Tuesday, 8 November 2016

Wanita Cantik di Warung Bambu (2)







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, cerita romantis, cerpen romance, cerpen cinta romantik,
...lanjutan dari... Wanita Cantik di Warung Bambu (1)

Ada beberapa pemuda mengendarai motor besar berhenti tepat di depan kasir. Aku kaget, takut mereka pemuda nakal. Aku terdiam ketakutan. "Andi, Toni,dari mana?" Sofia keluar menyambut mereka. Syukurlah.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Toni.

"Nemeni mbakku. Ini warung mbakku." Aku keluar menyapa mereka. "Ini mbakku, wanita entrepreneur," kata Sofia.

"Cantiknya," kata Andi. Mungkin dia keceplosan. "Eh, maaf. Tidak sengaja." Aku hanya tersenyum.

Lalu mereka duduk di salah satu meja. "Tempatnya asri, alami, segar suasananya," kata Andi.

Warung ini berbentuk huruf L, dapur dan kasir berada di bagian huruf L yang pendek, menghadap ke utara. Tempat makannya beralas bambu dan berdinding anyaman bambu setinggi 0,5 meter. Samping kanan kiri warung ini masih dipenuhi pohon sengon dan rumput. Dari jarak 10 meter di belakang warung terdengar gemercik air sungai. Kalau sore ramai oleh kicauan burung-burung di dahan pohon.

Dari tempat kasir kuperhatikan mereka. Sepertinya mereka hanya teman, tak nampak kemesraan, tapi masih lebih mesra dibanding hubunganku dengan suami. Sesekali Toni sama Andi melirikku, segera kupalingkan pandangan. Tetapi tak nyaman rasanya berkali-kali terjadi. "Mbakmu cantik banget," walau samar-samar aku mendengarnya dengan jelas, entah suara si Andi atau si Toni. "Masku masih kuat...!!" sahut Sofia. Kulirik mereka. Toni sama Andi sedang memandangku. Lirikanku ketangkap lagi. Jika salah satu dari mereka adalah kekasih Sofia atau cowok idamannya, ini akan merusak hubunganku dengan sahabat baikku Sofia. Aku memilih ke belakang saja, menikmati suasana senja.

Hari-hari berlalu. Warungku sudah menghadirkana banyak cerita baru dalam hidupku meski hanya sebentar-sebentar saja aku mengunjunginya. Tetapi aku semakin tak mengerti hidup ini. Ada rasa bersalah bercampur bahagia dan menyiksa batinku. Aku wanita bersuami, sudah jadi ibu, tapi matanya masih jelalatan mencari cinta di warung bambu. Tetapi Tuhan, Engkau yang ciptakan cinta. Hamba menginginkannya. Andi dan Toni semakin sering berkunjung ke rumah. Aku yakin mereka tidak mengunjungi Sofia. Mereka selalu mengajak dua teman wanitanya, tapi itu bukan untuk pamer cinta di depanku. Mereka tak tampak mesra kok. Tuhan, apa mereka datang untukku? Tidak. Tidak. Tuhan, betapa hamba seperti orangn gila.

"Ibu ... Ibu nangis," aku kaget, Iva anak bungsuku memergoki aku di kamar dengan air.mata mengalir.

Aku berusaha tersenyum dan tertawa mencubit pipinya, "Tidak sayang. Sini gendong umi," tetapi anak ini tak mudah tertipu. Dia menghapus air mataku yang tersisa di pipi, lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku.

Kasihan anak-anakku. Mereka butuh kasih sayang ibu. Mereka butuh seorang ibu yang benar-benar mencintai dan menyayangi mereka, bukan wanita seperti aku yang sedang haus cinta lelaki. Seakan tanpa sadar aku melahirkan kelima anakku. Maafkan ibu, Nak. Kugendong dia. "Mi...," dia mengajakku keluar. Tangannya menunjuk ke Arah Sofia dan teman-temannya. Mungkin dia ingin aku bergabung dengan mereka bersenda gurau. Aku pun nurut.

"Adek...," sapa teman Sofia. "Gendong kak Rina, sini," Iva hanya memandanginya.

Aku mendekati mereka. Andi dan Toni memandangiku. Mereka tidak memandang anakku.

"Lucu ya. Sini sama kak Izah." Iva hanya tersenyum saja sambil merebahkan kepalanya di pangkuanku.

"Lagi sakit tah, Mbak?" tanya Izah padaku.

"Tidak. Lagi minta digendong saja. Biasanya minta diajak jalan-jalan kalau dah begini."

"Jalan-jalan sama kak Izah yuk," Izah mencoba mengambil Iva dari pangkuanku. "Ayo, gendong kak Izah." Iva pun nurut. "Nah, sini. Lucunya."

Air mataku hendakjatuh. Seakan aku wanita yang sangat kejam. Anak muda ini seakan lebih pantas menjadi ibu anakku. Rasanya aku belum pernah memanjakann anakku seperti itu. Aku segera ke dalam, melanjutkan tangisku. Sekilas kulihat si Andi memandangku. Mungkin dia tahu aku menangis. Aku menangis di kamar. Tetapi belum puas kutumpahan tangis, Iva memanggilku. "Umi...!! Umi...!!" terdengar suara Iva memanggilku. Tangis ini semakin jadi. Mereka tak boleh tahu. Cukup Tuhan yang tahu.

"Mbak," aku terkejut. Ternyata Sofia sudah duduk di sampingku dan merebahkan kepalaku di bahunya. Dia membiarkan aku menangis di dekapannya. Sofia memang sahabat terbaikku, sahabat yang mengerti aku.

Dia tidak menanyaiku kenapa aku menangis. Mungkin karena sudah terlalu sering melihatku menangis, atau diamku lebih dipahami olehnya? Di dunia ini tak ada orang yang mengerti aku melebihi Sofia. Tetapi, aku adalah wanita yang sedang berencana jahat terhadap kakaknya. Aku wanita yang sedang berencana menyakiti kakak dan orang tuanya. Aku wanita yang sedang berencana merusak kedamaian keluarga ini: demi cinta. Aku adalah wanita jahat budak nafsu.

...bersambung... Wanita Cantik di Warung Bambu (3)


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment