Tuesday, 9 May 2017

Cerpen: Tak Hanya Yang Muda Yang Bercinta







_____________________________________________________________________________
cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, cerpen cinta
Cerpen. "Dia itu cucuku. Jangan buta...!!"

Wajahnya memerah. Ini memalukan. Tak masuk akal. Tak pantas terjadi. Tetapi sudah terjadi. Semua orang sudah tau. Ini aib, aib keluarga. Bingung.

"Sudahlah. Aku pergi saja."

Hatinya terlanjur terbakar rasa cemburu. Ia seperti buta. Hilang akal sehatnya. Tak peduli anak, sanak family dan tetangga. Tak ada rasa malu. Ia pergi meninggalkan rumah yang dulu dibangun bersama. Tetapi ia bawa barang-barang yang ia beli sendiri: lemari kecil, mesin freezer, baju, alat masak elektrik, perhiasan, dll. Banyak tetangga yang bertanya-tanya hendak dibawa kemana barang-barang itu. Anak-anaknya merasa malu karena hal itu tak patut dilakukan oleh pasangan yang sudah cukup berumur seperti mereka.

Dia pergi naik mobil pick up dengan barang-barangnya. Tidak satu pun dari keempat anaknya yang turut serta. Mereka menangis tak kuasa menahan malu pada tetangga dan teman. Mereka bersedih atas kejadian ini dan menyesalkan sikap ibunya yang menurut mereka sangat tidak dewasa. Bahkan anak bungsunya yang masih kuliah menangis histeris.

Ini bukan yang pertama. Ia memang wanita pencemburu. Dulu pernah cemburu pada ponakannya, pernah juga pada pelanggannya, pada tetangga. Tetapi sang suami memaklumi dan cukup sabar menghadapinya.

Rumah yang cukup megah itu kini terselubung duka. Tak ada tawa dan tak mungkin ada tawa dalam waktu yang cukup lama. Cucu-cucunya pun turut merasakan kesedihan atas kepergiannya. Sang suami seakan tak punya cara lagi untuk memperjuangkan cintanya. Ia biarkan saja sang istri pergi.

Misteri Sang Sopir Pick up

Suami bodoh membiarkan istrinya pergi sendirian. Aku melihat ia menangis tadi, tapi tak berbuat apa-apa. Bodoh. Wanita ini begitu menawan. Sudah begitu lama aku mengimpikan kesempatan seperti ini. Walau jarak usia selisih 30 tahun, tapi keindahan tubuhnya membuatku mabuk kepayang. Bibirnya seksi. Senyumnya menggoda. Tutur katanya lembut. Matanya indah. Ia begitu bijaksana. Pasti begitu hangat cintanya. Sebentar lagi, hasratku terpenuhi.

Bertahun-tahun aku hanya bisa menghayal untuk menikmati cinta bersamamu, wahai wanita disampingku. Bertahun sudah cinta ini kupendam. Sempat beberapa kali kuajak kau bercinta dalam mimpi dengan mantra yang kudapat dari seorang pintar. Pagi itu kau memandangiku. Mungkin bekas kisah semalam. Begitu indah tatapanmu. Kau begitu mempesona. Mungkin kau masih ingat itu.

Tetapi aku tidak mau gegabah meski hasrat ini menggebu. Cinta adalah seni, takkan indah bila turuti nafsu. Kunikmati kebersamaan walau tanpa saling pandang. Kita nikmati jalanan dengan pemandangan hijau di tepian. "Kok berhenti?" Aku seakan tidak tahan lagi ingin menikmati cintamu.

"Anda menangis?"

"Tidak. Aku tidak menangis."

Aku tak tahan menatap kecantikanmu. Tubuhmu begitu indah. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Aduhai cinta, rasanya lenyap diri ini. Jiwaku dikuasai kobaran api asmara. Cinta ini sudah jauh di atas kendaliku. Tuhan, bantu aku.

"Anda yakin mau ke rumah adik anda?"

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Ya ... ingin tahu saja."

"Kalau tidak ke sana, kemana lagi?"

Ini kesempatan emas bagiku. Tetapi juga tidak mungkin menikahinya sekarang. Aku harus menunggunya empat bulan lagi. Tetapi empat bulan terlalu lama rasanya. Aku ingin segera bercinta dengannya.

"Kalau kuajak anda ke suatu tempat?"

"Kemana?"

Kesetiaan Yang Diuji

Dia adalah istri ketiga Sarif. Ada dua janda dalam hidupnya. Tetapi ia sangat berharap ini yang terakhir. Sudah ccukup ia mengalami kegagalan cinta. Ia menyadari kesalahannya di masa lalu: menganggap sepeleh urusan cinta. Kini ia sadar cinta harus diperjuangkan. Sebagai lelaki ia harus tahan ujian.

Kecemburuan istrinya yang berlebihan kadang membuat ia ingin kembali pada mantan istrinya, tapi ia tahan. Sebab bila ia kembali dan meninggalkan istri yang sekarang, itu artinya dirinya adalah lelaki yang lemah. Di tempat kerja sempat beberapa kali ia digoda wanita muda yang cukup cantik. Teman-temannya mengejeknya karena mengabaikan kesempatan emas. Tetapi ia teguh pendirian pada komitmen cintanya.

Malam semakin larut. Orang tua sang sopir muda yang misterius bertanya kemana perginya mereka. Tetapi tidak ada yang tahu. Sarif meminta anaknya menghubungi semua kerabat. Tetapi tidak ada yang tahu. Masalah bertambah. Ibu sang sopir muda yang masih berstatus mahasiswa menangis. Ayahnya mencoba menghubungi teman kuliahnya yang sering menginap di rumahnya: Rudi. Tetapi ia juga tidak tahu.

Sarif teringat salah seorang temannya yang ahli supranatural. Dia pernah bilang dulu kalau Sarif akan menikah dengan seorang perempuan lagi. Artinya akan ada tiga janda dalam hidupnya. Tetapi ia menolak tebakan itu. Ia berusaha keras untuk menjadikan ini cinta terakhirnya walau bagaimanapun kenyataannya. Ia yakin Tuhan sedang menguji kesetiaan dan kesabarannya.

Sang sopir muda seakan hilang kesadaran. Jiwanya dikuasai cinta butanya. Ia akan berusaha keras untuk memisahkan Sarif dengan istrinya. Ia bertekad akan menikahinya empat bulan lagi. Pria misterius. Tak ada yang menduga ia akan pergi menghilang bersama istri Sarif.

Empat Bulan Kemudian

"Kamu masih anak-anak. Aku lebih pantas jadi nenekmu...!! Jangan gila."

"Umur bukan syarat pernikahan."

"Iya, tapi tak wajar."

"Kamu malu?"

"Gila...!!"

Firman nama sang sopir misterius tersebut. Empat bulan penantian sudah ia lalui dengan sabar dan penuh ketabahan. Tinggal satu langkah: mengharap kesediaannya untuk menjadi istrinya. Wanita paruh baya yang kini berada di sampingnya tampak tak berdaya. Mungkin sebentar lagi ia akan menyerah dan mau menikah dengan Firman. Mungkin rasa malu saja yang membuatnya ngotot menolak.

"Kalau kamu malu untuk menjadi istriku, kita bisa merahasiakan hubungan kita."

Ia menangis. Mungkin bingung. Mungkin takut. Mungkin ingat suami dan anak, juga cucu di rumah. Mungkin menyesali perbuatannya. Sempat terbersit dalam pikiran Firman untuk memaksanya, tapi itu tak halal. Menurutnya cinta tak indah jika tak halal.

"Aku tidak akan berbuat jahat. Aku ingin cara yang halal."

Ia diam tanpa kata. Hanya menangis. Firman seakan turut merasakan apa yang ia rasakan. Ia memegang tangannya, menggenggamnya erat. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Firman merangkulnya. Ia merebahkan kepalanya di bahu Firman. Hasrat cinta Firman menggebu. Ia ingin melepaskan rangkulannya, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Ia biarkan saja. Biar hatinya tenang dulu. Tetapi Firman tak kuasa menahan hasratnya. Itu tak baik. Niat jahat bisa saja muncul.

Akhirnya, Firman berkesimpulan ia mau dinikahinya. "Aku sudah menemui salah seorang kyai yang bersedia menikahkan kita." Ia diam saja. "Sehabis sholat magrib kita ke sana."

Mega merah di ufuk barat begitu indah. matahari seakan memperlambat terbenamnya, seakan ingin berlama-lama menghiasi langit dengan warna jingga. Firman sudah tak sabar menunggu waktu halalnya cinta.

Mereka resmi menikah.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment