Blogger Widgets

Featured post

Kisah Cinta Bidadari Tercantik, Ainul Mardhiah

Cerita cinta beda dunia ini terjadi pada seorang sahabat Nabi. Waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberi semangat j...

Home » , , , » Kisah Nabi: Menyuruh Tidak Harus Selalu dengan Kalimat Perintah

Kisah Nabi: Menyuruh Tidak Harus Selalu dengan Kalimat Perintah


______________________________________________________________


Oleh: Si Sun Rugyinsun
Kisah, Kisah nabi adam, kisah malam pertama, kisah 25 nabi dan rasul, kisah nabi yusuf, kisah nabi muhammad
Kisah Nabi. Pada tahun 628 M Rasulullah saw. bersama para sahabat (kurang lebih 1400 umat islam) hendak umroh. Mereka memakai pakaian ihram dan membawa hewan kurban. Namun mereka dicegat kaum Qurasy. Hampir saja kedua belah pihak bertikai. Namun, keduanya sepakat berdamai dengan suatu kesepakatan yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Pihak Nabi dan rombongan mengalah dan kembali ke Madinah. Mereka akan kembali ke Makkah tahun berikutnya.

Usai dituliskannya Perjanjian Hudaibiyah tersebut, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk bertahalul (mencukur rambut) dan menyembelih hewan kurban. Akan tetapi, tak seorang pun yang mengindahkan seruan beliau. Mereka kecewa dengan perjanjian tersebut. Perjanjian tersebut merugikan mereka dan dipandang sebagai suatu penghinaan.

Rasulullah saw. marah dengan sikap para sahabat dan masuk ke kamar Ummu Salamah. Melihat Nabi yang tampak risau, Ummu salamah bangkit dan menanyakan apa yang terjadi. "Celakalah orang-orang itu. Kuperintahkan menyembelih kurban dan bertahalul, mereka menolak," jawab Rasulullah.

Ummu Salamah tersenyum mencoba menenangkan beliau, "Tenangkan hatimu, Wahai Rasulullah! Demi Allah, sulit bagi mereka menerima perjanjian damai itu. Percayalah, mereka takkan pernah mendurhakaimu. Kupikir keluarlah kau sekarang, tetapi jangan bicara dengan siapa pun sebelum kau sendiri bertahalul dan menyembelih hewan kurban. Kuyakin mereka pun akan berbuat sepertimu."

Rasulullah senang dengan saran Ummu Salamah. Sungguh ide yang cemerlang. Lalu beliau keluar bertahalul. Orang-orang terpana melihat Nabi dan mengikuti apa yang dilakukan Nabi saw.

Sumber: Bilik-bilik Cinta Muhammad, karya Dr. Nizar Abazhah (halaman: 112-113)

Banyak pelajaran dari cerita singkat di atas, kisah insan teladan bagi seluruh umat manusia. Ada pelajaran tentang metode dakwah, musyawarah, menghargai pendapat istri (wanita), memulai dari diri.

Metode Dakwah

Cerita di atas mengajarkan bahwa dakwah tidak harus dengan ceramah atau marah-marah melulu. Dakwah tidak harus selalu dilakukan di atas mimbar. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyeru umat agar berbuat kebajikan. Bahasa verbal tak selalu mudah dipahami, terkadang bahasa non-verbal lebih mudah diahami. Rasulullah melakukannya dengan memberi contoh (teladan).

Musyawarah

Dalam kisah tersebut Rasulullah memberi contoh bahwa betapapun pintar dan alimnya kita, bukan berarti tak butuh nasehat dan tak butuh pendapat orang lain. Rasulullah mendengarkan dengan baik nasehat istrinya. Padahal dirinya seorang Nabi penerima wahyu dari Sang Pencipta. Tentu sudah tak diragukan keilmuannya. Kekeliruannya langsung dibetulkan oleh Sang Pencipta. Tetapi beliau masih mau mendengar pendapat orang lain, bahkan seorang perempuan yang katanya kurang akalnya.

Menghargai Pendapat Istri (Wanita)

Wanita dikatakan kurang akalnya, bahkan dijaman jahiliah anak perempuan dikubur hidup-hidup. Wanita sering kali dianggap mahluk nomor dua yang tak punya kemampuan apa-apa. Bahkan banyak suami yang enggan untuk mendengar pendapatnya. Tetapi Rasulullah tidak demikian, beliau mau mendengar nasehat Ummu Salamah. Sebagai seorang laki-laki Rasulullah tidak menunjukkan dirinya sebagai mahluk yang tak butuh pendapat perempuan.

Memulai Dari Diri Sendiri

Pelajaran yang terakhir yang bisa diambil dari kisah tersebut masih terkait dengan metode dakwah, bahwa memulai dari diri sendiri merupakan metode dakwah yang baik, yakni dengan keteladanan. Rasulullah melakukannya bahkan dengan tanpa sepatah kata pun. Jadi menyeru pada kebajikan tidak harus selalu teriak-teriak marah-marah.

Itulah beberapa pelajaran yang saya peroleh dari kisah singkat di atas.


______________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.