Wednesday, 27 December 2017

Cerpen: Yang Biasa (3)







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta
lanjutan dari Cerpen: Yang biasa (2)

CERPEN. Ah, ternyata capek juga memikirkan perempuan. Bayak sekali gadis cantik sekarang. Tapi aku justru tertarik untuk selalu mendekatimu, padahal rupamu biasa, tidak bernilai menurutku. Buktinya, tidak ada yang mendekatimu, kecuali aku. Apa cowok-cowok minder karena kamu disukai cowok terkenal seperti aku? Atau kau memang tidak menarik menurut mereka?

Tetapi kau memang tidak pernah peduli itu. kau tidak pernah peduli musim, panas hujan, bagimu sama saja. Kau selalu begitu. Ya, begitulah kau. Semua biasa bagimu, tidak ada yang istimewa, termasuk aku. Apa kau demikian karena tidak ada yang menganggapmu istimewa?

Sehabis mengikuti kuliah Intro To Literature, kau kuajak ke taman di depan UKM musik. Kau biasa-biasa saja, menyapa teman-temanku, seolah kau sudah lama akrab. Aku pun juga meniru kau. Hhmm… Hebat kau. Orang-orang banyak yang meniru artis dan penyanyi, tapi aku yang sudah jadi anak band malah meniru kau.

Dengan sederhana kukatakan saja kalau aku suka sama kamu dan ingin kau menjadi kekasihku. Kukatakan dengan biasa, tanpa ekspresi yang luar biasa. Kau menelan nafas, lalu tersenyum. Apa bagimu itu juga biasa? Kau memandangku. “Kamu mau kan?” kutanya dengan biasa. Kau tersenyum, juga dengan biasa. Semua jadi biasa-biasa.

Kau tampak bingung.

“Kau bingung?” kutanya. Kau diam. “Bingung untuk menolak? Terima saja.” Kau tertawa. “Kurasa kau tidak perlu ragu,” lanjutku. “Kita jalani saja dulu. Kalau kau merasa tidak cocok, berarti kita memang bukan jodoh.”

Kau tersenyum, seperti hendak berkata sesuatu.

“Aku suka sikapmu.”

“Ya kuterima, tapi tidak seratus persen,” katamu kemudian sambil menahan tawamu.

“Tidak masalah.”

Aneh.

***

Kita sudah jadian. Kau jadi kekasihku, tapi belum seratus persen, begitu katamu. Tidak masalah. Kau tetap unik. Kurasakan rahasia keindahan di wujudmu semakin kuat. Kau indah walau biasa. Saat kita bersama, tidak ada kata-kata romantis kau ucap, tidak ada ekspresi berlebih, semua biasa, kau selalu biasa, namun kau sanggup hadirkan keluarbiasaan.

Sungguh.

Kadang kita membicarakan masa lalu, kau narasikan kisah-kisahmu. Kudengarkan sambil tersenyum. Indah meski kata-katamu biasa. Sesekali kupandang wajahmu, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang luar biasa. Senyum selalu mengembang di bibirmu, kau selalu begitu. Namun hadir suatu rasa yang luar biasa indah di jiwaku.

Aku suka.

Aku sempat ditegur sama teman-teman band-ku, katanya aku lebih mementingkan kau. Padahal sejak aku dekat kamu, semakin produktif kutulis syair lagu. Hampir semua yang kami nyanyikan itu karyaku. Sungguh luar biasa. Itu karena adamu bersamaku. Aku tidak peduli sikap mereka. Biarlah. Sudah biasa. Ya, kau yang ajari aku begitu. Semua biasa.

“Udah terkenal, kok suka sama cewek biasa.”

Begitu komentar temanku. Biar. Tidak perlu kuhiraukan. Teman-teman di kampus juga banyak menyebar rumor begitu. Katanya kau tidak  pantas buat aku. Ya, kelas mereka memang di atasmu, kau kelas rendahan. Tetapi kau semakin unik. Cemoohan mereka membuat kau semakin berbeda.

Aku digemari banyak orang. Kau? Cukup aku saja. Biar mereka menganggapmu biasa, tapi kudapatkan yang luar biasa darimu. Sungguh. Ada sesuatu kurasakan seperti aliran yang tak pernah kering, tak peduli musim. Samar-samar, tidak terlalu mencolok, bahkan mungkin tak terlalu menarik. Belum sempurna kupahami.

Tetapi kusuka keabadiannya.

Tidak terasa, kebersamaan kita berlangsung lama, tanpa sesuatu yang istimewa, tanpa sesuatu yang spesial, tanpa sesuatu yang terlalu indah. Belum kuungkap keunikan yang kurasa sangat indah di dirimu. “Kesenangan dekat dengan kebosanan. Tetapi kedamaian dan ketentraman, bukan sesuatu yang bisa dimiliki, tapi keadaan di mana kita berada di dalamnya,” katamu.

Aku merasa seperti seekor anak kepodang yang terbang berlelah-lelah ke angkasa sangat tinggi, agar bisa kulihat seluruh isi dunia dari sana, lalu aku lelah dan turun untuk istirahat. Kurebahkan sambil samar-samar kunarasikan kisah perjalanan naik hingga aku tiba lagi, sungguh melelahkan. Usai sudah.

Aku rebah dalam ketentraman jiwa. Semoga takkan pernah usai.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment