Ustadz Radikal Masuk Kampung

CERPEN ISLAMI, ajaran islam radikal,

"Acara apa di masjid?"

Sadun sudah lama tidak pulang dari pesantren. Ia mondok di salah satu pesantren di Jember. Biasanya ia pulang setiap sebulan sekali, cuma kali ini dia ingin seperti santri-santri dahulu. Sebagian besar pemuda Bondowoso dulu belajar di pesantren, di daerah Jawa Timur dan Madura. Biasanya mereka jarang sekali pulang. Ada yang cuma pulang tiga kali dalam waktu 12 tahun. Jaman sekarang, pemuda negeri ini memang lebih cengeng. Dikit-dikit minta pulang, minta jenguk, berat dikit ngeluh. Sadun mencoba meniru mereka yang sabar dalam menuntut ilmu.

"Acara kajian," jawab bibinya Sadun.

"Kajian apa?"

"Apa namanya sudah, lupa saya."

"Rutin?"

"Iya."

Sadun curiga. Dalam beberapa tahun terakhir di Jember memang lagi marak kajian-kajian di masjid-masjid. Mereka bukan dari kelompok ormas islam besar yang sudah lama terkenal di negeri ini: NU dan Muhammadiyah. Cara berpakaian mereka beda. Kaum wanitanya tertutup. Mereka sering menyesatkan tradisi-tradisi keislaman yang sudah biasa dilakukan masyarakat.

Usai kajian Sadun memperhatikan orang-orang yang ikut kajian. Kaget sekali dia melihat beberapa teman SMP nya dulu yang terkenal nakal juga ikut kajian tersebut. "Itu Doni, Bi?"

"Iya. Dia rajin ngaji sekarang. Leo juga. Sony, Randy, Afif, Barkhan juga ikut."

Sadun mencoba main ke rumah Doni. "Sadun...!! Assalamualaikum...!!" seru Doni dari teras rumahnya. Tidak biasa. Mengucap salam bukan kebiasaan warga di kampung ini. Pasti ini termotivasi oleh sang ustadz.

"Waalaikumsalam. Habis ngaji, Don."

"Iya. Mantap ustadznya, Dun. Menarik kajiannya. Banyak teman-teman di sini yang ikut."

Keduanya ngobrol di teras.

"Tentang apa tadi kajiannya?"

"Tentang akidah. Ternyata, banyak kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan dalam ibadah selama ini."

Sadun tersenyum. "Contohnya?"

"Ziarah kubur, tahlilan, maulid nabi, qunut, dzikir keras-keras, dan banyak lagi. Itu ternyata salah."

Baca juga: Cerita Cinta Gadis Wahabi

Di pesantren tempat Sadun belajar ada pelajaran khusus yang membahas tentang pergerakan paham radikal di Indonesia. Sadun sudah mempelajarinya. Mereka mempelajari ilmu agama secara instan, tidak sesuai kurikulumnya. Doni adalah salah satu contoh korbannya. Dengan gampangnya menyesatkan orang lain. Padahal perbedaan pendapat seperti itu sudah terjadi sejak zaman sahabat dulu.

Di kalangan kyai-kyai NU sendiri juga terjadi perbedaan pendapat, tapi tidak diumumkan di depan masyarakat umum, apalagi disampaikan pada orang awam. Perbedaan pendapat seperti itu hanya dibahas di forum ilmiah, dibahas dengan orang-orang alim yang memang mempelajari disiplin ilmunya. Di pesantren tempat Doni belajar, santri harus hatam beberapa kitab karya ulamak besar dulu sebelum ikut dalam diskusi-diskusi ilmiah.

"Kenapa kok bisa salah, katanya, Don?"

"Itu tidak pernah diajarkan dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya itu adalah kebaikan, pasti para sahabat lebih semangat dibanding kita."

"Nabi tidak naik mobil."

"Itu kan bukan urusan ibadah."

"Kalau menikah, termasuk ibadah?"

"Bisa jadi."

"Nabi tidak pernah menikah dengan perempuan Indonesia."

"Ya, tidak bisa begitu. Yang penting kan sama-sama perempuan."

Sadun tidak begitu serius, dia hanya candain Doni saja. Tetapi, Doni sangat serius menanggapinya.

"Nabi melakukan ibadah puasa di hari lahirnya. Kita bershalawat di hari kelahiran Nabi. Kan sama-sama ibadah?"

Doni diam. Sepertinya agak bingung.

"Ada kisah tentang Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

'Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.' Ibnu ‘Abbas berkata, 'Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.'

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

'Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.'

Begitu kisahnya. Lalau, kok bisa dilarang, kenapa?"

"Tapi, ustadz ini cerdas Dun."

"Orang itu dikatakan kuat kalau bisa mengangkat batu yang beratnya 40 kilo gram, menurut saya. Tetapi menurut orang lain, beda, orang lain mungkin beda pendapat, dikatakan kuat kalau bisa mengangkat batu yang beratnya 70 kilo gram. Dikatakan cerdas oleh kita, apakah sama cerdas menurut Allah?"

