Menyoal Sila Satu Ketuhanan Yang Maha Esa



CERPEN. "Bikin mangkel aja wali murid yang satu ini. Selalu bawa-bawa agama," kata Bu Sulis, guru BK, usai menerima telefon dari salah satu wali muridnya.

Guru-guru di ruang itu sudah sangat paham. Pasti orang tua Si Leo. "Padahal namanya Leo, bukan nama islam," komentar Bu Ida. "Iya, kelakuannya juga tidak mencerminkan anak berakhlak," tambah Bu Sutin. "Ayahnya selalu nyalahin guru. Wong memang anaknya yang nakal," kata Bu Fatma. "Yang lainnya loh, tidak ada yang begitu," kata Bu Ima. Bu Ismi, guru termuda yang baru lulus S1, hanya berkomentar dalam hati dengan kebingungannya. Sedangkan Bu Ela asyik mendengarkan lagu dangdut di ponselnya.

"Hidup di Indonesia kok ngomongin agama melulu," lanjut Bu Sulis. "Nggak sekalian pindah ke arab sana. Ikut perang."


"Istrinya pakai cadar itu, Bu," sahut Bu Sutin.

"Pantesan. Jangan-jangan teroris, ingin mengubah Indonesia jadi negara islam."

"Mau dirikan Khilafah."

Bu Ismi masih canggung. Dia baru sebulan menjadi pengajar di sekolah ini, masih polos. Belum ada guru yang menjadi teman akrabnya. Mau ikut geng-nya Bu Sulis, tidak berani. Untuk menutupi kecanggungannya, ia menyibukkan diri dengan membaca. Ruang guru masih menakutkann baginya. Satu-satunya sahabat yang selalu menemaninya bercerita adalah buku hariannya. Ia tulis di sana dengan huruf kapital semua.

DIARY,

BUKANKAH SILA SATU ITU KETUHANAN YANG MAHA ESA?

BUKANKAH ITU ARTINYA KITA HARUS HIDUP BERDASARKAN AJARAN TUHAN?

BUKANKAH PEKERJAAN GURU ITU MENDIDIK?

ANAK YANG TIDAK BAIK DIDIDIK AGAR JADI BAIK?

BUKANKAH ANAK YANG TIDAK BAIK PUNYA POTENSI JADI ANAK BAIK?

Terdengar salah seorang siswa yang sedang lewat di depan ruang guru menyebut kelamin perempuan. Semua yang di dalam ruangan mendengar. Sebagian dari mereka geleng-geleng kepala. “Anak jaman sekarang,” kata Pak Rusdi. “Nggak ada takutnya,” tambah Bu Ima. “Kayak nggak ada dosa.”

Pak Ardian yang kebetulan melihat siswa tersebut ikut berkomentar, “Sering saya lihat keluar dari hotel Melati anak itu sama ceweknya.”

“Siswa sini juga, Pak, ceweknya?” Tanya Bu Ima.

“Ganti-ganti, Bu.”

“Wah, kalah Pak Ardian. Gurunya masih jomblo, muridnya sudah laris gonta-ganti pasangan.”

“Siapa, Pak?”

“Edi.”

“Edi kelas XI IPS dua?”

“Iya.”

“Dia itu nakalnya main perempuan. Kalau si Alfan, kelas XII IPS satu, kriminal nakalnya. Pernah begal kan dia, ketangkap kadesnya sendiri.”

“Kok tidak dipenjara?” Bu Ima kaget mendengarnya.

“Ditebus sama Bapaknya. Anak orang kaya, Bu. Katanya bapaknya dia tim sukses kadesnya dulu.”

“Bapaknya Bos kayu itu. Mobilnya empat.”

“Istrinya empat juga?”

“Yang resmi satu, kalau yang tidak resmi, ndak tahu.”

“Menakutkan anak kayak gitu. Mending kayak si Edi,” imbuh Bu Ima.

“Wah, Bu Ima mau juga?”

“Mau apa?!”

“Jadi salah satu teman malamnya Edi?”

“Amit-amit ya… Suamiku masih normal.”

“Brondong lebih agresif, Bu,” sahut Bu Sulis.

“Iya juga ya, hahahaha…!! ndak, ndak, ndak mau saya. Mending yang halal. Yang ada saja diopeni.”

***

“Hari minggu ada acara?” tanya Vina lewat voice call Whatsapp.

“Tidak ada, Mel. Kenapa?”

“Ikut kopdar yuk!”

“Kopdar apaan?”

“Kopdar komunitas guru di alun-alun Bondowoso, di utaranya monument gerbong maut.”

Bu Ismi meng-iya-kan ajakan temannya. Ia berharap bertemu guru-guru profesional yang memang benar-benar guru yang niat mendidik generasi bangsa. Vina lebih dulu mengajar di salah satu sekolah swasta di Bondowoso, sejak dia masih semester tiga dulu. Berkat keaktifannya di organisasi kampus, di punya banyak relasi.

Hari Minggu pagi, jam 06.30 Bu Ismi berangkat ke alun-alun Bondowoso. Seperti biasa, rame di sana: acara car free day. Dia langsung menuju lokasi. Ternyata Vina sudah di sana bersama dua temannya. “Kenalin, Bu Ramla dan Bu Fatimah,” kata Vina. Bu Ismi berkenalan dengan mereka. “Dia teman kuliah saya, Bu. Sudah ngajar juga sekarang.” Bu Ismi masih tampak malu-malu.

“Bu Ramla ini kepala sekolah, Mi,” kata Vina. “Beliau membuat program Guru Wajib Ngaji di sekolahnya. Menurut beliau, sebagai mahluk Tuhan, kita wajib memahami ajarannya; caranya dengan mengaji.” Bu Ramla tersenyum. “Beliau mewajibkan semua warga sekolahnya, termasuk tukang kebun, untuk mengawali aktivitas dengan membaca Al Quran setiap hari.”

“Kecuali yang non-muslim,” tambah Bu Ramla.

“Laki perempuan dipisah ya, Bu?”

“Tidak. Mereka masih campur satu kelas. Masih belum bisa dipisah. Tetapi kantin dan perpustakaan kami pisah: ada kantin putra dan kantin putri. Di luar jam pelajaran, ada petugas yang khusus mengawasi pergaulan siswa.”

“Guru-gurunya tidak ada yang protes, Bu?”

“Tidak ada. Tujuannya baik, mau protes apa?”

“Kan ada juga yang bilang pacaran itu hak asasi dan tidak dilarang undang-undang negara.”

“Sila satu itu sila ketuhanan. Jadi, siapapun yang hidup di negara ini wajib beragama. Beragama itu maksudnya menjalankan ajaran agama yang dianutnya seutuhnya, bukan setengah-setengah. Jadi, jika ada orang yang tidak menjalankan ajaran agama, berarti dia menyepelekan pancasila. Untuk menjalankan ajaran agama itu butuh ilmu. Karena itulah saya menyusun kurikulum kajian agama untuk para guru.”

“Wah, luar biasa,” kata Bu Ismi.

“Bagaimana mereka bisa mendidik anak-anak menjadi insan berketuhanan kalau mereka sendiri tidak menjalankan ajaran agama secara utuh? Jadi, menurut saya, di fakultas keguruan ini seharusnya materi psikologi dan keagamaan itu jadi yang utama. Spirit mendidik itu bisa lahir dari dua ilmu tersebut.”

Tak lama kemudian anggota yang lain pun berdatangan.

“Sampai hari ini, saya rutin ikut kegiatan tahsin, memperbagus bacaan Quran. Semoga bisa menghafal Quran 30 juz bersama semua bawahan saya dan murid-murid saya, sahabat-sahabt saya juga. Pastinya keluarga saya juga.”

“Aamiin.”

“Alhamdulillah, sudah ada dua guru yang hafal 30 juz. Itu kata ustadz pembimbing tahfidz yang saya tugasnya untuk membimbing para guru.”

Bu Ismi terharu mendengar cerita Bu Ramla. Tak terasa air matanya mau menetes karena rasa haru.

“Siapa yang tidak mendambakan surga terbaik, para penghafal Quran oleh Allah dilewatkan di semua pintu surga, semua malaikat disuruh menyambut di semua pintu surga dan mengucap salam, dihias dengan jubah kebesaran dan mahkota dari cahaya. Bahkan bisa mengajak pasangan dan keturunan. Kedua orang tuanya juga dihiasi mahkota dari cahaya. Setiap melihat ke pintu surga, keindahannya tak pernah terbayangkan. Betapa indahnya surga teratas yang akan ditempati. Orang-orang di dalam surga yang dilalui menyesal karena tak menghafal Quran ketika di dunia.”

bersambung...

Kisah Cinta Bidadari Tercantik, Ainul Mardhiah



Cerita cinta yang unik ini terjadi pada seorang sahabat Nabi. Waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberi semangat jihad kepada para sahabat pada bulan puasa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid karena Allah akan dikaruniai bidadari tercantik bernama Ainul Mardhiah.” Ada salah seorang sahabat yang masih muda penasaran mendengar nama Ainul Mardhiah.

Bidadari digambarkan sangat cantik, tak pernah terbayangkan kecantikannya. Bidadari tidak pernah disentuh oleh jin dan manusai. Bahkan ada riwayat yang mengatakan, andai bidadari meludah sekali saja pada lautan, maka air laut di seluruh dunia akan harum wangi kasturi. “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan” (Ar Rahman ayat 58). Nah, sedangkan yang ini adalah bidadari tercantik. Rasa penasaran menguasai jiwanya, tetapi ia malu untuk bertanya pada Nabi dan sahabat yang lain.

Sesaat setelah itu waktu dzuhur tiba. Para sahabat menyempatkan tidur sejenak sebelum berangkat berperang sesuai sunnah Rasul. Dalam tidurnya sahabat yang sedang dilanda rasa penasaran pada kecantikan Ainul Mardhiah ini pun bermimpi berada di suatu tempat yang sangat indah yang belum pernah ia lihat keindahannya. Kisah ini ada dalam riwayat Imam Tirmidzi. Di sana ia bertemu dengan wanita cantik yang belum pernah ia lihat kecantikannya. “Dimanakah ini,” tanyanya pada wanita itu.

“Inilah surga.”

Dengan rasa penasarannya, “Apakah kamu Ainul MArdhiah?” tanyanya.

“Bukan. Saya bukan Ainul Mardhiah. Kalau kamu ingin bertemu dia, dia sedang istirahat di bawah pohon yang rindang itu.”

Sahabat itu pun segera mendekati pohon itu dan ditemuinya seorang wanita yang jauh lebih cantik dari yang tadi. Ia pun mengira bahwa dialah Ainul Mardhiah, bidadari tercantik. “Kamukah Ainul MArdhiah?”

“Bukan. Saya penjaganya. Jika ingin bertemu dia, itulah singgasananya.”

Segera sahabat itu pun menuju istana indah yang ditunjuk wanita cantik tadi. Di mahlidainya ia bertemu dengan wanita sangat cantik yang jauh lebih cantik dari wanita tadi. Dia sedang membersihkan perhiasan dengan lap cantik. “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

“Bukan. Saya penjaga mahligai ini. Dia berada di mahligai itu.”

Sahabat itu pun menuju mahligai tersebut. Ditemuinya wanita cantik yang jauh lebih cantik dari wanita cantik tadi. Wanita ini tampak pemaluu sekali. “Apakah kamu Ainul Mardhiah?”

“Iya, benar. Saya Ainul Mardhiah.”

Akhirnya, ia temui bidadari tercantik. Tak tertandingi kecantikannya. Tak ada pelukis yang pernah menghayalkan kecantikannya.  Ia pun mendekati Ainul Mardhiah, tapi ia menghindar, “Kamu bukan orang yang mati syahid,” katanya. Seketika ia pun terbangun.

Ia menceritakan kisah indah dalam mimpinya pada sahabat lain yang sangat ia percaya. Ia meminta sahabat tersebut untuk merahasiakannya hingga ia mati syahid untuk bertemu Ainul Mardhiah. Maka ketika komando jihad diteriakkan ia pun segera pergi ke medan jihad dengan penuh semangat untuk bertemu kekasih pujaan di surga. Allah pun menganugerahkan syahid padanya.

Saat petang tiba, sahabat kepercayaan yang mendengar cerita mimpi sahabatnya tadi menceritakannya pada Rasulullah. “Sekarang ia bahagia bersama Ainul Mardhiah,” begitu jawaban Nabi.


Ajaran Kelompok Sesat

Cerpen, cerpen asmara, cerpen bahasa Indonesia, cerpen cinta, CERPEN ISLAMI,
CERPEN. Abdurrahman sedang mengedit foto pemandangan yang ia ambil dengan kamera ponselnya sore tadi di sawah. Fotografi, khususnya landscape fotography menjadi hobi barunya sejak beberapa bulan terakhir, sejak ia memiliki smartphone canggih yang harganya lumayan mahal.

"Abdurrahman."

Mendengar suara panggilan ibunya, Abdurrahman segera keluar dari kamarnya. "Iya, Bu."
"Sini."

Abdurrahman pun mendekat dan duduk di samping ayahnya di sofa, berhadapan dengan ibunya.

"Tadi siang ibu sama bapak main ke rumah Bu Diah."

"Guru SMA Rahman?"

"Iya. Dia nanyain kamu: kenapa belum nikah."

"Mau ditawari calon istri?"

"Iya. Sesuai kriteriamu, bahkan dia bukan hanya lulusan pesantren, tapi yang punya pesantren."

"Ow."

Responnya membuat ibunya terkejut. Selama ini Abdurrahman taat ibadah, banyak melakukan amalan sunnah, mendambakan istri taat ibadah. Seharusnya sangat bergembira dijodohkan sama anak pengasuh pesantren. "Kamu tidak suka?"

"Perlu kenal dulu."

Bu Diah menjadi perantara pertemuan Abdurrahman dengan calonnya. Keduanya bertemu di rumah Bu Diah.

***

"Bagaimana, kamu mau kan sama dia?"

"Dia yang tidak mau."

Jawaban Abdurrahman sangat mengejutkan ibunya dan beliau langsung ke rumah Bu Diah ingin tahu sendiri kebenarannya. "Katanya sudah ingin menikah? Kok tidak mau sama Abdurrahman?!"

Bu Diah geleng-geleng kepala. "Saya kaget, Tin." Bu Diah biasa memanggil Ibunya Abdurrahman dengan panggilan Tin, suku kata akhri dari Sujiatin. "Anakmu terlalu berambisi."

"Berambisi bagaimana?"

"Masak dia bilang mendambakan keluarga penghafal Quran dan tak mau mendengarkan musik atau nyanyian-nyanyian. Dia ingin keluarganya jadi ahli ilmu dan ahli ibadah. Katanya dia tidak mau hidup dengan wanita yang menyepelekan ilmu. Katanya, jika sudah berilmu, ya hidup sesuai ilmu. Begitu kata dia. Kalau semua ilmu agama mau diamalkan, seberapa banyaknya?!"

Bu Sujiatin bingung mau jawab apa. Bingung. "Bukankah itu keinginan baik?"

"Masak hidup cuma isinya ibadah terus?! Paling anakmu dikira ikut aliran sesat. Sekarang kan lagi marak aliran sesat. Mereka kan memang rajin ibadah, sering di masjid. Sayangnya aqidahnya melenceng."

Bu Sujiatin tidak begitu paham aliran agama. Ia segera pulang hendak mengintrogasi putranya, khawatir ikut aliran yang dianggap sesat oleh orang-orang.

"Kamu ikut aliran yang sering di masjid itu? Mereka aqidahnya tidak lurus."

Abdurrahman tersenyum. "Bu, saya hormat orang tua itu karena ilmu, saya berperilaku baik juga karena punya ilmu. Saya yakin Allah ada. Saya yakin surga dan neraka ada. Apa meyakini keberadaan Allah dianggap tidak lurus aqidahnya?"

"Semua tokoh agama bilang aqidah mereka sesat."

Abdurrahman tersenyum. Dia paham kalau ibunya tak paham apa itu aqidah. "Saya sudah pernah beberapa kali ikut musyawarah bersama para tokoh desa. Kata beliau-beliau, mereka dianggap sesat karena salah meyakini tentang Allah. Tapi, Bu, meskipun mereka salah meyakini, mereka sangat yakin Allah ada, makanya taat ibadah, Al Quran pun mereka hafal agar tambah dekat dengan Allah. Mereka terus menambah ilmu. Orang tersesat, kalau terus menambah ilmu, akan paham juga nanti mana yang benar." Ibunya diam saja. "Sedangkan yang merasa aqidahnya lurus, tak semangat ibadah. Punya ilmu, tak diamalkan. Bahkan suka melakukan hal makruh. Padahal yang dicintai Allah itu yang mengerjakan amalan sunnah, lawannya amalan makruh. Menurut saya mereka ini bukan lurus aqidahnya, tapi hampir tak beraqidah, hampir tak yakin akan adanya Allah. Kalau yakin Allah bersamanya, tak mungkin mereka bersenang-senang mendengarkan lagu-lagu cinta tak halal."

"Terus, kamu mau menikah sama kelompok mereka itu?"

"Tidak harus."

"Cari masalah saja!" Bu Sujiatin tampak kesal.

Membuat orang tua sakit hati itu dosa. Abdurrahman paham itu. "Abdurrahman tidak pilih-pilih calon istri. Tapi Abdurrahman tak ingin punya anak yang tumbuh di rahim wanita yang jarang mengingat Allah. Apalagi tak mejaga lidah, mata dan pendengaran dari hal-hal tak baik."

"Itu kan tugasmu sebagai laki-laki untuk menjaganya."

"Asal dia mau saya jaga dengan cara saya."

***

bersambung...

Jika Jodohku Tak Sholehah


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Cerita Hikmah,

Laki-laki baik untuk wanita yang baik. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Begitu Firman Allah dalam Al Quran surah An Nuur ayat 26. Lalu bagaimana dengan kenyataan yang ada? Tidak sedikit laki-laki baik istrinya tidak baik, atau sebaliknya? Allah Maha Benar. Tak mungkin Ia salah. Saya pernah membaca dalam salah satu buku karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Beliau membahas masalah ini. Saya lupa buku yang mana. Buku beliau yang pernah saya baca: Agar Cinta Bersemi Indah, Kupinang Kau dengan Hamdalah, Kado Pernikahan Buat Istriku.

Ustadz Mohammad Fauzil Adhim mengisahkan seorang pria baik yang mempunyai istri yang suka marah-marah, super cerewet, dan suka mengolok-olok suaminya. Kisah ini ada dalam kitab Uqudul Lujjain karya Syekh Nawawi al-Bantani. Pria tersebut biasa mencari kayu di hutan. Di rumah ia selalu berusaha untuk menyenangkan istrinya, selalu berusaha membuat istrinya tersenyum, selalu berusaha mereda amarahnya saat istrinya marah. Tetapi tabiat istrinya memang sudah begitu. Namun, sang suami yang penyayang tak pernah berputus asa.


Suatu ketika saat ia sedang berburu di hutan, tiba-tiba ada seekor singa besar di hadapannya. Sontak ia terkejut. Jarak begitu dekat. Mau lari, ia pasti kalah cepat. Mau melawan, tidak mungkin. Di tengah kebingungannya, tak sadar rupanya harimau tersebut sudah berada tepat di hadapannya. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali pasrah saja. Ia diam saja pasrah pada keadaan.

Namun, rupanya si singa tidak hendak menerkamnya. Singa itu malah duduk di hadapannya. Ia pun duduk dan memegang kepala harimau tersebut dengan pelan. Si singa diam saja membiarkan ia membelai-belai kepalanya. Ia pun akhirnya menyadari bahwa singa tersebut ingin menjadi sahabatnya. Sejak saat itu si singa menjadi sahabatnya.

Suatu hari saudaranya datang ke rumahnya. Ia disambut oleh istrinya, "Siapa?!"

"Saya saudara suamimu. Saya hendak mengunjunginya."

"Suamiku sedang mencari kayu. Semoga dia tidak dikembalikan ke rumah ini lagi oleh Allah," jawabnya dari balik pintu. Dia terus mengolok-olok suaminya.

Sang tamu heran dengan sikapnya. Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang bersama seekor singa dengan kayu bakar dipunggungnya. Sang tamu menyaksikan dua hal yang unik: istri yang tampak buas dan singa yang jinak dan baik.

"Kembalilah ke dalam. Semoga Allah memberkatimu," katanya pada istrinya, lalu mempersilahkan sang tamu masuk. Ia gembira sekali menyambut kedatangan saudaranya itu.

Setahun kemudian ia berkunjung lagi ke rumah saudaranya. Sama seperti tahun sebelumnya, ia tidak berjumpa sudaranya, hanya istrinya di rumah. Tetapi kali ini berbeda. Ia disambut dengan ramah oleh istri saudaranya. Ia juga memuji-muji suaminya. Sang tamu heran dengan perubahan ini. Tak lama kemudian yang ditunggu datang membawa kayu bakar. Tetapi bukan seekor singa yang memikul kayu bakar itu, ia memikulnya sendiri. Karena penasaran, ia pun bertanya pada saudaranya tentang perubahan istrinya dan kemana singa yang dulu membawakan kayu bakarnya.

"Saudaraku, istriku yang dulu itu meninggal. Aku menikah lagi dengan wanita sholehah. Dulu aku bersusah payah dengan sabar menghadapi sikap buruknya, hingga oleh Allah aku dikaruniai kemampuan yang luar biasa untuk menjinakkan singa. Sekarang aku hidup dengan wanita sholehah, keahlian itu pun hilang. Si singa itu pun pergi meninggalkanku."

Versi cerita mungkin berbeda-beda. Tetapi, yang ingin saya sampaikan adalah pelajaran dari kisah tersebut yang dijelaskan oleh Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Kata Ustadz Fauzil Adhim, berkat usahanya setiap hari berusaha keras menyenangkan istri, berusaha memberi kasih sayang terbaik untuk sang istri agar ia bahagia, usaha keras tersebut telah menjadikan jiwanya kaya cinta, kaya kasih sayang, auranya kuat hingga binatang buas sekalipun bisa merasakan kehangatannya. Mungkin menurut kita sang istri tak baik, buruk ahlaknya, tapi ternyata melalui sikapnya Allah memberi manfaat bagi sang suami.

Dari kisah di atas, kita bisa memahami bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Sabar itu dibalas pahala. Jika siang malam ia bersabar atas siakp istrinya, berarti sepanjang siang malam itu juga ia mendapat pahala sabar. Tentu ia juga berusaha memahamkan istrinya tentang ahlak mulia, walau istrinya tidak kunjung berubah. Berapa besar pahala yang ia dapatkan. Itu lahan dakwah baginya. Di dalam rumah pun ia punya kesempatan berdakwah. Tetapi, bukan berarti istri boleh bersikap buruk. Setiap amal muslim laki-laki maupun perempuan akan dihisap nanti. Juga bukan berarti kita dianjurkan mencari pasangan yang buruk ahlaknya, kita harus tetap berikhtiar mencari yang terbaik. Namun, jika hasilnya tidak sesuai harapan, yakinlah itu yang terbaik yang dipilihkan Allah.

Kisah Pengorbanan Cinta Sahabat Rasulullah saw.


Kisah Sahabat Nabi, kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,

Kisah pengorbanan cinta ini terjadi dizaman Rasulullah. Mereka adalah sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya berasal dari suku Aus. Mereka adalah Handzhalah bin Abu Amir dan Jamilah. Keduanya adalah pengantin baru. Baru saja merasakan manisnya cinta. Kemesraan cinta menyelimuti keduanya.

Namun iman keduanya diuji dengan datangnya seruan jihad, seruan pada semua kaum muslimin untuk berperang. Sang pengantin baru, Handzhalah pun mendengar seruan tersebut. Berat tentunya meninggalkan istri tercinta yang baru ia nikahi. Tetapi, keindahan alam abadi jauh lebih indah dari alam fana ini.

Handzhalah segera bergabung dengan pasukan kaum muslimin hingga lupa tak sempat mandi junub. Sang istri, Jamilah, pun mendukung tekad sang suami. Ia berangkat ke bukit Uhud berperang dengan orang kafir. Jamilah, sang istri, menunggu di rumah. Dalam penantiannya ia tertidur dan bermimpi melihat suaminya terbang menuju langit. Langit terbuka, lalu tertutup lagi setelah Handzhalah masuk. Jamilah bahagia melihatnya, namun kebahagiaan tersebut segera sirna karena awan tiba-tiba datang membuatnya ketakutan.


Perang Uhud mengisahkan menyisakan cerita pilu bagi kaum muslimin karena sebagian sahabat tergiur keindahan harta rampasan perang (Ghanimah), akhirnya mereka tak sanggup melawan serangan musuh. Di awal pertempuran, kemenangan sudah tampak berada di tangan kaum muslimin, tetapi pasukan pemanah terburu-buru meninggalkan posnya. Pasukan orang kafir pun berbalik menyerang.

Handzhalah maju ke arah Abu Sufyan bin Harb dan berhasil mematahkan kaki kudanya. Abu Sufyan pun terjatuh. Namun ia ditolong oleh Syaddan bin Aswad. Ia berhasil membunuh Handzhalah, sang pengantin baru, dengan tombaknya. Banyak sahabat yang syahid dalam perang tersebut.

Rasulullah saw. mendapati jasad Handzhalah tergeletak bersimbah darah. Ada air menetes dari langit. Para sahabat heran dengan tetesan air tersebut. Sebagian dari mereka menyampaikan pada RAsulullah bahwa Handalah baru menikah. Tetapi air tersebut bukan tetesan air mata pengantin. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya para malaikat sedang memandikannya." Berkat peristiwa tersebut ia dijuluki "Ghasilul Malaikah" yaitu orang yang dimandikan malaikat.

Jamilah tidak mengira mimpinya merupakan tanda perpisahannya dengan suami tercinta di dunia. Ia tidak mengira akan menjadi janda di hari pernikahannya. Ia mengira tafsir mimpinya petanda akan terjadi fitnah sehingga ia mengumpulkan para saksi dan meminta mereka untuk menyampaikan pada masyarakat bahwa ia telah menikah dengan Handzhalah. Namun, rupanya Yang Maha Penyayang memberinya gelar istri sang syuhada.

Syahidnya Handzhalah menambah daftar kebanggan suku Aus. Kabilah Aus selalu membangga-banggakannya. Kata mereka, "Dari golongan kami ada yang dimandikan malaikat, dialah Handzhalah bin Abu Amir. Ada yang jasadnya dilindungi lebah, dialah Ashim bin Tsabit. Ada juga yang kesaksiannya disetarakan dengan kesaksian dua orang. Dia adalah Khuzaimah bin Tsabit. Ada juga yang kematiannya mengguncang Arasy Allah. Dialah Saad bin Muadz."

Puisi Neno Warisman itu Katanya Doa Rasulullah saw

kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata, Kisah Sahabat Nabi, hadits nabi saw., Sejarah Hidup Nabi saw., kisah teladan nabi muhammad, Sejarah Nabi Muhammad saw.,

Isu terbaru di acara malam munajat 212 viral menarik perhatian masyarakat Indonesia. Awalnya saya tidak tertarik untuk berkomentar, tapi setelah saya dengar komentar ulamak kebanggaan saya, Buya Yahya, saya tertarik untuk menceritakannya di sini.

Cerita doa dalam puisi kontroversi Neno Warisman ini saya dengar dari teman, katanya mengancam Allah. Saya pun coba searching di Google dan menemukan di Tribunnews isi lengkapnya. Tetapi mungkin karena saya tidak akrab dengan isu politik, saya merasa biasa ketika membaca kalimat "Kami khawatir tidak ada lagi yang menyembahnya". Dalam pemahaman saya terhadap puisi tersebut, itu saya pahami, "Kami khawatir tak ada lagi orang beriman." Merasa khawatir itu kan wajar. KARENA MERASA khawatir itulah kita MEMINTA dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, jika tidak khawatir, tak perlu berdoa.

baca juga: Saat  Perang pun Rasulullah saw. Meminta Ali ra. untuk Mengajarkan Islam pada Musuh


Berikut penggalan puisi tersebut:
.... 
Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami khawatir ya Allah

Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Ya Allah
Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin
Oleh pemimpin terbaik
Dengan pasukan terbaik
Untuk negeri adil dan makmur terbaik
Takdirkanlah bagi kami

Generasi yang dapat kami andalkan
Untuk mengejar nubuwwah kedua
Wujud dan nyata 
... 
Selengkapnya
Berikut komentar Buya Yahya:


Buya Yahya sangat berhati-hati menjelaskan. Beliau tidak membahas tentang puisi Neno, tapi khusus mengenai teksnya saja, kalimatnya saja. Rupanya itu memang doa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam perang Badr. Menurut beliau itu bukan mengancam Allah. Jadi, penjelasan Buya Yahya ini bukan mengenai tentang puisi yang dibacakan, tapi mengenai teksnya saja. Di akhir video, Buya berkata, "Saya rindu umat islam bersatu."

Namun, jika ada ulamak lain mengatakan kalimat doa tersebut menantang Allah dan tidak sopan, wallahu a'lam. Bukan kapasitas saya untuk menentang ulamak. Biarlah ulamak berurusan dengan ulamak. Kewajiban yang awam menghormati ulamak. Tetapi saya memilih tidak menilai salah sesuatu yang memang tidak salah.

Mengenai pembacaan puisi berisi doa di acara tersebut yang dinilai banyak orang ada tendensi politik, saya kurang ilmu untuk mengomentarinya. Cukup tentang kalimat doa tersebut saja, bahwa kalimat doa tersebut bukan mengancam Allah. Mengenai kata lawan, menang, kalah, yang dianggap mengarah pada pertarungan politik, saya tidak berani membahasnya.

Non Muslim Merasa Tenang Jiwanya Mendengar Bacaan Quran


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,


Tidak sengaja saya membaca komentar-komentar di bawah video Syeikh Khalid Al Jaleel yang membaca Al Quran surat Ali Imran di YouTube. Ternyata ada beberapa nonmuslim yang berkomentar. Ternyata mereka senang mendengar bacaan Al Quran. Berikut saya screenshoot komentar-komentar mereka.
kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,

Kata Leonar Floyd Lucky Suberon, "Saya seorang katholik, tetapi lagu ini sunggu mengisi hati sayay dengan kebahagiaan dan menenangkan pikiran... salamualaikum"
Kata pemilik akun bernama d3 19, "Saya bukan muslim, tapi ini sungguh menenangkan.Tolong jangan jangan berpandangan negatif dan tidak menghargai saya karena saya orang kristen. Kita semua adalah manusia. Kekerasan dan pertarungan tidak penting. Tuhan memberkati kamu semua."
Kata Ishan Narula, "Dulu saya Hindu, saya baru masuk islam. Saya bersyahadat tahun lalu di masjid dekat rumahku... Ketika aku mendengar Quran, aku merasa damai... Itu menyenangkan jiwa dan tak bisa kujelaskan dengan kata.. Agama paling indah di dunia. Ikuti Quran, saudara dan saudari.


kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,
Kata Clementine, "Saya orang Kristen, tapi saya suka lagu Al Quran dan saya menghormati setiap agama."

kisah hikmah, kisah inspiratif, kisah islam, Kisah Nyata,
Kata Marcin Okroy, "Saya bukan seorang muslim dan tidak mengerti kata yang ia nyanyikan, tapi ini indah dan aku suka mendengarkannya."

Kata Football 4Ever, "Ini sungguh mendamaikan karena ketika anak perempuanku menangis, aku menaruh ini di dekatnya dan dia berhenti menangis."

di sini Link videonya 


Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT