Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Sepasang Merpati di Dahan Angsana

Cinta di sawah
Cerita pengusaha muda ini merupakan lanjutan dari Exportir sapi ke australia sebelumnya yang berjudul Exportir sapi ke australia. Pada tahap ini Alfan mulai berubah pemikiran, ia mulai lebih jernih menatap masa depan. Wawasannya tentang bisnis mulai bertambah luas. Tetapi...

Cerita Cinta Pengusaha di Persawahan

Sore. Terik matahari sudah tak terasa panas. Sejuk menikmati pemandangan sawah. Burung-burung beterbangan melawan angin. Waktu sore memang saat yang menyenangkan untuk main ke sawah. Alfan bersama pak leknya, pak haji fauzi bersama putrinya mengunjungi sawahnya. Sawah beliau masih tersisa sembilan petak, enam petak ditanami padi, sisanya masih kosong.

Alia, begitu putri pak haji Fauzi akrab disapa. Ia membawa kucing himalaya, ia gendong sambil dielus-elus bulunya. Kucingnya menggeliat-geliat ingin turun ke tanah. Alia melepaskannya agar bermain. Rupanya ia ingin menangkap dua merpati yang sedang bermain di lahan kosong milik pak haji Fauzi. Dua merpati itu terbang lari ke dahan pohon angsana. Si kucing imut tersebut mencoba mengejarnya.

Di bawah pohon itu Alfan, pak leknya dan pak haji Fauzi sedang asyik ngobrol. Si kucing nakal, ia melompat ke badan pak haji Fauzi lalu beralih ke bahu Alfan. Alfan memegangnya. Pak haji Fauzi memanggil Alia. Alfan dengan senang hati memberikan kucing itu pada Alia. "Gemuk kucingnya, imut, kayak yang punya." Alia tersenyum. "Siapa namanya?"

"Kitty. Dia betina."

"Suka kucing?"

Alia tersenyum. "Iya."

Kitty melihat ke atas dahan angsana. Dua merpati bertengger di sana. Kitty menggeliat-geliat hendak melompat.

"Dia ingin menangkap merpati itu."

"Iya."

***

Cerita Kebingungan Sang Calon Pengusaha Muda Sukses

Alfan mulai tertarik dengan dunia kampus, sebenarnya bukan pada kampusnya, tapi pada gadis yang baru dikenalnya: Alia. Dia memang cukup menawan: senyumnya, tutur katanya yang lembut, sikapnya. Alfan terpesona. Ia tak peduli usia. Malam sudah larut. Alfan belum bisa tidur. Masih sangat jelas bayangnya. Peristiwa tadi sore begitu indah.

Menjadi kaya itu terhormat. Itu fakta. Orang berilmu sudah kurang dilirik, tak terpandang. Tetapi, wanita berilmu seperti Alia sungguh menarik hati Alfan. Wanita seperti dia tentu memilih pria sepadan ilmunya. "Berbisnis atau kuliah?" Alfan bingung. Seakan hari esok masih gelap. Jika hanya bisnis saja, apa mungkin ia bisa menjadi peternak seperti peternak di Australia? Jika kuliah, bagaimana dengan bisnisnya?

Alfan bingung.

Malam segera berlalu. Pagi sangat cerah tapi mendung bagi Alfan. Tak menentu pikirannya, dipenuhi angan-angan yang membingungkan. Sama sekali ia tidak tahu dunia kampus. Dunia sekolah baginya membosankan, bahkan ia anggap tak penting. Ia khawatir dunia kampus juga begitu.

Ia lupa kemarin tidak minta nomor handphone atau pin bbm Alia. Mau ke rumahnya, tidak enak pada orang tuanya. Tetapi, jika mengingat kakak-kakaknya, ia menjadi tidak yakin dengan dunia kampus. Sebuah tanya di benaknya, kenapa mereka tak menjadi orang hebat? Jika seperti mereka, bisakah ia menyaingi para peternak Australia yang katanya luar biasa?

"Kebingungan ini cukup menyiksa. Cinta atau pendidikan?"

Pagi datang diselimuti embun. Segar sekali aroma alam pagi ini. Alfan ke kandang sapi limosinnya, melihat-lihat. Ia membayangkan andai nanti sapi-sapinya berjumlah 20.000 ekor. Itu mungkin, tidak mustahil. Terus maju dan pantang mundur.

bersambung...

Belum ada Komentar untuk "Sepasang Merpati di Dahan Angsana"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel