Monday, 12 December 2016

Dapat Perawan, Bangga...!







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, cerita islam, Cerita romantis, cerpen cinta romantik, cerpen romance


"Sebentar lagi, kamu kan lulus," kata Emak Parmi pada Eko yang sedang makan di dapur. "Kenapa nggak sekalian cari bini?" sambil mencuci piring di sumur ia menasehati Eko, putra sulungnya. "Menikah itu sunnah Rasul, pahala ibadahmu jadi berlipat."

Eko tidak terlalu menghiraukan. Baginya, itu biasa, orang tua perempuan memang begitu. Sebenarnya, bukan Eko tidak suka perempuan. Kebelet kawin sih iya. Tetapi, kalau tidak spesial, tidak istimewa, sulit untuk tidak tolah-toleh katanya. Dia ingin mendapatkan wanita yang membuat matanya enggan melirik wanita lain. Sebenarnya sudah banyak ia temui yang spesial, tapi ia minder, merasa tidak pantas.

"Bapakmu dulu umur 18 tahun, langsung ngajak nikah."

Eko tertawa. "Iya, Emak kan kelasnya..."

"Kelas teri...!! Kayak tinju aja," sahutnya. "Allah lebih tahu derajat hamba-Nya."

"Ya... doain saja." Eko mencuci piring bekas ia makan, lalu menaruknya di rak. Lalu mendekati Emaknya. Emak Parmi segera menyerbet tangannya, Eko mau bersalaman. "Eko berangkat dulu. Doakan segera dapat bini."

"Amin...!!"

***
"Kamu udah kerja, udah sukses, kok tidak segera nikah, Fid? Banyak cewek cantik di kampus ini."

Hafid yang sedang mencari referensi untuk skripsinya menyempatkan menanggapi Eko. "Aku cari yang suci."

"Yang suci?! Kamu kira semua cewek di kampus ini najis?!"

Hafid tertawa melihat ekspresi Eko. "Bukan begitu, Bro. Santai, santai. "

"Terus?"

"Kita memang tidak boleh buruk sangka ya, tapi aku khawatir, tidak yakin cewek-cewek di sini masih perawan."

"Bayi baru lahir tu perawan, Bro...!!"

Eko memang kurang suka dengan cowok yang masih suka ngomongin keperawanan. Di jaman se modern ini, menurutnya dan golongannya, sudah bukan jamannya membiacarakan keperawanan. Laki-laki dan perempuan itu sama, katanya.

"Aku yakin di luar sana banyak yang selalu menjaga diri."

"Jadi untuk itu kamu ikut program tahfidz?"

"Salah satunya."

"Memang apa bedanya sih perawan sama yang sudah tidak perawan? Istri Rasulullah yang pertama janda, Bro."

"Kalau kamu mau sama janda, Bu Nina, dosen Bahasa Inggris, cantik," kata Hafid sambil tesenyum. "Cantik kan?" ia tidak bisa menahan tawa.

"Payah Lho..!!!"

"HaHAhaha... Katanya tidak ada bedanya perawan sama janda."

"Yang ini bukan urusan janda atau perawan, tapi tua atau muda. Perempuan udah tidak produktif ditawarin ke gue."

"Jangan begitu, Bro. Ingat kisah istri Nabi Zakaria kan?"

"Ah, sudah. Tidak usah bahas itu...!! Garap skripsi aja."

"HahaHahaha... gitu aja sewot....!!"

***

Malam semakin larut. Sudah sepi sekali. Semua orang sudah pada tidur. Eko berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia memandangi dedaunan yang sesekali bergoyang-goyang diterpa angin. Ia merenungi nasibnya. Lahir dari keluarga miskin, hidup miskin. Untuk bisa kuliah harus nyambi jadi sales roti. Ia merasa iri kepada teman-temannya yang menurutnya lebih beruntung dari dirinya, seperti Hafidz yang sudah sukses, atau Herman yang minggu depan mau menikah dengan perempuan kaya dan pintar, lulusan kedokteran gigi di UGM. Nekad dia. Sulit ia percaya. Tetapi Eko tetap menjaga diri, tidak akan nekad, takut nasib seperti bapaknya, hingga tiada tak sempat menjadi kaya, bahkan dirinya jadi penerusnya.

"Kesiangan ya?"

"Tidak bisa tidur tadi malam."

"Kamu diundang Herman kan?"

"Iya."

"Hebat dia. Dapat perawan berkelas, Bro."

"Kok tahu kalau dia perawan?"

"Santri tahfidz. Sudah hafal 30 juz."

"Emangnya Herman hafal Quran?!"

"Masih proses, kayak saya."

Herman pendiam, tapi cukup cerdas. Ia suka binatang dan berbisnis jual beli hewan peliharaan. Ia tidak mudah terpengaruh temannya. Agak egois dan penyendiri. Tetapi dia kuat pendirian, tidak suka ikut-ikutan teman.

"Perawan belum tentu baik, Bro. Kayak tetanggaku, tiap hari gunjingin tetangga. Perempuan sekampung dibilang tidak perawan sebelum nikah. Jadinya, dia dimusuhi tetangga. Tidak bangga juga dapat perawan kalau kayak gitu."

"Manusia, Bro. Yang penting kita berusaha. Lebih jelek lagi, sudah tidak perawan, ahlaknya buruk. Super parah, Bro."

Sempat terpikir oleh Eko untuk menikahi janda kaya, biar hidupnya tidak susah-susah amat. Tetapi ia masih merasa gengsi jika harus menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan. Padahal ia sering bilang kalau perawan atau tidak itu sama saja.

***

"Bro, bulan depan aku mau nikah," kata Hafid saat makan di kantin.

Eko kaget mendengarnya. "Udah nemu calon?!"

"Udah. Anaknya Ustadz Imron."

Eko tambah kaget. "Yang kuliah S2 itu?!"

"Iya. Beliau pernah bilang, akan menerima siapapun yang melamar anaknya asalkan hafal 3 juz. Aku sudah hampir 4 juz. Mumpung belum ada yang mendahului, tak coba aja kemarin malam saya ke rumah beliau. Alhamdulillah dierima. Yes....!!"

Andai Eko punya banyak waktu, sebenarnya ia juga ingin seperti Hafid dan Herman. Tetapi itu sulit baginya, sholat saja bolong-bolong. Ia sering ketiduran kalau sudah kecapean kerja. Kadang ia marah sama Tuhan, katanya Tuhan tak adil. Tetapi ia masih menyembah-Nya, masih berdoa pada-Nya.

***

Hujan disertai angin sedang melanda desa Karang Sengon. Bondowoso memang diselimuti awan hitam sejak pagi. Eko berteduh di masjid. Ia tiduran di teras masjid. Hampir ia tertidur, tapi tiba-tiba ada 10 anak kecil hujan-hujanan menghampirinya. Mereka mau beli roti. Eko bersyukur sekali, Tuhan mengiriminya rizki. Seorang perempuan menghampirinya. "Beli 15, Mas," katanya.

Tidak harus capek-capek jalan, rizki menghampiri. Seorang pria juga menghampirinya, sepertinya suaminya ibu yang tadi. "Mampir yuk, Mas. Basah kalau di sini," katanya. Rumahnya memang berada di samping masjid. "Ayo mampir ke rumah saya. Nanti banyak yang beli rotinya," imbuhnya.

Eko manut saja.

Mereka duduk di ruang depan rumah beliau. "Saya dulu pernah jadi sales juga, Mas," kata bapak itu. "Saya pindah-pindah kerja dulu, jadi kuli bangunan, buruh pabrik, jaga toko, lalu nyales. Pas saya nyales itu bertemu seorang kyai di daerah Arak-arak sana. Beliau menyuruh saya membaca surat Waqi'ah tiga kali sehari, dan sholawat nariya 11 kali setiap habis sholat lima waktu. Kata beliau, jangan terlalu berambisi dalam urusan dunia. Saya ikuti saran beliau. Pas satu tahun saya mampu beli sapi dan sepetak sawah. Dagangan saya laris, hingga saya mampu buka toko di daerah pecinan. Lalu saya menikah dengan salah seorang santri beliau, ibunya ini. Kondisi ekonomi kami terus membaik. Kami pun naik haji." Beliau bernama Haji Mukhlisin setelah berhaji.

Eko diam saja mendengarkan sambil menikmati teh hangat yang dihidangkan untuknya.

"Selama kita terus berusaha jadi orang baik, nasib baik akan menghampiri. Bersikap baiklah pada semua orang. Hormat pada siapapun."

Eko melihat istri Pak H Mukhlisin begitu sayang menemani anak-anaknya yang bermain bersama anak-anak tetangga di ruang tamu. Ia jadi ingat Emaknya. Betapa sayangnya pada dirinya. Walau hidup miskin, tapi kaya kasih sayang.

***
Perpustakaan pagi ini sepi. Biasanya ramai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Eko sudah hampir selesai bab lima. Tapi dosen pembimbingnya minta sedikit perbaikan pada bab empat. Ia tak punya banyak waktu, sebentar lagi ia harus berangkat berjualan keliling. Ada Fina baru datang. "Wah, pagi sekali kamu, Ko," sapanya. Lalu duduk di samping Eko,

"Kamu sudah seminar juga kan?"

"Sudah. Kamu tidak hadir."

"Kerja, Fin. Kamu tahu itu kan."

"Hehe... iya. Aku mau ngelesi nih, mampir ke sini dulu sebentar."

Fina juga kuliah sambil kerja, sama seperti Eko. Dia juga anak orang tidak punya, dan juga tidak begitu pintar. Kata teman-temannya, mereka termasuk mahasiswa yang kuliahnya asal kuliah saja: masuk kelas, ngerjakan tugas, dapat ijazah. Sudah. Begitu saja. Tak perlu jadi aktivis, tak perlu jadi bintang pelajar.

"Oya, Fin..."

"Apa?"

"Kamu belum punya calon kan, Fin?"

Fina kaget mendengarnya. "Calon apa?"

"Calon suami?"

"Kok tanyak gitu? Tumben?"

"Kalau aku melamar kamu, ... kamu mau kan, Fin?"

"Apa?! Kamu...?"

"Iya..."

"Gimana ceritanya?! Tidak ada angin, tidak..."

"Serius, Fin. Nanti kita bicarakan lebih lanjut. Sore kamu tidak sibuk kan?"

"Iya."

Fina bukan wanita istimewa. Dia bukan wanita spesial bagi Eko. Dia tidak cantik seperti artis. Dia juga bukan bintang pelajar. Sejak mendengar nasehat-nasehat dari Pak Haji Mukhlisin beberapa waktu lalu, Eko berubah. Dia ikuti nasehat beliau. Tak perlu berambisi dalam urusan dunia. Istri beliau juga tidak cantik, tapi mereka bahagia. Eko senang melihatnya. Dia penyayang pada anak-anak. Fina mirip beliau. Dia sabar dan pekerja keras.

Eko mengajak Fina ke warung lesehan Bu Yun. Tempatnya sejuk, tersedia WiFi. "Aneh kamu, Ko," kata Fina. "Sejak kapan?" Eko tampak tenang. Tak ada ekspresi berbeda. "Ini serius?" Eko tersenyum. "Kamu cinta sama aku?"

"Menikah tidak harus dengan cinta kan, Fin?"

Fina kaget mendengarnya, "Tanpa saling cinta...?"

"Yang dulunya saling cinta, lalu menikah, tak sedikit yang cerai."

Fina tersenyum, membenarkan. Tapi baginya terasa aneh menikah tanpa cinta. Meskipun sebenarnya ia tidak begitu mengharapkannya. Ia sudah biasa hidup kekurangan. Hidupnya penuh tantangan. Tak ada kata santai. Ia tak punya waktu untuk nikmati cinta.

"Kamu bersedia kan, Fin, jadi istriku?"

Fina menanggapinya dengan senyum.

***

"Kamu yakin dia masih perawan?" tanya Hafid.

"Aku yakin dia perempuan yang baik dan sudah teruji mentalnya. Dia sabar dan penyayang terhadap anak-anak. Dia calon ibu yang baik"
_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment