Tuesday, 13 June 2017

Idealisme Cinta: Cerita Cinta Dalam Kebinasaan







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, Cerita romantis, cerpen baru, cerpen cinta romantis, cerpen Indonesia, cerpen romance, contoh cerpen bahasa indonesia
Leonard. Bertahun berburu cinta. Berjuta wajah cantik terjamah. Namun tak satu pun memuaskan. Sungguh perburuan tak kenal lelah.

Hari mulai senja. Leonard duduk sendiri memandangi matahari yang hendak terbenam. Seakan berjajar wajah-wajah cantik di balkoni langit, diantara mega.

Semuanya kurang menarik. Bila mentari terbit lagi esok, ia 'kan lanjutkan lagi perburuan.

Leonard lelap dalam tidur.

Malam berlalu bersama mimpi bidadari di balik tirai. Pagi yang tak biasa. Dunia sunyi. Leonard berusaha keras membuka mata. Tetapi berat sekali.

Tubuhnya juga sulit ia gerakkan. Tetapi ia tak menyerah. Ia berhasil membuka mata dan menggerakkan tubuhnya.

Rupanya ia berada dalam tumpukan reruntuhan. Ia bingung. Ia amati keadaan di sekelilingnya. Semua lenyap tinggal puing-puing berserakan. "Hah...!!" Ia melompat. Semua telah musnah, hancur. "Bencana...?!" Tetapi seperti mimpi. "Aku ... selamat...?!" Ia berlari ke sana ke sini, hanya reruntuhan dan mayat-mayat tergeletak yang ia temukan.

Kini ia hidup sendiri.

Bulan dan tahun-tahun pun berlalu. Tak ada lagi manusia dan hewan tersisa, hanya tumbuhan yang bisa ia nikmati buahnya. Sepi. Tetapi hatinya masih terbayang bidadari di balik tirai. Kata hati menuntunnya. Ia berjalan ke arah matahari pagi. Jauh ia melangkah hingga kelelahan dan pingsan.

Leonard terbangun. Dilihatnya sosok wanita paruh baya duduk di sampingnya. Matanya berkaca. "Kau sudah sadar, Nak?" tanyanya. Leonard hanya tersenyum.

Wanita itu bercerita tentang anak-anak dan cucu-cucunya yang sudah tiada. Semua anggota keluarganya binasa oleh bencana. Leonard bercerita tentang perburuannya. Ia juga bercerita tentang perasaannya kini, tentang keputusasaannya, masih adakah bidadari yang ia cari? Wanita itu hanya diam.

Waktu terus berjalan memusnahkan masa.

Di senja hari Leonard memandangi wanita paruh baya yang sudah sekian lama bersamanya itu.

"Kenapa kau memandangiku?"

"Bertahun-tahun aku berburu cinta, mencari bidadari yang cantik jelita," kisahnya. "Sudah puluhan, ratusan, bahkan ribuan wanita cantik kutemui. Tapi tak satu pun memuaskan hasrat cintaku. Mereka kurang cantik. Hatiku membuang mereka. Tetapi, ada yang aneh dengan hatiku. Entahlah. Kata hatiku, engkaulah bidadari di balik tirai itu. Padahal kau sudah tak punya kecantikan? Tapi hasrat cintaku memintamu untuk menghuni hatiku."

"Tenangkan jiwamu agar kau jernih berpikir."

"Ribuan wanita cantik sudah kubandingkan. Tak ada yang nomor satu peringkatnya. Hatiku yang menilai. Tetapi kini hatiku seakan sudah aus dan tak bisa lagi menilai kecantikan. Kau tak cantik, tapi hatiku memintamu untuk menghuninya."

"Kau aneh."
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment