Cerpen: Aku Mahasiswa, Sudah Jadi Idaman Cewek SMP dan SMA


______________________________________________________________

"Mana si Udin?"

"Keluar."

"Tiap pagi mesti keluar."

"Siang juga."

"Jadi tukang ojek?"

"HahAHAhahaha... Ngawur, Lo, dia itu anak pengusaha kaya di kampung."

"Iya, becanda. Ngojek pacarnya, maksudku."
cerpen, cerpen persahabatan, cerpen dewasa, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen anak, contoh cerpen

Kelas 2 SMP awal rasa cinta bersemi di hati Udin. Ia jatuh cinta pada kakak kelasnya, Ria, yang juga masih satu kampung, anak Pak KASUN. Tetapi, ia gagal mendapatkannya. Katanya Ria terpikat sama anak SMA. Ada juga yang bilang, Ria diguna-guna sehingga jatuh cinta pada anak SMA itu. Tapi dugaan terkuat, Ria bangga bisa dapatkan cowok SMA.

Udin tidak mungkin pacaran sama anak SD, bisa apa, pikirnya. Mau hidup nge-jomblo, malu. Anak orang kaya kok hidupnya setara dengan anak orang miskin. Di sekolahnya, anak gaul harus punya pacar. Ia pun terpaksa macarin si Muna, lumayan cantik untuk dibawa keluyuran, meski ia tidak suka. Bisalah buat tambah hiasan motornya yang keren, pikirnya.

Ketika SMA, nasib sial masih setia bersamanya. Gadis idamannya pacaran sama anak kuliahan, mahasiswa di kampus berkelas. "Adik kelas banyak yang cantik, Bos," Ricko memberanikan diri usul. Tapi, Udin tak menggubrisnya. Tetapi, lagi-lagi, karena ia tidak punya gebetan, akhirnya pun seadanya. Ia macarin adik kelas yang dianggap paling cantik oleh cowok sak sekolahan.

"Mas, makan siangnya dimana?"

Pacar Udin sangat manja, tapi Udin senang. Sudah sekian lama ia apes terus. Sekarang ia bisa membuktikan bahwa ia bisa macarin gadis-gadis SMA, kalau perlu semua gadis tercantik di tiap SMA akan dia pacarin. Ia dendam pada masa lalu yang kelam.
***



3 Tahun kemudian


Udin membawa pacarnya ke kontrakannya. Ia ingin nunjukin kehebatannya pada Adrian dan Salman, teman sekontrakannya, bahwa dia bisa macarin cewek cantik dan berkelas. Mereka berdua kaget melihat Udin bawa anak SMA masih lengkap dengan seragamnya. Apalagi tingkahnya ... Wah ... luar biasa.


"Pacarmu, Din?" tanya Adrian yang lagi mandiin motornya di teras depan.


"Memangnya pacar siapa?"


"Cantik, Din," tambah Salman yang lagi ngasih makan burung kenarinya di samping. "Masih unyu-unyu."


"Iya, mantap itu," sahut Adrian. "Jangan kayak Salman, sukanya sama tante-tante."


"Tante lebih matang, Cuy. Servicenya mantap"


"Iya, wong anak SMA dah kamu dicicipi semua. Udah bosan."




"Ah, kan bagi-bagi sama kamu juga dulu."
***

10 tahun kemudian


"Kamu belum nikah, Din?" tanya Adrian lewat chat di Whatsapp.


Udin tidak segera menjawab. "Belum dapat yang cocok," jawabnya.


"Nyari yang kayak apa? Jangan cari anak SMP, Din. Kelamaan nunggu kamu. Kecuali dia mau berhenti sekolah."


"Ceritanya berubah, Kawan."


"Maksudmu?"


"Entahlah. Aku jadi bingung."


Dulu waktu masih sekolah atau watu masih kuliah, Udin pacaran agar tidak malu sama teman-temannya, agar dibilang cowok hebat juga. Sekarang, teman-temannya sudah pada hidup sendiri-sendiri. Mereka sudah sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Sudah sibuk dengan keluarga masing-masing. Tidak mungkin rasanya bagi Udin menikahi wanita untuk dipamerkan ke teman-temannya. Istri itu kan tidak sama dengan pacar, tidak bisa ditinggal begitu saja. Kalau mau ditinggal harus cerai ke pengadilan.


Kadang ia juga mikir masa depan. Selama ini ia hidup dengan harta orang tua yang berlimpah. Tetapi sudh nampak sekali usia orang tuanya. Sudah sakit-sakitan. Mau melanjutkan usaha orang tua, ia tidak pengalaman. Mau kerja sesuai bidang studi yang ia pelajari di kampus, sudah lupa semua ilmunya. Apa lagi dulu memang tidak tahu apa yang diajarkan dosen.


"Aneh. Hidupmu kan tidak repot, Din. Perlu apa, tinggal beraksi."


Udin tersenyum saja. Dulu hidup begitu menarik buatnya. Sekarang, seakan hidup itu tidak ada perlunya. Tetapi, ia juga belum ingin mati, tapi ngapain juga hidup.


"Iya, sih..."




______________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.