Siswa Teriak 2019 Ganti Presiden Dicari Mendikbud


"Luar biasa pemerintahan jaman sekarang," kata Kalimun. "Sikap Mendikbud terhadap siswa yang teriak 2019 Ganti Presiden ini bisa membuat siswa trauma. Mereka akan takut berekspresi karena kalau salah, akan berhadapan dengan Pak menteri."

"Suudzon lagi." Jawalun langsung bereaksi. "Kalau tidak direkam pake video, tidak masalah. Ini bukan mainan."

"Masak, sampek segitunya. Jangan-jangan itu karena kurikulumnya, sehinggal anak didik jadi begitu."

"Itu bukti menteri pendidikan yang punya kepedulian tinggi terhadap generasi. Pelajar itu memang belum waktunya terlibat politik praktis. Mereka ..."

"Sebentar! Saya sela." Jawalun terpaksa menghentikan pemaparannya. "Kalau ketahuan, pak menteri akan datang ke sekolah tersebut untuk ngurusi siswa tersebut?"

"Ya, tidak lah."

"Hanya seorang pelajar."

Fabel: Burung Perpustakaan Di Hutan Aksara

Cerpen, cerpen anak, fabel, cerpen singkat


Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan langit di ufuk timur masih dipenui warna merahnya fajar, si burung perpustakaan sudah berada di puncak pohon tertinggi di wilayah kerajaan Gajah Putih yang terletak di tengah hutan Aksara. Hutan Aksara merupakna hutan yang sangat lebat. Luasnya beribu-ribu haktare. Hutan Aksara banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi besar. Banyak buah-buahan di hutan tersebut. Ada buah mangga, apel, jeruk, nanas, dan semacamnya.

Ada sebuah sungai di hutan tersebut, airnya sangat jernih membuat hutan tersebut menjadi sejuk. Sungai tersebut bernama sungai Tinta, mengalir dari bagian hutan sebelah utara ke bagian selatan. Sungai tersebut keluar dari sebuah sumber yang besar dan berakhir di laut. Di tengah hutan, sesampainya di istana, aliran sungai tinta membelok. Konon ceritanya, sungai Tinta menghormati istana sang raja gajah putih.

Kira-kira seratus meter dari sumber air sungai tinta ada suatu tempat yang indah, di sana ada lima pohon cemara. Di pohon cemara itulah si burung perpustakaan tinggal. Dia belum lama tinggal di sana. Sebelumnya dia berkelana keliling dunia, ke Cina, Jepang, Mesir, Australia, Mexico dan Negara-negara lain di dunia. Bahkan dia pernah tinggal di Green Land (Tanah Hijau) sebuah daerah dekat kutub utara bumi.

Dari pengalamanya menjelajah bumi si burung perpustakaan prihatin melihat kebodohan bangsa-bangsa binatang di dunia. Hampir semua binatang tidak bisa membaca dan menulis. Suatu malam, saat ia berada di Indonesia, tepatnya di pantai Losari Sumatra, dia merenung. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mencerahkan umat binatang, agar mereka semua bisa membaca.

Entah dia dapat ide apa? Tiba-tiba dia terbang ke arah utara, menuju tengah lautan. Dan akhirnya sampailah dia di sebuh pulau. Dia hinggap di daratannya. Waktu itu malam sudah akan berakhir. Dengan hati-hati ia memasuki hutan tersebut, mengikuti arus sungai. Sekitar seratus meter kemudian ia bertemu seekor tapir.

“Hai Tapir, siapa namamu? Perkenalkan aku burung Perpustakaan,” burung Perpustakaan memperkenalkan diri.

Tapir menatap burung perustakaan. Samar-samar sebab matahari belum sempurna pancarkan sinarnya. Ia rupanya suka melihat warna bulu burung perpustakaan. “Bulumu bagus ya,” katanya.

“Kamu suka ya?”

“Asalmu dari mana?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, namamu siapa?”

“Namaku Sinonim.”

“Aku tidak punya tempat tinggal. Aku selalu berkelana seperti musafir.”

“Ow, kamu pendatang baru. Selamat datang di hutan Aksara ya.”

“Hutan Aksara?”

“Iya, nama hutan ini hutan Aksara. Dan pulau ini bernama hutan Paragraf, sementara sungai ini bernama sungai Tinta.”

Burung perpustakaan penasaran dengan nama-nama itu. Tetapi ia diam saja. “Senang kenal denganmu, Sinonim,” kata burung Perustakaan.

“Aku juga.”

“Kamu sedang apa di sini?” tanya burung perpustakaan.

“Ini tempat favoritku. Aku suka tinggal di sini. Tempat ini indah. Rumputnya enak-enak.”

Burung perpustakaan menerawang suasana di sekitar tempat itu. Indah memang, ada lima pohon cemara berjajar, ada tiga pohon pisang, ada bunga mawar, dan rumputnya tebal. Di dekat pohon cemara ada sebongkah batu besar berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira dua meter.

“Aku suka tidur di atas batu itu,” kata Sinonim.

Burung Perpustakaan mencoba berdiri di atas batu itu. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Aku sering bermimpi berada di sebuah ruangan dan dindingnya penuh tulisan. Berkali-kali aku bermimpi berada di sana,” tutur Sinonim.

“Kamu membaca tulisannya?”

Sinonim diam sejenak. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya tampak malu-malu.

“Sayang sekali. Mm… kalau kamu mau, aku mau mengajarimu membaca.”

“Benar?!”

“Iya. Aku akan mengajarimu membaca dan menulis, dengan senang hati.”

“Horeee… Kamu baik. Oya, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini. Buat aja sarang di pohon cemara itu. Indah kan tempatnya.”

Burung Perpustakaan diam sejenak. “Benar juga ya,” katanya kemudian. Lalu ia mengambil rumput dan dibawanya ke atas pohon cemara yang paling tengah. Berkali-kali ia mengambil rumput sampai akhirnya, jadilah sarangnya. “Nah, sarangku sudah selesai. Sekarang waktunya belajar. Ayo.”

“Kamu tidak capek?” Tanya Sinonim.

“Tidak. Aku tidak capek.” Lalu ia mengenalkan huruf-huruf abjad pada Sinonim.

Sinonim memperhatikan dengan seksama penjelasan burung Perpustakaan. Ia menghafal nama-nama huruf abjad yang dikenalkan oleh burung Perpustakaan. Burung perpustakaan menyusun huruf: A k u, “Bacaannya Aku. Coba tirukan.”

“Aku,” kata Sinonim.

Jadilah ia murid pertama burung Perpustakaan. Setiap hari ia belajar dengan tekun pada burung perpustakaan. Ia terus berlatih membaca dan menulis. Semangatnya untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Ia penasaran apa isi bacaan dalam mimpinya? Burung Perpustakaan pun juga demikian. Ia penasaran, ingin tahu apa isi tulisan dalam mimpi Sinonim itu. Setelah berhari-hari Sinonim belajar, akhirnya ia bisa membaca dan menulis.

Suatu malam ia bermimpi lagi berada di sebuah bangunan yang dindingnya dipenuhi tulisan. Dibacanya semua tulisan itu. Setelah selesai membaca semua tulisan itu, ia terbangun. Tak terasa pagi sudah tiba. “Burung Perpustakaan, BAngun! BAngun!” ia membangunkan burung perpustakaan dengan mengayun-ayun pohon cemara tempat sarang burung perpustakaan berada.

Burung Perpustakaan terkejut. Ia bangun. Ia menghampiri Sinonim yang berada di atas batu. “Ada apa, Sinonim?” tanyanya.

“Aku bermimpi berada di ruangan yang penuh tulisan itu lagi,” kata Sinonim.

“Hah! Apa isinya?!”

>>bersambung

CERPEN: Cinta Gadis Wahabi

Cerpen Cinta anak kuliahCERPEN CINTA. Alif langsung saja masuk ke rumah Sandi. Pintu depan memang tidak ditutup. Keduanya memang sudah biasa saling kunjung. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sudah seperti saudara. Alif menyodorkan selembar kertas undangan. Dia ambil saja, lalu diletakkan di meja. Datar saja ekspresinya. "Kenapa?" tanya Alif. "Kok tampak lesu gitu?"

"Nasib," katanya sambil memandangi layar ponselnya. Duduknya tidak tegap.

Alif duduk di sampingnya. "Kenapaaaa? Semangat, Bro..!!" Alif memberi semangat sambil menepuk bahu Sandi. Ia lihat layar ponsel Sandi. Sebuah applikasi ebook yang sedang ia buka. "Ditolak orang tua Fina?"

"Mana mungkin orang tua Fina menolak lelaki sebaik aku."

"Cieee... Terus?"

"Ayahku tidak setuju karena dia wanita wahabi."

Alif tertawa. Terus mendadak berhenti. "Ayahmu dimana?" bisiknya. Takut beliau dengar.

"Ayah lagi di rumah Bu De sama Ibu."

"Fitnah wahabi memang lagi marak sekarang. Harus kamu jelaskan pada beliau, San."

"Mana mungkin penjelasanku didengar."

"Ini yang membuat umat islam lemah; tidak bersatu. Berbeda pendapat itu kan wajar."

"Dulu sih tidak ada seperti ini. Buktinya, Pak Lek saya nikah sama wanita seperti Fina. Tidak ada orang menyebut dia wahabi."

"Iya, dulu tidak ada muslim Indonesia yang men-judge muslim lainnya yang tidak sepaham dengan sebutan wahabi."

"Salah mereka juga sih, dulu suka men-judge muslim di kampung sebagai ahli bid'ah. Ahli bid'ah itu kan ahli neraka." Alif tersenyum. "Seperti balas dendam ceritanya."

***

CERPEN CINTA. Sudah seminggu Fina menanyakan kepastian Sandi untuk melamarnya. Tetapi tak ada jawaban. Padahal ia sudah terlanjur cerita pada kedua orang tuanya. Sandi bingung. Seperti kumbang yang menatap mawar tapi tak beranjak. Baru saja angin bertiup kencang. Sayapnya tak sekuat elang di awan. Tetapi, pasrah pada takdir itu bukan keputusan bijaksana, menurutnya. Tak lemah tekadnya, namun tak gegabah sikapnya. Terkadang ada rasa kesal di benak Fina, ia ingat kata Ustadz Abdul Somad Lc. MA dalam ceramah-ceramahnya di YouTube, "Kumbang tak seekor, mawar tak setangkai, patah tumbuh, hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu." Tetapi, tak semua kumbang yang hadir itu baik. Fina sudah sangat mengenal Sandi. Tetapi, cukup kesal ia dengan sikap Sandi yang tidak memberi penjelasan alasan penundaannya. Kumbang bukan menanti seperti mawar di taman berpagar.

Inbox Whatsapp Fina hanya dibacanya, tapi tidak ia balas. Sangat sulit bagi Sandi. Tidak baik menentang orang tua. Tetapi, Sandi juga tidak sepakat dengan sikap orang tuanya. Menurut dia, tidak patut sesama muslim saling menyalahkan. Memang tidak semua benar. Menurut dia, label wahabi dan ahli bid'ah merupakan perusak persatuan umat islam. Seharusnya, menurut dia, kelompok yang dulu diberi label ahli bid'ah semestinya tidak menyerang balik dengan label wahabi. Inti masalahnya, menurut Sandi, adalah kwalitas keilmiahan sumber ilmunya. Ingin rasanya ia mengajak ayahnya bermusyawarah, tetapi tidak berdua dengannya. Seandainya masih ada, ia ingin mengajak Kyai Fadli, tetapi beliau sudah tiada. Beliau adalah Kyainya ayah Sandi waktu masih nyantri di Pesantren Nurul Huda di daerah tepi barat Bondowoso.

Sandi ingat waktu diajak suwan ke kediaman beliau dulu ketika masih SMP. Sempat ada tamu yang berdebat di hadapan beliau waktu itu. Sandi tidak begitu paham waktu itu, tetapi ia masih ingat yang diperdebatkan. Betapa arifnya cara almarhum Kyai Fadli menanggapi perdebatan tamunya tersebut. Tidak perlu marah-marah, sambil mempersilahkan tamunya menikmati makanan khas Bondowoso: Tape, beliau menjelaskan, "Rasulullah itu mengerjakan ibadah tidak selalu sama caranya. Contohnya ketika jadi imam, pernah Beliau membaca Basmalah dikeraskan, pernah juga dipelankan, pernah juga tidak membaca, pernah juga hanya rakaat pertamnya dikeraskan. Sholat tarawih juga begitu. Nah, murid beliau itu kan sahabat, para sahabat Nabi mengerjakan ibadah sesuai yang mereka lihat sendiri, bukan sesuai yang diceritakan sahabat lain. Tentu saja sahabat yang satu dengan yang lainnya tidak semuanya sama cara ibadahnya." Tamu beliau mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ini materi serius. Mereka berhenti mengunyah tape, perhatiannya fokus pada penjelasan Kyai Fadli. "karena ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan tidak membaca basmalah di awal al fatihah, tidak semua sahabat menjadi makmum. Begitu juga ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan membaca basmalah dengan nyaring, sahabat yang tadi bermakmum, belum tentu ikut bermakmum juga. Nah, inilah penyebab perbedaan itu. Tetapi, apa pantas kita permasalahkan?" Para tamu mulai paham, sebagian tersenyum. Wajar, tidak semua dari mereka alumni pesantren, sehingga tak tahu banyak tentang sejarah. "Kemudian, para sahabat itu juga mengajarkan pada murid-muridnya cara ibadah Rasulullah yang dilihatnya sendiri, bukan yang diceritakan sahabat lain. Murid sahabat itu disebut Tabiin, murid tabiin disebut tabiit tabiin. Dari sekian banyak murid sahabat tersebut, yang dianggap paling unggul keilmuannya di zamann itu adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Sehingga ilmu-ilmu mereka tercatat dan abadi hingga sekarang. Karena ada empat, sehingga tidak semuanya sama. Jika ilmunya sudah jelas dari mereka, buat apa diperdebatkan? Maka dari itu, jika ada orang yang tidak mendapat ilmu dari mereka, lalu menyalahkan ulamak pengikut mereka, dari mana mereka mendapatkan ilmu? Memangnya ilmu umum, bisa meneliti sendiri dan jadi penemu ilmu? Ilmu agama tidak begitu, harus jelas silsilah atau sanad ilmunya, dari siapa dia dapatkan ilmu tersebut."

CERPEN CINTA. Masih Sandi pegang ponselnya. Dilihatnya pesan inbox Fina yang belum ia balas. Seakan badai tak henti bergejolak. Alam hati tak bersahabat. Belum lagi tugas dari dosen yang belum selesai digarap, masih tergeletak di meja. Ditambah inbox pelanggan bisnisnya yang komplain karena merasa tidak cocok dengan produk yang didapatkannya dari Sandi.

Sore yang cerah. Pikiran Sandi buntu, seakan jiwanya juga meredup akan tenggelam bersama matahari senja di ufuk barat. Ia bangkit dari duduknya dan keluar dengan motornya. Melewati jalanan bertepi sawah-sawah menghijau, sejuk jiwanya memandang bak permadani hijau. Ia mengalihkan kerumitan di benaknya pada hobi barunya: Landscape Fotography. Dengan berbagai Angle, dengan Aparture dan Sutterspeed yang berbeda-beda ia memotret pemandangan sawah, gunung dan tanaman. Sesekali ia ambil foto hewan-hewan kecil dengan mode macro. Ia duduk di tepi sawah, memandang bunga berwarna kuning; hanya setangkai.

***

"Ilmu agama itu tidak sama dengan science. Saya bukan hendak menjelekkan kelompok anda. Ini dialog ilmiah, kita bicara dengan ilmu, dengan cara yang arif dan santun. Berbeda itu wajar karena kita dicipta memang berbeda-beda."

Amarah mereda. Semua diam menyimak.

"Science itu mengkaji hukum sebab akibat pada alam. Kemunculannya karena kerja manusia. Seorang ilmuan melakukan penelitian, lalu muncul ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu bahasa, dan semacamnya. Sedangkan ilmu Agama: Quran dan Hadits itu diturunkan oleh Allah Sang Pencipta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu diturunkan kepada sahabat, terus kepada Tabiin, kemudian diturunkan atau diajarkan pada tabiit tabiin. Jadi, tidak ada yang namanya penemu ayat atau hadits di jaman sekarang. Nah, karena ilmu agama itu diturunkan, maka menjadi sangat pentinglah sanad."

CERPEN CINTA. Sebagian peserta diskusi mengangguk-angguk. Ada yang menghela nafas panjang. Ada yang tatapan matanya tajam pada pembicara, tak sabar menunggu kelanjutan penjelasannya.

"Jadi, jika ada orang mengaku berilmu dan mengkritik ulamak, sedangkan ilmu dia tak jelas dari mana sumbernya, tak jelas sanadnya, bukan berarti dia seorang penemu ilmu agama, tetapi... dia sedang tersesat dan perlu dipahamkan, perlu diluruskan."

Sebagian peserta diskusi tertawa.

"Dalamm urusan Fiqih atau hukum islam, sumber ilmu yang tercatat hingga sekarang itu adalah yang diajarkan oleh Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Mereka mendapatkan ilu itu dari sahabat, sahabat dari Rasulullah. Sedangkan dalam akidah, sumber ilmu yang diabadikan hingga sekarang adalah dari Imam Abu hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Manshur Al maturidi. Dalam urusan Tasawuf yang diikuti adalah Imam Al Ghozali, Imam Junaid Al baghdadi, serta imam-imam lainnya seperti Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Jadi, jika ada yang bertentangan dengan mereka, perlu dipertanyakan."

Moderator menunjuk salah seorang audien yang mengacungkan tangan di pojok kiri belakang.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Menarik sekali dialog ini. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini, yakni persatuan. Kita sebagai umat islam harus bersatu. Menanggapi isu wahabi, menurut saya, isu wahabi dan isu ahli bid'ah pada zaman dulu, sekarang masih ada sebenarnya isu ahli bid'ah ini, kedua isu ini menjadi penyakit yang merusak persatuan umat islam. Memang, keduanya harus disampaikan, umat islam harus paham tentang wahabisme dan bid'ah, tetapi cara penyampaiannya yang perlu diluruskan. Pengajaran ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan menimbulkan mudhorat seperti perpecahan dan saling caci antar kelompok." Banyak audien yang berusaha membalikkan badannya menoleh ke belakang. Sepertinya ini hal baru dalam forum ini. "Kita yang dikaruniai ilmu ini seharusnya menjaga sikap ilmiah kita, berhati-hati dalam bertutur, tak sembarangan bersikap. Menurut saya, menyerang balik serangan seorang muslim yang menyerang kita di depan umum, itu sama dengan bunuh diri. Semestinya, duduklah dan laksanakan dialog ilmiah. Tak perlu saling menyesatkan. Jadi, yang diadu itu kekuatan keilmiahan ilmunya, bukan otot tangan atau otot leher." Sebagian audien tertawa. Sang bintang tamu pun tersenyum.

Sandi diam saja di kursi baris kedua dari belakang. Menurutnya, perdebatan itu wajar asal tetap dalam bingkai ilmiah dalam forum ilmiah, bukan di depan umum.

CERPEN CINTA ini bersambung...

Referensi:
Website: Tinta Guru http://www.tintaguru.com/2017/05/madzhab-akidah-fiqih-dan-tasawuf-nu.html
Ceramah-ceramah Ust Abdul Somad (Channel: https://www.youtube.com/channel/UCU6zdYxTn7g4RwqBePmstvg/videos)
Ceramah-ceramah Ust Adi Hidayat (Salah satu videonya: https://www.youtube.com/watch?v=LlGub3isfiY)

Cerpen Cinta: Yang Biasa (3)

CERPEN CINTA ANAK KULIAHCERPEN CINTA ANAK KULIAH: Yang Biasa 3 merupakan kelanjutan dari CERPEN CINTA ANAK KULIAH Yang biasa (2)


CERPEN CINTA ANAK KULIAH. Ah, ternyata capek juga memikirkan perempuan. Bayak sekali gadis cantik sekarang. Tapi aku justru tertarik untuk selalu mendekatimu, padahal rupamu biasa, tidak bernilai menurutku. Buktinya, tidak ada yang mendekatimu, kecuali aku. Apa cowok-cowok minder karena kamu disukai cowok terkenal seperti aku? Atau kau memang tidak menarik menurut mereka?


Tetapi kau memang tidak pernah peduli itu. kau tidak pernah peduli musim, panas hujan, bagimu sama saja. Kau selalu begitu. Ya, begitulah kau. Semua biasa bagimu, tidak ada yang istimewa, termasuk aku. Apa kau demikian karena tidak ada yang menganggapmu istimewa?

Sehabis mengikuti kuliah Intro To Literature, kau kuajak ke taman di depan UKM musik. Kau biasa-biasa saja, menyapa teman-temanku, seolah kau sudah lama akrab. Aku pun juga meniru kau. Hhmm… Hebat kau. Orang-orang banyak yang meniru artis dan penyanyi, tapi aku yang sudah jadi anak band malah meniru kau.

Dengan sederhana kukatakan saja kalau aku suka sama kamu dan ingin kau menjadi kekasihku. Kukatakan dengan biasa, tanpa ekspresi yang luar biasa. Kau menelan nafas, lalu tersenyum. Apa bagimu itu juga biasa? Kau memandangku. “Kamu mau kan?” kutanya dengan biasa. Kau tersenyum, juga dengan biasa. Semua jadi biasa-biasa.

Kau tampak bingung.

“Kau bingung?” kutanya. Kau diam. “Bingung untuk menolak? Terima saja.” Kau tertawa. “Kurasa kau tidak perlu ragu,” lanjutku. “Kita jalani saja dulu. Kalau kau merasa tidak cocok, berarti kita memang bukan jodoh.”

Kau tersenyum, seperti hendak berkata sesuatu.

“Aku suka sikapmu.”

“Ya kuterima, tapi tidak seratus persen,” katamu kemudian sambil menahan tawamu.

“Tidak masalah.”

Aneh.

***

CERPEN CINTA ANAK KULIAH. Kita sudah jadian. Kau jadi kekasihku, tapi belum seratus persen, begitu katamu. Tidak masalah. Kau tetap unik. Kurasakan rahasia keindahan di wujudmu semakin kuat. Kau indah walau biasa. Saat kita bersama, tidak ada kata-kata romantis kau ucap, tidak ada ekspresi berlebih, semua biasa, kau selalu biasa, namun kau sanggup hadirkan keluarbiasaan.

Sungguh.

Kadang kita membicarakan masa lalu, kau narasikan kisah-kisahmu. Kudengarkan sambil tersenyum. Indah meski kata-katamu biasa. Sesekali kupandang wajahmu, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa. Senyum selalu mengembang di bibirmu, kau selalu begitu. Namun hadir suatu rasa yang luar biasa indah di jiwaku.

Aku suka.

Aku sempat ditegur sama teman-teman band-ku, katanya aku lebih mementingkan kau. Padahal sejak aku dekat kamu, semakin produktif kutulis syair lagu. Hampir semua yang kami nyanyikan itu karyaku. Sungguh luar biasa. Itu karena adamu bersamaku. Aku tidak peduli sikap mereka. Biarlah. Sudah biasa. Ya, kau yang ajari aku begitu. Semua biasa.

“Udah terkenal, kok suka sama cewek biasa.”

Begitu komentar temanku. Biar. Tidak perlu kuhiraukan. Teman-teman di kampus juga banyak menyebar rumor begitu. Katanya kau tidak  pantas buat aku. Ya, kelas mereka memang di atasmu, kau kelas rendahan. Tetapi kau semakin unik. Cemoohan mereka membuat kau semakin berbeda.

Aku digemari banyak orang. Kau? Cukup aku saja. Biar mereka menganggapmu biasa, tapi kudapatkan yang luar biasa darimu. Sungguh. Ada sesuatu kurasakan seperti aliran yang tak pernah kering, tak peduli musim. Samar-samar, tidak terlalu mencolok, bahkan mungkin tak terlalu menarik. Belum sempurna kupahami.

Tetapi kusuka keabadiannya.

Tidak terasa, kebersamaan kita berlangsung lama, tanpa sesuatu yang istimewa, tanpa sesuatu yang spesial, tanpa sesuatu yang terlalu indah. Belum kuungkap keunikan yang kurasa sangat indah di dirimu. “Kesenangan dekat dengan kebosanan. Tetapi kedamaian dan ketentraman, bukan sesuatu yang bisa dimiliki, tapi keadaan di mana kita berada di dalamnya,” katamu.

Aku merasa seperti seekor anak kepodang yang terbang berlelah-lelah ke angkasa sangat tinggi, agar bisa kulihat seluruh isi dunia dari sana, lalu aku lelah dan turun untuk istirahat. Kurebahkan sambil samar-samar kunarasikan kisah perjalanan naik hingga aku tiba lagi, sungguh melelahkan. Usai sudah.

Aku rebah dalam ketentraman jiwa. Semoga takkan pernah usai.

Demikian kisah CERPEN CINTA ANAK KULIAH romantis. Semoga menghibur.

Cerpen Cinta: Yang Biasa (2)



CERPEN CINTA ANAK KAMPUS


Cerpen Cinta Anak kampus (2) merupakan cerpen cinta lanjutan dari Cerpen Cinta: Yang Biasa (1)


CERPEN CINTA ANAK KAMPUS. Kau dan aku satu kelas, tapi jarang sekali berkomunikasi. Kau pendiam, ya, selalu duduk di depan, selalu memperhatikan penjelasan dosen. Aku di bangku belakang, kadang di tengah. Kalau dosen sudah mengakhiri kuliahnya, kau selalu keburu keluar. Aku jadi ingin tahu, ada urusan apa. Suatu waktu kuikuti kau, waktu kita baru keluar dari ruang kuliah, saat baru selesai mengikuti mata kuliah Jurnalistik Dasar. Kau tidak menyadari.

Rupanya kau ke perpustakaan. Aku juga masuk, kau tidak melihatku karena kau langsung mengambil satu majalah dan kau baca di meja, menghadap ke jendela, mungkin sambil menikmati pemandangan hijau di luar. Kuperhatikan, kau membuka-buka halaman majalah itu sambil sesekali kau tulis sesuatu di catatan kecil yang kau bawa.

Lama.

Aku merasa lelah. Buku yang kupegang tidak kubaca. Hanya pura-pura membukanya. Teman-teman UKM musik berkali-kali mengirim sms agar aku ke sana, untuk bermain musik dan melantunkan lagu bersama mereka. Tapi otakku tak bisa bergerak, terlalu kuat kau mengilhami. Nanti, kan kutulis tentangmu, tentang rasaku, semua tentang kau dan aku meski sebenarnya antara kita belum ada apa-apa, kan kujadikan sebuah lagu. Kan kubuat sederhana saja, namun penuh makna.

Sederhana.

Sebenarnya, aku belum begitu mengenalmu. Hanya saja ada yang perlu kutahu lebih jauh tentangmu. Kau seusia dengan aku dan teman-teman di kelas. Ya. Tapi jiwamu sudah meninggalkan kami jauh, sangat jauh. Unik. Aku suka yang unik. Aku tertantang untuk mengungkap rahasia. Aku merasa seperti akan mendapatkan sesuatu yang istimewa, barangkali suatu dunia lain yang belum pernah ada di dunia ini. Entah dunia apa, mungkin dunia kata-kata dalam syair lagu? Barangkali?

CERPEN CINTA ANAK KAMPUS. Mereka, kaummu, selalu asyik berbincang yang indah-indah tentang cinta. Kau tidak tertarik untuk ikut nimbrung? Kau tidak seperti mereka, kurang begitu peduli dunia muda. Kau sudah tua? Usiamu setara dengan kami, iya kan? Lihat penampilan mereka, pada keren-keren, hampir semua penampilan artis ditiru, gayaku juga.

Kadang kau duduk sendiri, gayamu selalu membaca buku. Tapi ‘ku tahu, kau tidak membaca. Itu hanya caramu untuk menutupi ketidakmampuanmu mencari teman. Ya, kau terlalu egois, tidak mau meniru temanmu. Kau terlalu percaya diri dengan keadaanmu. Tidak mau berubah seperti mereka? Tapi kau ramah, mudah diajak berteman.

Kadang aku tersenyum sendiri memandangimu.

Kau yang kukagumi, kusapa kau, duduk disampingmu. Kau tersenyum. Tersanjung? Tapi kau meneruskan mencatat meski sempat menoleh dengan senyummu. “Sedang apa?” kau tanya aku. Memangnya mau cari cecak? Ini kan perpustakaan, semua yang datang ke sini mau baca. Aku jujur saja kalau aku mengikutimu.

Kau tertawa dan berhenti menulis. “Maksudnya?” tanyamu sambil tersenyum, menatapku dengan tatapan memaksa untuk kujawab. Aku malah jadi malu. Baru kali ini, sejak namaku terkenal, aku merasa minder untuk menatap perempuan. Kau terlalu berwibawa meski seusia denganku. Aku tersenyum. “Ada perlu?” tanyamu lagi. Sikapmu seakan memberi kesempatan padaku, kalau memang aku perlu sesuatu sama kamu, silahkan.

Aku bingung. Pertama kalinya merasa bingung setelah aku terkenal. Aku terkenal karena aku mampu menjadi yang beda, aku mampu memainkan musik dan menyanyikan lagu, mampu menghibur penikmat musik. Orang-orang terkagum-kagum. Kau? Sayangnya hanya aku, tidak yang lain, yang merasa bahwa kau mampu menjadi yang beda, bahkan lebih dari aku. Kau unik.

Sungguh.

Ketika aku bertemu teman-teman UKM musik, kusodorkan sekian judul lagu, semua terinspirasi oleh keunikanmu, kau beda. Semua kutulis sendiri dalam waktu yang sangat singkat. Belum pernah sebelumnya. Kau tahu, lagu-lagu itu banyak digemari orang, termasuk kau, sang inspirator. Kau unik.

“Kau hebat.”

Begitu katamu saat aku mendekatimu sehabis tampil di panggung, saat acara pagelaran seni yang diselenggarakan oleh teman-teman UKM Teater kampus. Rupanya kau juga suka menghadiri acara seperti itu. Atau karena kau terpesona oleh laguku?

Aku malah gugup. Gadis-gadis yang biasa menggandrungiku menahan diri, memandangimu. Mungkin mereka mengira kau kekasihku. Bukan. Aku hanya terobsesi untuk mengungkap rahasia, sesuatu yang sangat indah, mungkin, sangat, bisa kurasakan meski belum mampu kulihat.

“Kukira kau tidak suka menghadiri acara seperti ini,” kataku.

“Sekali-kali,” katamu.

CERPEN CINTA ANAK KAMPUS. Orang-orang mengelilingi kita, seakan mereka penonton drama yang sedang menunggu aksi adegan menegangkan, tertegun, banyak mata memelototi. Kau tidak sadari itu? kau menatap mataku, tajam. Aku tidak melihat sesuatu di sana, hanya sangat kurasakan sesuaatu, keindahan yang belum terungkap.

Aku mengajakmu duduk. Orang-orang itu perlahan beranjak, membiarkan kau dan aku berbincang berdua. Menyenangkan. Sejenak kita diam, dan kuingat awal pertemuan kita, kau mengenalkan temanmu. Ke mana dia? Ah, buat apa memikirkan dia. Dia cantik, tapi apa bedanya dengan yang lain? Tidak menarik.

Sikapmu selalu biasa, seakan kau tidak sedang bersama lelaki spesial. Aku punya banyak penggemar, kau tidak bangga?

“Anak band selalu sibuk, ya?” tanyamu.

Aku tersenyum. Pikirku, bukannya kau lebih sibuk? “Tidak juga,” jawabku.

“Kuliah nomor dua, ya?”

Aku tersenyum, lalu tertawa. Kenyataannya memang begitu. Pikirku, yang malas sama yang rajin, sama-sama dapat ijazah, sama-sama bisa jadi pegawai negeri. Tapi kalau anak band, jarang latihan, bisa payah. Perlu latihan terus menerus, sebab yang menilai langsung para penikmat musik. Mereka ingin menikmati hasil karya yang indah.

Kau malah ikut tersenyum, mau tertawa tapi kau tahan. Apa kau juga merasa sepertiku? Tapi kau rajin. Mungkin kau tidak pernah absen. Pasti nilaimu bagus-bagus. Bisa kutebak. Ya, aku menilai dari perilaku dan ketekunanmu.

CERPEN CINTA ANAK KAMPUSromantis ini bersambung ke Cerpen Cinta Yang biasa (3) . Silahkan ikuti kisahnya.

Cerpen Cinta: YANG BIASA (1)

Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis

CERPEN CINTA: Yang Biasa, Cerpen Cinta tentang cerita cinta dua mahasiswa.


CERPEN CINTA. Takdirkah ini? Unik. Tidak semua yang dilihat dapat dirasakan, begitu katamu. Karena kau bukan yang luar biasa?

Masih kuingat serangkai kata tentang kaummu, Wahai kau mahluk indah, oleh seorang penyair kenamaan. Tak perlu kau tanya namanya. Katanya, “Wanita tidak dicipta dari tulang ubun karena bahaya membuatnya terlena dalam sanjung dan puja, tidak pula dari tulang kaki karena nista menjadikannya dihina dan diinjak-injak, tetapi ia dicipta dari rusuk kiri, dekat hati untuk dicintai dekat tangan untuk dilindungi.” CERPEN CINTA.

Aku sepakat.

Banyak sekali yang memperbincangkan tentang kaummu, terlalu indah untuk tidak dibawa dalam setiap perbincangan, apalagi hadirnya. Kau yang kukagumi, sudah cukup lama waktu membisu, namun padanya kisah menarasi indah. Kau yang menarasikan.

“Jangan kau perhatikan yang tidak abadi,” begitu katamu. Apa maksudnya? “meski kau lihat sangat indah, dan hatimu sangat ingin menikmati, buat apa kesenangan yang tidak abadi?” Sulit kupahami. Tidak nyambung. “Mata air memang hanya setetes-setetes saja, tapi ia tidak kering saat kemarau. Dan gunung yang indah akan musnah bila keindahannya kau nikmati. Namun kan semakin indah taman di halaman yang tak henti kau rawat.”

Terserah kamu. Tiba-tiba saja kau lontarkan kata-kata itu.

“Banyak orang menggambarkan pemandangan-pemandangan indah,” kau melanjutkan. “penuh ekspresi, tapi bukan objek itu yang ia kagumi, sebenarnya. Keindahan itu hanya jadi latar, hinggap di dahan-dahan hijau dan setiap lambai daun-daun.”

Kau bukan menjelaskan. Aku tahu gunung dan pohon, tapi mendengar kau menyebutnya, seperti aku adalah anak kecil yang belum tahu nama-nama benda. Tidak kumengerti. Apa maksudmu?

Terserah kamu.

Kau yang kukagumi, masih ingat dulu, sewaktu baru kukenal kamu di kampus kita, waktu baru saja kau dan aku menginjakkan kaki di dunia mahasiswa, baru saja melepas seragam abu-abu. Kenangan. Waktu itu kau dan aku masih sangat muda. Kau juga masih ingat, kan? Aku yakin itu, tergambar dari senyummu.

CERPEN CINTA. Waktu itu semua rekan-rekan kita sedang asyik-asyiknya mencari kenalan baru, mencari pasangan baru. Mata mereka berburu wajah cantik, wajah tampan, kantong tebal, dan macam-macam. Kau datang mendekatiku, mengenalkan temanmu. Dia cukup cantik, lebih dari itu, sangat. Aku tergoda.

Kau?

Seperti awan ditebar angin, seluruh alam terselimuti, dibuatnya kenal semua. Namaku dikenal seluruh kampus, sesaat setelah aku tampil bersama teman-teman grup band-ku. Ya, itu sudah biasa. Setiap aku dan teman-temanku usai tampil di sebuah pertunjukan, banyak gadis-gadis yang ingin mengenal kami. Aku dan teman-teman selalu bermurah hati. Mereka cantik-cantik, gaul-gaul juga, keren.

Mereka merasa bangga bila sempat bertutur sapa dengan kami, apalagi diberi tanda tangan. Seakan aku dan teman-teman adalah segolongan pangeran dari kahyangan, di negeri dongeng. Dikisahkan pada jaman dulu dengan kata-kata yang sangat indah, menenggelamkan hayalan.

Kita duduk bertiga di bawah pohon waru di dekat halaman parkir kampus, fakultas sastra. Awalnya kau hendak pergi, kau malu? tapi aku memintamu untuk ikut berbincang. Temanmu malu-malu menanyakan banyak hal tentang lagu-lagu grup band-ku. Seperti wartawan infotainment saja dia.

Kau diam saja.

Perbincangan itu berlangsung agak lama. Temanmu yang banyak bertanya tentang aku, tentang lagu-laguku, semua tentang aku dan grup band-ku. Aku tidak terlalu aktif, hanya menjawab iya atau tidak, sesekali juga menjelaskan saat temanmu butuh penjelasan. Sementara kau hanya sesekali tersenyum.

Aku masih ingat, aku malah bertanya padamu, tentang asal daerahmu. Temanmu seperti terkejut, mungkin terlalu istimewa gadis sepertimu ditanya asal daerahnya oleh anak band seperti aku. Tapi kau biasa saja. Aku juga merasa biasa, tidak terlalu berbangga diri di depanmu, seakan aku bukan anak band yang selalu dipuji-puji kaum hawa.

Kau.

Aku tahu perempuan sepertimu, memang begitu, kau anggap semua orang sama, termasuk aku. Tak ada istimewa-istimewanya. Sebenarnya aku hendak bercerita banyak padamu waktu itu, tentang masa lalu, semua tentang aku. Aku yakin kau akan mendengar dengan senang hati. Tapi kau keburu pergi. Katanya ada kuliah. Bukankah kita satu kelas? Temanmu itu, aku lupa siapa namanya, juga ikut pergi meninggalkanku. Kubiarkan saja.

Saat kita bertemu, kau selalu menyapa, meski hanya sebuah suara “Hei,” lalu kau berlalu bersama bekas senyummu. Seperti orang sibuk saja kau. Tapi aku yakin, aku lebih sibuk darimu. Tawaran manggung semakin banyak, bahkan kuliah sering kutinggalkan, hampir tidak keurus lagi. Untunglah banyak penggemarku yang peduli, membantu aku mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Kau sibuk?

Waktu SMA aku juga begitu. Banyak guru-guru yang memfonis aku tidak akan lulus. Tapi, toh mereka masih membantu, bapak dan ibu penjaga ujian nasional itu juga membantuku mengerjakan soal. Mereka itu, sebenarnya, bangga padaku. Hanya saja mereka bingung, menurutku, takut aku dan teman-teman tidak bisa jadi orang kaya, tidak bisa mendapatkan pekerjaan enak bila tidak mempunyai ijazah. Padahal, pendapatan kami dari hasil manggung di mana-mana sudah lebih besar dari gaji guru.

Mungkin mereka terlalu sayang. Saat mereka tahu aku dan teman-teman lulus, kami yang disapa duluan oleh mereka, seakan mereka menemukan emas di tempat pembuangan sampah. Teman-teman yang lain jadi iri. Katanya, mentang-mentang aku dan teman-teman sudah terkenal, dipuji sampai segitunya, meskipun sebenarnya tidak murni menyelesaikan soal sendiri.

Ya, aku begitu.

Bersambung ke CERPEN CINTA: Yang Biasa (2)

Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (2)

CERPEN CINTA GALAU

CERPEN CINTA GALAU Kisah Tak Dimengerti (2) merupakan lanjutan dari Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (1).


CERPEN CINTA GALAU. Pelayaran terkendali arus gelombang, terombang-ambing kian kemari, melesat, diam, melompat, hingga hampir terguling. Begitu kuat cintanya. Dan samudera pun takluk, diam, tenang dalam kedamaian. Ikan-ikan indah berlompatan memamerkan warnanya di permukaan, mengkilat-kilat disambar sinar surya pagi. Langit kaget dan mengusir kabut, takjub ia menyaksikan keindahan samudera hingga ingin turun. Hampir-hampir sang surya lari takut tertindih.

Bahtera melaju melenggak-lenggok damai. Gelombang meliuk-liuk indah. Angin taupan yang biasa mengibas-ngibas ganas entah ke mana. Alam tersenyum, terbahak terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba, air samudera meninggi. Kabut berkerumun takut tertuduh telah menangis. Mereka kompak menyatakan bahwa mereka tak berair mata. Sang bahteralah yang menangis. Ia telah hancur oleh panas, rapuh dan ditelan gelombang yang tenang dan lembut.

Wanita tua. Tak terasa kini ia telah jadi wanita tua, keriput kulitnya, tidak bening lagi seperti dulu. Ia sudah lupa rayuan-rayuan mesra dahulu. Tetapi sang lelaki tua yang dulu sangat romantis masih ingat kisah-kisah indahnya, kata-kata rayuannya, semuanya. Seorang putra yang gagah, yang telah ia besarkan bersama permaisuri tercinta, adalah pemberian wanita tua yang bungkuk itu, bukan dari permaisuri cantik yang masih muda yang menjadi teman hidupnya di istana.

Masih ia ingat ketika cintanya tergoyah oleh kecantikan lain yang baru merekah, entah itu hanya buah kebosanan atau memang nyata hakikatnya? Yang pasti telah memikat hatinya. Ah, semua itu adalah masa lalu. Ia menunduk, mematung. Jiwanya terasa beku.

CERPEN CINTA GALAU. Entah apa yang membuatnya mengunjungi tempat kenangan di ujung hari seperti ini? Kegelisahan? Mungkin. Atau sekedar rindu masa lalu. Ia mengikuti wanita tua itu, melangkah perlahan melewati lorong-lorong sempit yang kumuh, berserakan sampah-sampah. Wanita tua itu semakin masuk ke perkampungan, kemudian berhenti di rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah reyot. Ia memasukinya. Lelaki tua itu terdiam sejenak. Rupanya ia ingat, di rumah itulah–ketika dulu masih berdiri tegak dan masih berwarna putih cerah–ia pertama kali memetik kuntum yang belum terjamah.

Ia melangkah, membuka pintu tanpa mengetuk. Wanita tua itu kaget. Ada seorang wanita muda tergeletak di sampingnya, kurus, tinggal tulang berbalut kulit. “Siapa, Bu?” suara wanita muda itu agak gemetar. Ibunya membisu, menatap memancing ingatan. Lelaki tua menghampiri.

“Anda siapa?” Tanya si wanita tua.

“Bu Suminah sudah tiada?”

Wanita tua itu terkejut, karena lelaki tua itu mengenal orang miskin yang dulu sangat menyayanginya, lebih penyayang dari ibunya sendiri. Ia memperhatikan lelaki tua itu dengan seksama. Dan si wanita muda memandang ke sana dan sini, ibunya dan lelaki tua itu mematung saling pandang.

“Kau semakin tampan, mungkin lebih tampan dari anak kita,” kata wania tua itu. “Di mana dia?”

CERPEN CINTA GALAU. Si wanita muda semakin tidak mengerti. Dan lelaki tua itu tertawa, lalu tersungkur dan menangis. Si wanita tua terkenang romansa indah dahulu, serangkai kisah indah berakhir luka. “Kenapa kau menangis?” lelaki tua itu mendongak. “Anakmu yang menderita seumur hidup ini tak pernah menangis.” Semakin keraslah tangis lelaki tua itu. Terguncang tubuhnya, suara tangisnya didengar sekuntum bunga melati di tepi pantai laut utara, bunga melati yang sendirian. Ialah bunga melati yang terbuang. Tetapi ia telah lupa, bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia tak bergeming oleh tangisan lelaki tua itu. Tetapi kebisuannya menyatakan sebuah ejekan lebih dari bualan setan.

Mengganaslah seluruh alam. Marah, geram, hahhh!!! Tetapi amarah yang melelahkan. Si wanita muda menangis, “Bapak” sebuah sebutan yang pertama ia ucapkan beriring air mata yang pertama pula. Alam diam, haru tak mengerti kisah.

Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (1)

CERPEN CINTA FANTASI

CERPEN CINTA FANTASI ini berkisah tentang cinta yang aneh.


CERPEN CINTA FANTASI. Sudah ada bintag senja di ufuk. Lihat. Burung-burung itu bukan gelisah. Lihat, mereka terbang mengular dari selatan, bagai membalap angin. Mereka hendak kembali keperaduan bersama anak-anaknya yang gemar bermain. Sebenarnya, anak-anak mereka masih ingin bermain, agar segera akrab dengan alamnya, tapi ibu-ibunya ingin mendekapnya semalam penuh. Mereka tak sanggup berpisah saat hari sudah gelap, atau mungkin malu pada dewi malam, atau mereka tak mau tersaingi kasih sayang purnama yang rela berlelah-lelah bersinar saat dingin menusuk-nusuk tubuh.

Lihat di bumi, wajah keriput itu tak secerah dulu. Hhh… senjanya tak berhias mega. Tak indah lagi. Dan surya kita melebarkan sayapnya, melingkar setengah di pertemuan tepi alam, langit dan bumi. Mega-mega itu bagai para pengawal istana yang hendak menyambut rajanya yang baru saja datang bertugas.

Wanita tua. Badannya sudah bungkuk. Dia yang dulu dikagumi setiap mata. Bahkan sang surya seakan tak mau membenam ditelan mega. Ulahnya membuat dewi malam cemburu. Tetapi itu dulu, saat pagi baru merekah, berhias bunga-bunga di awal musim kembang. Sekarang, kemana cantik pagi yang dulu? Ah, dia bukan lagi gadis yang suka bermanja-manja membangga rupa. Di jiwanya telah terpenuhi kabut kasih yang selalu mendesak-desak untuk menjadi hujan. Gelisahlah langit, selalu.

Wanita tua. Bungkuk badannya, seperti ujung pohon bambu yang lentur, namun tegar jiwanya. Kakinnya tak beralas menapaki kerikil. Tubuhnya tak berbungkus sutera seperti dewi di istana, tapi dingin menjelma bara tak menyengat. Lihat, dia tersenyum, samar-samar ditelan gelap yang belum sempurna. Di tangannya tergenggam lembaran rupiah. Ia dapatkan dari belas kasih tangan-tangan dermawan. Ia yakini itu tangan-tangan Tuhan.

CERPEN CINTA FANTASI. Wanita tua terus melangkah. Lihat, orang-orang yang sedang duduk di pinggiran jalan yang akan ia lewati pura-pura sibuk, ada yang mencet-mencet telepon genggam, ada yang sok rajin membaca Koran, padahal hari sudah mulai gelap. Si wanita tua menjadi malu, wajahnya merunduk. Dan orang-orang itu merasa lega, kembali lagi bersantai. O, lihat, debu jalanan menghampiri wanita tua itu, seperti bidadari-bidadari rindu kekasihnya. Mereka membawa senyum menyimpul lusuh.

Ada seorang lelaki tua, sangat sepuh, tapi masih sempat ia menyisir rambutnya, tak kalah sama anak muda. Ia tersenyum memandang wanita tua yang sudah bungkuk itu. Bola matanya yang tersembunyi di balik kaca mata hitamnya membawa dunia pada kisah dahulu. Malam seakan urung menguasa.

Lelaki tua itu teringat para petugas kereta api yang tak satu pun yang tidak ia kenal. Ia tahu nama mereka, rumah mereka, adik dan kakak mereka, tetangga mereka, sahabat dan teman dekat mereka, hingga makanan kesukaan mereka. Masih ia ingat semua itu. Tetapi sebagian mereka telah tiada, mungkin beberapa yang masih hidup. Dulu mereka sudah jadi bapak-bapak. Memang ada sebagian yang muda. Merekalah yang mungkin masih ada sekarang.

Bahkan lelaki tua itu hafal jadwal pemberangkatan kereta api ke segala jurusan di stasiun itu. Bahkan lebih hafal dari petugas stasiun yang masih baru. Ah, ia tersenyum. Ia teringat masa-masa indah dulu. Bukan, bukan indah. Di stasiun itu tak ada taman bunga. Yang ada besi dan baja.

“Wajahmu seperti matahari pagi, atau bunga yang baru mekar.”

Itu yang dulu pernah terucap sebagai rayuan. Mendadak alam penuh dengan bunga, hingga rel-rel pun bermekaran. Gerbong-gerbong juga menebar aroma kembang. Alam nyata dan mimpi tak lagi berbeda saat itu, tak ada yang mampu membedakan. Mata termangsa takjub. Tetapi dunia terlalu indah hingga hilanglah keindahan itu, terbunuh dirinya sendiri. Semua yang tak indah terkubur, tapi keindahan malah kehilangan makna.

“Sayang, jangan kau bersedih. Apalah artinya harta bila tak ada yang berair mata saat kau sedih, tak ada yang ikut tertawa saat kau bahagia. Kesendirian lebih dari penderitaan. Tak perlu kau impikan istana yang megah dan taman yang indah. Aku takut keindahanmu termangsa.”

CERPEN CINTA FANTASI. Kata-katanya sungguh menjanjikan, mampu membunuh keraguan. Dan kalimat itu terjawab kata sepakat. Bahtera pun berlayar menjelajah samudera-samudera tak dikenal, berlayar sehasta demi sehasta menuju pulau tak nampak.
bersambung ke CERPEN CINTA FANTASIKisah Tak Dimengerti (2)

Cerpen: Calon Sarjana Sastra

Cerpen Cinta

Cerpen Sarjana Sastra: Calon Sarjana Sastra adalah cerpen cerita kehidupan mahasiswa.


CERPEN SARJANA SASTRA. Abbas tampak gugup. Bukan karena gadis cantik di sampingnya. Sejak SD dia memang sudah terbiasa duduk di bangku paling belakang, kecuali tidak bisa memilih. Sekarang dia sudah jadi mahasiswa. Dia yang memilih sendiri jurusan sastra. Tetapi, tetap saja bangku paling belakang adalah favoritnya. Namun kali ini dia apes, tidak bisa memilih. Terpaksa duduk di bangku paling depan berdampingan dengan seorang mahasiswi cantik.

Dosen yang mengajar kali ini adalah seorang profesor lulusan Harvard. Beliau menyodorkan lembaran berupa fotocopyan kepada semua mahasiswa. Rupanya lembaran tersebut adala cerita fiksi, tapi tidak ada nama pngarangnya. Mungkin itu cerpen atau penggalan novel. Abbas hanya melihat-lihat sekilas, tidak membaca detail. "Saya beri waktu 15 menit untuk membaca penggalan karya tulis itu. Ada 10 judul tanpa nama pengarang. Silahkan dibaca." Semua mahasiswa, termasuk Abbas, nurut saja.

Ada tiga judul yang menurut Abbas sangat menarik, yang lainnya hanya ia baca separuh halaman. Mahasiswa yang lain juga tidak membaca semuanya. Mereka hanya membaca yang menurut mereka menarik. Dosen itu juga ikut membaca di depan. Abbas sesekali meliriknya. Beliau sesekali tersenyum.

CERPEN SARJANA SASTRA. Beberapa mahasiswa sudah selesai membaca. "Waktu habis," kata beliau dan menulis nomor 1 hingga 10 di papan. "Abbas..." Abbas kaget. "Anda duduk di paling depan. Nomor absen anda juga teratas. Biasanya yang di posisi anda adalah mahasiswa luar biasa," katanya. Abbas jadi tambah gugup. "Sebutkan judul yang menurut anda menarik." Abbas menyebut tiga judul. "Dea Andini." Dea yang duduk di samping Abbas menyebut empat judul. Satu per satu beliu minta menyebutkan karya yang menarik menurut mereka. Ada yang menyebut lima, ada yang enam, ada yang hanya dua karya. "Baik, adakah dari kalian yang tahu pengarang penggalan cerpen dan novel yang menduduki peringkt satu hingga lima?" Tidak satu pun mahasiswa yang tahu. "Saya juga tidak tahu," kata beliau. Spontan semua mahasiswa tertawa. "Saya tahu dan sangat mengenal nama pengarang yang karyanya berada di peringkat tujuh hingga sepuluh. Saya sangat mengenal karena pengarangnya adalah penulis buku best seller. Karyanya sudah banyak."

Abbas kaget mendengarnya. Ia coba baca lagi karya tulis yang menurutnya tidak menarik. Tetapi, ia pikir memang tidak menarik.

"Seni memang sulit dimengerti. Sekalipun seluruh ahli sastra menilai suatu karya sebagai karya paling menarik, ditambah keputusan para juri di setiap lomba, tetapi, jika pembaca tidak tertarik untuk membcanya, apa mau dikata?" Abbas mengerutkan kening. Pikirnya, 'Buat apa kuliah sastra, kalau kenyataannya begitu?' Abbas agak bingung. "Tetapi, bukan berarti belajar ilmu sastra itu tidak penting."

***

CERPEN SARJANA SASTRA. Sudah hampir satu jam Abbas duduk di depan laptopnya, tetapi belum satu kata pun ia tulis. 'Yang menurutku menarik, belum tentu menarik buat pembaca,' pikirnya. 'Yang kata orang menarik, belum tentu membuat semua orang tertarik. Tetapi aku tidak boleh berhenti menulis. Pokoknya harus menulis.' Ia pun mulai menulis sebuah cerpen tema cinta. Ia tahu teman-temnnya akan mengejeknya. Cerpen tema cinta, apalagi menggunakan sudut pandang orang pertama, itu karya anak muda yang baru belajar menulis, kata teman-teman Abbas. 'Ah, masa bodoh dengan komentar mereka.'

Selesai menulis karyanya, ia posting di blog pribadinya dan di group penulis di Facebook. Tetapi tidak ada yang merespon. Ia tunggu. Tetapi hingga larut malam, tak ada yang merespon cerpennya. 'Mungkin tema cinta memang tidak menarik?' pikirnya. 'Seperti mimpi rasanya untuk jadi penulis terkenal.' Ia tidak menulis lagi dan membiarkan laptopnya tetap nyala hingga ia tertidur.

Jam 03.17 ia terbangun. Dilihatnya layar laptopnya. Ada pemberitahuan. Rupanya ada yang mengomentari tulisannya di group Facebook. "Wah, curhat ya? Gk laku ya?" Hanya ia tanggapi dengan nafas panjang dan ucapan terima kasih. Rupanya ada yang komentar lagi. "Norak, Bro." Abbas marah, tapi ia tahan. Ingin ia hajar mereka. Tetapi dengan terpaksa ia ucapkan terima kasih atas kritikannya. 'Seni tidak ada teorinya,' pikirnya. 'Seorang penulis menulis untuk pembaca, bukan untuk kritikus.'

Sewaktu SMA Abbas pikir dengan kuliah di Fakultas Sastra dia akan mendapatkan ilmu sastra yang banyak sehingga bisa menjadi penulis hebat dan bisa kaya dari tulisannya. Tetapi kini ia rasa, itu semua hanyalah hayalan. 'Apa aku harus cari kerjaan lain sambil menulis?' Abbas mulai pesimis. "Mustahil rasanya aku menggantungkan hidup dari hasil menulis yang belum pasti." Sebenarnya orang tuanya memberinya cukup uang untuk kebutuhan hidup dan kuliahnya, tapi ia merasa malu. Abbas ingin mandiri.

***

"Traktiran, traktiran..."

Abbas kaget, kelasnya ramai sekali. Tetapi ia masuk saja dan duduk di bangkunya.

"Siapa ulang tahun?" Tanya Dea.

"Cerpennya Firman terbit di Jawa Pos."

"Waaah, keren."

Abbas menoleh ke belakang. Rian, teman dekat Firman, memegang koran Jawa Pos. "Kritik politik," katanya. Bukan cerpen cinta. Dulu waktu SMA, Abbas pernah ikut pelatihan menulis cerpen. Pelatihnya mahasiswa sastra. Kata dia, tulislah apa yang kamu suka.

...bersambung

Cerpen: Idealisme Cinta, Cerita Cinta Dalam Kebinasaan

CERPEN CINTA SEDIH

CERPEN CINTA SEDIH. Cerpen ini adalah cerpen cinta, kisah seorang pria pecinta.


CERPEN CINTA SEDIH. Leonard. Bertahun berburu cinta. Berjuta wajah cantik terjamah. Namun tak satu pun memuaskan. Sungguh perburuan tak kenal lelah.

Hari mulai senja. Leonard duduk sendiri memandangi matahari yang hendak terbenam. Seakan berjajar wajah-wajah cantik di balkoni langit, diantara mega.

Semuanya kurang menarik. Bila mentari terbit lagi esok, ia 'kan lanjutkan lagi perburuan.

Leonard lelap dalam tidur.

Malam berlalu bersama mimpi bidadari di balik tirai. Pagi yang tak biasa. Dunia sunyi. Leonard berusaha keras membuka mata. Tetapi berat sekali.

Tubuhnya juga sulit ia gerakkan. Tetapi ia tak menyerah. Ia berhasil membuka mata dan menggerakkan tubuhnya.

Rupanya ia berada dalam tumpukan reruntuhan. Ia bingung. Ia amati keadaan di sekelilingnya. Semua lenyap tinggal puing-puing berserakan. "Hah...!!" Ia melompat. Semua telah musnah, hancur. "Bencana...?!" Tetapi seperti mimpi. "Aku ... selamat...?!" Ia berlari ke sana ke sini, hanya reruntuhan dan mayat-mayat tergeletak yang ia temukan.

Kini ia hidup sendiri.

Bulan dan tahun-tahun pun berlalu. Tak ada lagi manusia dan hewan tersisa, hanya tumbuhan yang bisa ia nikmati buahnya. Sepi. Tetapi hatinya masih terbayang bidadari di balik tirai. Kata hati menuntunnya. Ia berjalan ke arah matahari pagi. Jauh ia melangkah hingga kelelahan dan pingsan.

Leonard terbangun. Dilihatnya sosok wanita paruh baya duduk di sampingnya. Matanya berkaca. "Kau sudah sadar, Nak?" tanyanya. Leonard hanya tersenyum.

CERPEN CINTA SEDIH. Wanita itu bercerita tentang anak-anak dan cucu-cucunya yang sudah tiada. Semua anggota keluarganya binasa oleh bencana. Leonard bercerita tentang perburuannya. Ia juga bercerita tentang perasaannya kini, tentang keputusasaannya, masih adakah bidadari yang ia cari? Wanita itu hanya diam.

Waktu terus berjalan memusnahkan masa.

Di senja hari Leonard memandangi wanita paruh baya yang sudah sekian lama bersamanya itu.

"Kenapa kau memandangiku?"

"Bertahun-tahun aku berburu cinta, mencari bidadari yang cantik jelita," kisahnya. "Sudah puluhan, ratusan, bahkan ribuan wanita cantik kutemui. Tapi tak satu pun memuaskan hasrat cintaku. Mereka kurang cantik. Hatiku membuang mereka. Tetapi, ada yang aneh dengan hatiku. Entahlah. Kata hatiku, engkaulah bidadari di balik tirai itu. Padahal kau sudah tak punya kecantikan? Tapi hasrat cintaku memintamu untuk menghuni hatiku."

"Tenangkan jiwamu agar kau jernih berpikir."

"Ribuan wanita cantik sudah kubandingkan. Tak ada yang nomor satu peringkatnya. Hatiku yang menilai. Tetapi kini hatiku seakan sudah aus dan tak bisa lagi menilai kecantikan. Kau tak cantik, tapi hatiku memintamu untuk menghuninya."

"Kau aneh."

Cerpen: Maling Yang Mendadak Jadi Kyai

CERPEN ISLAMI

CERPEN ISLAMI. Cerpen ini mengisahkan seorang maling yang bernasib baik. Cerpen islami ini diambil dari kisah nyata.


CERPEN ISLAMI. Kyai belum berkenan mengajar santri. Beliau juga tidak ngimami, tapi memilih sholat sendiri di kamar. Berhari-hari sejak pernikahannya, tak seorang pun bisa menemui beliau kecuali Bu Nyai Salma (Sang istri tercinta).

"Kyai yang sekarang kok tidak berkenan ceramah di masyarakat ya?" Tanya Niman.

"Jangan berburuk sangka...!!"

"Bukan berburuk sangka. Justru kita perlu introspeksi diri. Barangkali sikap kita telah membuat beliau begitu."

"Benar juga. Jangan-jangan selama ini kita telah banyak berbuat kesalahan."

Nyai Salma kadang merasa khawatir melihat kebiasaan suami barunya. Beliau banyak menghabiskan waktu berdzikir di tempat sholatnya di kamar. Kadang ia merasa bersalah, tapi tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuat. Mungkin sikapnya telah membuat sang suami begitu. Kadang beliau menduga mungkin suaminya memang mempunyai kebiasaan yang sulit dimengerti orang pada umumnya.

Rabu pagi tanggal 10 Agustus 2016, usai sholat subuh, untuk pertama kalinya sang kyai berkenan berceramah di masjid.

"Itu kan maling...!!" teriak Buden sambil menunjuk ke kyai.

"Jangan sembarangan...!!" Kang Sarman membentaknya.

"Saya kenal dia," bisik Buden.

"Nyai Salma itu keturunan ulamak, tidak mungkin sembarangan pilih suami," balas bisik Kang Sarman.

"Iya, tapi..."

"Kita ini orang awam. Tidak tahu yang sebenarnya. Kamu mau menuduh nyai Salma tidak bisa pilih suami?!"

"Yaaa.... tidak sih."

"Makanya, jangan sok pinter..!!"

Salah seorang ustadz muda yang sudah lama suka sama Bu Nyai Salma memperhatikan Buden dan Kang Sarman. Dia ingin menggali informasi lebih dalam apa yang baru saja dikatakan Buden tentang kyai barunya. Dalam hatinya, ia berharap apa yang dikatakan Buden itu benar agar dia bisa merebut Bu Nyai yang sudah lama ia dambakan untuk jadi istrinya.

CERPEN ISLAMI. Dalam ceramahnya kyai tidak banyak menyampaikan tentang hukum islam atau tata cara ibadah, melainkan bercerita tentang para sahabat. Rupanya beliau juga punya sedikit pengetahuan agama. Pagi ini yang beliau ceritakan adalah kisah Khadijah ra. istri Rasulullah saw. yang pertama. Ia juga menceritakan kisah Jabir bin Abdillah al-Anshari yang menikahi janda demi adik-adiknya yang membutuhkan bimbingan seorang ibu. Bu Nyai Salma senang mendengar ceramah kyai. Beliau menikahi dirinya setelah menjanda ditinggal suami pertamanya.

Seperti seorang muballigh yang sudah ahli berceramah di depan umum beliau bercerita sambil sesekali berdiri bangkit dari tempat duduknya. Begitu semangat.

***

"Kang Buden," Ustadz Faruq dengan lirih memanggil Buden yang sedang lewat di depan gerbang pesanten. "Tunggu, Kang" beliau mendekatinya. "Mau ke pasar?" Buden mengangguk. "Ayo bareng." Keduanya berjalan beriringan. "Kang Buden, kemarin pagi saya mendengar sampeyan menyebut kyai baru kita... ..."

"Ah tidak, tidak...!! Saya salah lihat saja."

"Masak..!! Beneran sampeyan tidak kenal beliau?!"

"Memang mirip sekali sih, tapi saya tidak mau kwalat. Saya tidak mau mengomentari keluarga guru saya."

Ustadz Faruq agak kecewa, tapi ia tidak mau menyerah. "Memangnya Kang Buden punya teman yang mirip beliau?"

"Iya, tapi maling dia. Tidak mungkin Bu Nyai Salma mau jadi istri maling. Beliau turunan kyai, wali Allah."

"Orang mana, Kang?"

"Orang Karang Delima."

"Desa kecil di lereng gunung itu?"

"Iya. Udah lama tidak ketemu."

Jalan terang bagi Ustadz Faruq. Dia tahu desa kecil tersebut, tak sulit untuk mencari seseorang. "Siapa nama teman Kang Buden?"

"Buat apa, Ustadz? Penasaran amat."

"Yaaa... ingin tahu saja."

"Manfaatnya apa buat sampeyan?"

"Ah, Kang Buden, mau tahu aja."

"Yaaa... janggal aja."

***

CERPEN ISLAMI. Usai mengisi pengajian sore Ustadz Faruq pergi ke desa Karang Delima untuk menanyakan kabar orang bernama Saifudin, yang kata Buden adalah teman lamanya yang berprofesi sebagai maling. Diam-diam ia ke sana mengendarai motor miliknya. Bu Nyai Salma melihatnya sekilas saat melewati pintu gerbang. Biasanya Ustadz Faruq langsung bantu-bantu kyai saat beliau masih ada. Sekarang jarang sekali masuk ke ndalem.

Ada anak-anak yang sedang bermain kelereng di halaman rumah di pinggir jalan. Desa Karang Delima tampak sepi. Hampir tidak terlihat ada orang. Ustadz Faruq agak bingung mau menemui siapa. Tidak ada warung untuk nongkrong di situ.

Seorang anak kecil mendekatinya dan menanyakan mau ke rumah siapa. Ustadz Faruq pun memberi tahu tujuannya. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba keluar dari salah satu rumah mendekat. "Nyari rumah siapa?" tanyanya. Ustadz Faruq menjelaskan maksudnya. "Saifudin...," wanita itu memperhatikan Ustadz Faruq, dilihatnyay dari kepala hingga kaki, seakan tidak percaya dengan busana muslim: sarung, baju koko dan kopyah, mencari orang bernama Saifudin. "Maling itu, Mas...?" Ustadz Faruq bingung untuk menjawab. Ia khawatir dikira temannya. "Mas kehilangan apa? Dia sudah lama tidak di sini, Mas. Habis nyuri sapi buat lebaran dulu."

Ada seorang wanita lagi mendekat. "Cari siapa, Buk?" tanyanya.

"Saifudin."

"Saifudin maling?!"

"Iya."

"Katanya jadi kyai."

"Halah...!! Ngawur...!! Masak, maling jadi kyai...!!"

"Jadi kyai dimana, Buk?" tanya ustadz Faruq.

"Ah, tidak mungkin, Mas. Kabar burung itu. Masak, maling jadi kyai."

"Tidak tahu juga. Dengar-dengar sih dia nikah sama Bu Nyai."

"Bu Nyai Salma...?! Ngawur kamu. Beliau keturunan wali, kyai alim. Masak jodoh sama maling...!!"

bersambung...
*disadur dari cerita Kyai Sakur, almarhum guru ngaji saya. Mungkin saja ini kisah nyata

Cerpen: Tak Hanya Yang Muda Yang Bercinta

CERPEN CINTA SEGITIGA, cerpen cinta

Cerpen ini merupakan CERPEN CINTA SEGITIGA. Mengisahkan cinta wanita yang sudah tidak muda lagi.

"Dia itu cucuku. Jangan buta...!!"

Wajahnya memerah. Ini memalukan. Tak masuk akal. Tak pantas terjadi. Tetapi sudah terjadi. Semua orang sudah tau. Ini aib, aib keluarga. Bingung.

"Sudahlah. Aku pergi saja."

Hatinya terlanjur terbakar rasa cemburu. Ia seperti buta. Hilang akal sehatnya. Tak peduli anak, sanak family dan tetangga. Tak ada rasa malu. Ia pergi meninggalkan rumah yang dulu dibangun bersama. Tetapi ia bawa barang-barang yang ia beli sendiri: lemari kecil, mesin freezer, baju, alat masak elektrik, perhiasan, dll. Banyak tetangga yang bertanya-tanya hendak dibawa kemana barang-barang itu. Anak-anaknya merasa malu karena hal itu tak patut dilakukan oleh pasangan yang sudah cukup berumur seperti mereka.

Dia pergi naik mobil pick up dengan barang-barangnya. Tidak satu pun dari keempat anaknya yang turut serta. Mereka menangis tak kuasa menahan malu pada tetangga dan teman. Mereka bersedih atas kejadian ini dan menyesalkan sikap ibunya yang menurut mereka sangat tidak dewasa. Bahkan anak bungsunya yang masih kuliah menangis histeris.

Ini bukan yang pertama. Ia memang wanita pencemburu. Dulu pernah cemburu pada ponakannya, pernah juga pada pelanggannya, pada tetangga. Tetapi sang suami memaklumi dan cukup sabar menghadapinya.

Rumah yang cukup megah itu kini terselubung duka. Tak ada tawa dan tak mungkin ada tawa dalam waktu yang cukup lama. Cucu-cucunya pun turut merasakan kesedihan atas kepergiannya. Sang suami seakan tak punya cara lagi untuk memperjuangkan cintanya. Ia biarkan saja sang istri pergi.

Misteri Sang Sopir Pick up

CERPEN CINTA SEGITIGA. Suami bodoh membiarkan istrinya pergi sendirian. Aku melihat ia menangis tadi, tapi tak berbuat apa-apa. Bodoh. Wanita ini begitu menawan. Sudah begitu lama aku mengimpikan kesempatan seperti ini. Walau jarak usia selisih 30 tahun, tapi keindahan tubuhnya membuatku mabuk kepayang. Bibirnya seksi. Senyumnya menggoda. Tutur katanya lembut. Matanya indah. Ia begitu bijaksana. Pasti begitu hangat cintanya. Sebentar lagi, hasratku terpenuhi.

Bertahun-tahun aku hanya bisa menghayal untuk menikmati cinta bersamamu, wahai wanita disampingku. Bertahun sudah cinta ini kupendam. Sempat beberapa kali kuajak kau bercinta dalam mimpi dengan mantra yang kudapat dari seorang pintar. Pagi itu kau memandangiku. Mungkin bekas kisah semalam. Begitu indah tatapanmu. Kau begitu mempesona. Mungkin kau masih ingat itu.

Tetapi aku tidak mau gegabah meski hasrat ini menggebu. Cinta adalah seni, takkan indah bila turuti nafsu. Kunikmati kebersamaan walau tanpa saling pandang. Kita nikmati jalanan dengan pemandangan hijau di tepian. "Kok berhenti?" Aku seakan tidak tahan lagi ingin menikmati cintamu.

"Anda menangis?"

"Tidak. Aku tidak menangis."

Aku tak tahan menatap kecantikanmu. Tubuhmu begitu indah. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Aduhai cinta, rasanya lenyap diri ini. Jiwaku dikuasai kobaran api asmara. Cinta ini sudah jauh di atas kendaliku. Tuhan, bantu aku.

"Anda yakin mau ke rumah adik anda?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Ya ... ingin tahu saja."

"Kalau tidak ke sana, kemana lagi?"

Ini kesempatan emas bagiku. Tetapi juga tidak mungkin menikahinya sekarang. Aku harus menunggunya empat bulan lagi. Tetapi empat bulan terlalu lama rasanya. Aku ingin segera bercinta dengannya. CERPEN CINTA SEGITIGA.

"Kalau kuajak anda ke suatu tempat?"

"Kemana?"

Kesetiaan Yang Diuji

CERPEN CINTA SEGITIGA. Dia adalah istri ketiga Sarif. Ada dua janda dalam hidupnya. Tetapi ia sangat berharap ini yang terakhir. Sudah ccukup ia mengalami kegagalan cinta. Ia menyadari kesalahannya di masa lalu: menganggap sepeleh urusan cinta. Kini ia sadar cinta harus diperjuangkan. Sebagai lelaki ia harus tahan ujian.

Kecemburuan istrinya yang berlebihan kadang membuat ia ingin kembali pada mantan istrinya, tapi ia tahan. Sebab bila ia kembali dan meninggalkan istri yang sekarang, itu artinya dirinya adalah lelaki yang lemah. Di tempat kerja sempat beberapa kali ia digoda wanita muda yang cukup cantik. Teman-temannya mengejeknya karena mengabaikan kesempatan emas. Tetapi ia teguh pendirian pada komitmen cintanya.

Malam semakin larut. Orang tua sang sopir muda yang misterius bertanya kemana perginya mereka. Tetapi tidak ada yang tahu. Sarif meminta anaknya menghubungi semua kerabat. Tetapi tidak ada yang tahu. Masalah bertambah. Ibu sang sopir muda yang masih berstatus mahasiswa menangis. Ayahnya mencoba menghubungi teman kuliahnya yang sering menginap di rumahnya: Rudi. Tetapi ia juga tidak tahu.

Sarif teringat salah seorang temannya yang ahli supranatural. Dia pernah bilang dulu kalau Sarif akan menikah dengan seorang perempuan lagi. Artinya akan ada tiga janda dalam hidupnya. Tetapi ia menolak tebakan itu. Ia berusaha keras untuk menjadikan ini cinta terakhirnya walau bagaimanapun kenyataannya. Ia yakin Tuhan sedang menguji kesetiaan dan kesabarannya.

Sang sopir muda seakan hilang kesadaran. Jiwanya dikuasai cinta butanya. Ia akan berusaha keras untuk memisahkan Sarif dengan istrinya. Ia bertekad akan menikahinya empat bulan lagi. Pria misterius. Tak ada yang menduga ia akan pergi menghilang bersama istri Sarif.

Empat Bulan Kemudian

"Kamu masih anak-anak. Aku lebih pantas jadi nenekmu...!! Jangan gila."

"Umur bukan syarat pernikahan."

"Iya, tapi tak wajar."

"Kamu malu?"

"Gila...!!"

Firman nama sang sopir misterius tersebut. Empat bulan penantian sudah ia lalui dengan sabar dan penuh ketabahan. Tinggal satu langkah: mengharap kesediaannya untuk menjadi istrinya. Wanita paruh baya yang kini berada di sampingnya tampak tak berdaya. Mungkin sebentar lagi ia akan menyerah dan mau menikah dengan Firman. Mungkin rasa malu saja yang membuatnya ngotot menolak.

"Kalau kamu malu untuk menjadi istriku, kita bisa merahasiakan hubungan kita."

Ia menangis. Mungkin bingung. Mungkin takut. Mungkin ingat suami dan anak, juga cucu di rumah. Mungkin menyesali perbuatannya. Sempat terbersit dalam pikiran Firman untuk memaksanya, tapi itu tak halal. Menurutnya cinta tak indah jika tak halal.

"Aku tidak akan berbuat jahat. Aku ingin cara yang halal."

Ia diam tanpa kata. Hanya menangis. Firman seakan turut merasakan apa yang ia rasakan. Ia memegang tangannya, menggenggamnya erat. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Firman merangkulnya. Ia merebahkan kepalanya di bahu Firman. Hasrat cinta Firman menggebu. Ia ingin melepaskan rangkulannya, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Ia biarkan saja. Biar hatinya tenang dulu. Tetapi Firman tak kuasa menahan hasratnya. Itu tak baik. Niat jahat bisa saja muncul.

Akhirnya, Firman berkesimpulan ia mau dinikahinya. "Aku sudah menemui salah seorang kyai yang bersedia menikahkan kita." Ia diam saja. "Sehabis sholat magrib kita ke sana."

Mega merah di ufuk barat begitu indah. matahari seakan memperlambat terbenamnya, seakan ingin berlama-lama menghiasi langit dengan warna jingga. Firman sudah tak sabar menunggu waktu halalnya cinta.

Mereka resmi menikah.

Sekian cerpen cinta segitiga ini. Semoga menghibur.

Cerpen: Dapat Perawan, Bangga...!

cerpen asmara

CERPEN ASMARA Kisah pemuda yang sedang mencari cinta sejatinya.


CERPEN ASMARA. "Sebentar lagi, kamu kan lulus," kata Emak Parmi pada Eko yang sedang makan di dapur. "Kenapa nggak sekalian cari bini?" sambil mencuci piring di sumur ia menasehati Eko, putra sulungnya. "Menikah itu sunnah Rasul, pahala ibadahmu jadi berlipat."

Eko tidak terlalu menghiraukan. Baginya, itu biasa, orang tua perempuan memang begitu. Sebenarnya, bukan Eko tidak suka perempuan. Kebelet kawin sih iya. Tetapi, kalau tidak spesial, tidak istimewa, sulit untuk tidak tolah-toleh katanya. Dia ingin mendapatkan wanita yang membuat matanya enggan melirik wanita lain. Sebenarnya sudah banyak ia temui yang spesial, tapi ia minder, merasa tidak pantas.

"Bapakmu dulu umur 18 tahun, langsung ngajak nikah."

Eko tertawa. "Iya, Emak kan kelasnya..."

"Kelas teri...!! Kayak tinju aja," sahutnya. "Allah lebih tahu derajat hamba-Nya."

"Ya... doain saja." Eko mencuci piring bekas ia makan, lalu menaruknya di rak. Lalu mendekati Emaknya. Emak Parmi segera menyerbet tangannya, Eko mau bersalaman. "Eko berangkat dulu. Doakan segera dapat bini."

"Amin...!!"

***
"Kamu udah kerja, udah sukses, kok tidak segera nikah, Fid? Banyak cewek cantik di kampus ini."

Hafid yang sedang mencari referensi untuk skripsinya menyempatkan menanggapi Eko. "Aku cari yang suci."

"Yang suci?! Kamu kira semua cewek di kampus ini najis?!"

Hafid tertawa melihat ekspresi Eko. "Bukan begitu, Bro. Santai, santai. "

"Terus?"

"Kita memang tidak boleh buruk sangka ya, tapi aku khawatir, tidak yakin cewek-cewek di sini masih perawan."

"Bayi baru lahir tu perawan, Bro...!!"

Eko memang kurang suka dengan cowok yang masih suka ngomongin keperawanan. Di jaman se modern ini, menurutnya dan golongannya, sudah bukan jamannya membiacarakan keperawanan. Laki-laki dan perempuan itu sama, katanya. CERPEN ASMARA.

"Aku yakin di luar sana banyak yang selalu menjaga diri."

"Jadi untuk itu kamu ikut program tahfidz?"

"Salah satunya."

"Memang apa bedanya sih perawan sama yang sudah tidak perawan? Istri Rasulullah yang pertama janda, Bro."

"Kalau kamu mau sama janda, Bu Nina, dosen Bahasa Inggris, cantik," kata Hafid sambil tesenyum. "Cantik kan?" ia tidak bisa menahan tawa.

"Payah Lho..!!!"

"HaHAhaha... Katanya tidak ada bedanya perawan sama janda."

"Yang ini bukan urusan janda atau perawan, tapi tua atau muda. Perempuan udah tidak produktif ditawarin ke gue."

"Jangan begitu, Bro. Ingat kisah istri Nabi Zakaria kan?"

"Ah, sudah. Tidak usah bahas itu...!! Garap skripsi aja."

"HahaHahaha... gitu aja sewot....!!"

***

CERPEN ASMARA. Malam semakin larut. Sudah sepi sekali. Semua orang sudah pada tidur. Eko berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia memandangi dedaunan yang sesekali bergoyang-goyang diterpa angin. Ia merenungi nasibnya. Lahir dari keluarga miskin, hidup miskin. Untuk bisa kuliah harus nyambi jadi sales roti. Ia merasa iri kepada teman-temannya yang menurutnya lebih beruntung dari dirinya, seperti Hafidz yang sudah sukses, atau Herman yang minggu depan mau menikah dengan perempuan kaya dan pintar, lulusan kedokteran gigi di UGM. Nekad dia. Sulit ia percaya. Tetapi Eko tetap menjaga diri, tidak akan nekad, takut nasib seperti bapaknya, hingga tiada tak sempat menjadi kaya, bahkan dirinya jadi penerusnya.

"Kesiangan ya?"

"Tidak bisa tidur tadi malam."

"Kamu diundang Herman kan?"

"Iya."

"Hebat dia. Dapat perawan berkelas, Bro."

"Kok tahu kalau dia perawan?"

"Santri tahfidz. Sudah hafal 30 juz."

"Emangnya Herman hafal Quran?!"

"Masih proses, kayak saya."

Herman pendiam, tapi cukup cerdas. Ia suka binatang dan berbisnis jual beli hewan peliharaan. Ia tidak mudah terpengaruh temannya. Agak egois dan penyendiri. Tetapi dia kuat pendirian, tidak suka ikut-ikutan teman.

"Perawan belum tentu baik, Bro. Kayak tetanggaku, tiap hari gunjingin tetangga. Perempuan sekampung dibilang tidak perawan sebelum nikah. Jadinya, dia dimusuhi tetangga. Tidak bangga juga dapat perawan kalau kayak gitu."

"Manusia, Bro. Yang penting kita berusaha. Lebih jelek lagi, sudah tidak perawan, ahlaknya buruk. Super parah, Bro."

Sempat terpikir oleh Eko untuk menikahi janda kaya, biar hidupnya tidak susah-susah amat. Tetapi ia masih merasa gengsi jika harus menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan. Padahal ia sering bilang kalau perawan atau tidak itu sama saja. CERPEN ASMARA.

***

"Bro, bulan depan aku mau nikah," kata Hafid saat makan di kantin.

Eko kaget mendengarnya. "Udah nemu calon?!"

"Udah. Anaknya Ustadz Imron."

Eko tambah kaget. "Yang kuliah S2 itu?!"

"Iya. Beliau pernah bilang, akan menerima siapapun yang melamar anaknya asalkan hafal 3 juz. Aku sudah hampir 4 juz. Mumpung belum ada yang mendahului, tak coba aja kemarin malam saya ke rumah beliau. Alhamdulillah dierima. Yes....!!"

Andai Eko punya banyak waktu, sebenarnya ia juga ingin seperti Hafid dan Herman. Tetapi itu sulit baginya, sholat saja bolong-bolong. Ia sering ketiduran kalau sudah kecapean kerja. Kadang ia marah sama Tuhan, katanya Tuhan tak adil. Tetapi ia masih menyembah-Nya, masih berdoa pada-Nya.

***

Hujan disertai angin sedang melanda desa Karang Sengon. Bondowoso memang diselimuti awan hitam sejak pagi. Eko berteduh di masjid. Ia tiduran di teras masjid. Hampir ia tertidur, tapi tiba-tiba ada 10 anak kecil hujan-hujanan menghampirinya. Mereka mau beli roti. Eko bersyukur sekali, Tuhan mengiriminya rizki. Seorang perempuan menghampirinya. "Beli 15, Mas," katanya.

Tidak harus capek-capek jalan, rizki menghampiri. Seorang pria juga menghampirinya, sepertinya suaminya ibu yang tadi. "Mampir yuk, Mas. Basah kalau di sini," katanya. Rumahnya memang berada di samping masjid. "Ayo mampir ke rumah saya. Nanti banyak yang beli rotinya," imbuhnya.

Eko manut saja.

Mereka duduk di ruang depan rumah beliau. "Saya dulu pernah jadi sales juga, Mas," kata bapak itu. "Saya pindah-pindah kerja dulu, jadi kuli bangunan, buruh pabrik, jaga toko, lalu nyales. Pas saya nyales itu bertemu seorang kyai di daerah Arak-arak sana. Beliau menyuruh saya membaca surat Waqi'ah tiga kali sehari, dan sholawat nariya 11 kali setiap habis sholat lima waktu. Kata beliau, jangan terlalu berambisi dalam urusan dunia. Saya ikuti saran beliau. Pas satu tahun saya mampu beli sapi dan sepetak sawah. Dagangan saya laris, hingga saya mampu buka toko di daerah pecinan. Lalu saya menikah dengan salah seorang santri beliau, ibunya ini. Kondisi ekonomi kami terus membaik. Kami pun naik haji." Beliau bernama Haji Mukhlisin setelah berhaji.

Eko diam saja mendengarkan sambil menikmati teh hangat yang dihidangkan untuknya.

"Selama kita terus berusaha jadi orang baik, nasib baik akan menghampiri. Bersikap baiklah pada semua orang. Hormat pada siapapun."

Eko melihat istri Pak H Mukhlisin begitu sayang menemani anak-anaknya yang bermain bersama anak-anak tetangga di ruang tamu. Ia jadi ingat Emaknya. Betapa sayangnya pada dirinya. Walau hidup miskin, tapi kaya kasih sayang.

***
CERPEN ASMARA. Perpustakaan pagi ini sepi. Biasanya ramai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Eko sudah hampir selesai bab lima. Tapi dosen pembimbingnya minta sedikit perbaikan pada bab empat. Ia tak punya banyak waktu, sebentar lagi ia harus berangkat berjualan keliling. Ada Fina baru datang. "Wah, pagi sekali kamu, Ko," sapanya. Lalu duduk di samping Eko,

"Kamu sudah seminar juga kan?"

"Sudah. Kamu tidak hadir."

"Kerja, Fin. Kamu tahu itu kan."

"Hehe... iya. Aku mau ngelesi nih, mampir ke sini dulu sebentar."

Fina juga kuliah sambil kerja, sama seperti Eko. Dia juga anak orang tidak punya, dan juga tidak begitu pintar. Kata teman-temannya, mereka termasuk mahasiswa yang kuliahnya asal kuliah saja: masuk kelas, ngerjakan tugas, dapat ijazah. Sudah. Begitu saja. Tak perlu jadi aktivis, tak perlu jadi bintang pelajar.

"Oya, Fin..."

"Apa?"

"Kamu belum punya calon kan, Fin?"

Fina kaget mendengarnya. "Calon apa?"

"Calon suami?"

"Kok tanyak gitu? Tumben?"

"Kalau aku melamar kamu, ... kamu mau kan, Fin?"

"Apa?! Kamu...?"

"Iya..."

"Gimana ceritanya?! Tidak ada angin, tidak..."

"Serius, Fin. Nanti kita bicarakan lebih lanjut. Sore kamu tidak sibuk kan?"

"Iya."

Fina bukan wanita istimewa. Dia bukan wanita spesial bagi Eko. Dia tidak cantik seperti artis. Dia juga bukan bintang pelajar. Sejak mendengar nasehat-nasehat dari Pak Haji Mukhlisin beberapa waktu lalu, Eko berubah. Dia ikuti nasehat beliau. Tak perlu berambisi dalam urusan dunia. Istri beliau juga tidak cantik, tapi mereka bahagia. Eko senang melihatnya. Dia penyayang pada anak-anak. Fina mirip beliau. Dia sabar dan pekerja keras.

Eko mengajak Fina ke warung lesehan Bu Yun. Tempatnya sejuk, tersedia WiFi. "Aneh kamu, Ko," kata Fina. "Sejak kapan?" Eko tampak tenang. Tak ada ekspresi berbeda. "Ini serius?" Eko tersenyum. "Kamu cinta sama aku?"

"Menikah tidak harus dengan cinta kan, Fin?"

Fina kaget mendengarnya, "Tanpa saling cinta...?"

"Yang dulunya saling cinta, lalu menikah, tak sedikit yang cerai."

Fina tersenyum, membenarkan. Tapi baginya terasa aneh menikah tanpa cinta. Meskipun sebenarnya ia tidak begitu mengharapkannya. Ia sudah biasa hidup kekurangan. Hidupnya penuh tantangan. Tak ada kata santai. Ia tak punya waktu untuk nikmati cinta.

"Kamu bersedia kan, Fin, jadi istriku?"

Fina menanggapinya dengan senyum.

***

"Kamu yakin dia masih perawan?" tanya Hafid.

"Aku yakin dia perempuan yang baik dan sudah teruji mentalnya. Dia sabar dan penyayang terhadap anak-anak. Dia calon ibu yang baik"

Demikian Cerpen Asmara yang berkisah tentang pencarian cinta para pemuda.

Cerpen: Sarjana Menganggur, Santri Tak Jadi Kyai

cerpen pendidikan

Cerpen Pendidikan, kisah dengan tema pendidikan.


CERPEN PENDIDIKAN. "Katanya Si Firman sudah sarjana, kok kerjanya cuma melamun gitu? Kok tidak seperti Arif dan saudara-saudaranya: kerja enak, gaji besar"

"Itu bukan urusan kita. Anak kita juga tidak kerja."

"Anak kita kan mondok, tidak sekolah. Memang bukan untuk cari kerja"

Segelas teh sudah tersaji. Nasinya belum matang. Sayurnya juga belum diagkat ke panci. Baru ikan yang satu per satu dicelupkan ke wajan untuk digoreng. Aromanya sedap. Pak Rahman sudah terbiasa membantu masak Buk Rahman. Selama belajar di pesantren dulu dia masak sendiri. Makanya tak heran jika ia pintar masak.

"Kalau tidak kerja, ngapain kuliah mahal-mahal ya?"

"Mungkin belum rejekinya. Rejeki itu Allah yang ngatur."

Terdengar suara motor di depan, "Mau ke mana Si Rahman?" Pak Rahman hanya melihat sebentar dari pintu dapur. Terlihat Rahman memakai celana jean dan jamper merah, sudah memakai helm. "Anak pondok jaman sekarang kok tidak ada bedanya sama anak sekolahan." Pak Rahman tidak menanggapi. "Sarung sama kopyah sudah tidak laku."

Waktu Rahman masih jadi santri, beliau pernah menegurnya karena memakai celana dan jamper bergambar artis. "Biar tidak kalah sama anak sekolahan, Buk. Biar mereka tahu, anak pondok tidak kalah," sahutnya.

"Belajar agama itu bukan untuk pamer, tapi menata hati. Ikhlas beramal karena Allah." Rahman diam. "Allah tidak memerintahkan kita bertanding. Tidak ada yang tahu amal kita diterima atau tidak olehNya. Tujuan hidup kita untuk meraih ridhoNya, bukan pujian mahlukNya."

Rahman diam tidak merespon. Sepertinya ia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menanggapinya. Lama keduanya saling diam. Rahman menunduk. Begitulah seharusnya seorang santri, menunduk di hadapan yang lebih tua, terutama ibu, itu adalah ahlak mulia, dan tak menjawab saat diberitahu oleh yang lebih tua, sekalipun sudah tahu. CERPEN PENDIDIKAN.

***
"Kamu belum mau berumah tangga?"

"Belum ada yang cocok, Buk."

"Di pondokmu kan ada 5000 santri putri, masak tidak ada yang cocok?!"

Rahman menunduk. Sangat berbeda dengan santri jaman dahulu, jika orang tua atau kyai sudah memilihkan, maka itu adalah yang terbaik. Sebab dalam ajarannya, akal tak mampu menentukan takdir, sedangkan doa orang tua dan guru itu mudah terkabulnya. Pak Rahman sempat mendengar kabar bahwa putranya ingin menikah dengan wanita modern. Wanita modern yang dimaksud adalah wanita yang tidak mondok, alias wanita yang belajar di sekolah umum dan hidup bebas, kalau perlu wanita karir. Beliau tahu, pesantren memang lebih dulu ada, makanya dianggap kuno alias tak modern.

Firman sudah sering membawa pacarnya. Banyak pemuda desa yang iri, tak sedikit juga cewek kampung yang kecewa karena tak dipilih olehnya. Dahulu, membonceng lawan jenis yang belum dinikahinya itu perbuatan maksiat yang tak disukai masyarakat. Tetapi sekarang sudah berubah menjadi kebanggaan. CERPEN PENDIDIKAN.

Apakah santri juga tak mau kalah? Ingin dipuji dalam hal ini juga?

Motor Rahman dimodif sedemikian rupa. Keren. Sangat jelas, itu bukan cara untuk memikat wanita sholehah yang terdidik di pesantren, bukan wanita yang alim dalam urusan agama, bukan wanita yang kesehariannya mengaji. Buk Rahman kadang melamun mendapat menantu yang suka menuntut hal keduniawian, menantu yang pandai menghitung uang belanja. Tetapi doanya mengalahkan lamunannya.
***
CERPEN PENDIDIKAN. Sudah setahun Firman menikah. Istrinya tak bisa masak. Padahal kebutuhan sehari-harinya masih numpang sama orang tua karena Firman belum juga mendapat pekerjaan yang diinginkannya. Seharusnya istrinya bantu mertua masak. Teman-temannya di kampung mengajaknya kerja kasar, tapi itu memalukan, terutama malu pada istrinya dan mertua. Gadis-gadis desa yang belajar di pesantren merasa unggul darinya. Dalam urusan rumah tangga mereka jauh lebih terampil. Sudah terbiasa hidup mandiri di pesantren. Bahkan beberapa dari mereka ada yang jualan kue membantu suaminya yang jadi kuli tani atau berdagang.

Kebanyakan dari mereka ikut mengajar di Madratsah Diniyah pada sore hari di kampung yang diasuh oleh Kyai Lutfi. Beliaulah yang mendidik mereka waktu kecil dulu, sebelum berangkat ke pesantren. Orang tua mereka juga merupakan santri dari ayahanda Kyai Lutfi dulu. Malamnya mereka juga ikut mengajar membaca Al Quran di sana, juga di musholla-musholla lain, ada yang dipercaya masyarakat untuk mendirikan musholla sendiri.

Rahman tidak ikut bersama mereka. Dia memilih jalan lain. Ada beberapa santri yang memilih jalan sepertinya. Belakangan mereka dikenal sebagai santri modern. Mereka kurang menerima hal-hal yang tak sesuai logika.

"Pak, Buk, saya mau melamar seseorang."

"Mondok di mana?" tanya ibuknya.

"Mahasiswi keperawatan semester akhir," ibunya menghela nafas, tak menampakkan raut bahagia. "Dia mau asal saya bisa jadi pengusaha."

"Usaha apa? Takut miskin kalau tidak bersuami pengusaha?"

"Hidup kan butuh makan, Buk."

Beliau menanggapi dengan diam, tak mau berdebat. Dan diamnya lebih mampu menjelaskan pada Rahman bahwa bapak dan ibuknya dulu tak begitu. Mereka pasrah pada Yang Maha Pemberi. Tak ada yang bisa menjamin selainNya. Yang kaya raya pun bisa saja mendadak jadi miskin. Mereka yang hari-harinya mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi di Madratsah tak begitu berambisi menumpuk harta. Masa depan generasi mereka utamakan di atas kepentingan pribadi. Tetapi, nyatanya mereka bisa hidup, bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
***
"Kalau penghasilan sedikit, terus bagaimana memenuhi kebutuhan hidup? Kalau sakit, bayar kamar rumah sakit saja sudah berapa?"

"Hidup ini untuk bekerja. Kalau tidak bekerja, tidak bisa hidup."

Mereka tak sepakat lagi dengan nasehat guru (kyai) mereka dulu, "Rizki itu mengejar kita, maka dari itu jangan terlalu memforsir diri untuk mengejarnya, nanti salipan, tidak ketemu." Begitu nasehat guru mereka dulu. Maksudnya, agar sebagai manusia tak perlu meragukan jaminanNya. CERPEN PENDIDIKAN.

Rahman terjun ke dunia bisnis, full time, pagi siang malam memikirkan bisnis. Itu ia lakukan demi cintanya, si cewek modern. Tak kenal waktu, tak kenal lelah: semangat. "Meski anak pondok, Rahman semangat ya," puji para tetangga. Kebanyakan santri yang sudah pulang ke masyarakat memang tak berambisi mencari rizki. Menurut kebanyakan orang, itu sama dengan memiskinkan diri.

Ustadz Anwar merupakan salah seorang ustadz senior di kampung. Bersama istrinya, Ustadzah Ifa, beliau menghabiskan banyak waktunya di madratsah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau jualan kripik singkong, juga dari penghasilan bertani di beberapa petak sawahnya.

Sebulan yang lalu beliau baru saja selesai membangun warung makan di pasar Bondowoso. Beliau tidak menjaga sendiri, tapi mempekerjakan orang agar beliau bersama istri bisa fokus mengabdi di madratsah. Rahman merasa iri. Diam-diam ia mengamati perkembangan warung makan Ustadz Anwar. Semakin hari tambah ramai saja. Tentu saja penghasilannya lumayan banyak. Salah satu buktinya, lima hari yang lalu beliau beli motor baru. CERPEN PENDIDIKAN.

Rahman heran dan bertanya-tanya, bertanya pada diri: tak mengerti tentang hidup. Dirinya yang siang malam mengejar kesuksesan, seakan menemui jalan buntu. Sedangkan ustadz Anwar yang kesehariannya menghabiskan waktu mengajar, malah membaik perekonomiannya. Tetapi, para pebisnis besar itu semangat dan fokus jalankan bisnis, Rahman tahu itu. Tapi, kenapa dirinya tidak bisa? Entah ada di mana jawabannya.

Cerpen: Arjunaku Tak Lahir Kembali

cerpen keluarga

CERPEN KELUARGA cerita tentang kehidupan dalam keluarga.


CERPEN KELUARGA. "Kamu jual sawah lagi?"

Suaranya sangat pelan, tak lantang seperti dulu lagi. Bibirnya sudah hampir tak sempurna bergerak. Badannya gemetar. Matanya lebih sering menutup. Jalan hidup begitu panjang sudah dilalui. Sangat lelah sudah. Kamar ini, ruangan berukuran 6 x 7 meter, dinding berwarna putih dengan gambar-gambar pohon di tepi utara. Jika tidur miring ke kiri, lukisan tersebut begitu indah.

Pemuda itu tidak segera menjawab, hanya diam. Wanita tua yang berdiri di sampingnya hanya menarik nafas dalam. Tak tahu harus bilang apa. Diam seakan menjadi jawaban yang paling tepat dan lebih mampu menjelaskan segalanya. Ruangan ini sudah sekian tahun menyimpan kenangan. Dinding dan jendela sudah menjawabnya.

Di ruangan ini, 25 tahun silam, canda tawa menghiasi. Saat itu si kecil baru berumur satu tahun, begitu lucunya. Demi dia, kalau ia mau, semua mainan di toko mainan akan dibeli, agar tawa si kecil terus mengembang. Bahagianya. Sang pahlawan masih begitu gagahnya kala itu, tak goyah memikul beban seberat apapun. Ia terhormat, semua tahu kehebatannya. Ia begitu berwibawa: kuat dan kaya. CERPEN KELUARGA.

Zamannya sudah berakhir. Si kecil yang dulu lucu dan imut sudah memegang kendali zaman baru. Si kecil sudah menjadi dia, tetapi tak sama. Wanita tua itu sangat tahu bedanya. Zaman rupanya menelan keperkasaan itu, beserta kegagahan, kewibawaan, dan sebentar lagi kekayaan itu juga kan sirna. Lukisan kelinci di dinding masih belum terhapus, bukti sejarah kebahagiaan dahulu.

Wanita tua itu meneteskan air mata, "Jalan yang dilalui tak sama," batinnya. Sehingga akhir ceritanya pun tak sama.
***
CERPEN KELUARGA. Kau pemuda yang gagah. Kau begitu menawan. Wanita mana yang tak terpesona. Hadirmu telah merubah hidupku. Segala yang kumiliki jadi tak berarti. Apalah guna harta. Ah, kau telah berhasil merampok hatiku. "Kau kaya, terpelajar. Nasib kita tak sama," katamu kala itu. "Tapi nasib bisa diubah. Hadirmu di jiwaku membakar semangatku." Aku tertawa dalam hati kala itu. Ada-ada saja kau.

Kau kuli bangunan dengan sedikit kemampuan melukis. Kita lain dunia. Aku anak orang kaya raya. Aku naik mobil, kau naik motor tua yang sering mati itu. "Hei...!!" Aku agak malu sama teman, tapi kuhentikan langkah. "Ini," kau sodorkan lukisan indah itu, gambarku, separuh badan. "Cantik kan?" Aku tersenyum saja. Kuambil gambar itu dan kuucap terima kasih.

"Siapa?" tanya si Karina, teman sekelasku.

Aku hanya angkat bahu, karena aku memang tak begitu mengenalmu. Yang kutahu, kamu kuli bangunan, itu saja. Tetapi kuakui lukisan itu indah, kau pandai sekali. Si Karina juga bilang begitu, "Lebih cantik dari aslinya," katanya. Aneh. Tetapi aku bangga kenal seorang pelukis. CERPEN KELUARGA.

"Hei...!!"

"Kamu? Kok di sini?"

"Aku belajar melukis pake komputer: desain sama Mas Rifan."

Kita semakin dekat. Kau hebat. Banyak pemuda merasa minder mendekatiku, kata teman-temanku, tapi dengan polosnya--mungkin tak salah dibilang tak punya malu--kau dekati aku dan tak segan-segan ungkapkan cinta. Aku bingung. Sungguh aneh. Menurutku tak mungkin lelaki miskin dan tak berpendidikan sepertimu berani nembak aku. Tetapi kau lakukan itu.

Bahkan saat aku berjalan sama dosenku, kau berani menghadangku hanya untuk bilang kalau kau baru saja beli laptop. "Sekarang aku bisa berlatih desain setiap hari di rumah." Hanya doa semoga kau sukses, dan 'ku meninggalkanmu bersama dosenku.

CERPEN KELUARGA. Beliau tanya tentangmu, kusampaikan pada beliau kalau kau kuli bangunan yang sedang bekerja di kampus. Dia juga tanya bagaimana aku bisa kenal kamu. Aku bingung untuk menjawabnya. Aku mau tertawa, tapi kutahan. Untungnya beliau tidak tanya lebih lanjut.

Bila kusimpulkan, kau seperti berlari dari kaki gunung hingga ke puncaknya, dan akulah bunga di puncaknya. Kau taklukkan tingginya gunung. Kau hebat. Dan kita bersama nikmati keindahan. Tak terasa, sudah begitu panjang kita jelajahi kehidupan bersama dan kini sudah tiba di ujungnya. Kisah kita sebentar lagi 'kan usai.
***
CERPEN KELUARGA. Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku banyak menyia-nyiakan waktu dan terlalu manja. Sekarang aku sudah dewasa dan seharusnya sudah bisa mandiri. Tetapi kemewahan telah melenakanku. Maafkan aku, yang kubisa hanya menghabiskan hartamu.

Aku 'kan pergi mencari duniaku.

Cerpen: Ardian Si Anak Tunggal

cerpen anak sekolah

CERPEN ANAK SEKOLAH cerita tentang anak tunggal.


"Selamat pagi," suaranya lantang dan tegas. Semua guru yang sedang di ruangan itu terkejut. "Bisa bertemu kepala sekolah sekarang?" agak memaksa. CERPEN ANAK SEKOLAH.

Salah seorang guru menghampiri, "Monggo, silahkan masuk," katanya. "Ayo saya antar ke ruang kepala sekolah."

Ia dipersilahkan masuk. "Ada perlu apa ya memanggil saya?" tanyanya ketus. "Saya tidak bisa lama-lama." Wajahnya tampak tak ramah.

Bu Rahma yang baru lima bulan menjabat kepala sekolah kaget menghadapi wali murid semacam itu. Ia berusaha menenangkan diri, "Maaf, Buk. Saya sekedar mau memberi tahu bahwa putra ibuk, Ardian, sudah ijin sebanyak 80 hari..."

"Kan sudah ijin?!"

Aneh. Bu Rahma bingung menghadapi sikapnya. Banyak guru yang mendengar percakapan mereka, seperti bertengkar. "Iya, tapi terlalu sering tidak ikut pelajaran, Buk..."

"Yang penting ijin, lagian saya juga bayar. hak saya mau bawa anak saya jalan ke mana aja. Apa saya telat bayar?!" Bu Rahma tidak bisa berkata-kata lagi, tak mengerti dengan sikapnya, hanya nafas yang ia tarik dalam-dalam. "Sudah, kalau tidak ada hal penting untuk dibicarakan, saya mohon pamit...!!"

"Mungkin ibu ini sedang ada masalah," pikir Bu Rahma. Dengan senyum ia akhiri percakapan itu, "Maaf, beribu maaf, Buk. Terima kasih kehadirannya." Ia pun pergi.

Wajah polos Ardian datang membayang, dan badannya yang kurus, pemalu, dan suka menyendiri. Sering ia temani anak itu saat jam istirahat, bahkan Bu Rahma memberi tugas khusus kepada guru BK agar memberikan bimbingan khusus pada Ardian.

***
CERPEN ANAK SEKOLAH. Bel pulang sudah 30 menit yang lalu berbunyi. Semua siswa sudah pulang, kecuali yang ikut kegiatan ekstrakurikuler. Sebagian dari mereka memang tidak pulang. Terlihat di bawah tangga, di pojok sebelah barat, Ardian duduk sendiri. Tangga itu berjarak sekitar 25 meter dari pintu ruangan Bu Rahma. Bu Rahma yang baru keluar dari kantornya segera menghampirinya. Ardian diam saja memandangi beliau yang menghampirinya.

"Ardian belum dijemput?"

Ardian hanya geleng-geleng kepala tanpa suara.

Bu Rahma semakin yakin bahwa anak ini menderita tekanan psikis yang cukup berat. Beliau duduk di lantai agar bisa semakin dekat bicara dengan Ardian. "Ayo, bu guru antar." Ardian menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Rahma menggendongnya, Ardian tidak menolak. CERPEN ANAK SEKOLAH.

Seorang pria menghampirinya, "Ayah," Ardian mengulurkan tangannyay pada pria itu.

"Tadi saya menmukan dia duduk sendirian di bawah tangga."

"Terima kasih. Anda baik sekali. Dan... maaf atas sikap istri saya. Dia memang begitu. Dia egois, kalau sudah maunya, tidak ada yang bisa mencegah."

Bu Rahma terkejut mendengar curhatnya. Menurutnya, tak sepatutnya seorang suami membeberkan keburukan istri, apalagi di depan wanita lain. Seharusnya seorang suami bisa membimbing dan mengarahkan istri dan anaknya. Keburukan istri adalah keburukannya. Itu menurut pandangan Bu Rahma. Beliau hanya menanggapi dengan senyum. CERPEN ANAK SEKOLAH.

"Oya, kenalkan, saya Adrian," sambil mengulurkan tangannya. Bu Rahma menyambutnya. "Terima kasih atas kebaikannya pada anak saya selama ini."

"Sudah kewajiban saya."

"Oya, ini nomor HP saya, kalau ada apa-apa sama Ardian, tolong hubungi saya saja."

Pasangan yang tidak kompak, pikir Bu Rahma. Tapi untuk tahu detail masalahnya, itu bukan haknya. Tanggungjawabnya hanya mendidik Ardian saja. Namun, ia juga perlu tahu hal-hal yang berdampak pada Ardian, entah menggali informasi dari Ardian atau ayahnya.
***
"Ardian itu cucunya orang kaya," kata Bu Aulia pada Bu Rahma saat istirahat di ruang tamu sekolah. "Dia tetangga ipar saya. Kemarin saya tanya-tanya. Punya mobil tiga, sawahnya lebar."

"Dari bapak atau ibuknya?"

"Ibuknya. Bapaknya itu orang tidak punya, katanya. Kayak numpang, katanya, bapaknya di rumahnya. Kakek sama neneknya Ardian memihak pada ibunya Ardian. Ibuknya lebih berkuasa dari bapaknya."

"Begitu memang kalau istri lebih kaya," imbuh Bu Rina.

"Sombong, katanya, Bu. Sama tetangga tidak bagus juga."

"Kasian Ardian, jadi korban. Pendidikannya jadi kacau."

"Kayak tidak penting, Buk."

"Sudah kaya, merasa tak butuh, Buk," sahut Bu Rina.
***
10 tahun berlalu

CERPEN ANAK SEKOLAH. Sepanjang Jalan Jawa dan Jalan Kalimantan, di trotoar, selalu rame bahkan hingga pagi, penuh dengan pedagang kaki lima. Ardian adalah salah seorang dari mereka. Bu Rahma terkejut saat pemuda si penjual nasi tiba-tiba menghampirinya, bukannya melayani pesanannya, "Bu Rahma," sapanya sambil mengulurkan tangannya. Bu Rahma menjabat tangannya, pemuda itu mencium tangan beliau. "Ingat saya, Bu?" tanya Ardian.

Bu Rahma memandangi wajah pemuda itu. Lama sekali. Para pelanggan Ardian yang sedang makan di trotoar dan yang sedang antri tercengang menyaksikan adegan itu. Rekan Ardian menggantikannya melayani pelanggan lainnya. "Ardian?" tebak Bu Rahma. Ardian tak kuasa menahan air matanya. "Subhanallah, sudah dewasa kamu, Nak." Air mata Ardian mengalir deras. Bu Rahma memeganign lengan kanan Ardian. "Tidak terasa, sudah sedewasa ini kamu. Sudah lama jualan di sini?"

"Baru lima bulanan, Buk, sejak sepulang dari Korea."

"Korea?"

"Iya, jadi TKI di sana, tapi ketipu..."

"MasyaAllah..."

"Sisanya saya buat modal usaha ini."

Bu Rahma tersenyum haru. "Sekarang tinggal di mana?"

"Tinggal di rumah Bu De di Tegal Gede."

"Tegal Gede mana?"

"Timurnya STM, SMK 2."

"Sudah nikah?"

"Sudah. Ini."

Seorang wanita muda berdiri di samping Ardian, ia juga menyalami Bu Rahma. "Sudah punya momongan?" Keduanya menjawab belum. Mereka memang baru empat bulan menikah.

...bersambung... Cerita Hidup Ardian
Powered by Blogger.

Blog Archive

 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT