Featured post

Menikahi Janda Kaya Untuk Biaya Kuliah

Ada orang ketuk pintu. Rian membuka kamar kostnya. Rupanya ibu kostnya, Bu Rahma. "Ibuk masak agak banyak, Nak Rian," katanya. &qu...

Budaya Belajar dan Bertanya

Budaya bertanya
Cerita ini bercerita dua pelajar. Dalam cerpen ini dikisahkan tentang dua remaja yang berbeda dalam menyelesaikan pendidikannya. Andre sekolah sambil berwirausaha, bahkan sudah sukses. Semoga cerpen singkat ini memberi manfaat.

Siswa Calon Pengusaha Sukses

"Aku ingin jadi pebisnis, kuliah jurusan apa enaknya ya?"

Andre sudah lebih dulu terjun ke dunia bisnis. Dia jualan pakaian seperti baju, kerudung, dan semacamnya. Awalnya hanya menerima titipan tetangga. Kebetulan dia pulang pergi dari kampung ke sekolahnya di kota, jadi tetangga di desa kadang titip. Akhirnya ia tahu kebutuhan mereka, sekalian aja ia kulaan produk-produk paling diminati tetangganya. Itulah awal cerita wirausahanya. Sekarang dia sudah punya penghasilan banya dari usaha jualan online.

"Dunia bisnis itu tidak tentu," jawab Andre. "Barang yang laris tahun ini, bisa jadi tahun depan tidak laku."

"Iya juga ya. Apa enak ambil jurusan pertanian aja ya?"

"Bisnis itu intinya penjualan. Kalau sudah mahir marketing, barang apa saja bisa dijual."

Andre sedang janjian sama suplier gamis. Lumayan, ia berani nasih harga murah. Tapi tidak datang juga. Untungnya ada Dicky yang jua enggan pulang, akhirnya keduanya ngobtol di pos satpam.

"Kamu udah pengalaman ya, Bro."

"Lumayan. Yang perlu dipersiapkan itu mental sih. Coba kamu baca artikel ini, bagus kayaknya."

Budaya Belajar yang Baik

Belajar bukan sekedar kewajiban, tapi keharusan. kita makan nasi, karena tahu nasi mengenyangkan. Kita datang ke restoran, karena tahu di sana banyak makanan enak. Artinya pengetahuan itu penting. Pepatah mengatakan, "Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya berarti tidak belajar". Pengetahuan ibarat penerang jalan kehidupan.

Namun, pada kata pepatah di atas, pada kalimat kedua "...banyak bertanya berarti tidak belajar." Di negeri yang terkenal dengan budaya lisannya ini mungkin masih wajar bertanya banyak pada seseorang yang dianggap lebih tahu. Namun, di beberapa negara maju, kalimat tersebut sangat benar.

Pernahkah anda bertanya pada seseorang, kemudian dia menjawab dengan muka masam dan menakutkan? Intonasi bicaranya naik. Apakah dia pelit? Atau anda yang terlalu banyak bicara? Pelajar di negeri yang kaya ini sudah biasa datang ke sekolah dengan hampa (Tidak semua). Ya, pokoknya datang. Kemudian mendengarkan penjelasan guru, ada yang melamun. Di negara-negara maju, biasanya siswa datang ke kelas dengan membawa sedikit ilmu yang akan didiskusikan di kelas. Sehingga kelasnya asyik sekali karena ilmu datang dari banyak sumber.

Di beberapa group di facebook, budaya belajar mandiri sudah mulai membudaya. Ketika seseorang bertanya hal yang sangat mendasar, bukannya dijawab, kebanyakan teman-teman menjawab begini, "Cari di google, belajar dan pahami sendiri. Kalau ada kesulitan, ke sini lagi." Luar biasa. Memang begitu seharusnya.

Perpustakaan sudah banyak, google tidak pernah libur. Sudah begitu mudahnya belajar di jaman sekarang. Kalaupun ingin bertanya, tanyalah begini "Apa saja yang perlu saya pelajari?" Nanti akan ditunjukkan bab-bab nya. Lalau cari sendiri di google atau buku. Setelah itu, baru sharing.

Masak, bilangnya ingin menjadi dosen di fakultas hukum, terus tanyanya "Definisi hukum itu apa ya?". Definisinya saja belum tahu, bilangnya mau jadi dosen. Terus tanyanyta di forum. Kan unik.

Biasakan/budayakan research.

Baca juga: Sapi lebih berharga daripada sekolah bagian 1

Membangun Mental Bisnis

"Kamu suka baca, Bro?"

"Bukan suka sih, sekedar cari tahu aja."

Dikcy anak orang berkecukupan. Hidupnya santai, segala kebutuhannya terpenuhi oleh orang tuanya. Berbeda dengan Andre, dia anak desa, penghasilan orang tua pas-pasan. Sejak awal memutuskan sekolah SMA, dia sudah punya keinginan kuat untuk bisa hidup layak. Karena itulah ia selalu berusaha mencari wawasan baru, entah dengan browsing di internet atau dari teman baru.

"Jualan online susah nggak, Bro?"

Andre tersenyum. Karakter santai memang beda dengan sang pemimpi. Kalau cewek yang tanya begitu, asyik, pikir Andre. Pikirnya, mana ada urusan yang tidak susah di dunia ini. Semua yang baru dimulai, tidak mudah. Maklum, Andre paham, temannya ini hidup serba ada. Dia tidak pernah mersakan bagaimana mengusahakan yang tidak ada menjadi ada. Bagi dia, segalanya tinggal minta.

"Bisnis itu, yang penting berani mulai dan cermat. Pasti berhadapan dengan risiko."

"Kamu mau kuliah jurusan apa nanti?"

Andre paham, Dicky ingin meniru dirinya. Dia masih buta jalan, bagaimana seharusnya menjalani kehidupan ini. Ia ingin langsung sukses seperti Andre yang sudah berhasil sukses dalam bisnis online. Dicky mencari cara instan. Begitulah pendidikan yang ia dapatkan selama ini. Pikirnya, dengan mengikuti jejak Andre, dia akan jadi sukses juga.

"Saya mau ambil jurusan ilmu komunikasi."

"Enak itu? Kerjanya apa nanti?"

Begitulah kalau lagi ngobrol sama Dicky. Andre kurang sreg sama dia. Tidak ada hal yang penting yang bisa dibicarakan.

Mahasiswi Cantik

Akhirnya yang Andre tunggu datang juga. Andre menghampirinya yang sudah berada di depan gerbang sekolah. Rupanya dia masih muda. “Cantik banget, Bro,” kata Dicky setelah cewek itu membuka helmnya. Andre tersenyum saja. Lalu mereka kenalan.

“Masih sekolah, Mbak?” tanya Dicky.

“Kuliah.”

“Ow, jurusan apa?”

“Pendidikan.”

“Wah, calon guru bisnis juga, Mbak.”

“Ya, begitulah.”

Lalu dia membahas bisnsinya dengan Andre. Dia membawa beberapa sampel gamis dan beberapa celama jua pakaian anak. Andre melihat-lihat gambar produknya, memilih yang memang disukai pelanggannya. Dicky menyaksikan mereka berdua. Tampak serius mereka, Dicky belum pernah punya urusan seserius itu. Andai dia yang dapat kenalan cewek seperti mahasiswi tersebut, pasti dia ajak kencan. Andre memang beda.

“Langsung balik, Mbak?” tanya Andre.

“Masih mau ditraktir?” katanya.

“Mau?”

Dicky jadi iri.

Mbaknya malu-malu mau. “Boleh.” Andre mengajaknya ke rumah makan spesialnya. Dicky terpaksa pamit.


Belum ada Komentar untuk "Budaya Belajar dan Bertanya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel