Friday, 22 December 2017

Fabel: Burung Perpustakaan Di Hutan Aksara







_____________________________________________________________________________
Cerpen, cerpen anak, fabel, cerpen singkat

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan langit di ufuk timur masih dipenui warna merahnya fajar, si burung perpustakaan sudah berada di puncak pohon tertinggi di wilayah kerajaan Gajah Putih yang terletak di tengah hutan Aksara. Hutan Aksara merupakna hutan yang sangat lebat. Luasnya beribu-ribu haktare. Hutan Aksara banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi besar. Banyak buah-buahan di hutan tersebut. Ada buah mangga, apel, jeruk, nanas, dan semacamnya.

Ada sebuah sungai di hutan tersebut, airnya sangat jernih membuat hutan tersebut menjadi sejuk. Sungai tersebut bernama sungai Tinta, mengalir dari bagian hutan sebelah utara ke bagian selatan. Sungai tersebut keluar dari sebuah sumber yang besar dan berakhir di laut. Di tengah hutan, sesampainya di istana, aliran sungai tinta membelok. Konon ceritanya, sungai Tinta menghormati istana sang raja gajah putih.

Kira-kira seratus meter dari sumber air sungai tinta ada suatu tempat yang indah, di sana ada lima pohon cemara. Di pohon cemara itulah si burung perpustakaan tinggal. Dia belum lama tinggal di sana. Sebelumnya dia berkelana keliling dunia, ke Cina, Jepang, Mesir, Australia, Mexico dan Negara-negara lain di dunia. Bahkan dia pernah tinggal di Green Land (Tanah Hijau) sebuah daerah dekat kutub utara bumi.

Dari pengalamanya menjelajah bumi si burung perpustakaan prihatin melihat kebodohan bangsa-bangsa binatang di dunia. Hampir semua binatang tidak bisa membaca dan menulis. Suatu malam, saat ia berada di Indonesia, tepatnya di pantai Losari Sumatra, dia merenung. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mencerahkan umat binatang, agar mereka semua bisa membaca.

Entah dia dapat ide apa? Tiba-tiba dia terbang ke arah utara, menuju tengah lautan. Dan akhirnya sampailah dia di sebuh pulau. Dia hinggap di daratannya. Waktu itu malam sudah akan berakhir. Dengan hati-hati ia memasuki hutan tersebut, mengikuti arus sungai. Sekitar seratus meter kemudian ia bertemu seekor tapir.

“Hai Tapir, siapa namamu? Perkenalkan aku burung Perpustakaan,” burung Perpustakaan memperkenalkan diri.

Tapir menatap burung perustakaan. Samar-samar sebab matahari belum sempurna pancarkan sinarnya. Ia rupanya suka melihat warna bulu burung perpustakaan. “Bulumu bagus ya,” katanya.

“Kamu suka ya?”

“Asalmu dari mana?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, namamu siapa?”

“Namaku Sinonim.”

“Aku tidak punya tempat tinggal. Aku selalu berkelana seperti musafir.”

“Ow, kamu pendatang baru. Selamat datang di hutan Aksara ya.”

“Hutan Aksara?”

“Iya, nama hutan ini hutan Aksara. Dan pulau ini bernama hutan Paragraf, sementara sungai ini bernama sungai Tinta.”

Burung perpustakaan penasaran dengan nama-nama itu. Tetapi ia diam saja. “Senang kenal denganmu, Sinonim,” kata burung Perustakaan.

“Aku juga.”

“Kamu sedang apa di sini?” tanya burung perpustakaan.

“Ini tempat favoritku. Aku suka tinggal di sini. Tempat ini indah. Rumputnya enak-enak.”

Burung perpustakaan menerawang suasana di sekitar tempat itu. Indah memang, ada lima pohon cemara berjajar, ada tiga pohon pisang, ada bunga mawar, dan rumputnya tebal. Di dekat pohon cemara ada sebongkah batu besar berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira dua meter.

“Aku suka tidur di atas batu itu,” kata Sinonim.

Burung Perpustakaan mencoba berdiri di atas batu itu. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Aku sering bermimpi berada di sebuah ruangan dan dindingnya penuh tulisan. Berkali-kali aku bermimpi berada di sana,” tutur Sinonim.

“Kamu membaca tulisannya?”

Sinonim diam sejenak. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya tampak malu-malu.

“Sayang sekali. Mm… kalau kamu mau, aku mau mengajarimu membaca.”

“Benar?!”

“Iya. Aku akan mengajarimu membaca dan menulis, dengan senang hati.”

“Horeee… Kamu baik. Oya, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini. Buat aja sarang di pohon cemara itu. Indah kan tempatnya.”

Burung Perpustakaan diam sejenak. “Benar juga ya,” katanya kemudian. Lalu ia mengambil rumput dan dibawanya ke atas pohon cemara yang paling tengah. Berkali-kali ia mengambil rumput sampai akhirnya, jadilah sarangnya. “Nah, sarangku sudah selesai. Sekarang waktunya belajar. Ayo.”

“Kamu tidak capek?” Tanya Sinonim.

“Tidak. Aku tidak capek.” Lalu ia mengenalkan huruf-huruf abjad pada Sinonim.

Sinonim memperhatikan dengan seksama penjelasan burung Perpustakaan. Ia menghafal nama-nama huruf abjad yang dikenalkan oleh burung Perpustakaan. Burung perpustakaan menyusun huruf: A k u, “Bacaannya Aku. Coba tirukan.”

“Aku,” kata Sinonim.

Jadilah ia murid pertama burung Perpustakaan. Setiap hari ia belajar dengan tekun pada burung perpustakaan. Ia terus berlatih membaca dan menulis. Semangatnya untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Ia penasaran apa isi bacaan dalam mimpinya? Burung Perpustakaan pun juga demikian. Ia penasaran, ingin tahu apa isi tulisan dalam mimpi Sinonim itu. Setelah berhari-hari Sinonim belajar, akhirnya ia bisa membaca dan menulis.

Suatu malam ia bermimpi lagi berada di sebuah bangunan yang dindingnya dipenuhi tulisan. Dibacanya semua tulisan itu. Setelah selesai membaca semua tulisan itu, ia terbangun. Tak terasa pagi sudah tiba. “Burung Perpustakaan, BAngun! BAngun!” ia membangunkan burung perpustakaan dengan mengayun-ayun pohon cemara tempat sarang burung perpustakaan berada.

Burung Perpustakaan terkejut. Ia bangun. Ia menghampiri Sinonim yang berada di atas batu. “Ada apa, Sinonim?” tanyanya.

“Aku bermimpi berada di ruangan yang penuh tulisan itu lagi,” kata Sinonim.

“Hah! Apa isinya?!”

>>bersambung


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment