Guru TIK Kemana? Ini Soal Generasi?

Guru TIK Kemana? Ini Soal Generasi?
Di dunia pendidikan, sebentar lagi memasuki tahun ajaran baru. Para generasi akan naik level, yang memenuhi syarat saja. Ada yang berubah, kabarnya. Sudah agak lama munculnya kabar pemberlakuan kurikulum baru. Yang lebih panas, kabar dihapusnya beberapa mata pelajaran, yang sangat menonjol dan sering dibahas adalah mata pelajaran Bahasa Inggris untuk SD dan TIK untuk SMP dan SMA.

Kalau ada yang dihapus, berarti gurunya juga harus dihapus dari daftar. Atau buku panduannya juga dibakar aja. Apa perusahaan LKS yang biasanya menjual ke sekolah-sekolah tidak ikut dirugikan ya? Belum saya dengar kabarnya.

Guru TIK tetap bisa berperan. Mereka bisa dimasukkan dalam Pusat Teknologi Pendidikan yang ada di sekolah untuk membantu guru dalam mempersiapkan materi ajar. Jadi mereka membantu guru-guru untuk membuat media pembelajaran berbasis teknologi. Wah, bagus. Berarti mata kuliah media pembelajaran di FKIP perlu dikurangi, agar tidak merebut peluang kerja guru dan calon guru TIK. hehe... Ini mikir generasi apa mikir uang sih?

Gimana kalau bisnis aja?

Hidup memang perlu makan. Saya rasa, lebih baik guru TIK buat lembaga sendiri, bisa berupa lembaga kursus pembuatan media, atau menyediakan media pembelajaran. Tidak harus ikut-ikutan rebutan kursi di lembaga pendidikan.

Di dekat daerah saya ada yang sampek rebutan murid. Saking banyaknya yang ingin jadi guru dan punya sekolah, satu desa sampek lebih dari 1 sekolah. Akhirnya rebutan beli siswa. Biasanya murid itu bayar untuk daftar, karena sudah jadi rebutan, malah dibayar. Ini mikir generasi atau mikir apa?

Kalau guru bahasa Inggris, asal mereka memang benar-benar berilmu, bukan hanya berijasah, banyak sekali peluangnya. Bahasa asing ini selalu dibutuhkan. Cuma masalahnya, kebanyakan sekolah menjadi tempat yang aman bagi mereka yang berijasah tapi kurang skill dan kurang ilmu.

baca juga: Wali Murid Komplain Anaknya Dihukum

***

Tentang Nasib Guru TIK

"Kamu ngajar dimana?"

"SMP Al Fatih," jawab Fandi dengan lesu.

Keduanya tidak sengaja bertemu di minimarket. Masih ingat dulu waktu ospek di kampus. Fandi baru kenal sama Rofiq. Keduanya sempat berbincang tentang masa depan yang tampak cerah. Janji sang presiden akan menggaji guru minimal 10 juta hingga 15 juta. Kini kabar itu tinggal kenangan.

"Berapa gaji di situ?"

"Belum."

"Maksudnya, belum digaji?"

"Begitulah."

"Terus buat beli bensin?"

Fandi tertawa, "Minta sangu."

"Hahahaha... ndak cuma siswa yang minta sangu."

"Masuknya bayar..."

"Berapa?"

"Lima juta."

"Astaghfirullah. Kok mau kamu, Bro?"

"Demi masa depan."

"Terus kapan mau digaji?"

"Nunggu satu semester. Kamu?"

"Aku buka les privat. Mau gimana lagi, pelajaran TIK mau dihapus. Mending berhenti aja jadi guru."

"Berapa per siswa?"

"Seratus ribu sebulan."

"Wuihh... Mahal bro?"

"Lumayan." Rofiq mendekat, agak berbisik, "Les privat itu gampang bro, kerja sama dengan guru di sekolahnya, suruh kasih nilai gabus. Bagi hasil sama gurunya."

Fandi mencoba mencerna, mencoba memahami maksud Rofiq. "What?! Nggak dosa, Bro?"

"Ah, kayak gini ni udah biasa di dunia pendidikan. Mana ada nilai asli?"

"Benar juga ya."

2 Responses to "Guru TIK Kemana? Ini Soal Generasi?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel