Monday, 7 November 2016

Tak Tergantikan







_____________________________________________________________________________
Cerita Fiksi, cerita romantis, cerpen romance, cerpen cinta romantik,
Masih teringat masa SMA dulu. Masih belum bisa kulupakan lawakan Pak Sukam, tukang parkir sekolah kita, yang tak pernah lucu, namun kita selalu berusaha tertawa. Itu saranmu, kan? Tentu kau masih belum lupa itu. Kamu memang sangat perhatian pada orang lain. Kau baik.

Nenek Supira, penjual bakso di kantin sekolah, yang hampir menjadi nenek kita sendiri. Beliau begitu baik. Tahun 2000, enam belas tahun lalu kenangan itu. Pagi itu, saat istirahat, kau lupa tidak membawa uang. Sebenarnya cinta belum hadir saat itu. Aku hanya terpesona kecantikanmu. Dan kupinjam uang pada teman-temanku, masing-masing Rp 1000,- hingga cukup untuk membayar semangkok bankso.

Kau berlebihan mengungkap terima kasihmu, dan kau kira aku cowok yang baik. Namun prasangkamu telah menyadarkanku dan aku berubah menjadi insan bermoral. Kutinggalkan perilaku buruk demi kamu. Lalu kuberanikan diri nyatakan cinta padamu dan kau terima aku. Jadilah kita sepasang kekasih.

Banyak pelajaran kudapat. Menjalin hubungan cinta ternyata tak gampang, jalannya tak selalu mulus. Kadang suka, kadang benci, kadang menjengkelkan, bahkan pernah ingin kutinggalkan kau, dan kita berjauhan sekian bulan. Tetapi masalah mendewasakan kita dan kita jalin hubungan lagi dengan jiwa yang lebih matang. Kau ingat itu kan?

Nenek Supira yang menyadarkan kita dengan kisahnya. Kulihat kau meneteskan air mata mendengar cerita itu. Aku pun tak tahan mendengarnya. Beliau sungguh bijaksana.

Tahun 2008 aku kenalkan saudaraku dengan kakak perempuanmu agar hubungan keluarga kita semakin erat. Dan mereka pun menikah. Pada pesta pernikahan mereka, kukenalkan kau pada semuau keluarga dan kerabat. Kau bagai menantu yang sudah resmi di rumah. Akan tetapi, seakan dunia terbelah saat ayahmu menolakku menjadi menantu. Entah apa sebabnya kau tak pernah cerita. Kau menikah dengan orang lain dan membuatku hampir gila.

Dalam frustasi aku bagai orang kalap yang lupa ingatan. Seakan aku benci perempuan dan ingin menyakiti semua perempuan. Tetapi iman menguatkanku dan kutenangkan diri. Kuikuti saran keluarga: segera cari ganti. Aku pun mendapatkannya, seorang wanita yang jauh lebih cantik darimu, yang baru beberapa menit kukenal. Kulamar dia dan segera menikah.

Ayu Afriliana, kenangan kita tak terlupakan. Kau tak tergantikan. Kau yang kucintai dengan niat yang lurus, dengan cinta yang penuh kesadaran, bukan cinta yang lahir dari nafsu sesaat. Cinta kita sudah berkali teruji dan kokoh. Sayang, kini kau jadi istri orang. Dan aku menikahi wanita yang sama sekali tidak kukenal kecuali wajahnya yang cantik, entah apa niatku menikahinya, kecuali hanya membalas sakit hatiku.

_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment