Home » , , , , , , , , , , , , » Siswa Tidak Bersalah Karena Salah

Siswa Tidak Bersalah Karena Salah


______________________________________________________________

Membaca berita di merdeka.com tentang 5 siswa yang nekad setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lulus UNAS. Ada yang mengamuk memecahkan kaca sekolah, merusak ruang kepala sekolah, bahkan ada yang bunuh diri. Ada cerita yang unik, salah satu siswa SMP melempar atap sekolah SMA setelah tahu kakak kandungnya yang sekolah di SMA tersebut tidak lulus.

Saya juga seorang guru. Melihat peristiwa itu semua, ada pertanyaan yang muncul dalam diri saya dan ingin mengajak semuanya untuk bertanya demikian, “Apa itu belajar?” Saya tidak hendak bicara teori dari beberapa ahli pendidikan yang sudah diakui teorinya untuk memberi definisi terhadap belajar. Tetapi pertanyaan ini akan lebih tepat bila ditanyakan oleh para orang tua dan guru pada diri sendiri.
Setiap manusia berakal tentu berbuat jika ada niat. Dia selalu berbuat sesuai ilmunya, menurut pengetahuannya, bukan meniru-niru orang lain.

Ketika orang tua menitipkan anaknya ke sekolah, apakah yang ada di benaknya? Agar dapat ijasah sehingga dikatakan pintar oleh orang banyak? Agar mendapat pengalaman belajar bersama teman-temannya di sekolah? Agar mendapat ilmu yang
bermanfaat untuk masa depannya? Atau apalah?

Jika jawabannya yang pertama, saya kira mudah saja, tidak terlalu sulit. Tanpa belajar pun generasi kita bisa mendapat ijasah. Banyak sekali akal untuk mendapatkan ijasah, apalagi bagi orang tua yang beruang.

Jika jawabannya adalah yang kedua, saya rasa, tidak mendapat ijasah pun tidak apa-apa, yang penting sudah pernah belajar, sudah mendapat pengalaman.

Jika jawabannya adalah yang ketiga, saya berani berpendapat, sekolah saja tidak cukup, sekalipun diberi seratus ribu ijasah. Sekolah bukanlah lautan ilmu, bahkan danau ilmu pun masih kurang tepat. Saya bandingkan, adakah orang tua, terutama yang kaya, mau memasrahkan pengasuhan anaknya pada orang lain yang kurang mampu ekonominya? Saya kira tidak ada. Bahkan, saya yakin tidak ada orang tua, andai dia benar-benar orang tua, yang mau menyerahkan sepeuhnya pengasuhan anaknya pada orang lain. Orang tua yang penyayang tidak akan pernah puas memberi untuk anaknya.

Apalagi tentang pendidikan. Benarkah orang tua mau memasrahkan seratus persen pendidikan anaknya ke sekolah? Dan mereka cukup bersntai di rumah, karena merasa sudah bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya? Benarkah itu sudah cukup untuk buah hati anda?
Terutama seorang ibu, saya yakin hatinya akan berkata tidak.

Definsi belajar. Menurut saya masing-masing orang tua punya pengertian sendiri-sendiri. Saya sendiri mendefinisikan pendidikan sebagai usaha berubah menjadi lebih baik, tidak harus ditentukan objek yang dipelajari. Menurut saya, keberhasilan belajar bukan menguasai Matematika, Fisika, Sejarah, dan semacamnya. Tetapi, belajar adalah perubahan yang terus menerus dilakukan untuk menjadi yang lebih baik.  

Ya, terus-menerus. Bukan sampai UNAS, bukan berhenti setelah bergelar sarjana atau profesor. Kehidupan tidak statis.

Ada yang lebih penting dari sekedar memberi pengetahuan ini dan itu, yakni pembangunan budaya belajar dan cinta membaca. Bukan budaya menjawab soal-soal pilihan ganda. Bukan budaya tawar menawar nilai berupa angka. Jika nilai angkanya kecil, ngerjakan tugas lagi, berubahlah nilai tadi menjadi lebih besar.

Justru siswa yang malas dan nakal kadang lebih sukses belajar. Dia memang tidak tahu banyak ilmu-ilmu yang diajarkan di kelas, tetapi dia menekuni sesuatu yang diminati dan terus mempelajarinya. Dalam dirinya tertanam budaya belajar mandiri. Hanya saja, guru dan orang tua sering menghinanya karena yang ia pelajari tidak sama dengan teman-temannya di sekolah.

Jika belajar adalah usaha berubah menjadi lebih baik, jadi tidak perlu menanamkan pemikiran pada generasi bahwa sekolah adalah satu-satunya penentu nasib masa depan, terlebih program UNAS. Tak perlu ada pelajar yang bunuh diri, menagis, atau mengamuk seperti orang gila hanya karena tidak bisa memenuhi permintaan pembuat soal UNAS.

______________________________________________________________

4 comments:

  1. bgus artikel nya pak,,thnks
    folback done #13 salam kenal pak

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga
    semoga sama2semakin sukses

    ReplyDelete
  3. Nice share gan.
    emang susah kalau di dalam dunia pendidikan Orang tua ama sekolah tidak atau sedikit berkomunikasi.
    Pendidikan akan berhasil kalau semua elemen saling mendukung.

    ReplyDelete
  4. Sepakat.
    Makasih kunjungannya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.