Friday, 4 November 2016

Sepasang Merpati di Dahan Angsana







_____________________________________________________________________________
...lanjutan dari "Exportir Sapi ke Australia"

Cerita Fiksi, Cerita Fiksi, Cerita Fiksi, cerita romantis, cerpen romance, cerpen cinta romantik,

Sore. Terik matahari sudah tak terasa panas. Sejuk menikmati pemandangan sawah. Burung-burung beterbangan melawan angin. Waktu sore memang saat yang menyenangkan untuk main ke sawah. Alfan bersama pak leknya, pak haji fauzi bersama putrinya mengunjungi sawahnya. Sawah beiau masih tersisa sembilan petak, enam petak ditanami padi, sisanya masih kosong.

Alia, begitu putri pak haji Fauzi akrab disapa. Ia membawa kucing himalaya, ia gendong sambil dielus-elus bulunya. Kucingnya menggeliat-geliat ingin turun ke tanah. Alia melepaskannya agar bermain. Rupanya ia ingin menangkap dua merpati yang sedang bermain di lahan kosong milik pak haji Fauzi. Dua merpati itu terbang lari ke dahan pohon angsana. Si kucing imut tersebut mencoba mengejarnya.

Di bawah pohon itu Alfan, pak leknya dan pak haji Fauzi sedang asyik ngobrol. Si kucing nakal, ia melompat ke badan pak haji Fauzi lalu beralih ke bahu Alfan. Alfan memegangnya. Pak haji Fauzi memanggil Alia. Alfan dengan senang hati memberikan kucing itu pada Alia. "Gemuk kucingnya, imut, kayak yang punya." Alia tersenyum. "Siapa namanya?"

"Kitty. Dia betina."

"Suka kucing?"

Alia tersenyum. "Iya."

Kitty melihat ke atas dahan angsana. Dua merpati bertengger di sana. Kitty menggeliat-geliat hendak melompat.

"Dia ingin menangkap merpati itu."

"Iya."

***

Alfan mulai tertarik dengan dunia kampus, sebenarnya bukan pada kampusnya, tapi pada gadis yang baru dikenalnya: Alia. Dia memang cukup menawan: senyumnya, tutur katanya yang lembut, sikapnya. Alfan terpesona. Ia tak pedui usia. Malam sudah larut. Alfan belum bisa tidur. Masih sangat jelas bayangnya. Peristiwa tadi sore begitu indah.

Menjadi kaya itu terhormat. Itu fakta. Orang berilmu sudah kurang dilirik, tak terpandang. Tetapi, wanita berilmu seperti Alia sungguh menarik hati Alfan. Wanita seperti dia tentu memilih pria sepadan ilmunya. "Berbisnis atau kuliah?" Alfan bingung. Seakan hari esok masih gelap. Jika hanya bisnis saja, apa mungkin ia bisa menjadi peternak seperti peternak di Australia? Jika kuliah, bagaimana dengan bisnisnya?

Alfan bingung.

Malam segera berlalu. Pagi yang cerah tapi mendung bagi Alfan. Tak menentu pikirannya, dipenuhi angan-angan yang membingungkan. Sama sekali ia tidak tahu dunia kampus. Dunia sekolah baginya membosankan, bahkan ia anggap tak penting. Ia khawatir dunia kampus juga begitu.

Ia lupa kemarin tidak minta nomor handphone atau pin bbm Alia. Mau ke rumahnya, tidak enak pada orang tuanya. Tetapi, jika mengingat kakak-kakaknya, ia menjadi tidak yakin dengan dunia kampus. Sebuah tanya di benaknya, kenapa mereka tak menjadi orang hebat? Jika seperti mereka, bisakah ia menyaingi para peternak Australia yang katanya luar biasa?

"Kebingungan ini cukup menyiksa. Cinta atau pendidikan?"


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

0 comments:

Post a Comment