Siswa Tidak Bersalah Karena Salah

tentang siswa
Cerita ini hanyalah fiksi tentang guru, tentang sekolah, tentang siswa, juga tentang manajemen. Cerpen singkat ini berusaha menanggapi tentang permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan.

Tentang Ibu Guru Kepala Sekolah

Bu Sulis tidak segera pulang, sudah sekitar satu jam yang lalu bel pulang berdering. Biasanya guru-guru pulang sekitar 15 menit setelah semua siswa pulang. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa guru dan satpam. Bu Sulis masih di ruangannya. Seminggu ini banyak masalah terjadi. Ia punya empat wakil, tapi dirinyalah penanggung jawab utama.

"Jam pelajaran Bahasa Inggris ini terlalu sedikit."

Pak Hamdi selalu komplain pada waka kurikulum. Dulu sering protes karena jamnya terlalu banyak. Begitiulah beliau. Waka kurikulumnya juga kadang naik darah, tak jarang saling bersitegang. Untungnya Bu Sulis menempatkan ruang guru jauh dari kelas, agar tak mudah terjangkau oleh siswa. Biasanya, ruang guru merupakan tempat rehat sejenak saat guru tidak punya jam ngajar. Saat manusia rehat itu pasti santai, seringnya kurang memperhatikan perkataan dan perbuatan. Nah, ini bahaya jika kebetulan berbuat salah lalu ketahuan siswa. Siswa akan sulit hormat kalau tahu kekurangan dan keburukan guru. Tak ada manusia yang tak punya kekurangan dan salah, untuk itulah Bu Sulis membatasi interaksi guru dan siswa di waktu-waktu tertentu.

"Sampeyan komplain terus sih, Pak," sahut waka kurikulum. "Kayak perempuan."

"Huuuuuu...!!" Seru beberapa guru perempuan. "Kena dah, kena...!!"

Ada guru yang sering sakit. Wajar, guru baru, gaji masih sedikit, sepulang ngajar jadi kuli. Kecapean mengganggu kesehatan. Ada guru yang sudah ngelawak, bikin senang memang, tapi kadang kelewat melebihi batas. Ada guru yang berani godain dirinya, mungkin karena janda. Ada banya cerita.

"Bu Sulis naik motor sendiri?"

"Iya."

"Tidak ingin ada yang anterin, Bu?"

Padahal Pak Jony masih baru. Sekitar tiga bulan lalu ia bergabung menjadi guru. Akhir-akhir ini mulai berani godain kepala sekolah. Padahal umurnya masih muda, baru selesai kuliah. Bu Sulis membaca sebuah artikel di sebuah website.

Baca Juga: Budaya Belajar dan Bertanya

Tulisan Tentang UNAS

Membaca berita di merdeka.com tentang 5 siswa yang nekad setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lulus UNAS. Ada yang mengamuk memecahkan kaca sekolah, merusak ruang kepala sekolah, bahkan ada yang bunuh diri. Ada cerita yang unik, salah satu siswa SMP melempar atap sekolah SMA setelah tahu kakak kandungnya yang sekolah di SMA tersebut tidak lulus.

Saya juga seorang guru. Melihat peristiwa itu semua, ada pertanyaan yang muncul dalam diri saya dan ingin mengajak semuanya untuk bertanya demikian, “Apa itu belajar?” Saya tidak hendak bicara teori dari beberapa ahli pendidikan yang sudah diakui teorinya untuk memberi definisi terhadap kata belajar. Tetapi pertanyaan ini akan lebih tepat bila ditanyakan oleh para orang tua dan guru pada diri sendiri. Setiap manusia berakal tentu berbuat jika ada niat. Dia selalu berbuat sesuai ilmunya, menurut pengetahuannya, bukan meniru-niru orang lain.

Ketika orang tua menitipkan anaknya ke sekolah, apakah yang ada di benaknya? Agar dapat ijasah sehingga dikatakan pintar oleh orang banyak? Agar mendapat pengalaman belajar bersama teman-temannya di sekolah? Agar mendapat ilmu yang bermanfaat untuk masa depannya? Atau apalah?


Jika jawabannya yang pertama, saya kira mudah saja, tidak terlalu sulit. Tanpa belajar pun generasi kita bisa mendapat ijasah. Banyak sekali akal untuk mendapatkan ijasah, apalagi bagi orang tua yang beruang. Jika jawabannya adalah yang kedua, saya rasa, tidak mendapat ijasah pun tidak apa-apa, yang penting sudah pernah belajar, sudah mendapat pengalaman.

Jika jawabannya adalah yang ketiga, saya berani berpendapat, sekolah saja tidak cukup, sekalipun diberi seratus ribu ijasah. Sekolah bukanlah lautan ilmu, bahkan danau ilmu pun masih kurang tepat. Saya bandingkan, adakah orang tua, terutama yang kaya, mau memasrahkan pengasuhan anaknya pada orang lain yang kurang mampu ekonominya? Saya kira tidak ada. Bahkan, saya yakin tidak ada orang tua, andai dia benar-benar orang tua, yang mau menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anaknya pada orang lain. Orang tua yang penyayang tidak akan pernah puas memberi untuk anaknya.

Apalagi tentang pendidikan. Benarkah orang tua mau memasrahkan seratus persen pendidikan anaknya ke sekolah? Dan mereka cukup bersantai di rumah, karena merasa sudah bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya? Benarkah itu sudah cukup untuk buah hati anda? Terutama seorang ibu, saya yakin hatinya akan berkata tidak.

Definsi belajar. Menurut saya masing-masing orang tua punya pengertian sendiri-sendiri. Saya sendiri mendefinisikan pendidikan sebagai usaha berubah menjadi lebih baik, tidak harus ditentukan objek yang dipelajari. Menurut saya, keberhasilan belajar bukan menguasai Matematika, Fisika, Sejarah, dan semacamnya. Tetapi, belajar adalah perubahan yang terus menerus dilakukan untuk menjadi yang lebih baik. Ya, terus-menerus. Bukan sampai UNAS, bukan berhenti setelah bergelar sarjana atau profesor. Kehidupan tidak statis.

Ada yang lebih penting dari sekedar memberi pengetahuan ini dan itu, yakni pembangunan budaya belajar dan cinta membaca. Bukan budaya menjawab soal-soal pilihan ganda. Bukan budaya tawar menawar nilai berupa angka. Jika nilai angkanya kecil, ngerjakan tugas lagi, berubahlah nilai tadi menjadi lebih besar.

Justru siswa yang malas dan nakal kadang lebih sukses belajar. Dia memang tidak tahu banyak ilmu-ilmu yang diajarkan di kelas, tetapi dia menekuni sesuatu yang diminati dan terus mempelajarinya. Dalam dirinya tertanam budaya belajar mandiri. Hanya saja, guru dan orang tua sering menghinanya karena yang ia pelajari tidak sama dengan teman-temannya di sekolah.

Jika belajar adalah usaha berubah menjadi lebih baik, jadi tidak perlu menanamkan pemikiran pada generasi bahwa sekolah adalah satu-satunya penentu nasib masa depan, terlebih program UNAS. Tak perlu ada pelajar yang bunuh diri, menagis, atau mengamuk seperti orang gila hanya karena tidak bisa memenuhi permintaan pembuat soal UNAS.

Bu Sulis segera menutup laptopnya dan segera pulang. "Pulang sendiri, Bu?" Sapa Pak Jony di depan kantornya. Ruupanya beliau juga belum pulang. Bu Sulis menanggapi dengan senyum dan segera ke parkiran.

4 Responses to "Siswa Tidak Bersalah Karena Salah"

  1. bgus artikel nya pak,,thnks
    folback done #13 salam kenal pak

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga
    semoga sama2semakin sukses

    ReplyDelete
  3. Nice share gan.
    emang susah kalau di dalam dunia pendidikan Orang tua ama sekolah tidak atau sedikit berkomunikasi.
    Pendidikan akan berhasil kalau semua elemen saling mendukung.

    ReplyDelete
  4. Sepakat.
    Makasih kunjungannya

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel