, Buk, sejak sepulang dari Korea."

"Korea?"

"Iya, jadi TKI di sana, tapi ketipu..."

"Subhanallah..."

"Sisanya saya buat modal usaha ini."

Bu Rahma tersenyum haru. "Sekarang tinggal di mana?"

"Tinggal di rumah Bu De, di Tegal Gede."

"Tegal Gede mana?"

"Timurnya STM, SMK 2." "Sudah nikah?"

"Sudah. Ini."

Seorang wanita muda berdiri di samping Ardian, ia juga menyalami Bu Rahma. "Sudah punya momongan?" Keduanya menjawab belum. Mereka memang baru empat bulan menikah.

...bersambung... Cerita Hidup Ardian

0 Response to "Ardian Si Anak Tunggal"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel