Thursday, 29 June 2017

Calon Sarjana Sastra







_____________________________________________________________________________
Cerita Kampus, Cerita Mahasiswa, cerpen Indonesia, cerpen cinta romantis, contoh cerpen bahasa indonesia, Hukum Menulis Cerita Fiksi
Abbas tampak gugup. Bukan karena gadis cantik di sampingnya. Sejak SD dia memang sudah terbiasa duduk di bangku paling belakang, kecuali tidak bisa memilih. Sekarang dia sudah jadi mahasiswa. Dia yang memilih sendiri jurusan sastra. Tetapi, tetap saja bangku paling belakang adalah favoritnya. Namun kali ini dia apes, tidak bisa memilih. Terpaksa duduk di bangku paling depan berdampingan dengan seorang mahasiswi cantik.

Dosen yang mengajar kali ini adalah seorang profesor lulusan Harvard. Beliau menyodorkan lembaran berupa fotocopyan kepada semua mahasiswa. Rupanya lembaran tersebut adala cerita fiksi, tapi tidak ada nama pngarangnya. Mungkin itu cerpen atau penggalan novel. Abbas hanya melihat-lihat sekilas, tidak membaca detail. "Saya beri waktu 15 menit untuk membaca penggalan karya tulis itu. Ada 10 judul tanpa nama pengarang. Silahkan dibaca." Semua mahasiswa, termasuk Abbas, nurut saja.

Ada tiga judul yang menurut Abbas sangat menarik, yang lainnya hanya ia baca separuh halaman. Mahasiswa yang lain juga tidak membaca semuanya. Mereka hanya membaca yang menurut mereka menarik. Dosen itu juga ikut membaca di depan. Abbas sesekali meliriknya. Beliau sesekali tersenyum.

Beberapa mahasiswa sudah selesai membaca. "Waktu habis," kata beliau dan menulis nomor 1 hingga 10 di papan. "Abbas..." Abbas kaget. "Anda duduk di paling depan. Nomor absen anda juga teratas. Biasanya yang di posisi anda adalah mahasiswa luar biasa," katanya. Abbas jadi tambah gugup. "Sebutkan judul yang menurut anda menarik." Abbas menyebut tiga judul. "Dea Andini." Dea yang duduk di samping Abbas menyebut empat judul. Satu per satu beliu minta menyebutkan karya yang menarik menurut mereka. Ada yang menyebut lima, ada yang enam, ada yang hanya dua karya. "Baik, adakah dari kalian yang tahu pengarang penggalan cerpen dan novel yang menduduki peringkt satu hingga lima?" Tidak satu pun mahasiswa yang tahu. "Saya juga tidak tahu," kata beliau. Spontan semua mahasiswa tertawa. "Saya tahu dan sangat mengenal nama pengarang yang karyanya berada di peringkat tujuh hingga sepuluh. Saya sangat mengenal karena pengarangnya adalah penulis buku best seller. Karyanya sudah banyak."

Abbas kaget mendengarnya. Ia coba baca lagi karya tulis yang menurutnya tidak menarik. Tetapi, ia pikir memang tidak menarik.

"Seni memang sulit dimengerti. Sekalipun seluruh ahli sastra menilai suatu karya sebagai karya paling menarik, ditambah keputusan para juri di setiap lomba, tetapi, jika pembaca tidak tertarik untuk membcanya, apa mau dikata?" Abbas mengerutkan kening. Pikirnya, 'Buat apa kuliah sastra, kalau kenyataannya begitu?' Abbas agak bingung. "Tetapi, bukan berarti belajar ilmu sastra itu tidak penting."

***

Sudah hampir satu jam Abbas duduk di depan laptopnya, tetapi belum satu kata pun ia tulis. 'Yang menurutku menarik, belum tentu menarik buat pembaca,' pikirnya. 'Yang kata orang menarik, belum tentu membuat semua orang tertarik. Tetapi aku tidak boleh berhenti menulis. Pokoknya harus menulis.' Ia pun mulai menulis sebuah cerpen tema cinta. Ia tahu teman-temnnya akan mengejeknya. Cerpen tema cinta, apalagi menggunakan sudut pandang orang pertama, itu karya anak muda yang baru belajar menulis, kata teman-teman Abbas. 'Ah, masa bodoh dengan komentar mereka.'

Selesai menulis karyanya, ia posting di blog pribadinya dan di group penulis di Facebook. Tetapi tidak ada yang merespon. Ia tunggu. Tetapi hingga larut malam, tak ada yang merespon cerpennya. 'Mungkin tema cinta memang tidak menarik?' pikirnya. 'Seperti mimpi rasanya untuk jadi penulis terkenal.' Ia tidak menulis lagi dan membiarkan laptopnya tetap nyala hingga ia tertidur.

Jam 03.17 ia terbangun. Dilihatnya layar laptopnya. Ada pemberitahuan. Rupanya ada yang mengomentari tulisannya di group Facebook. "Wah, curhat ya? Gk laku ya?" Hanya ia tanggapi dengan nafas panjang dan ucapan terima kasih. Rupanya ada yang komentar lagi. "Norak, Bro." Abbas marah, tapi ia tahan. Ingin ia hajar mereka. Tetapi dengan terpaksa ia ucapkan terima kasih atas kritikannya. 'Seni tidak ada teorinya,' pikirnya. 'Seorang penulis menulis untuk pembaca, bukan untuk kritikus.'

Sewaktu SMA Abbas pikir dengan kuliah di Fakultas Sastra dia akan mendapatkan ilmu sastra yang banyak sehingga bisa menjadi penulis hebat dan bisa kaya dari tulisannya. Tetapi kini ia rasa, itu semua hanyalah hayalan. 'Apa aku harus cari kerjaan lain sambil menulis?' Abbas mulai pesimis. "Mustahil rasanya aku menggantungkan hidup dari hasil menulis yang belum pasti." Sebenarnya orang tuanya memberinya cukup uang untuk kebutuhan hidup dan kuliahnya, tapi ia merasa malu. Abbas ingin mandiri.

***

"Traktiran, traktiran..."

Abbas kaget, kelasnya ramai sekali. Tetapi ia masuk saja dan duduk di bangkunya.

"Siapa ulang tahun?" Tanya Dea.

"Cerpennya Firman terbit di Jawa Pos."

"Waaah, keren."

Abbas menoleh ke belakang. Rian, teman dekat Firman, memegang koran Jawa Pos. "Kritik politik," katanya. Bukan cerpen cinta. Dulu waktu SMA, Abbas pernah ikut pelatihan menulis cerpen. Pelatihnya mahasiswa sastra. Kata dia, tulislah apa yang kamu suka.

...bersambung

_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment