Blogger Widgets

Featured post

Orang Tua Komplain Anaknya Didisiplinkan

"Iya, maaf, Pak. Kemarin itu si Randy dikeluarkan dari kelas oleh guru Matematika karena bersikap tidak sopan di kelas. Bahkan dia be...

Orang Tua Komplain Anaknya Didisiplinkan

cerpen pendidikan, contoh cerpen sekolah, contoh cerpen terbaik, cerpen remaja
"Iya, maaf, Pak. Kemarin itu si Randy dikeluarkan dari kelas oleh guru Matematika karena bersikap tidak sopan di kelas. Bahkan dia berani bilang, 'Saya yang bayar guru, kok dikeluarkan?!'" Para guru di ruang guru menyimak pembicaraan Pak Salim dengan salah seorang wali murid di telefonnya. "Dia juga sering bolos, Pak, sering terlambat juga."

Para guru saling berbisik. Pak Salim beberapa kali memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya agar para guru tidak terlalu keras bersuara biar tidak didengar ayahnya Randy.

Selesai menerima telefon, Pak Salim langsung diserang dengan berbagai pertanyaan oleh para guru, "Ayahnya si Randy yang telefon. Dia tidak terima anaknya dijemur," jelas beliau. "Parahnya lagi dia ingin teman Randy yang membuli dia dibawa ke polisi."

"Waduh....!! Kok dikit-dikit polisi?" sahut Pak Sarman, guru Seni Budaya. "Memangnya sudah jelas si Randy jadi korban? Jangan-jangan dia yang mulai duluan?"

"Justru itu, biar jelas, orang tuanya ingin diselesaikan di kepolisian."

"Kasihan si Randy tidak punya kesempatan untuk belajar bersosial. Kesenggol sedikit polisi, dikit-dikit polisi. Hidup sama malaikat saja kalau begitu," para guru yang lain tertawa.

"Benar, Pak. Anak jaman sekarang sudah kehilangan kesempatan untuk merasakan kebersamaan," sahut Pak Ridho, guru Sosiologi. "tidak punya kesempatan untuk belajar sabar, belajar memaafkan. Setiap urusan, maunya cukup diselesaikan dengan uang, bayar polisi, urusan beres."

***
"Pokoknya saya ingin ini diselesaikan di kepolisian, biar jelas," kata ayah Randy di ruang tamu sekolah, di hadapan waka kesiswaan, BK, dan Wali kelas. Panjang lebar beliau menelaskan tentang hukum. Tentu saja yang mendengar tidak begitu hafal pasal-pasal yang beliau sebutkan. Semua diam saja. "Juga masalah anak saya yang dikeluarkan dari kelas, bukankah saya sudah bayar ke sekolah, seharusnya guru berusaha membuat anak saya merasa senang di kelas, bukan malah dijemur?!"

Pak waka kesiswaan berusaha sebisa mungkin memilih kata-kata untuk melunakkan hati ayah Randy. Sedangkan ibunya Randy yang ikut hadir hanya diam saja, tidak ikut berbicara. Hingga akhirnya Pak Salim sebagai wali kelas mengambil alih pembicaraan, menyela dialog Pak waka kesiswaan dengan ayah Randy.

"Maaf, Pak, saya sela." ayah Randy menghadap ke Pak Salim. "Randy adalah titipan Allah kepada kita untuk kita didik." Ayah Randy tampak menghela nafas. Mungkin karena Pak Salim membawa-bawa nama Tuhan. "Maaf, saya tidak sepakat jika anak boleh tidak hormat guru karena bayar." Ayah Randy hendak memotong kalimat Pak Salim, tapi tidak jadi. "Jika seperti itu, saya khawatir ketika anak ini sudah jadi orang sukses dan menanggung hidup orang tuanya yang sudah tua renta, lalu dia tidak mau hormat lagi pada orang tuanya dengan alasan karena dia yang memberi uang pada orang tua."

"Benar, Pak," sahut Pak Ridwan, guru BK. "Kita harus meluruskan mindset anak."

Ibu Randy menghela nafas dalam. Sepertinya beliau sepakat dengan Pak Salim.

"Hormat orang tua dan guru itu kewajiban dari Allah, Yang Menciptakan kita semua."

"Randy dijemur agar dia paham bahwa setiap tindakan dalam hidup ini ada dua macam konsekwensi: konsekwensi baik dan buruk," tambah Pak Ridwan. "Tentu kita tidak mau punya anak yang ketika sudah dewasa, untuk berangkat kerja saja harus diingatkan. Na'udubillah, kita tidak ingin itu terjadi pada anak kita. Kita ingin anak kita disiplin. Saat inilah latihannya. Kita ingin, cukup dengan suara bel mereka sudah paham apa yang harus dilakukan."

"Teman-teman Randy manusia biasa," tambah Pak Salim. "mungkin sekali berbuat salah. Pun juga dengan Randy. Jika setiap kesalahan harus dibawa ke polisi, saya khawatir tidak ada lagi yang mau berteman dengan Randy."

"Ya, kita lanjutkan nanti saja," kata ayah Randy. "Kami masih ada acara." Lalu mereka pamit.

baca juga: Tertipu Label Sekolah Sunnah

*kisah ini diangkat dari kisah nyata

TERTIPU LABEL SEKOLAH SUNNAH

cerpen pendidikan, contoh cerpen sekolah, contoh cerpen terbaik, cerpen remaja
CERPEN. "Kata pepatah, 'Don't judge book by its cover'. Itu benar. Saya kira sekolah berlabel sekolah sunnah adalah sekolah terbaik. Kata orang pengikut sunnah itu berarti ikut jalan hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Ternyata, label tak selalu mewakili isinya. Pandai sekali promosi, padahal fakta tidak sesuai kenyataan. Manajemen sekolah kacau. Target kurikulum tidak jelas. Ustadz-ustadz yang baik jadi tak bisa berperan. Biaya saja yang mahal. Memang gedungnya mewah. Sulit sekali mencari sekolah terbaik untuk buah hati. Kemana mencari lembaga pendidikan yang benar-benar lembaga pendidikan?"

Ustadz Aidan tidak sengaja membaca status facebook di atas. Saat jam istirahat beliau memang kadang menyempatkan membuka akun sosial medianya, baik FB, IG, terutama Whatsapp. Membaca baris pertama status tersebut, beliau langsung paham sekolah yang dimaksud. Benar. Akun yang punya status tersebut adalah akun Facebook salah seorang wali murid. Di awal tahun ajaran baru dulu memang banyak wali murid minta berteman di Facebook dengan wali kelas.

Beliau pun membacakan status tersebut di ruang guru. Semua guru tampak penasaran sekali untuk mendengarkannya. "Nah, bener kan!" kata salah seorang guru. Komplain wali murid memang cukup banyak di sekolah ini. Banyak wali kelas yang mengeluhkan sikap bagian manajemen sekolah, terutama sikap wakil presiden direktur (Pak Presdir).

Ruang guru selalu ramai dengan diskusi berbagai masalah manajemen sekolah. Guru baru menjadi peran utama hampir di setiap diskusi. Banyak dari mereka yang alumni sekolah sunnah, ada yang pernah mengajar di sekolah sunnah lain, tidak sedikit yang alumni perguruan tinggi di timur tengah.

"Pimpinan kita ini tidak paham organisasi," kata Ust Salman guru Matematika. "Masak sekolah sebesar ini tidak punya kurikulum yang jelas. Tarjetnya apa, siswa harus dididik bagaimana, SOP guru tidak ada, tidak jelas sekolah ini."

"Sebenarnya sudah dari dulu para pimpinan disindir-sindir di rapat, tapi tanggapannya selalu begitu," tambah Ust Hadi, guru Biologi.

"Kalau kita usul sesuatu, kita dianggap komplain, dikira mengeluh. Katanya sekolah ini lebih baik dibanding yang lain. Buktinya mana? Sekolah sunnah itu bagus ibadahnya, hafalan Quran siswanya banyak."

“Iya, benar. Di tempat saya dulu, untuk mengarahkan santri itu cukup bunyikan bel, santri sudah jalan sendiri. Tidak usah diobrak-obrak kayak gini,” kata ustadz Sholeh, alumni sekolah sunnah di Jawa Tengah.

"Pimpinan seharusnya visioner, harus membandingkan pada yang lebih baik," sahut guru Fisika. "Bukan malah dibandingin dengan sekolah yang lebih buruk."

"Bilangnya aja sekolah sunnah, sunnah apa? Kalau kayak gini, namanya lalai pada amanah," kata guru bahasa Inggris. "Saya dulu pernah ngajar di sekolah sunnah di jawa Timur. Wah itu, setengah jam sebelum adzan sudah rapi santri membentuk shaf di masjid, murojaah mereka. Tidak kayak gini, siswa tidak keurus. Nasib mereka tidak jelas. Masak kelas dua tidak hafal satu juz? Promosinya aja akan membuat siswa hafal 30 juz. Sholatnya juga tidak bener. Tidak ada sholat malam."

“Ini sekolah bisnis, sekolah yang dibisniskan. Kayak penitipan anak. Tidak ada peraturan, siswanya dimanja-manja. Jadi kayak raja mereka.”

“Iya, mereka mikirnya, ‘Saya yang bayar ustadz, ngapain ngatur saya?!’ Tidak bisa dibayangin kalau mereka sudah sukses nanti dan menanggung hidup orang tuanya, apa masih mau menghormat orang tuanya?”

"Seharusnya di awal itu ada perjanjian tertulis dengan wali murid biar tidak dikit-dikit lapor polisi, kesenggol teman, lapor polisi. Apa-apaan?!"

***

Ustadz Salman dipanggil wakil presdir ke kantornya sehabis berkomentar tentang kegiatan sekolah yang melibatkan guru di luar jam kerja guru. Semua guru yakin itu karena komentar beliau dianggap nyerang pimpinan.

Wakil presdir, kepala sekolah , waka kurikulum, waka kesiswaan terlalu sering berbeda pendapat. Bahkan keputusan yang baru dibuatnya pun bisa berubah dalam waktu hitungan detik. "Mereka menyebut diri mereka bagian manajemen, apa yang mereka atur?" kata salah seorang guru asing. "Semuanya berantakan begini."

Tak lama, Ustadz Salman kembali ke ruang guru. "Apa kata Pak Wakil presdir?" tanya guru fisika.

"Nggak ada. Tahu nggak, apa yang dia bilang ke saya?" Semua guru tampak penasaran ingin mendengarnya. "Dia bilang begini, 'Anda tahu kenapa saya dipilih jadi wakil presiden direktur?' Saya diam saja, memang saya tidak tahu. 'Saya dipilih karena saya berpengalaman. Jadi tidak usah komen-komen di group,' begitu dia bilang ke saya."

"Lah, terus apa gunanya bikin grup kalau tidak boleh komen?!" kata guru Fisika.

***

Ruang guru lagi sepi, hanya Ustadz Randy, guru Bahasa Inggris dan Ustadz Umar, guru Quran.

"Bagaimana kabarnya, Mister?"

"Alhamdulillah, selalu baik."

"Masih semangat?!"

Tersenyum.

"Kalau ingin gabung di sekolah sunnah yang ibadahnya luar biasa, nih saya ada kenalan, sekolah sunnah beneran."

"Coba share nomor beliau ke WA saya. Saya hubungi nanti."

“Saya tidak nyangka ada sekolah sunnah kayak gini. Kelas dua itu ada yang belum bisa ngaji.”

“Tempat ustadz yang dulu bagaimana?”

“Beeeh... Luar biasa, Mister. Nilai islamnya terasa banget. Sekolah sunnah beneran.”

"Saya coba ajak curhat salah seorang siswa. Dia bilang begini, ‘Ustadz tahu nggak, kenapa saya jarang masuk kelas? Sebenarnya saya ingin tahu, kalau saya begini, apakah akan ada peringatan untuk saya? Kenapa saya begini, dibiarkan saja?’ katanya pada saya.”

“Masak, Mister?! Wah, parah itu.”

“Hampir tidak pernah saya dengar kata dakwah, ibadah di rapat-rapat kita ini; yang dibahas selalu uang dan kepuasan wali murid.”

“Nampak sekali kalau ini bisnis.”

“Ya, trend hijrah lagi booming sekarang, jadi peluang bagi pebisnis untuk jualan sunnah.”

“Jadi rusak nama sekolah sunnah”

bersambung

baca juga: Sarjana Menganggul, Santri Tak Jadi Kyai

Curhatan Seorang Ibu Saat Datang ke Pernikahan Anaknya

Curhatan Seorang Ibu Saat Datang ke Pernikahan Anaknya
Tidak sengaja berita ini terbuka di HP. Menurut saya, ini bukan sekedar soal hubungan ibu dan anak, tapi ini terkait dengan topik pendidikan dan agama. Seorang ibu yang dihalangi datang ke pernikahan anaknya, tentu tak terbayangkan sakitnya hati beliau. Kejam sekali si anak. Tetapi, entah apa sebabnya. Bukan itu yang hendak saya bahas. Saya ingin berbagi pelajaran yang bisa saya ambil dari berita ini.

Saya coba cari akun Facebooknya, berikut akun Facebooknya:



ADEGAN DALAM GAMBAR

Ada beberapa hal dalam gambar tersebut yang menarik perhatian saya, yakni pakaian sang ibu: busana muslimah, ekspresi pengantin wanita yang memalingkan wajahnya, pakaian pengantin wanita yang tidak menutup aurat seperti muslimah pada umumnya, pengantin pria yang mencium kening sang ibu.

Raut wajah sang ibu tampak sedih, mungkin kecewa. Sang anak menunjukkan rasa sayangnya pada sang ibu dengan tangan tetap memegang tangan pengantin wanita yang sepertinya ingin pergi meninggalkan mereka. Sepertinya ia berada diantara dua pilihan. Tidak ada manusia yang tidak pernah mendapat masalah. Kita doakan semoga Allah terus membimbing mereka, dan segera terselesaikan masalahnya.

HUBUNGAN IBU DAN ANAK

Di zaman sekarang ini hubungan ibu dan anak, menurut pandangan saya, ibarat kereta, agak menyimpang dari relnya, khususnya yang muslim ya. Dulu sikap hormat anak pada orang tua dan guru tinggi sekali. Sekarang sudah mulai pudar. Saya tidak hendak mengatakan si pengantin pria tidak hormat sama orang tua. Saya tidak bisa menilai itu.

Membayangkan, andai saya berada di posisi si pengantin pria tersebut, mungkin saya harus rela menangis karena harus memilih. Sebagai seorang muslim, tidak mungkin mengorbankan perasaan ibu. Terkadang AKAL terlalu sombong merasa kebahagiaan ada pada pilihan kita. Padahal, kurang romantis apa Anang dan Krisdayanti? Tetapi, kebahagiaan itu dari Sang Pemilik Hati dan seisi alam jagat ini.

Tetapi, sebagai orang tua, tidak patut juga terlalu mempertahankan ego. Terkadang, sejak kecil anak terlalu dituruti kemauannya, begitu hendak memilih pasangan, tidak boleh memilih, tentu ini kurang bijak. Kecuali, bagi anak yang sejak kecil memang dididik patuh tingkat tinggi pada orang tua, sudah dibiasakan sejak kecil untuk menuruti semua perintah orang tua. Istilah kerennya, sami'na waatho'na.

Sepertinya, sang anak dalam gambar di atas bukan anak yang terbiasa dengan sami'na waatho'na. Tetapi, sang ibu berbeda pilihan. Semoga Allah membantu mereka menyelesaikan masalahnya.

PENDIDIKAN

Sebagai seorang guru, saya melihat KESALAHAN BESAR dalam pendidikan di negeri ini, bahkan di sekolah islam pun ini terjadi. Tidak sedikit orang tua yang menganggap guru sebagai pembantunya dalam mendidik anak. Sehingga tak sedikit anak yang tidak mau hormat guru, katanya karena ia yang membayar guru. ARTINYA, menurut dia yang dihormat itu yang memberi uang, yang kaya. BAGAIMANA setelah ia dewasa dan sukses nanti lalu menanggung hidup orang tua, masihkah akan menghormat orang tua yang sudah tidak memberinya uang? na'udzubillah.

AGAMA

Akhirat itu lebih utama dibanding dunia. Hormat orang tua, terutama ibu, membahagiakan ibu itu keharusan. Berkata "Ah" saja padanya sudah termasuk dalam berbuat durhaka. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah.

Saya pribadi kurang setuju masalah keluarga seperti ini dishare di Facebook.

Kumpulan Komentar Trailer Film The Santri


Review keren nih. Menurut saya lengkap banget, meskipun juga ada yang menurut saya perlu dilengkapi lagi. Saya sepakat sutradara film pesantren harus paham dunia pesantren dan punya feel mendalam di dunia islam dan santri. Saya juga sepakat bahwa kiblat pendidikan pesantren itu tidak harus Amerika. Namun, untuk masalah aurat kaki perempuan dan campur putra-putri, karena ini terkait masalah fiqih, hukum islam, menurut saya sebaiknya disajikan penjelasan dari beberapa ulamak. Sebab biasanya terdapat perbedaan diantara ulamak.

Mengenai menjadikan Amerika sebagai kiblat pendidikan pesantren, saya jadi teringat novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Kang Abik. Beliau mengkritik bangsa Arab yang terlalu bangga dengan Eropa. Menurut saya, lembaga pendidikan islam harus membanggakan keislamannya (Tidak harus Arab). Makna sukses bagi orang Amerika dan makna sukses bagi muslim (khususnya muslim Indonesia) tentu berbeda. Jika generasi muda islam di Indonesia didorong untuk menjadi seperti orang Amerika, kan aneh. Menurut saya begitu.

Akan tetapi, kalau saya boleh menebak-nebak, sepertinya apa yang ditampilkan pada trailer film ini memang untuk memancing kontroversi agar film ini cepat booming dan banyak orang yang penasaran untuk menontonnya. Kemungkinan kedua, untuk strategi dakwah, seperti wali songo yang berdakwah dengan musik, bahkan memasukkan nilai-nilai agama ke dalam budaya masyarakat lokal.

Mengenai santri putra dan putri yang campur, sebenarnya, fakta seperti ini tidak jarang di kampung-kampung. Pesantren tradisional tidak sedikit yang seperti itu. Akan tetapi, mengangkat fakta ini ke masyarakat luas tidak baik juga. Saya lebih setuju, film itu digunakan untuk mengajak masyarakat agar menjadi muslim terbaik. Lebih baik tampilkan teladan-teladan kebaikan dalam film.

Aktor film itu sering kali menjadi tuntunan, menjadi teladan muda-mudi Indonesia. Jika dalam film ini ditampilkan hal-hal yang sebenarnya bukan citacita pesantren, saya khawatir, muda mudi yang menonton film ini malah lebih tertarik meniru cinta-cintaannya dan cita-cita besarnya ingin seperti orang Amerika. Na'udzubillah. Aneh sekali. Seharusnya pergi ke pesantren niat menuntut ilmu, malah jadi salah niat: untuk godain santri wati atau bagi yang putri biar digoda santri putra.



Berikutnya komentar Ustadz Abdul Somad (UAS). Seperti biiasa, menurut saya, gaya bicara ustadz yang satu ini memang banyak guraunya. Untuk saya pribadi, biasanya tidak saya ambil 100% jika Ust Abdul Somad memberi penjelasan. Ada beberapa penjelasan yang tidak disampaikan detail oleh beliau. Begitu juga dalam menanggapi salah satu adegan dalam trailer film The Santri ini. Beliau menanggapi masalah adegan masuk ke dalam gereja. Beliau mengatakan itu haram. Kesimpulan saya, dari beberapa ceramah beliau, biasanya beliau menyampaikan hukum dalam madzhab yang beliau ikuti, yaitu madzhab syafii. Kadang beliau jelaskan detail, juga disampaikan hukum dalam madzhab lain (Hanafi, Maliki dan Hanbali). Namun, dalam menanggapi tentag adegan dalam film The Santri ini, singkat sekali beliau menyampaikannya.



Saya suka komentar Ustadz Felix Siauw. Meskipun seorang muallaf, beliau cukup bagus memotivasi muda-mudi untuk menjadi lebih baik. Saya sepakat, sumber informasi generasi islam: mata dan telinga mereka memang perlu kita jaga agar tidak sembarang informasi yang masuk. Informasi yang mereka terima, baik melalui mata maupun telinga, akan mempengaruhi mindset dan karakter mereka.

Saya belum nonton lengkap film The Santri ini, semoga saja, jika ditonton keseluruhan, film ini mampu memotivasi generasi muda islam untuk menjadi hamba Allah terbaik, untuk selalu melakukan amalan-amalan terbaik. Semoga film ini tidak hanya pamer kesamaan-kesamaannya dengan barat atau nonmuslim. Maksud saya, lebih baik menjaga pergaulan muda-mudi islam dari pada pamer pada orang barat bahwa putra dan putri umat islam dibolehkan juga dicampur dalam satu tempat seperti muda-mudi di barat. Untuk apa pujian dari mereka? Lebih baik bermimpi mendapat surga terbaik, dari pada sekedar berkesempatan dikirim ke Amerika. Memangnya Amerika pintu surga?



Alhamdulillah beberapa kali saya pernah ikut kajian rutin beliau di Jawa Timur. Habib Taufiq cukup tegas menurut saya. Kalau ingin menjadi santri yang baik, ya ngaji, tidak usah nontonn film. Barokah guru lebih baik dari film.


Saran bagus dari Gus Dewa, kita harus husnudzon. Adegan asmara dalam trailer film The Santri ini menunjukkan pada kita bahwa, nakalnya santri itu hanya sampai di situ, tidak separah pelajar yang hidup bebas. Mengenai santri putra dan putri yang berduaan, menurut beliau ikhtilath itu badannya menempel. Jika tidak menempel, bukan ikhtilath.

Mengenai antar kue ke gereja, menurut beliau tidak masalah. Mungkin itu untuk menunjukkan bahwa islam Indonesia itu tidak radikal, tapi juga tidak liberal. Selain itu, kita tidak bisa gampang-gampang mengkafirkan orang, sebab itu urusan hati. Menurut beliau, yang tidak boleh adalah ridho terhadap agama orang kafir.

Berikut komentar K.H. Imam Jazuli. Lc. MA. di situs tribunnews, dalam artikel berjudul Menakar Respon Instan Atas Trailer Film The Santri
Paham radikalisme tidak pernah surut. Ideologi Islam radikal; takfiri, tadhlili, terus berganti wajah. Terus diteriakkan, sekali pun sudah di luar nalar kewajaran. Termasuk dengan melontarkan tuduhan adanya pemurtadan melalui film The Santri, besutan sutradara Livi Zheng yang didukung NU Chanel. Hanya karena perbedaan pendapat seputar hukum ikhtilat, santri masuk gereja dan “percintaan” dunia remaja?

Ustad Maheer Atthuwailibi Jakarta, ustad Yahya al-Bahjah Cirebon, dan ustad Luthfi Bashori Malang, adalah contoh kecil orang-orang yang menuduh ada pemurtadan dalam film The Santri. Dalam kasus Film The Santri, tiba-tiba saja mereka menjadi ahli dan kritikus film. Cukup bermodal bahan trailler dan setumpuk kebencian dalam dada, jadilah mereka kritikus yang lantang. Bahkan, mereka sepakat memboikot penayangan film ini.

Bukti yang banyak mereka soroti adalah cuplikan adegan santriwati menyerahkan nasi tumpeng kepada orang di gereja. Dengan argumen sekenanya, mereka menuduh itulah sarana pemurtadan film The Santri. Tuduhan tidak saja 'ghuluw' atau berlebihan melainkan melampaui keputusan para ulama dari berbagai mazhab. Padahal, empat mazhab sepakat bahwa muslim masuk gereja tidak murtad.

Memang benar sebagian ulama mazhab Syafi'iyah dan Hanafiyah mengharamkan muslim masuk gereja. Pendapat tersebut dikeluarkan oleh, di antaranya, Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj, 2/424), Syihabuddin ar-Ramli (Nihayatul Muhtaj, 2/63), Qalyubi dan Umairah (Hasyiatu Qalyubi wa Umairah ala Syarhi al-Mahalli ala Minhajit Thalibin, 4/236).

Alasan ulama mengharamkan muslim masuk gereja adalah karena di dalam gereja terdapat setan (Ibnu Najim, Bahrur Raiq, 7/364). Namun, hukum haram tidak lantas membuat pelakunya menjadi murtad. Misal, daging babi haram. Tapi, muslim memakan daging babi tidak menjadi murtad.

Karena hukum haram memiliki 'illat, maka ulama lain mencoba memberikan batasan, yakni hanya jika di dalam gereja terdapat gambar dan patung Yesus, bunda Maria, dan lainnya. Jika illat hukum ini tidak ada maka boleh muslim masuk gereja (Abdus Salam bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, 5/327).

Illat hukum ini berlaku tidak saja di dalam gereja. Tapi berlaku secara umum, termasuk di dalam rumah orang muslim sendiri. Hadits riwayat Ibnu Abbas mengatakan, "jika Nabi saw. melihat ada gambar di dalam rumah maka beliau tidak masuk hingga gambar itu dihapus/diturunkan," (HR. Bukhari).

Illat inilah yang menjadi pedoman bagi mazhab Hanbali, dengan mengatakan bahwa muslim masuk gereja itu makruh dan bukan haram. Apalagi berlebihan dituduh murtad. Bahkan, apabila orang-orang muslim merasa tidak terganggu oleh adanya gambar dan patung dalam gereja, seperti tidak terpengaruh oleh lukisan penghias dinding di rumah, maka hal itu boleh. Jika masuknya karena keperluan penting, seperti musyawarah untuk mufakat, atau kunjungan yang memang diperlukan  dalam rangka mempererat persaudaraan dan toleransi, maka hukumnya biasa saja menjadi baik.

Ulama Hanbali melihat celah nalar tersebut. Sehingga, mereka memberi hukum yang lebih ringan dibanding hukum makruh, yakni hukum mubah atau jaiz. Artinya, muslim boleh masuk gereja sekali pun ada gambar dan patung di dalamnya. Hukum jaiz tersebut dapat dilihat dalam pendapatnya Ibnu Qudamah (al-Mughni, 8/113), Sulaiman al-Marsawi (al-Inshaf fi Ma'rifatir Rajih minal Khilaf, 1/496), dan Ibnu Hazm ad-Dhahiri (al-Mahalli, 1/400).

Membolehkan umat muslim masuk gereja memiliki alasan kuat. Para ulama selain berdalil pada hadits juga berdalil berdasar peristiwa sejarah. Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah memerintahkan umat Nashrani untuk membangun gereja-gereja mereka dengan ukuran yang lebih besar dan lebih luas. Tujuan kebijakan politik Umar ra tersebut adalah agar umat muslim bisa masuk ke dalam gereja dan tidur menginap di sana (Ibnu Qudomah, al-Mughni, 8/113).

Peristiwa sejarah lain serupa terjadi saat penaklukan Negeri Syam. Pada saat itu, Umar ra dan Ali bin Abi Thalib berangkat ke Syam untuk menyaksikan kota yang baru tunduk itu. Untuk menyambut kedatangan sang Khalifah, umat Nashrani memasak masakan paling lezat untuk hidangan khalifah. Ketika hidangan siap santap, Ali bin Abi Thalib tidak melihat Umar. Dia bertanya: "kemana Umar?" Orang-orang menjawab: "beliau di dalam gereja."

Awalnya Ali menolak ikut masuk ke gereja. Tetapi, Umar berkata: "pergilah bersama yang lain!" Ali pun mengikuti saran Umar, ia masuk ke dalam gereja, dan ikut makan bersama orang-orang Nashrani. Di dalam gereja, Ali bin Abi Thalib melihat-lihat seni ukir dan lukisan umat Nashrani itu (Ibnu Qudomah, al-Mughni, 8/113).

Kebolehan masuk gereja didukung oleh Lajnah Da-imah lil Buhuts al-Ilmiah wa al-Ifta'. Muslim boleh (jaiz) masuk ke dalam gereja dengan catatan untuk tujuan toleransi (at-tasamuh), memperkenalkan wajah Islam yang damai supaya mereka cinta Islam, tidak ikut-ikutan melakukan ibadah gereja, dan tidak khawatir terpengaruh oleh ajaran gereja (Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiah wal Ifta', Riyadh: Darul Muayyid, 1424 H., 2/115).

Sudah menjadi rahasia umum, para ulama Timur Tengah, terutama grand syeikh al-Azhar, terbiasa masuk gereja. Mereka duduk bersama dengan Paus dan bapak gereja lainnya. Jika masuk ke dalam gereja disebut pemurtadan, maka sungguh hal itu lebih terlihat sebagai kebencian atas nama agama dari pada membela agama dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan.

Kritik lain yang kesannya berlebihan (ghuluw) dari berdasar pada ilmu agama adalah tentang ikhtilath. Mereka mengkritik adegan para santriwati dan santriwati di suatu tempat yang sama. Selain pemandangan seperti ini hal lumrah terjadi di banyak pesantren tradisional, banyak ulama juga membolehkan ikhtilat, apalagi di dalam lembaga pendidikan. Dr. Abdul Masih Sam’an, Dosen Universitas ‘Ain Syam sekaligus ulama Kuwait, bahkan mengatakan bahwa ikhtilath antara perempuan dan laki-laki di lembaga pendidikan merupakan keharusan (la budda).

Menurutnya, negara-negara yang melarang ikhtilath jauh lebih potensial memancing kerusakan akhlak. Sebaliknya, pembiasaaan ikhtilath sejak madrasah ibtidaiyah akan mengurangi dampak buruk tersebut. Dengan alasan yang sama, Dr. ‘Adil al-Madani, seorang dosen ilmu psikologi Universitas al-Azhar, Kairo, malah melihat ikhtilath di lembaga pendidikan harus dilakukan sejak usia dini (ALWATAN,18/1/2012).

Hadits yang digunakan para ulama adalah riwayat Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rasulullah saw naik ke mimbar dan bersabda: “sejak hari ini tidak boleh ada lelaki masuk ke mughibah (perempuan bersuami yang suaminya sedang pergi-pent.) kecuali ia bersama seorang laki-laki lain, atau bersama dua perempuan di sampingnya,” (HR. Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, ia mengatakan: “Rasulullah saw mendatangi Ummu Haram binti Mulhan, lalu Ummu Haram menyuguhkan makanan pada beliau dan menyisir rambut beliau. Kemudian Rasulullah saw tertidur. Setelah bangun, Rasulullah tertawa. Ummu Haram bertanya: 'apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasul?' Rasul bersabda: 'umatku maju ke medan tempur, mereka menunggangi kuda seperti gelombang laut,” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits-hadits di atas tidak saja mendukung bolehnya ikhtilath, bercampurnya laki-laki dengan perempuan dalam batas yang kewajaran, tetapi juga menjadi dalil bagi bolehnya perempuan menyisiri rambut laki-laki bukan muhrimnya. Mungkin karena  melihat ada kelonggaran hukum ikhtilat disini, sebagian para kiai masih membiarkan santriwan dan santriwatinya campur dalam satu kelas, sebagai hal yang wajar dan tidak perlu dicurigai secara berlebihan. Baca Selengkapnya 
Rupanya Kyai yang satu ini punya lebih banyak referensi mengenai hukum ikhtilath. Tetapi, entahlah, apakah referensi tersebut cukup kuat untuk membolehkan bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Wallahua'lam.

Trend Hijrah Menjadi Peluang Bisnis Pendidikan Islam



Kata hijrah popular sekali belakangan ini. Istilah hijrah di Indonesia dikenal dari sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, setelah Rasulullah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beserta para sahabat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Namun, belakangan ini istilah Hijrah tidak hanya digunakan bagi orang yang pindah tempat, melainkan juga bermakna berubah: dari sifat/perilau/gaya hidup tidak baik menjadi baik.

Trend Hijrah membooming berkat dakwah-dakwah gaya modern oleh ustadz-ustadz muda, bahkan para artist. Ramailah kajian-kajian yang dihadiri oleh anak-anak muda, bahkan geng motor tidak mau ketinggalan hingga muncul istilah geng motor syariah.

Trend hijrah ini rupanya menjadi peluang bagi para pebisnis, ada bisnis fashion, bisnis pengobatan ala nabi juga berkembang, herbal juga laris. Bahkan bisnis pendidikan islam pun juga ambil bagian.

Saya ingin bercerita khusus bisnis pendidikan islam saja. Saya merasa perlu untuk mengulas yang satu ini. Beberapa hari yang lalu salah satu teman bercerita tentang curhatan salah seorang ibu di sosial media (identitas dan tempat dirahasiakan). Sepertinya beliau kecewa dengan sekolah tempat anaknya belajar. Katanya ada siswa baru pindah, kemudian ikut lomba dan juara, oleh sekolah diberitakan. Padahal, itu bukan hasil didikannya. Sistem/manajemennya kacau. Selain itu, dia juga bilang kalau sekolah tersebut buka cabang dimana-mana, padahal manajemen di pusatnya saja masih kacau. Gedung megah tak menjamin kwalitas bagus. Progres hasil belajar tidak jelas. Padahal beliau berharap sekali anaknya mendapatkan pendidikan agama yang baik. Ternyata, menurut beliau, sekolah tempat anaknya belajar money oriented banget.

Saya jadi teringat tulisan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim di Fans Page Facebooknya. Kata beliau, banyak sekolah islam terburu-buru membuka cabang, padahal manajemen belum matang. Akibatnya, malah tidak terurus. Begitu kurang lebihnya.

Komentar beberapa teman atas cerita seorang ibu diatas: buruknya manajemen sekolah islam biasanya karena SDM yang ada tidak paham manajemen, mereka hanya memiliki ilmu agama yang luas, bisa mengajar, ahli dalam ceramah, hafalan Quran dan Hadits, lulusan kampus luar negeri. Padahal, suatu lembaga pendidikan memerlukan manajemen yang baik. Apalagi tidak gratis, lebih-lebih biayanya mahal.

Biasanya ada investor yang mendanai fasilitas sekolah. Investor tersebut mengharap income dari lembaga pendidikan tersebut. "Niatnya bukan mendidik lagi," komentar yang lain. "Bagaimana bisa berkah ilmunya." Cerita lain dari seorang teman juga, katanya siswa di sekolah islam yang mewah tempat dia mengajar dulu sulit diatur. Kata dia, ada siswa yang berani bilang, "Saya yang bayar, Ustadz," saat ditegur karena berbuat kesalahan. Katanya, sikap wali murid memang seperti bos pada babunya. Mungkin karena mereka sudah membayar mahal. Bahkan hampir setiap masalah yang menimpa anaknya urusannya sama kepolisian. Seperti babu mendidik bos.

Pikir saya, jika sekarang anak tersebut/generasi islam tersebut tidak mau menghormat guru/ustadz karena ustadznya dibayar, bagaimana nanti ketika ia sukses dan menanggung hidup orang tuanya, apakah dia juga akan memperlakukan orang tuanya seperti budak?

Banyak lembaga pendidikan islam di kampung-kampung yang sangat sederhana, bahkan serba kekurangan. Ada yang lantai kelasnya masih berupa tanah, ada yang dibangun dari anyaman bambu, ada yang sudah gedung tapi atapnya bocor. Gaji gurunya tidak seberapa. Jumlah muridnya juga sedikit. Tetapi, menurut saya itu lebih baik keadaannya; jika tradisi keislamannya ditegakkan, daripada lembaga pendidikan yang gedungnya mewah, siswanya banyak, yang sekolah anak-anak orang kaya, tetapi penuh ketegangan, konflik orang tua murid dan para guru/ustadznya tinggi, siswanya berperilaku seperti bos. Pernah saya melihat seorang wali murid berbusana syar'i marah-marah pada pihak sekolah karena fasilitas yang diberikan untuk anaknya tidak memuaskan. Bukankah musyawarah lebih baik? bukankah kita diberi contoh untuk sabar oleh Rasulullah saw dan para sahat?

Bisnis pendidikan islam di zaman ini memang cukup menjanjikan. Kenakalan remaja, bahaya narkoba, tawuran, dan semacamnya membuat para orang tua, khususnya, di kota besar memilih untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan islam, baik yang full day atau yang asrama atau dalam istilah kerennya Boarding School.

Akan tetapi, ada hal yang perlu dikaji ulang oleh semua yang peduli pendidikan islam. Pendidikan umum dan pendidikan agama tidaklah sama. Lembaga pendidikan umum mendidik generasi bangsa ini agar berguna bagi bangsa dan negara ini. Negara butuh ahli kelautan, didirikanlah lembaga pendidikan bidang kelautan. Suksesnya lembaga pendidikan umum ini diukur dengan kesuksesan alumni dalam karirnya (yang saya tahu begitu). Berbeda dengan pendidikan islam, ini tugas dari Tuhan kita, ulamak mengajarkan ilmu agama bukan karena negeri ini butuh guru Quran atau butuh imam mamsjid, tapi karena itu tugas mulia dari Sang Pencipta.

Segala perbuatan itu tergantung niatnya. Seorang pengajar ilmu agama tidak mengajar dengan niat agar muridnya jadi juara Qiroat, juara lomba bahasa Arab, dan semacamnya, bukan juga dengan niat agar jadi imam masjid yang gajinya besar, tetapi seorang ulamak mendidik murni karena mencari Ridho dan Kasih Sayang Allah.

Beberapa tahun lalu salah seorang teman saya yang sekarang menjadi pengasuh salah satu pesantren di Jawa Timur pernah berkomentar, "Bisa jadi kesuksesan yang kamu bangga-banggakan sekarang itu bukanlah kesuksesan sejati, melainkan adzab yang menjerumuskanmu pada kesesatan." Beliau berkomentar begitu sebagai tanggapan atas senior kami yang terlalu bangga dengan keberhasilan duniawi, bangga dengan barat, seakan-akan kita dibilang sukses jika sudah seperti barat: kaya harta dan menjadi terkenal.

Keberhasilan pendidikan islam adalah terbentuknya ahlak pada diri peserta didik: budaya ilmiah tertanam dalam dirinya, semangat untuk terus menuntut ilmu, sabar dalam menjalani hidup, ikhlas dalam menjalani kesulitan-kesulitan, semangat menjalani hidup, tidak suka mengeluh, dan banyak bersyukur. Bukan berpakaian islami, tapi suka marah-marah, berpakaian islami tapi tak hormat sama yang lebih tua, na'udzubillah, apalagi sampai bangga dengan harta.

Kita semua yang muslim ingin generasi kita menjadi ahli ibadah, ahli ilmu, ahli Quran yang hidup sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Gempa Tangerang Selatan.


Baru saja terjadi gempa lumayan besar di Tangerang Selatan. Saya di daerah BSD. Kencang sekali guncangannya.

Syukurlah tidak ada korban. Kita tunggu info lengkap dari BMKG.

Cerita Lucu Wanita Ingin Mati di Mekkah

Cerita lucu, Cerpen komedi,
Ada seorang wanita paruh baya asal Madura Jawa Timur pergi haji. Kepercayaan orang kampung, meninggal di Mekkah itu pasti masuk surga. Begitu kata kyai dan para ustadz. Orang kampung memang tak banyak minta dalil atau bukti jika berkaitan dengan kebaikan dalam agama.

Siapa yang tidak mendambakan surga? Begitu juga dengan Subia (bukan nama asli), Allah memampukan dia untuk berangkat haji ke tanah suci. Mungkin tak mudah baginya mengumpulkan uang, sehingga ia ingin memanfaatkan uang tersebut sebaik-baiknya.

Kata kyai juga, orang yang melaksanakan ibadah haji itu hilang dosanya dan bersih lagi seperti bayi baru lahir. Pikir Subia, eman uangnya jika setelah pulang haji kotor lagi jiwanya oleh dosa. Ia pun bertekad untuk mati di mekkah.

Musim haji sudah usai. Jamaah haji sudah banyak yang pulang. Subia tidak mau pulang. Mungkin pikirnya rugi sekali sudah sampai di tempat yang katanya seperti pintu surga, lalu tidak sekalian masuk ke surga. Semua yang membujuknya gagal. Sekali ke Mekkah, bagi Subia, harus langsung ke surga.

Subia pun ditinggal kawan-kawannya. Ia menunggu ajal di masjidil haram. Sepertinya cukup banyak bekal yang ia bawa. Namun, akhirnya visanya yang habis. Untungnya petugas keamanan yang mengurus Subia tidak suka pake kekerasan. Tetapi habis juga kesabarannya.

Akhirnya para petugas meminta bantuan orang Indonesia yang sudah lama bekerja di sana untuk membujuk Subia.

"Kenapa Ibu tidak mau pulang?" tanyanya pada Subia.

"Saya ingin mati di sini, biar masuk surga."

"Visa ibu sudah habis, harus urus visa lagi."

Subia tetap ngotot tidak mau pulang.

"Ibu bisa Bahasa Arab?"

"Tidak. Dari kecil saya pake bahasa Madura."

"Loh, di sini kan bahasa Arab, Bu? Kalau mati di sini, nanti di kubur ditanya pake Bahasa Arab sama malaikat? Apa Ibu bisa jawab?"

Subia bingung. Ia lupa kalau akan ditanya malaikat di kubur. Sekarang ia berubah jadi ketakutan mati di Arab.

"Iya, sudah. Saya mau pulang."

*Sumber kisah dari teman
Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.