Corona: Kerumunan Orang Tak Hanya Di Masjid


Ada isu masjid juga akan ditutup. Sekolah sudah diliburkan. Itu semua demi mencegah penyebaran virus korona. Sekolah diliburkan, tidak banyak yang protes, tapi kalau sholat jamaah dan sholat jumat yang diliburkan, ini hal sensitif.

Orang mau sholat itu sudah bersuci membersihkan diri, beda dengan aktivitas di pasar, mall, tidak ada kewajiban wudhu sebelum belanja.

Sebenarnya kerumunan orang itu bukan hanya di masjid. Sholat itu sebentar, lebih lama orang berkumpul di kendaraan umum, di pasar, di mall. Tetapi, memang dunia ini tidak ramai kalau tidak ada kontroversi. Sebenarnya, sebelum membahas hal sensitif terkait kegiatan keagamaan, kenapa tidak membahas tempat kerumunan yang lainnya dulu?

Waspada saja, jangan terpancing emosi.

Buntut Banner Penolakan Muhammdiyah terhadap Penyelenggaraan harlah NU di Kauman

Banner penolakan Muhammdiyah terhadap penyelenggaraan harlah NU di Kauman, Jogja bukan hanya mendapat respon panitia harlah, tetapi semua warga NU. Meski banner tersebut, sebenarnya, dibuat sebagai penolakan terhadap pembicara acara tersebut, tetapi isi banner tidak sesuai dengan tujuannya. Dalam banner tersebut jelas ditulis, Kauman adalah Jantung Muhammdiyah.

Bagaimana jika NU juga mengklaim begitu? Berapa luas wilayahnya. Bahkan ada berapa kabupaten yang menjadi jantung NU?


Lidah tak bertulang, tapi akibatnya bisa lebih tajam dari pedang. Begitulah komunikasi. Sebagian mungkin memaklumi, karena NU dan Muhammdiyah seperti dua saudara yang banyak peran memerdekakan negeri ini, juga membangun negeri ini hingga sekarang. Ada yang curiga penyusup di tubuh Muhammdiyah yang berulah.

Dari kalangan NU muncul ungkapan tandingan banner tersebut di sosial media.


Lihatlah sebuah thread yang diunggah di salah satu grup NU. Jika NU mau mengkapling wilayah, semua orang tahu itu. Acara memang dipindah tempat. Namun, keputusan panitia harlah mengalah dengan memindahkan acara rupanya tak cukup meredam.

"Mengumpulkan buaya itu gampang, yang susah itu mengumpulkan pawang buaya," begitu kata Ustadz Abdul Somad. Pimpinan Muhammdiyah dan NU perlu duduk bersama agar seluruh warga Muhammdiyah dan NU menyaksikan.

Kejadian ini menjadi ancaman bagi persatuan negeri ini. Penduduk Indonesia mayoritas muslim: Muhammdiyah dan NU. Pihak-pihak yang ingin negeri ini hancur, cara gampangnya mengadu dua ormas islam tersebut.


Kita semua berharap kedua belah pihak bisa segera akur, rukun, damai.

NU Mengalah pada Muhammadiyah, Apa Akibatnya

Kemarin ada yang posting foto pertemuan dua pimpinan ormas besar ini di Jogja, membahas tentang penolakan Muhammadiyah terhadap penyelenggaraan HARLAH NU di Kauman. Saya kira sudah tuntas masalahnya. Ternyata, acara jadi dipindah tempat.


Penolakan tersebut karena menghadirkan kyai NU yang pernah viral dengan pernyataan kontroversialnya. Menurut saya itu wajar, tapi tulisan di spanduknya tidak tertuju pada diri pribadi beliau, melainkan pada ormasnya.


Coba perhatikan tulisan di banner tersebut. Tampak sekali Muhammdiyah merasa terancam keberadaannya, merasa memiliki daerah teritorial, seakan-akan NU akan merebut wilayahnya. Padahal dua ormas islam ini sudah sama-sama cukup dewasa. Banyak yang meyakini itu ulah oknum. Memang sulit dipercaya, dua ormas besar yang lama hidup berdampingan bisa berbuat demikian.

Hal tersebut dapat mengancam persatuan. Hampir semua masyarakat desa di tanah jawa, mungkin juga di luar jawa, pro NU, karena kentalnya NU dengan adat tradisi kebiasaan masyarakat desa. Wilayah kota itu lebih sempit dibanding desa. Bagaimana jika NU membalas?

Tetapi, rupanya panitia HARLAH NU cukup bijak, beliau memutuskan mengalah dan memindahkan acara.

Saya salut sekali dengan pernyataan beliau, bahkan mengaku bersalah karena kurang menjalin hubunan silaturahim dengan Muhammdiyah. Sungguh bijaksana menurut saya.


Hal tersebut dibenarkan oleh pernyataan ketua RW di daerah setempat. Hal ini menjadi pelajaran. Jika masalahnya karena tidak ada komunikasi, semestinya ketua RW atau lurah saja menegur langsung panitia, tidak usah membuat banner penolakan, mengingat keduanya bukan organisasi kecil semacam OSIS, ini ormas besar dalam suatu negara, bahkan sudah ada di luar negeri.. 


Panitia sudah memutuskan memindah. Tetapi, apakah masalah sudah selesai? Hingga hari ini, masih ada warga NU yang posting banner penolakan tersebut di Facebook. Banner tersebut bukan hanya melukai hati panitia acara, tetapi warga NU semuanya. Menurut saya perlu adanya pertemuan dua pimpinan utama ormas besar tersebut agar tidak berlarut-larut dan membesar.


Semoga kita semua selalu mendapat petunjuk Allah.





Muhammadiyah dan NU itu Seperti Saudara

Melihat kabar yang tersebar di sosial media, gambar spanduk bertuliskan penolakan terhadap acara HARLAH NU di Kauman oleh warga Muhammadiyah.


Mengejutkan. Memang, perbedaan sempat membuat keduanya terkesan kurang akur, saling sindir perbedaan pendapat masalah fiqih, tapi kita semua tahu bagaimana kekdua ormas ini bersama membangun negeri. Pikir saya, jika itu benar, bagaimana nasib warga Muhammdiyah di wilayah NU?


Berdasarkan berita di Jatengpost, rupanya penolakan itu memang benar dari pimpinan daerah Pemuda Mahammadiyah setempat.


Berdasarkan komentar salh seorang netizen ini, bisa dipastikan, penolakan tersebut dilakukan oleh oknum, bukan warga Muhammadiyah, atau mungkin hanya pengurus pemuda Muhammadiyah saja.


Netizen yang satu ini tampak sekali tidak ingin Indonesia terpecah belah. Benar. Saya sepakat, perbuatan semacam ini memang membuat perpecahan. Agak aneh rasanya, NU dan MUhammadiyah sudah cukup berumur di negeri ini, sudah cukup dewasa dalam menjalani hidup bersama. Terkesan tidak dewasa jika harus pasang sepanduk semacam itu. Menurut saya begitu.

Semoga dua ormas ini terus berkembang menjadi lebih baik membangun negeri ini.




PENIPU TAK PERLU GANTI NOMOR HP

Penipuan online

Ada yang bilang, hidup di masyarakat itu tidak jauh beda dengan hidup di hutan: saling mangsa. Waktu masih di sekolah, kita semua diajarkan bahwa ada penegak hukum yang akan menghukum pelaku kejahatan. Itu benar, tapi realita tidak selalu sama dengan materi pelajaran sekolah.

Ini bukan tentang korban, tapi tentang kehidupan sosial

Beberapa waktu lalu saya coba-coba, transaksi barang online, tapi bayar sedikit. Dia nunjukin KTP dan KK. Nama FB dia ada kata yang sama dengan nama di KK dan KTP tersebut. Nomor rekening yang dia berikan berbeda namanya. Saya tidak terlalu banyak pertimbangan karena uangnya juga tidak banyak. Setelah transfer saya kirim bukti transfer.

Dia kirim foto kantor JNE dan video singkat petugas JNE sedang melayani. Setelah agak lama, ada telefon mengaku dari pengiriman, tidak bilang dari JNE. Dia minta beacukai Rp 3 juta. Padahal jarak pengiriman hanya sekitar 100 km. Aneh kan? Logat yang telefon juga seperti orang timur, bukan logat orang daerah tersebut.

Hal menarik untuk diceritakan, menurut saya, nomor hp yang digunakan tetap aktif, bahkan beberapa facebook dengan nama sama (satu kata yang sama) bebas aktif di beberapa grup facebook. Barang yang dijual pun sama. Jika ditanya alamatnya, tetap menyebut alamat yang sama. Bahkan ada yang bilang, info penipuan oleh pelaku yang sama, alamat sama, barang yang sama sudah tersebar dua tahun lalu. Wow...!!

Pikir saya, "Ini negara hukum, ada penegak hukum kan?"

Setiap nomor HP harus verifikasi nomor KK dan KTP, apalagi rekening bank. Tetapi, rupanya penipu masih bisa bebas menggunakan nomor HP dan rekening bank. Ada satu orang korban yang sempat saya tanya lewat akun Facebooknya. Dia tertipu uang hasil ia nabung. Kejadiannya sudah agak lama. Dia mahasiswa. Dia juga sudah lapor polisi, katanya. Pikir saya, berarti pelaku ini sudah lama beraksi.

Seharusnya identitas pengguna nomor HP dan rekening bank terdata dan bisa dengan mudah dideteksi? Pikir saya begitu.

Baca: Kisah Maling yang Mendadak Jadi Kyai

Hampir Tertipu Penjual di Lazada

penipuan lazada lewat sms, penipuan lazada melalui sms

Semoga pengalaman ini tidak dialami oleh yang lain. Saya ceritakan di sini biar tidak ada yang jadi korban penipuan. Kemarin saya mencari barang elektronik yang harga barunya kisaran 3 jutaan di Facebook, di Shopee, Tokopedia dan Lazada. Di beberapa toko tersebut ada beberapa yang murah, tapi kualitasnya rendah.

Di Lazada ada beberapa penjual yang menjual murah barang yang lumayan berkualitas. Saya chat penjualnya. Beberapa sudah terjual. Nah yang satu ini menawarkan barangnya seharga 1,5 juta saja. Padahal itu barang berkualitas. Saya chat dia dan dia balas stok ada. Satu hal yang aneh, dia menyertakan nomor HP di chatnya. Entah ini memang boleh di Lazada atau saya saja yang belum tahu. Senang sekali rasanya bisa dapat barang berkualitas dengan harga murah.

Baca juga: Cerita Seorang Ibu Tertipu Label Sekolah Sunnah

Saya pun ke Alfamart untuk transfer uangnya, tapi ternyata error, lalu ke Indomaret. Setelah transfer, saya konfirmasi lewat nomor WA yang ia berikan di chat lazada. Balasan dia aneh. Dia bilang tokonya masih illegal. Lalu untuk memperlancar, ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk memperlancar pengiriman barangnya, yakni dengan mengirimkan nomor HP dan email saya yang terdaftar di Lazada.

Sampai di sini saya curiga. Saya ingat bulan Juni lalu waktu ditawari pinjaman online oleh seseorang lewat indomaret. Saya diminta top up lewat debit. Untungnya kasirnya curiga dan menasehati saya.

Saya ambil HP yang sedang dicharge, langsung saya batalkan transaksi. Dia chat saya lagi, karena saya tidak menanggapi permintaan dia untuk mengirim nomor hp dan email saya yang terdaftar di Lazada.

Sebenarnya, ciri-ciri toko ini sudah jelas tidak terpercaya, tapi saya tergiur dengan harga murahnya. Dari beberapa barang serupa yang ia jual, tidak satu pun ada yang terjual. Tidak ada rating. Tetapi ada beberapa pengikut.

Baca juga: Cerita Tertipu Lowongan Kerja

Ustadz Radikal Masuk Kampung

CERPEN ISLAMI, ajaran islam radikal,

"Acara apa di masjid?"

Sadun sudah lama tidak pulang dari pesantren. Ia mondok di salah satu pesantren di Jember. Biasanya ia pulang setiap sebulan sekali, cuma kali ini dia ingin seperti santri-santri dahulu. Sebagian besar pemuda Bondowoso dulu belajar di pesantren, di daerah Jawa Timur dan Madura. Biasanya mereka jarang sekali pulang. Ada yang cuma pulang tiga kali dalam waktu 12 tahun. Jaman sekarang, pemuda negeri ini memang lebih cengeng. Dikit-dikit minta pulang, minta jenguk, berat dikit ngeluh. Sadun mencoba meniru mereka yang sabar dalam menuntut ilmu.

"Acara kajian," jawab bibinya Sadun.

"Kajian apa?"

"Apa namanya sudah, lupa saya."

"Rutin?"

"Iya."

Sadun curiga. Dalam beberapa tahun terakhir di Jember memang lagi marak kajian-kajian di masjid-masjid. Mereka bukan dari kelompok ormas islam besar yang sudah lama terkenal di negeri ini: NU dan Muhammadiyah. Cara berpakaian mereka beda. Kaum wanitanya tertutup. Mereka sering menyesatkan tradisi-tradisi keislaman yang sudah biasa dilakukan masyarakat.

Usai kajian Sadun memperhatikan orang-orang yang ikut kajian. Kaget sekali dia melihat beberapa teman SMP nya dulu yang terkenal nakal juga ikut kajian tersebut. "Itu Doni, Bi?"

"Iya. Dia rajin ngaji sekarang. Leo juga. Sony, Randy, Afif, Barkhan juga ikut."

Sadun mencoba main ke rumah Doni. "Sadun...!! Assalamualaikum...!!" seru Doni dari teras rumahnya. Tidak biasa. Mengucap salam bukan kebiasaan warga di kampung ini. Pasti ini termotivasi oleh sang ustadz.

"Waalaikumsalam. Habis ngaji, Don."

"Iya. Mantap ustadznya, Dun. Menarik kajiannya. Banyak teman-teman di sini yang ikut."

Keduanya ngobrol di teras.

"Tentang apa tadi kajiannya?"

"Tentang akidah. Ternyata, banyak kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan dalam ibadah selama ini."

Sadun tersenyum. "Contohnya?"

"Ziarah kubur, tahlilan, maulid nabi, qunut, dzikir keras-keras, dan banyak lagi. Itu ternyata salah."

Baca juga: Cerita Cinta Gadis Wahabi

Di pesantren tempat Sadun belajar ada pelajaran khusus yang membahas tentang pergerakan paham radikal di Indonesia. Sadun sudah mempelajarinya. Mereka mempelajari ilmu agama secara instan, tidak sesuai kurikulumnya. Doni adalah salah satu contoh korbannya. Dengan gampangnya menyesatkan orang lain. Padahal perbedaan pendapat seperti itu sudah terjadi sejak zaman sahabat dulu.

Di kalangan kyai-kyai NU sendiri juga terjadi perbedaan pendapat, tapi tidak diumumkan di depan masyarakat umum, apalagi disampaikan pada orang awam. Perbedaan pendapat seperti itu hanya dibahas di forum ilmiah, dibahas dengan orang-orang alim yang memang mempelajari disiplin ilmunya. Di pesantren tempat Doni belajar, santri harus hatam beberapa kitab karya ulamak besar dulu sebelum ikut dalam diskusi-diskusi ilmiah.

"Kenapa kok bisa salah, katanya, Don?"

"Itu tidak pernah diajarkan dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya itu adalah kebaikan, pasti para sahabat lebih semangat dibanding kita."

"Nabi tidak naik mobil."

"Itu kan bukan urusan ibadah."

"Kalau menikah, termasuk ibadah?"

"Bisa jadi."

"Nabi tidak pernah menikah dengan perempuan Indonesia."

"Ya, tidak bisa begitu. Yang penting kan sama-sama perempuan."

Sadun tidak begitu serius, dia hanya candain Doni saja. Tetapi, Doni sangat serius menanggapinya.

"Nabi melakukan ibadah puasa di hari lahirnya. Kita bershalawat di hari kelahiran Nabi. Kan sama-sama ibadah?"

Doni diam. Sepertinya agak bingung.

"Ada kisah tentang Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

'Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.' Ibnu ‘Abbas berkata, 'Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.'

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

'Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.'

Begitu kisahnya. Lalau, kok bisa dilarang, kenapa?"

"Tapi, ustadz ini cerdas Dun."

"Orang itu dikatakan kuat kalau bisa mengangkat batu yang beratnya 40 kilo gram, menurut saya. Tetapi menurut orang lain, beda, orang lain mungkin beda pendapat, dikatakan kuat kalau bisa mengangkat batu yang beratnya 70 kilo gram. Dikatakan cerdas oleh kita, apakah sama cerdas menurut Allah?"

Sejak ikut pengajian, Doni senang sekali berdiskusi. Dulu suka nongkrong di pinggir jalan, main guitar, mabuk-mabukan, dan semacamnya. Sekarang sudah kecanduan pengajian. Tidak mau lagi bonceng cewek. Dia sudah tergabung dengan pemuda hijrah.

"Intinya, kata ustadz, yang benar itu adalah yang diajarkan oleh ulamak yang sudah masyhur, terkenal."

"Siapa itu?"

"Ibnu taimiyah, bin baz, Syekhh albani dan utsaimin."

Sadun sudah sangat kenal dengan nama-nama itu. Bukan tidak mengakui keilmuan mereka, tapi kelompok yang mengaguni mereka selalu merasa paling benar dan terang-terangan menyalahkan atau menyesatkan ulamak yang tidak sependapat dengan mereka, itulah sikap yang bisa merusak persatuan umat islam. Apalagi disampaikan pada masyrakat awam.

"Berapa jumlah orang yang kenal mereka? Berapa orang yang kenal ulamak yang mereka sesatkan?"

Doni kaget. Mana dia tahu jumlah pastinya. "Banyak, sedunia."

"Kata siapa?"

"Kata utadz, begitu."

"Yang mengajarkan tahlilan, maulid nabi, qunut, itu juga terkenal sedunia. Lebih banyak mana?"

Doni diam. Dia bingung. "Terus, kita ikut yang mana?"

Sadun juga bingung menjawabnya. Ikut ulamak yang tidak suka menyesatkan orang lain itu lebih baik. Tetapi, kajiannya hanya ada di dalam pesantren. Pemuda seperti Doni tidak akan datang ke pesantren. Selain itu, yang rajin sholat jamaah di masjid-masjid juga kelompok-kelompok baru ini. Doni sudah jadi baik. Dia sudah menjadi pemuda baik, meskipun ada kesalahan, yakni sikap yang berpotensi memecah belah umat, bahkan menentang pemerintah.

"Ikuti yang kamu suka dan jangan sesatkan orang lain. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebaik-baik umat itu adalah yang hidup di zaman beliau, setelahnya dan setelahnya."

"Paham. Doni sudah tahu itu."

"Bukan Ibnu Taimiyah, bukan Syekh Al Bani atau Bin Bas."

"Kenapa kyai-kyai tidak mengadakan kajian-kajian seperti ini?"

Sadun terdiam lagi.

"Oya, kalau ajaran di pondokmu, Allah itu ada dimana?"

Ini yang sangat berbahaya. Sadun menghela nafas. Sepertinya Doni mencari topik lain agar diskusi berlanjut. Ajaran ini menurutnya cukup berbahaya. "Begini, Don. Pikirkan dan lakukan amalan hanya," Sadun menekankan suara pada kata 'hanya', "yang membuat kita semakin dicintai Allah dan semakin dekat dengan Allah. Memangnya dengan tahu dimana Allah kita jadi tambah semangat ibadah?" Doni diam. "Itu hanya menimbulkan perdebatan. Perdebatan itu mengeraskan hati."

...bersambung

Powered by Blogger.

Disclaimer for Kumpulan Cerita Tentang Kehidupan

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at bisnissun@gmail.com.

Disclaimers for www.ladangcerita.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. www.ladangcerita.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (www.ladangcerita.com/), is strictly at your own risk. www.ladangcerita.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, March 30th, 2019
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.