Sejak ikut pengajian, Doni senang sekali berdiskusi. Dulu suka nongkrong di pinggir jalan, main guitar, mabuk-mabukan, dan semacamnya. Sekarang sudah kecanduan pengajian. Tidak mau lagi bonceng cewek. Dia sudah tergabung dengan pemuda hijrah.

"Intinya, kata ustadz, yang benar itu adalah yang diajarkan oleh ulamak yang sudah masyhur, terkenal."

"Siapa itu?"

"Ibnu taimiyah, bin baz, Syekhh albani dan utsaimin."

Sadun sudah sangat kenal dengan nama-nama itu. Bukan tidak mengakui keilmuan mereka, tapi kelompok yang mengaguni mereka selalu merasa paling benar dan terang-terangan menyalahkan atau menyesatkan ulamak yang tidak sependapat dengan mereka, itulah sikap yang bisa merusak persatuan umat islam. Apalagi disampaikan pada masyrakat awam.

"Berapa jumlah orang yang kenal mereka? Berapa orang yang kenal ulamak yang mereka sesatkan?"

Doni kaget. Mana dia tahu jumlah pastinya. "Banyak, sedunia."

"Kata siapa?"

"Kata utadz, begitu."

"Yang mengajarkan tahlilan, maulid nabi, qunut, itu juga terkenal sedunia. Lebih banyak mana?"

Doni diam. Dia bingung. "Terus, kita ikut yang mana?"

Sadun juga bingung menjawabnya. Ikut ulamak yang tidak suka menyesatkan orang lain itu lebih baik. Tetapi, kajiannya hanya ada di dalam pesantren. Pemuda seperti Doni tidak akan datang ke pesantren. Selain itu, yang rajin sholat jamaah di masjid-masjid juga kelompok-kelompok baru ini. Doni sudah jadi baik. Dia sudah menjadi pemuda baik, meskipun ada kesalahan, yakni sikap yang berpotensi memecah belah umat, bahkan menentang pemerintah.

"Ikuti yang kamu suka dan jangan sesatkan orang lain. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebaik-baik umat itu adalah yang hidup di zaman beliau, setelahnya dan setelahnya."

"Paham. Doni sudah tahu itu."

"Bukan Ibnu Taimiyah, bukan Syekh Al Bani atau Bin Bas."

"Kenapa kyai-kyai tidak mengadakan kajian-kajian seperti ini?"

Sadun terdiam lagi.

"Oya, kalau ajaran di pondokmu, Allah itu ada dimana?"

Ini yang sangat berbahaya. Sadun menghela nafas. Sepertinya Doni mencari topik lain agar diskusi berlanjut. Ajaran ini menurutnya cukup berbahaya. "Begini, Don. Pikirkan dan lakukan amalan hanya," Sadun menekankan suara pada kata 'hanya', "yang membuat kita semakin dicintai Allah dan semakin dekat dengan Allah. Memangnya dengan tahu dimana Allah kita jadi tambah semangat ibadah?" Doni diam. "Itu hanya menimbulkan perdebatan. Perdebatan itu mengeraskan hati."

...bersambung

Santri dan Seekor Burung yang Tidak Ia Sembelih

kisah hikmah, kisah ulamak

Ada seorang santri yang sangat disayangi oleh kyainya. Teman-temannya merasa iri terhadap sikap syekh yang berlebihan pada satu santri ini. Tentu saja santri-santri yang lain merasa iri ignin diperlakukan sama. Mereka penasaran juga apa yang membuat syekh begitu menyayanginya. Akhirnya, mereka pun bertanya paa syekh.

"Kenapa syekh memperlakukan dia lebih dari kami?"

Singkat syekh menjawab pertanyaan santri-santrinya. "Maaf, jika perlakuan saya dianggap tidak adil. Maka besok kajian libur."

baca juga: Cerita Maling yang Mendadak Jadi Kyai

Jawaban syekh membuat santrinya bertanya-tanya. Esok harinya semua santri diberi seekor burung dan pisau. "Sembelihlah burung itu di tempat yang tidak terlihat oleh siapapun," perintah syekh pada semua santrinya.

Perintah seorang guru harus diikuti. Tidak ada alasan bagi seorang murid untuk menolak perintah guru, kecuali disuruh bermaksiat. Semua santri berusaha menjalankan perintah syekh. Mereka mencari tempat-tempat yangn tersembunyi yang tidak bisa dilihat orang. Rupanya itu tidak terlalu sulit. Semua santri berhasil menemukan tempat tersembunyi dan membawa burung yang sudah disembelihnya pada syekh.

Satu dari mereka, yakni santri yang sangat disayang oleh syekh belum menyembelih burungnya. Teman-temannya menertawakannya karena tidak berhasil melaksanakan tugas sang guru. "Kenapa engkau belum menyembelih burung itu?" tanya syekh.

"Saya bukan tidak mau melaksanakan perintah syekh, tapi tidak saya temukan sejengkal tanah pun di muka bumi ini yang tidak dilihat oleh Allah."

Kisah singkat yang bisa kita ambil pelajaran. Bagi seorang guru, betapa perhatiannya sang syekh hingga bisa mengenali kelebihan-kelebihan santrinya. Begitulah sebagai seorang guru, sudah seharusnya berusaha mengenali potensi-potensi muridnya. Bagi murid, tidak perlu berburuk sangka pada guru. Tugas murid adalah belajar dan menghormat guru. Jika guru berbuat dosa, itu urusan dia dengan Tuhannya, tidak perlu murid menghakiminya.

Sukses Mimpin Gojek, Kini Mimpin Pendidikan

Menteri pendidikan Indonesia, Nadiem Makarimm, Bos Gojek

Indonesia memiliki menteri pendidikan yang bukan sarjana pendidikan, bahkan bukan seorang profesor. Tetapi, beliau adalah seorang pebisnis sukses. Sukir dan Bakir bukan pengamat, tapi sedikit paham tentang dunia pendidikan. Berikut dialog mereka berdua.

"Kok bisa ya menteri pendidikan bukan dari orang pendidikan?" kata Bakir. "Seharusnya pernah jadi guru atau dosen?"

"Cara pandangmu keliru, Kir. Pak menteri itu tidak akan mengajar di kelas, tapi akan memimpin orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan."

"Paham. Tetapi, kalau dia sendiri tidak pernah merasakan dan tidak paham dunia pendidikan? Bagaimana?"

"Menteri sebelumnya orang pendidikan, kan? Banyak yang tidak puas."

"Apalagi bukan orang pendidikan...!!"

baca juga: Tertipu Label Sekolah Sunnah

"Kepemimpinan, Kir. Memimpin itu butuh skill kepemimpinan. Kita semua tahu bagaimana track record Pak menteri memimpin perusahaan Gojek. Banyak pihak yang bisa ikut andil di Gojek. Itu karena skill kepemimpinan beliau."

"Bisnis itu memang dunia beliau? Ini dunia pendidikan."

"Beliau akan mendengar nasehat pakar pendidikan selama seraus hari prtama. Orang yang sudah berpengalaman memimpin perusahaan, akan cepat memahami bagaimana memimpin suatu perusahaan atau organisasi."

"Sepakat. Ibarat orang yang terbiasa hidup sehat, pasti tahu bagaimana menjaga kesehatan. Tetapi, setelah badan sehat, mau ngapain?"

"Maksudmu?"

"Semua orang yang berkecimpung di dunia pendidikan ini akan dipimpin beliau. Organisasinya akan sehat. Tetapi akan dibawa kemana pendidikan di negeri ini?"

"Para pakar akan menyampaikan pada beliau tentang tujuan pendidikan negeri ini."

"Mencetak pebisnis, mencetak karyawan?"

Diam.

"Yang dididik itu anak manusia, bukan robot pencetak uang. Beliau belajar di luar negeri, pulang ke Indonesia jadi pebisnis dan sukses. Kita belum mendengar, manusia seperti apa yang akan dilahirkan oleh sistem pendidikan di negeri ini? Manusia pencetak uang atau manusia ... ... yang lebih dari itu?"

"Tapi beliau punya pengalaman mampu memberi kesempatan orang banyak untuk terlibat dalam perusahaannya. Ini kesempatan bagi semua orang yang berkecimpung di dunia pendidikan untuk terlibat berperan menjalankan pendidikan di negeri ini."

"Kita lihat saja nanti."

Gara-gara Bayam

Gara-gara Bayam, cerpen singkat, cerpen sosial, cerpen Indonesia

Tap!!!
Tap!!!
Tap!!!

Suara tangan Markonah memukul-mukul kursi kayu. Begitulah reaksinya kala ia melihat bayam, kadang disertai teriakan dan umpatan. Pak Andi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya, sudah sering ia memperingatkan, tapi Markonah tak mengindahkan.

"Wes, toh, Buk! Apa ndak capek teriak-teriak terus? Ndak enak kalo sampe didengar Kang Udin," nasihatnya waktu itu dengan penuh hati-hati agar tak menyinggung perasaan istrinya.

"Oh ... jadi Bapak lebih mentingin perasaan orang dari pada kebersihan rumah sendiri? Jadi Ibuk bersih-bersih ndak guna? Ibuk harus pura-pura buta, begitu maunya Bapak?" Markonah marah, tak terima nasihat sang suami yang dianggap tak menghargai jerih payahnya merawat rumah mereka.

Dimarahi sang istri bagi Pak Andi sudah biasa. Namun, ia tak menyangka istrinya akan bersikap berlebihan hanya gara-gara melihat bayam berada di teras rumahnya. Ia merasa tak enak hati jika Kang Udin sampai mendengar teriakkan dan umpatan Markonah. Terlebih, Kang Udin adalah tetangga dekat sekaligus suami dari kakak perempuannya.

Sebagai ipar, Pak Andi tentu ingin hubungannya tetap baik dengan Kang Udin. Namun, ia bingung harus berbuat apa agar Markonah bersikap sewajarnya, dan Kang Udin memahami keresahan Markonah.

Semakin hari piaraan Kang Udin semakin meresahkan. Tak hanya Markonah, kini Pak Andi pun ikut resah kala melihat bayam sering nangkring di teras rumahnya.

"Aku harus menemui Kang Udin, ini sudah keterlaluan, ndak bisa dibiarkan," gumam Pak Andi seraya bergegas menuju rumah iparnya itu.

"Assalamualaikum," ucap Pak Andi saat berada tepat di depan rumah Kang Udin.

"Waalaikumsalam," jawab Yani, kakak perempuan Pak Andi.

"Kang Udin ada, Mbak?"

"Ada. Ayo duduk dulu, An. Tak panggilkan."

Dua menit kemudian, Kang Udin muncul dan menyapa adik iparnya penuh kasih, seolah tak tahu menahu tentang keresahan Pak Andi akibat ulah piaraannya.

"Begini, Kang. Ayam Kang Udin kan banyak." Pak Andi mulai mengungkap keresahannya.

"Terus?"

"Kok ndak dikurung, Kang? Terus terang saya keberatan setiap hari ayam Kang Udin ngotorin rumah saya. Kasihan istri saya kerepotan harus membersihkan teras berulang-ulang. Kadang kalo kami lupa nutup pintu, tidak hanya teras yang dikenai kotoran ayam, tapi kursi-kursi saya ikut kecipratan." Panjang lengan Pak Andi menjelaskan, berharap Kang Udin mau mengerti dan mengurung ayam-ayamnya.

"Yo kan bisa diusir, An. Gitu aja kok dipermasalahkan," jawab Kang Udin sedikit ketus.

Mendengar jawaban Kang Udin tak sesuai harapan, Pak Andi terlihat kecewa. Yani -yang hendak menyuguhkan kopi untuk Pak Andi- akhirnya angkat bicara.

"Yo ndak bisa seena'e dewe ngono, Pak." (Ya nggak bisa seenaknya sendiri gitu, Pak)

Yani sangat mengerti keberatan Pak Andi, sebab kandang ayamnya memang berdekatan dengan rumah Pak Andi. Sudah pasti ayam-ayam itu sering nangkring ke tempat yang lebih dekat.

Pak Andi terlihat senang mendapat dukungan dari kakaknya. Ia tahu betul bahwa Kang Udin selalu mengiyakan kemauan istrinya.

"Lah, terus bapak musti gimana, buk? Ndak sehat ayam kita kalo dikurung," jawab Kang Udin dengan nada menurun.

"Wes, aku ndak mau tau. Pokoknya mulai sekarang  ayam-ayam kita harus dikurung. Enak aja bikin kotor rumah orang, kualat loh, Pak, bikin orang kerepotan. Bapak mau nanti kena tulah Andi sama Markonah? Amit-amit deh," tandas Yani seraya berlalu tanpa menunggu jawaban suaminya.

Pak Udin hanya bisa pasrah, tersenyum kecut dan menggaruk-garuk kepalanya. Gara-gara bayam ia terkena semburan panas mulut istrinya.

*

baca juga: Cerita Dua Suami Tukar Istri

Sejak saat itu Markonah dan Pak Andi hidup tenang. Mereka lebih harmonis dari sebelumnya. Sebab Markonah selalu berperilaku manis kepada suaminya.

"Makasih, ya, Pak. Onah bangga bapak bersikap jentel mau mencari jalan keluar permasalahan kita," ucap Markonah dengan suara menggoda.

"Sama-sama, Buk. Maaf bapak hampir terlambat bertindak," jawab Pak Andi seraya memeluk istrinya.

Dan mereka pun semakin mesra meski usianya sudah sama-sama hampir setengah abad. Siapa sangka, kalau kemesraan itu terjadi penyebab awalnya adalah gara-gara BAYAM alias banyak ayam.

Makna Administrasi Guru

cerpen pendidikan, contoh cerpen sekolah, contoh cerpen terbaik, cerpen remaja, cerpen lucu, contoh cerpen panjang

"Pak Budi masuk tim akreditasi juga kan?" tanya Pak Iwan yang baru saja datang.

"Saya berdoa dalam sujud, semoga tidak," jawab beliau.

Masih belum hilang segarnya embun pagi di sepanjang jalanan desa. Ruang guru masih sepi. Pak Budi senang sekali duduk di teras kantor menikmati halaman sekolah yang penuh dengan tanaman hijau. Tetapi menjadi kurang nikmat ketika pikirannya diajak berdialog tentang administrasi. Beliau merupakan guru lama di sekolah ini. Biasa, guru kampung memang kurang suka dengan yang namanya administrasi.

Pak Iwan tertawa mendengar tanggapan Pak Budi. Cara becanda beliau memang khas.

"Fulusnya lumayan loh, Pak."

"Dua puluh juta?"

"HahahahHahaha...!! Seharga semangkok bakso."

"Saya paling males kalau sudah ngomongin soal administrasi. Memang dengan administrasi karakter siswa terbentuk?!" Tahun ini merupakan proses akreditasi yang kedua. Akreditasi sebelumnya mendapatkan nilai A, tentu dengan biaya yang tidak sedikit, juga lumayan menguras tenaga, bahkan lembur hingga larut malam. "Akreditasi sekolah ini A, tapi, adakah perubahan signifikan terkait karakter, ahlaq siswa?"

"Administrasi itu kan syarat wajib, Pak. Mau tidak mau kita harus melakukannya."

Pak Joko datang. Beliau langsung menghampiri Pak Budi sama Pak Iwan. "Kayaknya seru sekali topiknya nih," dan menjabat tangan mereka, lalu duduk di samping Pak Budi. "Saya masuk tim akreditasi lagi," katanya.

Baca juga: Orang Tua Tertipu Label Sekolah Sunnah

"Saya juga, Bro," kata Pak Iwan.

"Pak Budi?"

"Dipaksa keadaan."

"HahahHahaha..."

"Idealisme tergilas ya..."

Pak Budi masih ingat dulu waktu belum ada kewajiban administrasi. Ruang guru selalu terisi dengan topik-topik pendidikan, tentang perkembangan siswa, tentang teladan ulamak. Meskipun bukan pesantren, tetapi tradisi keislaman cukup dominan. Bahkan di masa kecilnya Pak Budi dulu, hampir tidak ada anak desa yang tidak sekolah agama (Madratsah diniyah tingkat MI) di desa. Seakan bukan anak manusia jika tidak sekolah MI dan tidak ngaji di musholla pada malam hari dan habis subuh. Pikir Pak Budi, dulu kyai dan ustadz-ustadz tidak pernah ngurus administrasi, tapi jelas terlihat perkembanan karakter siswa.

"Jiwa guru terlalu disibukkan untuk membahas hal-hal materi, sehingga koneksi batin dengan siswa jadi berkurang."

"Waduh, tinggi bahasannya," kata Pak Joko becanda. "Nggak kejangkau."

***

"Kenapa banyak siswa yang melakukan pelanggaran," kata Pak Sutono, kepala sekolah, saat rapat. "karena siswa yang melanggar tidak terdata. Sehingga tidak jelas mana yang melanggar, mana yang sudah dihukum dan yang belum." Pikir Pak Budi, perhatian guru terhadap siswa yang lemah. "Maka dari itu, penting sekali administrasi. Untuk itu, Bapak dan ibu guru, wajib bagi kita semua untuk tertip administrasi."

Kepala sekolah pertama, Pak Setia Budi, hafal nama-nama siswa. Setiap duduk dengan beliau, motivasi dan inspirasi yang didapat. Mimpi beliau, anak desa bisa mimpin dunia. Kekeluargaan terasa sekali. Tidak seperti sekarang, Pak Budi merasa komunikasi lebih banyak dengan benda mati, dengan kertas, topiknya juga tentang benda mati. Tak ada inspirasi, sudah diganti jadi administrasi.

Bu Eno acung tangan untuk mengajukan pertanyaan. Pak kepala sekolah memberi waktu. “Maaf, Pak. Sebenarnya apa fungsi dan makna administrasi di sekolah ini?” Semuau guru memandang Bu Eno. Terkesan aneh bagi mereka, belum pernah terpikir tentang makna adminsitrasi.

“Fungsinya banyak. Fungsi adminsitrasi membuat pekerjaan kita rapi, jelas, dan terukur,” jawab Pak kepala sekolah. “Makna administrasi... ...” sepertinya beliau perlu berpikir sejenak untuk menjawabnya. Beberapa guru tersenyum, ada yang menahan tawa menyaksikan kepala sekolahnya agak kebingungan. Pak budi menundukkan kepala, tidak suka menyaksikan pemandangan seperti ini. “Administrasi sangat bermakna. Kalau di negara maju seperti Amerika, wah, adminsitrasinya lengkap, detail sekali. Kalau kita ingin maju seperti mereka, ya, kita harus melengkapi adminsitrasi selengkap-lengkapnya.”

Bu Eno paham. Kesimpulan beliau, di sekolah ini administrasi memang tidak jelas maknanya. Beliau bertanya tentang sekolah ini, bukan soal Amerika.

Bu Lidia acung tangan. Pak kepala sekolah memberi waktu. “Maaf, koreksi saya jika keliru. Ehmmm... Menurut saya, Pak, adminsitrasi itu alat komunikasi.” Pak kepala sekolah tampak mencatat sesuatu. “Kita ini organisasi, bekerja sama, kita seperti satu badan.  Ibarat badan, kepala berkomunikasi dengan tangan itu melalui saraf. Begitu juga dengan organisasi, kepala dengan bawahannya berkomunikasi dengan administrasi. Kenapa harus tertulis komunikasinya? Sebab, komunikasi lisan itu gampang dilupakan, gampang berubah. Organisasi kecil mungkin masih bisa tanpa administrasi, tapi untuk organisasi besar, harus tertulis komunikasinya.”

Sebagian guru sepakat. Tetapi, faktanya tidak begitu.

Pak Salim mengacungkan tangan. Pak kepala sekolah memberi waktu. “Maaf, mohon penjelasan tentang RPP. Kita membuat RPP itu berkomunikasi dengan siapa?” Rupanya pertanyaan Pak Salim membuat banyak guru tertawa. Pak Budi menahan tawa sambil menunduk.

Pak kepala sekolah rupanya cepat menemukan jawaban, tapi menunggu audien menyelesaikan tawanya. “RPP itu berguna sekali bagi guru. Dengan RPP guru semakin enak ngajarnya, jadi terstruktur, lebih rapi.”

“Berarti bukan alat komunikasi, Pak?”

“Kenapa formatnya harus sama?”

Forum jadi ramai. Banyak yang berbisik-bisik dengan rekan di sampingnya.

***

“Kita kan sudah membuat administrasi seperti RPP, absen siswa, dan semacamnya. Terus, kenapa untuk akreditasi kita masih harus buat lagi?” tanya Pak Iwan. “Kalau dulu kan karena masih yang pertama.”

“Datanya banyak yang tidak sesuai dengan yang diminta assessor,” jawab Bu Fina.

Jam istirahat kantor guru selalu ramai. Saat ini topik hangatnya tentang akreditasi. Ada yang fokus dengan laptopnya. Di luar anak-anak menikmati waktu istirahatnya, ada yang di kantin, ada yang di perpustakaan, ada yang duduk-duduk di teras, ada yang lari-lari. Cukupnya administrasi kedisiplinan yang memerhatikan mereka? Tanya Pak Budi dalam hati. Anak-anak itu tidak lagi menadi topik bahasan di ruang guru; cukup dicatat yang melanggar dan dihukum.

“TaaAaRrRRRr....!!!” keras terdengar suara kaca pecah.

...bersambung

Orang Tua Komplain Anaknya Didisiplinkan

cerpen pendidikan, contoh cerpen sekolah, contoh cerpen terbaik, cerpen remaja
"Iya, maaf, Pak. Kemarin itu si Randy dikeluarkan dari kelas oleh guru Matematika karena bersikap tidak sopan di kelas. Bahkan dia berani bilang, 'Saya yang bayar guru, kok dikeluarkan?!'" Para guru di ruang guru menyimak pembicaraan Pak Salim dengan salah seorang wali murid di telefonnya. "Dia juga sering bolos, Pak, sering terlambat juga."

Para guru saling berbisik. Pak Salim beberapa kali memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya agar para guru tidak terlalu keras bersuara biar tidak didengar ayahnya Randy.

Selesai menerima telefon, Pak Salim langsung diserang dengan berbagai pertanyaan oleh para guru, "Ayahnya si Randy yang telefon. Dia tidak terima anaknya dijemur," jelas beliau. "Parahnya lagi dia ingin teman Randy yang membuli dia dibawa ke polisi."

"Waduh....!! Kok dikit-dikit polisi?" sahut Pak Sarman, guru Seni Budaya. "Memangnya sudah jelas si Randy jadi korban? Jangan-jangan dia yang mulai duluan?"

"Justru itu, biar jelas, orang tuanya ingin diselesaikan di kepolisian."

"Kasihan si Randy tidak punya kesempatan untuk belajar bersosial. Kesenggol sedikit polisi, dikit-dikit polisi. Hidup sama malaikat saja kalau begitu," para guru yang lain tertawa.

"Benar, Pak. Anak jaman sekarang sudah kehilangan kesempatan untuk merasakan kebersamaan," sahut Pak Ridho, guru Sosiologi. "tidak punya kesempatan untuk belajar sabar, belajar memaafkan. Setiap urusan, maunya cukup diselesaikan dengan uang, bayar polisi, urusan beres."

***
"Pokoknya saya ingin ini diselesaikan di kepolisian, biar jelas," kata ayah Randy di ruang tamu sekolah, di hadapan waka kesiswaan, BK, dan Wali kelas. Panjang lebar beliau menelaskan tentang hukum. Tentu saja yang mendengar tidak begitu hafal pasal-pasal yang beliau sebutkan. Semua diam saja. "Juga masalah anak saya yang dikeluarkan dari kelas, bukankah saya sudah bayar ke sekolah, seharusnya guru berusaha membuat anak saya merasa senang di kelas, bukan malah dijemur?!"

Pak waka kesiswaan berusaha sebisa mungkin memilih kata-kata untuk melunakkan hati ayah Randy. Sedangkan ibunya Randy yang ikut hadir hanya diam saja, tidak ikut berbicara. Hingga akhirnya Pak Salim sebagai wali kelas mengambil alih pembicaraan, menyela dialog Pak waka kesiswaan dengan ayah Randy.

"Maaf, Pak, saya sela." ayah Randy menghadap ke Pak Salim. "Randy adalah titipan Allah kepada kita untuk kita didik." Ayah Randy tampak menghela nafas. Mungkin karena Pak Salim membawa-bawa nama Tuhan. "Maaf, saya tidak sepakat jika anak boleh tidak hormat guru karena bayar." Ayah Randy hendak memotong kalimat Pak Salim, tapi tidak jadi. "Jika seperti itu, saya khawatir ketika anak ini sudah jadi orang sukses dan menanggung hidup orang tuanya yang sudah tua renta, lalu dia tidak mau hormat lagi pada orang tuanya dengan alasan karena dia yang memberi uang pada orang tua."

"Benar, Pak," sahut Pak Ridwan, guru BK. "Kita harus meluruskan mindset anak."

Ibu Randy menghela nafas dalam. Sepertinya beliau sepakat dengan Pak Salim.

"Hormat orang tua dan guru itu kewajiban dari Allah, Yang Menciptakan kita semua."

"Randy dijemur agar dia paham bahwa setiap tindakan dalam hidup ini ada dua macam konsekwensi: konsekwensi baik dan buruk," tambah Pak Ridwan. "Tentu kita tidak mau punya anak yang ketika sudah dewasa, untuk berangkat kerja saja harus diingatkan. Na'udubillah, kita tidak ingin itu terjadi pada anak kita. Kita ingin anak kita disiplin. Saat inilah latihannya. Kita ingin, cukup dengan suara bel mereka sudah paham apa yang harus dilakukan."

"Teman-teman Randy manusia biasa," tambah Pak Salim. "mungkin sekali berbuat salah. Pun juga dengan Randy. Jika setiap kesalahan harus dibawa ke polisi, saya khawatir tidak ada lagi yang mau berteman dengan Randy."

"Ya, kita lanjutkan nanti saja," kata ayah Randy. "Kami masih ada acara." Lalu mereka pamit.

baca juga: Tertipu Label Sekolah Sunnah

*kisah ini diangkat dari kisah nyata

TERTIPU LABEL SEKOLAH SUNNAH

cerpen pendidikan, contoh cerpen sekolah, contoh cerpen terbaik, cerpen remaja
CERPEN. "Kata pepatah, 'Don't judge book by its cover'. Itu benar. Saya kira sekolah berlabel sekolah sunnah adalah sekolah terbaik. Kata orang pengikut sunnah itu berarti ikut jalan hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Ternyata, label tak selalu mewakili isinya. Pandai sekali promosi, padahal fakta tidak sesuai kenyataan. Manajemen sekolah kacau. Target kurikulum tidak jelas. Ustadz-ustadz yang baik jadi tak bisa berperan. Biaya saja yang mahal. Memang gedungnya mewah. Sulit sekali mencari sekolah terbaik untuk buah hati. Kemana mencari lembaga pendidikan yang benar-benar lembaga pendidikan?"

Ustadz Aidan tidak sengaja membaca status facebook di atas. Saat jam istirahat beliau memang kadang menyempatkan membuka akun sosial medianya, baik FB, IG, terutama Whatsapp. Membaca baris pertama status tersebut, beliau langsung paham sekolah yang dimaksud. Benar. Akun yang punya status tersebut adalah akun Facebook salah seorang wali murid. Di awal tahun ajaran baru dulu memang banyak wali murid minta berteman di Facebook dengan wali kelas.

Beliau pun membacakan status tersebut di ruang guru. Semua guru tampak penasaran sekali untuk mendengarkannya. "Nah, bener kan!" kata salah seorang guru. Komplain wali murid memang cukup banyak di sekolah ini. Banyak wali kelas yang mengeluhkan sikap bagian manajemen sekolah, terutama sikap wakil presiden direktur (Pak Presdir).

Ruang guru selalu ramai dengan diskusi berbagai masalah manajemen sekolah. Guru baru menjadi peran utama hampir di setiap diskusi. Banyak dari mereka yang alumni sekolah sunnah, ada yang pernah mengajar di sekolah sunnah lain, tidak sedikit yang alumni perguruan tinggi di timur tengah.

"Pimpinan kita ini tidak paham organisasi," kata Ust Salman guru Matematika. "Masak sekolah sebesar ini tidak punya kurikulum yang jelas. Tarjetnya apa, siswa harus dididik bagaimana, SOP guru tidak ada, tidak jelas sekolah ini."

"Sebenarnya sudah dari dulu para pimpinan disindir-sindir di rapat, tapi tanggapannya selalu begitu," tambah Ust Hadi, guru Biologi.

"Kalau kita usul sesuatu, kita dianggap komplain, dikira mengeluh. Katanya sekolah ini lebih baik dibanding yang lain. Buktinya mana? Sekolah sunnah itu bagus ibadahnya, hafalan Quran siswanya banyak."

“Iya, benar. Di tempat saya dulu, untuk mengarahkan santri itu cukup bunyikan bel, santri sudah jalan sendiri. Tidak usah diobrak-obrak kayak gini,” kata ustadz Sholeh, alumni sekolah sunnah di Jawa Tengah.

"Pimpinan seharusnya visioner, harus membandingkan pada yang lebih baik," sahut guru Fisika. "Bukan malah dibandingin dengan sekolah yang lebih buruk."

"Bilangnya aja sekolah sunnah, sunnah apa? Kalau kayak gini, namanya lalai pada amanah," kata guru bahasa Inggris. "Saya dulu pernah ngajar di sekolah sunnah di jawa Timur. Wah itu, setengah jam sebelum adzan sudah rapi santri membentuk shaf di masjid, murojaah mereka. Tidak kayak gini, siswa tidak keurus. Nasib mereka tidak jelas. Masak kelas dua tidak hafal satu juz? Promosinya aja akan membuat siswa hafal 30 juz. Sholatnya juga tidak bener. Tidak ada sholat malam."

“Ini sekolah bisnis, sekolah yang dibisniskan. Kayak penitipan anak. Tidak ada peraturan, siswanya dimanja-manja. Jadi kayak raja mereka.”

“Iya, mereka mikirnya, ‘Saya yang bayar ustadz, ngapain ngatur saya?!’ Tidak bisa dibayangin kalau mereka sudah sukses nanti dan menanggung hidup orang tuanya, apa masih mau menghormat orang tuanya?”

"Seharusnya di awal itu ada perjanjian tertulis dengan wali murid biar tidak dikit-dikit lapor polisi, kesenggol teman, lapor polisi. Apa-apaan?!"

***

Ustadz Salman dipanggil wakil presdir ke kantornya sehabis berkomentar tentang kegiatan sekolah yang melibatkan guru di luar jam kerja guru. Semua guru yakin itu karena komentar beliau dianggap nyerang pimpinan.

Wakil presdir, kepala sekolah , waka kurikulum, waka kesiswaan terlalu sering berbeda pendapat. Bahkan keputusan yang baru dibuatnya pun bisa berubah dalam waktu hitungan detik. "Mereka menyebut diri mereka bagian manajemen, apa yang mereka atur?" kata salah seorang guru asing. "Semuanya berantakan begini."

Tak lama, Ustadz Salman kembali ke ruang guru. "Apa kata Pak Wakil presdir?" tanya guru fisika.

"Nggak ada. Tahu nggak, apa yang dia bilang ke saya?" Semua guru tampak penasaran ingin mendengarnya. "Dia bilang begini, 'Anda tahu kenapa saya dipilih jadi wakil presiden direktur?' Saya diam saja, memang saya tidak tahu. 'Saya dipilih karena saya berpengalaman. Jadi tidak usah komen-komen di group,' begitu dia bilang ke saya."

"Lah, terus apa gunanya bikin grup kalau tidak boleh komen?!" kata guru Fisika.

***

Ruang guru lagi sepi, hanya Ustadz Randy, guru Bahasa Inggris dan Ustadz Umar, guru Quran.

"Bagaimana kabarnya, Mister?"

"Alhamdulillah, selalu baik."

"Masih semangat?!"

Tersenyum.

"Kalau ingin gabung di sekolah sunnah yang ibadahnya luar biasa, nih saya ada kenalan, sekolah sunnah beneran."

"Coba share nomor beliau ke WA saya. Saya hubungi nanti."

“Saya tidak nyangka ada sekolah sunnah kayak gini. Kelas dua itu ada yang belum bisa ngaji.”

“Tempat ustadz yang dulu bagaimana?”

“Beeeh... Luar biasa, Mister. Nilai islamnya terasa banget. Sekolah sunnah beneran.”

"Saya coba ajak curhat salah seorang siswa. Dia bilang begini, ‘Ustadz tahu nggak, kenapa saya jarang masuk kelas? Sebenarnya saya ingin tahu, kalau saya begini, apakah akan ada peringatan untuk saya? Kenapa saya begini, dibiarkan saja?’ katanya pada saya.”

“Masak, Mister?! Wah, parah itu.”

“Hampir tidak pernah saya dengar kata dakwah, ibadah di rapat-rapat kita ini; yang dibahas selalu uang dan kepuasan wali murid.”

“Nampak sekali kalau ini bisnis.”

“Ya, trend hijrah lagi booming sekarang, jadi peluang bagi pebisnis untuk jualan sunnah.”

“Jadi rusak nama sekolah sunnah”

bersambung

baca juga: Sarjana Menganggul, Santri Tak Jadi Kyai
Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.