4 Komentar Tulisan Afi Siswi SMA Banyuwangi soal Keberagaman

Tulisan Afi Nihaya Faradisa, Tulisan Siswi SMA Banyuwangi, Tulisan Afi Warisan

Afi Nihaya Faradisa, anak muda yang baru saja lulus SMA kini mendadak terkenal. Pasalnya, tulisannya tentang keberagaman mendapat banyak respon. Dia bukan penulis terkenal, apalagi dikenal penulis hebat. Dia hanya seorang anak muda yang hobi menulis. Mungkin setelah ini ia akan menjadi penulis terkenal.

Beberapa hal yang menjadi perhatian saya tentang "Berita tentang Afi", yakni:
  1. tentang belajar menulis
  2. tentang belajar berpendapat/bersuara
  3. tentang berlatih berani terlibat merespon gejala sosial
  4. tentang berlatih memperbaiki keadaan
Tentu Afi sudah lama belajar menulis dan sudah cukup mahir dan tentunya dia juga sudah belajar berpendapat dan sudah banyak berlatih, mungkin. Mungkin juga dia sudah mahir berpendapat dengan baik lewat tulisan dan sudah biasa menerima konsekwensinya.

HANYA ANAK YANG HOBI MENULIS (bukan penulis)?

Afi memang mengagumkan, karena sebagai seorang anak muda yang hanya hobi menulis mempunyai pemikiran yang luar biasa, kata banyak komentator di sosial media. Kalau boleh saya berpendapat, rupanya Afi sudah mulai belajar merespon gejala sosial. Saya katakan belajar karena dia belum ahli. Dia mulai belajar terlibat hiruk-pikuk kehidupan sosial. Mungkin sudah boleh dikatakan lumayan ahli dalam berkomentar.

Menurut ayahnya, Afi lebih suka berdiam diri di dalam kamar dan membaca banyak buku:
"Saya punya akun Facebook, tapi malah tidak berteman dengan anak saya. Baru berteman seminggu terakhir ini. Malah saya pernah diblokir, katanya biar saya enggak tahu statusnya. Saya kaget dan juga bangga," kata Wahyudi.

Menurut dia, aktivitas anak gadisnya sama dengan kegiatan anak-anak seusianya. Hanya saja, Afi lebih suka berdiam diri di dalam kamar dan membaca banyak buku. (Kompas)
Jika dibanding teman-teman sebayanya, tentunya dia kalah pengetahuan tentang gejala sosial karena lebih banyak di dalam rumah dan lebih akrab dengan buku, tetapi bisa jadi dia lebih mampu memahami gejala sosial dibanding teman-teman sebayanya karena dia banyak membaca dan terlatih berpikir.

Beragam tujuan orang dalam merespon gejala sosial baik melalui akun Facebook, blog, twitter, atau secara langsung dengan lisan: ada yang hanya menyampaikan keluhan, ada yang hanya curhat tentang keadaan sosial, ada yang hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya banyak tahu, ada yang hanya ingin terlihat sok pintar, ada yang ingin mengajak orang banyak untuk berpikir, ada yang ingin membuat suatu perubahan yang lebih baik, ada yang ingin mendapatkan untung. Tujuan Afi?
"Tujuan saya menulis bukan untuk disetujui, bukan pula mereguk sanjung puji. Jika itu tujuan saya, kan mudah saja. Tinggal menulis hal yang memuaskan semua orang lalu mengalirlah beragam pujian. Bagaimanapun, saya selalu menulis untuk menyampaikan pemikiran, bukan untuk membuat orang-orang terkesan. Seperti kalimat terakhir di tulisan WARISAN, saya hanya ingin mengajak pembaca untuk berpikir... "

"Jika sekarang saya menjadi sorotan, itu sama sekali bukanlah sebuah kesengajaan. Seperti saya yang tidak menyangka bahwa ada orang yang menelepon dengan nomor pribadi pukul setengah tiga pagi, berkata bahwa ia dan kawan-kawannya tidak hanya bisa menghabisi akun saya, tapi juga bisa menghabisi pemiliknya. Mereka menganggap bahwa saya menjadi penghalang sebuah perjuangan di jalan Tuhan.

Saya heran, sebenarnya bahaya apa yang disebabkan hanya dari ajakan seorang anak untuk berpikir?" (Akun Facebook Afi)
Berdasarkan status Facebook yang ditulis Afi tersebut, tujuan Afi menulis adalah untuk mengajak pembaca (masyarakat) untuk berpikir. Apakah sebelum diajak Afi, masyarakat tidak berpikir? Mungkin Afi ingin mengajak mereka berpikir sebagaimana cara berpikirnya Afi?

Jika membaca tulisan Afi yang berjudul WARISAN, yang membuatnya jadi terkenal, Afi mengajak masyarakat untuk berubah. Artinya, menurut Afi mereka salah dan seperti dirinyalah yang benar. Membaca tulisannya, seakan saya dimarahi ibu saya karena telah bersalah. Hehe... Perasaan saya begitu. berikut saya kutip sedikit:
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
Kata Afi "merasa agamanya benar" itu karakteristik, kata dia juga "Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan". Saya pernah berdiskusi dengan teman online di Sri Lanka tentang agama. Dia heran dengan kondisi Indonesia: banyak agama tapi rukun dan aman. Sebagai non-muslim, kata dia, dia wajib menyebarkan agamanya, dan setahu dia, agama lain juga punya kewajiban menyebarkan ajaran agamanya. Kata dia, jika membenarkan agama lain, berarti tidak beriman.

Mungkin kebenaran yang saya maksud dengan kebenaran yang dia maksud berbeda, pun juga dengan kebenaran yang dimaksud oleh Afi mungkin juga berbeda. "Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba," kata Afi. Menurut saya, Afi ingin menyampaikan, "Jangan sampai kedengaran tetangga, cukup yakini (labeli) dalam hati saja." Ya, Afi ingin bilang begitu. Jika dalam hati tidak ada keyakinan akan masuk surga dengan menjalankan ajaran suatu agama, lalu buat apa memilih agama tersebut?
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Agak membingungkan juga yang dia tulis, mengingat Afi mengaku sebagai seorang muslim. Para Rasul mengajak umat yang beragama lain untuk memeluk agama yang dibawanya. Umat lain mengajak umat islam untuk ikut ajarannya, umat islam juga mengajak mereka. Mereka melakukan itu karena itu memang perintah Tuhan yang mereka yakini. Mungkin Afi belum sampai ke situ observasinya. Mungkin Afi belum tahu berapa jumlah mantan muslim/ah Indonesia yang sudah berhasil diajak ikut agama lain, pun sebaliknya?
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Kenapa Tuhan tidak melarang para Rasul menyebarkan ajarannya? Justru sebaliknya, malah diperintah.

Mungkin Afi ingin menyampaikan pada orang banyak di negeri ini, "Amalkan ajaran agama, tapi jangan membuat sakit hati orang lain". Mungkin Afi ingin orang paham ilmu komunikasi, bahwa ada hal-hal yang boleh disampaikan di ruang publik, ada hal-hal yang hanya boleh disampaikan di ruang komunal (komunitas sendiri), misalnya klaim buruk terhadap agama lain seperti sebutan domba tersesat, kafir, dsb.

Saya salut dengan keberanian Afi, cuma memang dalam menulis dan apapaun yang hendak kita lakukan, bukan hanya "KEBERANIAN" yang dijadikan landasan, tapi perlu juga mempertimbangkan manfaat dan mudhoratnya. Semoga tulisan Afi membawa lebih banyak manfaat daripada mudhorat.

Berikut tulisan lengkap Afi


WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata,

Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka,

Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".

Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.

Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa

Terus Semangat Buat Pak Ahok

Ahok dipenjara, karangan bunga untuk Ahok, Ahoker,

Semangatmu, ketegasanmu akan terus dikenang.

Bagi orang baik seperti Pak Ahok, penjara bukanlah maut. Percayalah itu hanya ujian. Banyak yang menjadi saksi semangat Pak Ahok melayani masyarakat, membasmi koruptor. Anda banyak jasa. Orang tulus seperti Pak Ahok tentu dan pasti tidak akan berhenti berbuat baik dan memberi manfaat untuk orang banyak.

Orang baik tak harus menjadi gubernur atau presiden untuk berbuat. Dimanapun dia berada pasti akan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Keberadaan Pak Ahok di penjara tentu tak akan membuat surut untuk berbuat baik. Banyak orang-orang yang butuh teladan di dalam penjara. Mereka perlu contoh bagaimana menjadi orang baik. Pak Ahok tentu akan menularkan kebaikan-kebaikan itu kepada mereka.

Di penjara juga banyak mantan koruptor. Semoga dengan adanya Pak Ahok di sana, mereka bisa memperbaiki hidupnya.

Semua akan berlalu. Tentu Pak Ahok tak akan membiarkan waktu berlalu tanpa berbuat baik untuk orang banyak.

Terus Semangat, Pak Ahok.

Masalah User ID Terblokir Internet Banking BRI

bank bri, user id terblokir, bri internet banking
Masalah seperti ini bikin tidak nyaman. Sudah agak lama saya hentikan menggunakan internet banking BRI. Dulu pernah datang ke CS, tapi CS bilang tidak bisa bantu. Dia nyarankan agar menelpon Call Center BRI di 14017, 62-21-500017 atau 62-21-57987400. Tentu saja tidak gratis.

Sebenarnya, itu hak pihak Bank BRI sih mau pake cara kayak gini. Dan biaya telpon yang terpotong juga tidak akan bikin saya jadi melarat. Tetapi, kecewa saja karena masalah User ID Terblokir terbilang sering terjadi, menurut saya.

Masak setiap kali ada masalah harus nelpon buang pulsa? Padahal, dibanding bank besar lainnya, kantor Bank BRI yang sampek ke daerah pelosok. Tetapi, aneh juga jika masalah seperti ini harus lewat telepon. Apa tidak bisa CS yang neleponkan?

Cerpen: Alandu'en Abahas Ahok: Politik Maloloh

cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak
Cerpen. "Ambu rah, jek abenta politik maloloh. Tak mun degeng jemuh, olle pesse."
"Tak rapah, Din, le tak muguk," nyaut Asmat.
"Iyeh, be'en nyaman. Se ngidingagi possa' kopeng."
Dulases seatabunan ambu. Landu'en esabe' etabun. Pas tojuk ajurukkong ngabes ka Jumadin. Tanangah esabe' e to'otah. Sambi mukka' songko'en nguca', "Kabennya'en oreng sateyah reyah, mun ta' abenta politik, bal-ebbalan."
"Mun enga' be'-abe'en, masak abenta'a C I N T A, Ses...?! Engak se asakola."
"Tak rapah kyah. Tis-romantisen."
"Keng pajet lakar ta' taoh nemunin oreng tanih seabahas cinta sambi alandu'en," ca'en Dulla.
"Se ta'-cinta'an reyah kan oreng se genteng," ca'en Jumadin.
"Engko' kan genteng, Din."
"Seees ses...!!! Muah beng-gurbeng engak saka'an jieh ngucak genteng."
"Senga' mi' olle artis ngko' yeh..."
"Taroan lorong."
"Eee, abes, e saka'nah Jih Hamid," ca'en Asmat. Kabbi ambu alandu' pas ngabes ka saka'nah Jih Hamid. "Maseh tak onga' sakaleh yeh...!!"
"Onga' rah, ma' eyorak bi' Jih Hamid."
"Ahok..."
"Huh, anuwan jieh gi' bi' Ahok," Ca'en Dulases. "Ngko' taoh alakoh e dissa'. Larang mun bejernah..."
"Keng arapah, Ses...?"
"Tager bilu' tengnga."
"Jeregenah be'-abe'en reyah se nyaman," ca'en Dulla. "Santayan."
"Ngko' sabben taoh tangiddeh..."
"Teros...? Egigirin...?"
"Enje', ta' ejegein. Tager jegeh dibi' ngko'. Je' pera' sem-misem reyah Pak Jih Latep."
"Mun Pak Jih Latep kan derih nol," ca'en Jumadin. "Taoh ka rassanah deddih enga' be'-abe'en. Akoli kiyah lambe'. Mun Jih Hamid, mella' langsung nemmuh tera'. Tak taoh ka rowattah lakoh."
"Santet mareh ye."
"Ahok rowah mun esantetah."
"Siyah, ngakan bebih. Ta' meddes."
"Onggunah Ahok reyah tegas ka bawahan. Ngko' taoh ningguh videonah e hapenah Audi. Polanah minta pesse ka oreng sengurusen apah de' iyeh. Huh, pas esrangap neng e yade'en oreng. Eding-duding sambih la'-mancella'. Can ngko' bagus mun de' yeh."
"Berita sateyah, ta' ning kabbi eparcajeh. Mun seekenning gusur peggel ka Ahok. Ben pole, oreng Islam ta' olle mile pemimpin se ta' Islam."
"Tapeh ma' bedeh kyaeh se adukung Ahok yeh."
"Je' repot mun amuso kyaeh, akomen sala, ta' akomen ye de' remmah..."
"Akher jeman."
"Bininah raddin."
"Bininah sapah?"
"Ahok."
"Kabinih be'en, Ses."
"Duh, enje' rah. Deggi' epakanih bebih tang anak. Tangu' abiniyah padeh reng taninah. Kenning belenjeih tello ebuh."
"Mun bennya' pessenah, ta' usa belenjeih, Ses."
"Siyah, can sapah. Paggun wejib. Etapok deggi' bi' malaekat mun ta' ebelenjeih."
"Keng mun ebending bininah Kyaeh Badrih se sateyah, jeu," ca'en Jumadin.
"Sih, abinih pole?!"
"Beh, tak taoh be'en?"
"Beri' ngko' tatemmu neng Indomaret. Buh...!! Langsung elang ingatan ngko'. Enga' bidedderih."
"Siyah, bileh ra setaoh ka bidedderih ben?!"
"Enje', ce' raddinah. Nyaman deddih kyaeh ye."
"Atarakat."
"Mun andi' binih enga' rowah, pas pesse bennya', tedung beih lah, ta' usa ge-jegeh."
"Ta' pera' pekkernah be'en. Je' andi'eh onggu, ta' mana."
"Bininah Ahok neng kadibi' sateyah ye?" ca'en Dulla.
"Kabinih be'en, La. Le ta' keseppiyan."
"Duwein. Becaen semar mesem."
"Tambeih ajian jala sutra."
"Ta' bisa mun ngakan bebih."
"Beh, bedeh kyah se bisa...!! Ben taoh ka Tur, arowah bininah oreng cenah. Maso' islam sateyah."
"Iyeh, nuro' ngare'. Ko' taoh tatemmuh se ngare' padinah Jih Pausi."
"Mintah ben duwenah Ka Tur, entar pas ka Jakarta."
"Duh, la je'ih rah. Kenning cokocoh re-karenah Ahok."
"Beh, mun pas maso' Islam karanah be'en, genjeren rajeh. Mumpong Ahok bedeh e penjara."
"Keng mun bininah kyaeh Badrih se anyar, tekka' randeh, gellem ko'. Ta' rapah tekka' randeh."
"Lambe' bedeh kyaeh la seppo. Bininah ngudeh. Tenga malem awasiat ka bininah, 'Mun engko' mateh, pas bedeh oreng lake' alamar be'en nganggui kalambih mira, taremah ye,' debunah kyeh. Ma' pas kateppa'an bedeh maleng ngidingagih. Ma' nyainah raddin... Pas sedeh onggu kyaeh. Iye, kasempatan."
"Pas elamar onggu."
"Iyeh, akalambih mira."
"Langsong deddih kyaeh ye, malengah."
"Pojur nasebeh."
"Mun be'en abinih bininah Ahok, Ses, mi' pola deddih pejabat kyah."
"Pejabat apah, Pak RT..?"
"HahahHahahahah... Ma' ce' saranah. Ma' ta' ta-kantah deddih Kampong kanah."
"Padeh beih. Bejeren tade', lakoh atompo'an."

Maju Karena Dibantu atau Dibantu Karena Maju

Pertanyaan menarik. "Maju karena dibantu atau dibantu karena maju?" Pertanyaan ini diucapkan oleh Kyai Gontor KH Imam Zarkasyi yang di tulis dalam buku Ajaran Kyai Gontor halaman 107, karya Muhammad Ridlo Zarkasyi. Beliau berkata, "Gontor maju karena dibantu atau Gontor dibantu karena maju?" Jawabannya, "Gontor dibantu karena maju."
hadits motivasi, motivasi Nabi Muhammad saw., Ajaran Kyai Gontor,

Mungkin banyak yang berpikiran, kalau sudah maju, buat apa dibantu. Tetapi, yang namanya bantuan itu bukan yang utama. Bantuan itu hanya kekuatan kedua yang menguatkan kekuatan utama. Jika kita punya suatu usaha, yang kekuatan utamanya ada pada diri kita, bukan pada orang-orang yang akan membantu. Mislanya, saya hendak memindah tumpukan pasir di depan rumah ke samping rumah. Lalau saya meminta bantuan tetangga agar meringankan beban saya. Apa lantas saya diam karena sudah ada mereka? Kalau saya diam, itu bukan minta bantuan, tapi nyuruh alias mempekerjakan. Tetangga bukan kuli.

Jika kita sungguh-sungguh dalam menjalankan sebuah usaha atau memimpin sebuah lembaga pendidikan, tentu orang tak segan untuk turut serta membantu kita. Kesungguhan kita akan membuat mereka percaya bahwa kita layak untuk dibantu, bahwa lembaga kita layak untuk didanai, meskii tanpa proposal. Bahkan calon investornya yang akan datang menawarkan diri karena melihat peluang besar pada usaha yang kita jalankan.

Tunjukkan bahwa kita layak untuk dipercaya. Tentunya dengan kerja yang bagus. Mari berkarya.

Baca juga: Siapa yang merubah nasib: Kita atau Tuhan?

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Ormas Lain: Beragam Komentar


Ada yang bilang pemerintah negeri ini lucu, katanya, berkawan dengan kawannya musuh. Entahlah...

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan. Ormas ini sendirian memperjuangkan tegaknya khilafah. Ormas lain tidak mendukungnya. Ada yang bersorak, ada yang sewot dengan berita dibubarkannya HTI. Saya pernah menjadi pengagum organisasi ini dulu dan ingin bergabung, tapi karena kecewa dengan salah satu aksinya, saya berubah jadi tidak suka (bahkan benci). Tetapi, saya tetap mengakui kebaikannya.

Gerakan HTI dianggap membahayakan keutuhan negeri ini.
''Kami menolak demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, karena kedaulatan itu seharusnya berada di tangan Allah,'' katanya kepada wartawan dalam Konferensi Kekhilafahan Internasional di Jakarta, Minggu.

Namun, kata dia, pihaknya juga tidak serta-merta menolak pemilihan umum (pemilu) dan sistem perwakilan yang terdapat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan, ujar Ismail, gerakan Hizbut Tahrir di berbagai negara juga pernah memiliki pengalaman mengikuti pemilu seperti yang terjadi di Lebanon dan Jordania.

Ia menuturkan ketika Indonesia menyelenggarakan pemilu tingkat nasional pada 2004, pernyataan resmi yang dikeluarkan HTI adalah agar rakyat memilih yang terbaik karena setiap pilihan pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. (Suara Merdeka)

"Aktivitas yang dilakukan nyata-nyata telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI," ujar Wiranto dalam konferensi pers di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Senin (8/5). (DetikNews).

Sedangkan pihak HTI merasa banyak berperan membangun negeri ini.
"Kami sampaikan bahwa kami adalah kelompok dakwah yang bergerak di negeri ini. Yang kami yakini sebagai solusi permasalahan yang tengah dihadapi oleh negeri ini. Kita tahu negara kita ini menghadapi masalah," ucap Ismail di Kantor Pusat HTI, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (8/5/2017).(DetikNews)

"Itu kan dakwah untuk membina mahasiswa menjadi dan memiliki kepribadian karakter Islam. Menjadi lebih soleh, dia semakin mengerti kepada orang tua, lebih hormat, terhindar dari narkoba dan seks bebas," tuturnya. (DetikNews)

Hizbut Tahrir berdiri tahun 1953 di Palestina. Ormas ini juga ada di negara-negara seperti Sudan, Libya, Inggris, Mesir, Turki, Jerman, Prancis. Pada tahun 1980-an ormas ini masuk ke Indonesia. Awalnya mereka aktif di kamapus-kampus, kemudian memperluas dakwahnya ke masyarakat pada tahun 1990-an. Sudah cukup lama juga mereka menjadi bagian negeri ini.

Kenapa keberadaan ormas yang dianggap membahayakan keutuhan negeri ini bisa bertahan sekian lama? Apa mungkin selama mereka ada di sini, pemerintah tidak ada? tidak peduli? belum menganggap bahaya? takut? atau masih dikaji?

HTI giat menyebar buletinnya di masjid-masjid. Saya sendiri mengenal ormas ini di salah satu masjid dulu. Cukup menarik memang bagi anak muda, dan kontennya--tidak keliru jika dinilai--provokatif.

KHILAFAH MENURUT ORMAS LAIN

Berikut beberapa komentar ormas lain mengenai khilafah.
Ide untuk mewujudkan khilafah harus tetap dalam kerangka negara bangsa, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila. Hal itu dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah, M Din Syamsuddin, dalam sambutannya pada Konferensi Internasional Khilafah di Stadion Utama, Senayan, Minggu (12/8).

Menurut Din, khilafah adalah ajaran Islam yang baik dan disebutkan dalam Al-quran, bahkan dalam nada bahwa setiap manusia adalah khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu konsep khilafah tidak mungkin kita tolak. Namun, kata dia, jika khilafah ditarik kepada kelembagaan politik keagamaan maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan cendekiawan muslim dari dulu hingga kini.

Soal khilafah historis yang pernah ada dalam sejarah Islam, misalnya, Ibnu Khaldun mengkritiknya sebagai bukan lembaga kepemimpinan politik yang bersifat keislaman, karena sesungguhnya khilafah waktu itu adalah kerajaan.

Menurut Din, gagasan untuk menegakkan khilafah sekarang ini mempunyai makna esensial perlunya persatuan umat Islam. Oleh karena itu penegakan khilafah harus tetap dalam kerangka NKRI. ''Khilafah seperti itu menolak separatisme pada satu sisi dan universalisme pada sisi lain,'' katanya. (Suara Merdeka)

Perlu diketahui, Mbah Wahab dalam pidatonya di parlemen pada tanggal 29 Maret 1954 yang dimuat dalam majalah Gema Muslimin (copy arsip ada di penulis) dengan judul, “Walijjul Amri Bissjaukah” mengatakan:

“Saudara2, dalam hukum Islam jang pedomannja ialah Qur’an dan Hadits, maka di dalam kitab2 agama Islam Ahlussunnaah Waldjama’ah jang berlaku 12 abad di dunia Islam, di situ ada tertjantum empat hal tentang Imam A’dhom dalam Islam, jaitu bahwa Imam A’dhom di seluruh dunia Islam itu hanja satu. Seluruh dunia Islam jaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, Arabia, Irak, mupakat mengangkat satu Imam. Itulah baru nama Imam jang sah, jaitu bukan Imam jang darurat. Sedang orang jang dipilih atau diangkat itu harus orang jang memiliki atau mempunyai pengetahuan Islam jang semartabat mudjtahid mutlak. Orang jang demikian ini sudah tidak ada dari semendjak 700 tahun sampai sekarang…. Kemudian dalam keterangan dalam bab jang kedua, bilamana ummat dalam dunia Islam tidak mampu membentuk Imam A’dhom jang sedemikian kwaliteitnja, maka wadjib atas ummat Islam di-masing2 negara mengangkat Imam jang darurat. Segala Imam jang diangkat dalam keadaan darurat adalah Imam daruri……..Baik Imam A’dhom maupun daruri, seperti bung Karno misalnja, bisa kita anggap sah sebagai pemegang kekuasaan negara, ialah Walijjul Amri.” (Teks asli)


ANCAMAN TERHADAP KEUTUHAN NKRI

Ormas (yang dianggap) radikal dianggap sebagai ancaman keutuhan negeri ini. Mereka dianggap sebagai pemicu konflik dalam negeri. Di negeri ini ada dua ormas islam tertua, bahkan keduanya banyak berjasa dalam usaha perjuangan memerdekakan negeri ini. Mereka mendukung konsep negara NKRI; tidak menuntut ditegakkannya khilafah. Dua ormas islam tertua ini tidak dianggap radikal.

Belakangan banyak bermunculan ormas-ormas islam baru yang sebenarnya memiliki pemahaman agama berbeda dengan salah satu ormas tertua di negeri ini. Kehadiran ormas-ormas baru ini dianggap ancaman bagi ormas tertua tersebut. Bahkan ormas-ormas baru ini dianggap radikal dan keberadaannya dianggap mengancam keutuhan negeri ini. Tetapi, anehnya, pemerintah bangsa ini punya hubungan baik dengan pemerintah negara asal kelompok-kelompok baru tersebut.

Unik. Kelompok-kelompok baru tersebut disebut atau diberi nama "Kelompok Wahabi". Entah itu benar atau hanya tuduhan saja. Yang saya tahu begitu. Ada juga yang bilang, kelompok mereka hanya terpengaruh paham wahabi. Wahabi berpusat di Saudi Arabia. Saudi Arabia dengan Amerika Serikat itu berkawan, katanya. Indonesia dan Amerika juga berkawan. Bahkan kedatangan raja Saudi beberapa bulan lalu ke negeri ini, disambut dengan baik. Begitu katanya.

Ormas-ormas islam baru di negeri memang terlihat lebih militan, lebih gencar berdakwah dibanding dua ormas islam tertua. Mereka berhasil mengajak anak-anak muda dan orang tua untuk menjalankan ajaran islam seutuhnya, seperti menutup aurat bagi perempuan, bahkan bercadar, banyak pemuda-pemuda didikan mereka yang giat berceramah menyampaikan ajaran islam di berbagai tempat.

Tentu saja, jika dakwah mereka berhasil, semua orang di negeri ini akan beragama islam, dan hilanglah keberagaman agama di negeri ini. Meskipun mereka tidak terang-terangan seperti HTI, keberadaan mereka tetap menjadi ancaman. Namun, kewajiban menyebarluaskan ajaran agama itu bukan hanya ada pada agama islam, agama lain juga punya kewajiban. Artinya, mereka juga menjadi ancaman.

Kata beberapa ustadz dari kelompok tersebut, kitab rujukan HTI tidak sama atau bahkan bertentangan dengan ajaran ulamak-ulamak islam terkemuka yang diikuti oleh sebagian besar umat islam di dunia. Entah itu benar atau hanya tuduhan.

SISI BAIK

Di luar tuduhan-tuduhan negatif, kita harus mengakui kebaikan-kebaikan mereka. Lihatlah kader muda mereka, baik yang masih sekolah atau yang sudah mahasiswa atau yang sudah hidup di masyarakat. Adakah dari mereka yang suka minuman keras, kecanduan narkoba, sek bebas, terlibat perampokan dan pencurian, jadi begal, tawuran pelajar di jalan, dan semacamnya?

Masyarakat tidak buta dan tidak tuli. Masyarakat tahu bahwa mereka: orang-orang dalam ormas tersebut lebih mampu mendidik generasi muda menjadi orang baik dibanding guru-guru yang digaji oleh negara dan mereka yang menjaga lembaga pemasyarakatan. Kita semua tahu masalah kenakalan remaja, masalah tawuran antar pelajar. Waktu saya menjadi seorang tutor di kota pendidikan DI Yogyakarta, sempat terlibat dalam diskusi guru. Waktu itu, banyak guru mengusulkan agar sekolah bekerja sama dengan Satpol PP dalam menangani kenakalan siswa. Padahal, sekolah itu lembaga pendidikan.

Di lembaga pendidikan yang dikelola kelompok-kelompok yang dituduh radikal, atau ekstrim, atau berpaham wahabi, atau separatis, (termasuk HTI) hampir tidak ada siswa yang berperilaku seperti preman. Mereka dituntut tekun ibadah dan disiplin dalam segala hal, apalagi yang diasramakan dalam boarding school. Mereka dibiasakan berperilaku baik.

Entahlah, bagaimana baiknya... Semoga kedepannya negeri ini semakin baik, semakin damai dan sejahtera.

Kyai Gontor: Dunia Usaha Itu Masih Luas

peluang usaha, usaha modal kecil, bisnis internasional, hadits motivasi

Beruntung tidak jadi pegawai. Nasehat KH. Imam Zarkasyi tersebut tertulis dalam buku Ajaran Kyai Gontor halaman 131, karya Muhammad Ridlo Zarkasyi. Jika dibandingkan dengan menjadi pengusaha sukses, itu benar. Tetapi bagi pengusaha yang bangkrut, bisa sebaliknya. Perbandingan yang dimaksud adalah ketika sama-sama sukses: pegawai sukses dengan pngusaha sukses. Maka, menjadi pengusaha sukses lebih baik.

Beberapa hal yang membuat seseorang memutuskan diri untuk menjadi pegawai:

  • pengalaman buruk beberapa kali gagal dalam usaha
  • takut kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi
  • dilemahkan tekadnya oleh orang-orang dekat, misalnya, dengan menyebutkan beberapa kemungkinan buruk menjadi pengusaha; walau sebenarnya kemungkinan baiknya juga banyak
  • minim relasi, mislanya, kurang pergaulan
  • dll

Mental pengusaha memang perlu dibangun. Siapapun bisa membangun diri agar mempunyai mental pengusaha. Tidak perlu terburu-buru. Jika saat ini memang masih takut untuk memulai usaha, jalani saja dulu menjadi pegawai sambil lalu mencoba memulai usahah kecil-kecilan di rumah atau hanya jualan online saja. Dengan demikian, sedikit demi sedikit akan terbiasa dengan usaha.

Jaman sekarang ini banyak kemudahan. Kalaupun tidak punya tempat untuk membuka toko, bisa memanfaatkan toko online seperti tokopedia, bukalapak, dll. atau buat website toko online sendiri, bisa juga berualan di Facebook.

Semoga sukses...!!!

Ajaran Kyai Gontor 1



Judul buku ini tidak menarik perhatian saya sebenarnya, tapi nama Pesantren Gontor yang membuat saya tertarik. Walau tidak pernah belajar di pesantren ini, saya kenal beberapa alumninya. Hampir sama karakternya. Lembaga pendidikan ini, menurut saya, benar-benar berhasil membentuk karakter santrinya. Saya yakin akan banyak pelajaran berharga yang akan saya dapatkan. Dan ternyata benar, mulai bagian awal saya membaca, banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan. Saya akan membuat catatan-catatan pelajaran yang saya dapatkan dari buku ini.



Saya screenshoot salah satu ajaran beliau yang tertulis di halaman 109. Nasehat tersebut sulit dilakukan bagi sebagia orang, namun tak sedikit juga yang mudah melakukannya. Banyak faktor yang menjadi sebab. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya. Orang yang bisa bekerja dalam keadaan apapun biasanya fokus pada target dan yakin akan (segera) meraihnya, atau orang yang pandai memotivasi diri untuk terus mencapai tujuan, atau ia berada dalam lingkungan (komunitas) yang membuatnya terus termotivasi untuk mencapai tujuannya. Dalam keadaan baaimnaapun ia akan terus berjuang. Sebaliknya, yang banyak alasan, biasanya kurang fokus, mudah terpengaruh pengaruh-pengaruh negatif yang melemahkan tekadnya, atau memang malas, atau terlalu cengeng menghadapi keadaan.

Saya pernah berhasil dulu melawan keadaan saat belum punya laptop dan ingin sekali menerbitkan karya tulis. Walauupun banyak teman beralasan tak bisa menulis karena tidak punya waktu: banyak tugas kuliah dan tak punya laptop, saya terus menulis dengan pensil atau bolpen. Alhamdulillah, akhirnya terbit juga cerpen dan puisi di majalah dan koran.

Tetapi, kita juga perlu cermat. Bukan berarti segala keadaan itu baik. Menurut pemahaman saya, nasehat tersebut, makna kontekstualnya (intinya) adalah "Jangan banyak beralasan", bukan berarti berbuat dalam keadaan apapun.

Semoga pembaca tambah sukses

Baca juga review Manusia Dalam Asuhan Rusa

Buku: Manusia Dalam Asuhan Rusa

cerpen, cerpen persahabatan, cerpen lucu, cerpen bahasa inggris, cerpen dewasa, cerpen anak
Cerita unik, tapi tidak menarik ketika dalam keadaan sibuk. Sudah lama tahu buku ini, tapi tidak tertarik untuk membacanya karena sedang sibuk bisnis. Terasa idak masuk akal. Tetapi, saat pikiran tenang, munccul rasa penasaran. Pasti ada rahasia istimewa di balik cerita aneh ini. Apalagi penulisnya bukan penulis sembarangan dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Latin, Inggris, Yahudi, Belanda, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Rusia.

Di bagian awal ceritanya agak membosankan. Menurutku terlalu panjang penjelasannya. Memang itu penting, tapi membosankan.

Ceritanya mulai menarik ketika Hayy, bayi yang dibuang, bertemu seekor induk rusa yang sedang merindukan anaknya yang hilang.

Walau hanya membaca buku, tapi aku bisa merasakan bagaimana perasaan keduanya saat bertatapan, terutama sang induk rusa. Tergambar jelas air matanya mengalir deras. Sudah lama ia rindukan sang buah hati. Kini, walau dalam bentuk yang beda, tapi baginya ia adalah buah hatinya.

Keduanya hidup bersama. Hayy, sang bayi yang masih polos menganggap sang induk rusa sebagai ibunya dan meniru cara hidupnya. Sang induk rusa sangat menyayangi Hayy sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Hayy tumbuh berkembang bersama sang induk rusa dan hewan-hewan liar lainnya. Untungnya tidak ada hewan buas sehingga ia tidak jadi mangsa mereka dan dapat tumbuh brkembang dengan aman. Hayy semakin dewasa dan mulai mengamati bentuk hewan-hewan di sekitarnya. Mereka memiliki tanduk, sayap, cakat, bulu yang tebal. Sedangkan dirinya tidak. Hewan lain yang seusia dengannya sudah menjadi kuat dan mampu menyerang musuh. Sedangkan dirinya masih lemah. Ia merasa tak sempurna. Ia pun mencoba merangkai-rangkai dedaunan, kulit binatang yang sudah mati, dan bulu-bulu binatang untuk itempelkan ke badannya.

Sampai pada cerita ini, saya menemukan sesuatu di balik cerita ini. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, termasuk Hayy. Tetapi, karena ia tidak menyadari kesempurnaan dirinya, tak tahu potensi dirinya, ia malah ingin menjadi seperti mahluk-mahluk yang jauh tidak sempurna.

Ini terjadi dalam kehidupan nyata. Perilaku aneh anak manusia. Tak sedikit anak manusia yang merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya sehingga mereka merasa perlu memodifikasi bentuk dan warna sebagian tubuhnya. Hayy menempeli tubuhnya denan kulit binatang agar bisa mirip binatang. Hal tersebut ia lakukan agar ia bisa sama dengan hewan-hewan di sekitarnya. Tak sedikit anak manusia yang berbuat begitu hanya demi mendapatkan pujian dari orang-orang yang sebenarnya tak lebih mulia dari dirinya. Hal tersebut bukan hanya perbuatan sia-sia, tapi suatu kerugian.

Cerita berlanjut. Sang induk rusa menghembuskan nafas terakhir. Hayy yang sudah terlanjur terbiasa hidup bersamanya merasa kebingungan. Walau sudah cukup dewasa, tapi ia tak bisa lepas dari sang induk rusa. Padahal, seharusnya ia lebih terampil dari seekor rusa. Ia seharusnya lebih cerdas, lebih banyak tahu dari seekor induk rusa. Ia berusaha mencari cara agar sang induk rusa bisa hidup kembali, tapi tak bisa. Aneh, mahluk yang berakal ingin menggantungkan hidupnya pada mahluk yang seharusnya menggantungkan hidupnya pada dirinya.

Bersambung

Powered by Blogger.
 Mari Berdoa Agar Tambah Sukses

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

(Allahummak fini bihalalika ‘an haramika, waghnini bifadhlika ‘amman siwaka).

Artinya, “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”

HOT